Rumah Sosiologi dan Antropologi

Tempat berbagi ilmu oleh Afiat Afianti

Eksploitasi Alam Akibat Penggalian Bongkahan Batu Akik Di “Curug Kali Karang” Dusun Tanalum Kabupaten Purbalingga

Pulau Jawa merupakan pulau yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Oleh karena itu, Pulau Jawa dijadikan sebagai pusat semua kegiatan masyarakat, baik itu kegiatan ekonomi, sosial, politik, budaya, dan juga pendidikan. Namun, disamping memiliki jumlah kepadatan penduduk yang tinggi, Pualu Jawa juga menyimpan kekayaan alam yang sangat melimpah. Hal tersebut dapat kita lihat dari bagaimana masyarakat Jawa memanfaatkan kekayaan alam yang ada disekitarnya dan dijadikan sebagai sumber mata pencaharian mereka. Di Pulau Jawa akan banyak kita temui masyarakat dengan mata pencaharian sebagai petani, mereka memanfaatkan tanah, ladang yang memang cocok untuk dijadikan sebagai lahan pertanian. Ekonomi merupakan aspek kehidupan yang sangat penting, karena masyarakat pada era sekarang ini menjadikan ekonomi sebagai orientasi hidup mereka.

Menurut Malinowski, sebagaimana dikutip dalam Koentjaraningrat (2010), bahwa segala kegiatan atau aktifitas manusia dalam unsur-unsur kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri mahluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa, munculnya mata pencaharian, atau jenis-jenis pekerjaan di masyarakat adalah sebagai bentuk usaha mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hasrat ingin selalu memenuhi kebutuhan hidup iniha yang kemudian mnejadikan masyarakat lalai akan konsekuensi dari semua kegiatan mereka. Serta kita ketahui bersama bahwa kebutuhan manusia tidaklah bersifat tetap, namun selalu berubah dan berkembang sesuai dengan lajunya perubahan zaman.

Jika kita berbicara mengenai Pulau Jawa, maka ada satu kota yang menurut saya menarik untuk dikaji, yaitu Kota Purbalingga yang tepatnya terletaka di provinsi Jawa Tengah. Kabupaten atau kota Purbalingga merupakan salah satu tempat yang mulai dikenal masyarakat luas karena batu akiknya. Purbalingga merupakan kota yang masih bisa ditemui kekayaan alamnya. Seperti sungai yang bersih, air terjun, perkebunan strauberry, hingga perkebunan sayur-sayuran yang bisa kita temui di beberapa daerah di kota Purbalingga. Yang ingin saya singgung disini adalah mengenai kekayaan alam di kota Purbalingga yang mampu menghasilkan karya seni yaitu batu akik. Kekayaan alam tersebut adalah sungai yang akrab disebut kali klawing oleh masyarakat setempat dan air terjun, yaitu air terjun “curug kali karang”. Curug Kali Karang terletak di Dusun Tenalum, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Karena tempatnnya yang cukup jauh dari pusat Kota Purbalingga, maka tidak banyak orang mengetahui tempat tersebut. Tetapi dibalik “terpencilnya” tempat tersebut, terdapat kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Bongkahan-bongkahan batu akik yang merupakan bahan dasar pembuatan batu akik banyak terdapat di daerah tersebut. Dari jenis panca warna, kecubung wulung, badar lumut, hingga naga suwi, yang merupakan batu akik khas kota Purbalingga.

Seperti yang kita ketahui beberapa waktu lalu hingga smpai saat ini trend batu akik masih meluas dari masyarakat kalangan bawah hingga masyarakat kalangan atas, seperti kolektor. Melihat potensi tersebut tentunya masyarakat sekitar Curug Kali Karang tidak akan melewatkan kesempatan itu untuk dapat menghasilkan uang. Sehingga, menyebabkan munculnya para pencari bongkahan batu akik liar dibeberapa daerah. Daerah pencarian mereka mulai dari sungai-sungai hingga tebing-tebing hutan yang berada jauh dari pemukiman warga. Meskipun memliki resiko yang tinggi, namun hal tersebut tidak mengurungkan semangat masyarakat untuk berburu batu akik. Tetapi yang menjadi maslah sekarang ini, akibat pencarian batu akik yang secara terus-menerus, dan dalam jumlah yang besar telah megakibatkan rusaknya alam. Hal ini mungkin telah disadari oleh masyarakat sekitar, namun mereka tetap melanjutkan kegiatan tersebut. Berangkat dari uraian diatas maka saya tertarik untuk mengkadi beberapa hal yaitu, pertama mengenai bagaimana pandangan masyarakat yang berada di sekitar Curug Kali Karang mengenai adanya kegiatan pencarian bongkahan batu akik, dan adakah sumber kegiatan sosial yang baru dari munculnya trend batu akik di Kabupaten Purbalingga. Pendekatan yang digunakan oleh penulis untuk menganalisis fokus kajian tresebut mengguanakan pendekatan aksi dan konsekuensi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian diambil dari pengamatan penulis yang dirasakan dan dialami dalam kehidupan sehari – hari. Selain itu juga dilakukan wawancara terhadap masyarakat yang tinggal disekitar curug Kali Karang untuk mengetahui bagaiamana pandangan mereka mengenai adanya fenomena pencari bongkahan batu akik. Penelitian ini dilakukan di desa sekitar Curug Kali kranga yaitu Desa Tenalum, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.

HASIL DAN PEMAHASAN

Seperti yang telah sedikit saya singgung dalam pendahuluan bahwa, saat ini sedang terjadi tend baru yaitu trend mengenai batu akik. Entah darimana awalnya tred itu muncul, namun dampak yang diberikan sangat terasa baik dalam masyarakat kalangan atas sampai masyarakat kalangan bawah. Di Purbalingga trend batu akik tersebar sangat cepat dan luas hingga ke daerah-daerah ”terpencil” nya purbalingga. Hal itu dapat kita lihat dari, ketika kita memasuki kota Purbalingga maka akan ditemukan banyak sekali penjual-penjual batu akik di pinggir jalan. Mereka menjual batu akik dari yang masih berbentuk bongkahan hingga yang sudah berbentuk cin-cin dan liontin. Dan jarak antara penjual yang satu dengan lainnya pun snagat berdekatan, hanya beberapa meter saja. Ini membuktikan bahwa batu akik memang sangat digandrungi oleh masyarakat pada saat sekarang ini. Ketika kita melihat jumlah batu bongkahan yang dijual tersebut adalah dengan jumlah yang tidak sedikit, maka timbul pertanyaan yaitu darimana mereka mendapatkan bongkahan-bongkahan batu itu? Ada beberapa tempat di Kota Purbalingga yang dijadikan sebagai tempat pencarian batu akik. Pertama yang tidak asing lagi ditelinga kita adalah Kali (sungai) Klawing. Kali Klawing merupakan sungai utama yang terdapat di kota Purbalingga. Tidak berhenti disitu saja, masyarakat kemudian mulai berusaha mencari ladang atau tempat yang terdapat bongkahan batu akik lainnya. Dan salah satu tempat yang menarik perhatian saya adalah Curug Kali Karang.

Curug Kali Krang terletak di Dusun Tenalum, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Tempat tersebut merupakan tempat yang paling ramai didatangi oleh para pemburu atau pencari bongkahan batu akik. Mulai dari masyarakat setempat hingga masyarakat dari luar kota. Melihat bahwa alam yang ada disekitarnya memiliki potensi yang danpat dimanfaatkan untuk tujuan ekonomi maka hal tersebut mnejadikan masyarakat tidak berfikir panjang dan kemudian mulai mencari bongkahan batu akik di sana. Namun kegiatan tresebut secara tidak langsung juga mengakibatkan beberapa dampak baik itu positif maupun negatif. Jika kita lihat dari sudut ekologinya, maka terlihat adanya eksploitasi terhadap alam. Sebagaimana yang tertulis pada Pasal 33 ayat (3) UndangUndang Dasar 1945 menggariskan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Masyarakat pencari bongkahan batu akik sekali lagi bukan hanya berasal dari sekitar Curug Kali Karang. Namun juga terdapat beberapa masyarakat yang berasal dari luar kota Purbalingga yang sengaja datang untuk mencari bongkahan batu akik. Dari hal tersebut, setelah saya melakukan penelitian dana beberapa wawancara di Desa Tenalum pada khususnya, masyarakat disana memiliki pandangan yang berbeda mengenai adanya kegiatan pencarian bongkahan batu akik ini. Masyarakat Desa Tenalum, seperti halnya masyarakat di Jawa pada umumnya memiliki mata pencaharian mayoritas sebagai petani. Adapun mata pencaharian lain di sana seperti mencari ikan di sungai, pedagang di pasar tradisinal, tukang ojek, dan lainnya.

Desa Tenalum merupakan desa yang terletak dipinggiran Kota Purbalingga. Artinya, jarak antara Desa Tenalum dan pusat kota termasuk jauh, jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor memerlukan waktu 1,5 sampai 2 jam. Desa Tenalum merupakan desa yang terletak paling dekat dengan Curug Kali Karang. Dari wawancara yang saya lakukan, ada beberapa informasi yang saya dapatkan yaitu mengenai anggapan masyarakat Desa Tenalum ada dua suara. Yang pertama, ada yang beranggapan bahwa adanya pencari bongkahan batu akik merupakan rezeki bersama, yang mana entah itu masyarakat sekitar ataupun luar kota boleh-boleh saja melakukan pencarian bongkahan batu akik asal dengan cara-cara yang tidak merusak alam. Hal tersebut disampaikan oleh bapak Tursidi “wong nyatane saking awale mboten enten mbak, terus dados enten lan ngasilake arto nggih sampunlah anggep mawon niku rezeki Alloh kanngge kita sareng-sareng”, yang artinya memang pada awalnya dari yang tidak ada kemudian menjadi ada dan menghasilkan uang, maka anggap saja itu rezeki kita bersama-sama yang diberikan oleh Alloh. Namun, adapula masyarakat yang menolak dan tidak setuju adanya kegiatan pencarian batu akik di Curug Kali Karang. Mereka beranggapan bahwa kegiatan tersebut dapat mengakibatkan kerusakan alam. Sedangkan alam itu sendiri merupakan sumber pekerjaan mereka, jadi mereka takut akan terjadi kerusakan yang nantinya berdampak pada kegiatan perekonomian mereka.

Fokus penelitian kedua yaitu mengenai adakah sumber kegiatan sosal baru yang muncul akibat adanya trend batu akik di Kota Purbalingga. Penulis meyimpulkan bahwa dari adanya tend batu akik di Kota Purbalingga memunculkan fenomena kegiatan sosial di masyarakat, antara lain :

  1. Para pencari bongkahan batu akik itu sendiri. Mereka mulai muncul dan berdatangan ke kota Purbaligga karena danya trend batu akik yang sednag buming di masyarakat.
  2. Tengkulak, atau pengepul batu akik. Mereka adalah orang-orang yang siap menampung hasil pencarian batu akik dengan jumlah yang besar. Namun harga jualnya pun relatif rendah. Dari informasi yang saya dapatkan, dulu awal mula trend batu akik muncul, harga 1 kg bongkahan batu akik dengan jenis super hanya mencapai Rp 15.000 sampai Rp 30.000. namun sekarang ini sudah mulai naik, terutama batu akik jenis naga suwi, sebagai jenis batu akik andalannya orang Purbalingga. Harga 1 kg batu akik naga suwi mencapai Rp 100.000 hingga Rp 350.000. harga tersebut sesuai dengan kualitas yang dimiliki batu dengan penilaian menurut masyarakat sekitar.
  3. Kegiatan sosial lainnya adalah, para pengrajin batu akik. Mereka adalah para pengolah batu akik dari yang awalnya berwujud bongkahan diolah menjadi sebuah mata cin-cin ataupun lliontin kalung. Namun jumlah mereka masih sedikit dibandingkan dengan para penjual cin-cin batu akik.
  4. Penjual cin-cin batu akik, adalah mereka yang menjual batu akik sudah dalam wujud cin-cin atupun liontin. Dari segi ekonomi, mereka memiliki penghasilan yang paling tinggi jika dibandingkan dengan pihak-pihak lainnya.
  5. Para pecinta batu akik. Merupakan fenomena yang sangat menarik bagi saya. Yangmana di Purbalingga, oleh Bapak Bupati pun sempat diwacanakan untuk para pekerja PNS wajib menggunkan batu akik khas purbaligga. Sealin itu juga muncul kelompok-kelompok pecinta batu akik. Dari mereka adan yang hanya hobbi mengoleksi batu akik dan ada pula yang gemar mengikuti perlomaan-perlombaan batu akik. Mengenai perlombaan batu akik, meskipun dilakukan di luar kota, masyarakat Purbalingga antusias untuk mengikutinya. Dan momen tersebut selain hadiah yang menjadi tujuan mereka, namun juga memamerkan dan bersaing kualitas batu akik milik mereka masing-masing. Biasanya batu akik yang pernah mendapatkan juara di perlombaan sepserti tiu, memilki nilai jual yang lebih tinggi hingga mencapai jutaan.

SIMPULAN

Trend batu akik yang terjadi di Kota Purbalingga memunculkan adanya kegiatan pencarian bongkahan batu akaik di alam sekitar. Hal tersebut mendapatkan tanggapan baik positf maupun negatif dari masyarakt khususnya di Desa Tenalum yang letaknya dekat dengan Curug Kali Karang sebagai salah satu tempat pencarian bongkahan batu akik. Disisi lain, dari adanya trend ini juga memunculkan beberapa fenomena sosial yang ada di masyarakat, dari para pencari batu akik itu sendiri, tengkulak, pengrajin, penjual, hingga kelompok-kelompok pencinta batu akik.

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 2010. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press.

https://ilhamirdian.wordpress.com/2012/04/21/eksploitasi-alam / diakses pada 20 Oktober, pukul 16.34 WIB.

Indrawardana, Ira. 2012. Kearifan lokal adat masyarakat sunda dalam hubungan dengan lingkungan alam. Jurnal Komunitas. 4 (1) (2012) : 1-8

posted by afiatafianti in Antropologi and have No Comments

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment

Skip to toolbar