• Monday, May 28th, 2018

Tadarus ke-11

Oleh Agung Kuswantoro

 

Tak terasa tadarus yang saya lakukan sudah masuk hari ke-11. Selama tadarus ada beberapa catatan menarik.

 

Pertama, ada yang mengaji. Saya sangat bersyukur ternyata ajakan mengaji tiap sore selama Ramadhan direspon oleh orang lain. Termasuk anak-anak.

 

Kedua, pernah tidak ada orang yang dating, kecuali saya. Jika kondisi seperti ini, maka saya membaca/menghafal surat Alqur’an dan berdoa.

 

Ketiga, yang datang justru orang yang jauh dari masjid. Bahkan, beda desa. Ia datang ke masjid untuk bertadarus. Ia tahu informasi tadarus dari WAG kajian Subuh.

 

Keempat, ada yang tertarik memberikan ta’jil/buka puasa. Biasanya tadarus berakhir sebelum buka puasa. Namun, karena ada donator, tadarus berakhir hingga buka puasa.

 

Kelima, telinga terbiasa membaca Alqur’an. Salah satu tujuan tadarus adalah membiasakan telinga mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Alqur’an.

 

Keenam, menghidupkan masjid. Untuk mensyiarkan masjid di bulan Ramadhan, perlu kegiatan rohani yang mendukung. Salah satunya tadarus. Masjid tak cukup digunakan untuk sholat berjamaah saja.

 

Ketujuh, mengajinya berbasis individual. Karena ada peserta yang dewasa dan anak-anak. Maka model mengajinya saya bedakan berdasarkan kemampuan tiap orang berbeda-beda. Bahkan ada yang bertanya dengan kritis.

 

Kedelapan, menggunakan microfon. Tujuannya agar syiar Islam tersampaikan ke masyarakat. Selain itu, agar orang mengetahui bahwa tadarus itu sangat dianjurkan saat bulan Ramadhan.

 

Itulah cerita/pengalaman menarik saat tadarus dari hari pertama hingga hari kesebelas. Semoga Allah meridhoi langkah kita. Amin.

 

 

Semarang, 27 Mei 2018

• Friday, May 25th, 2018

Guru Apakah Terdisrupsi?

Oleh Agung Kuswantoro

 

Saat ini, banyak orang berbicara tentang disrupsi. Banyak bidang yang terdisrupsi, seperti ekonomi dan transportasi. Bidang ekonomi, disrupsi (penyimpangan) dalam bidang penjualan ada bukalapak, lazada, blibli, dan e commerce lainnya.

 

Belanja pun lebih efektif dan efisien. Tidak harus ke pasar. Cukup dengan menggunakan aplikasi. Pembayaranya pun dilakukan dengan mudah, cukup dengan mentransfer.

 

Dalam bidang transportasi, ada Gojek dan Grab. Kedua perusahaan tersebut tidak memiliki garasi parkir luas, jumlah pengemudi yang banyak, dan biaya yang murah.

 

Lalu, bagaimana dibidang pendidikan? Saya berpendapat dibidang pendidikan guru pun akan terdisrupsi. Terdisrupsi oleh apa? Sistem. Kehadiran  guru bisa diwakilkan oleh e learning. Ada perpustakaan online, e book, e jurnal.

 

Incumbent, atau petahana. Harus menyesuaikan keadaan ini. Jika tidak bisa menyesuaikan, maka incumbent akan terdisrupsi oleh guru pendatang baru.

 

Guru pendatang baru lebih fresh secara IT dan kemampuan. Hanya pengalaman yang minim dan penguatan karakter pada dirinya.

 

Jadi, incumbent akan terdisrupsi oleh keadaan. Jadilah seperti bunglon yang bisa mempertahankan/menyesuaikan keadaan. Bukan seperti Dinosaurus yang tidak bisa mempertahankan keadaan lingkungan sekitar.

 

Semarang, 25 Mei 2018

• Friday, May 25th, 2018

Kegiatan “Pembelajaran” Ramadhan

Oleh Agung Kuswantoro

 

Ramadhan adalah bulan mulia. Karena, “mulialah” sehingga, kegiatan-kegiatan Ramadhan harus diisi dengan kegiatan positif.

 

Berikut kegiatan yang saya lakukan di bulan suci itu. Pertama, tadarus sore di masjid. Saya membiasakan diri untuk tadarus sore di masjid bersama masyarakat. Kegiatan ini, minimal dilakukan oleh dua orang. Tujuan ini agar masyarakat saya terbiasa dengan suara mengaji Alqur’an. Mengajinya pun yaitu surat Alhakumuttakasur hingga Annas. Tiap hari satu surat tapi ada yang mengikuti, bahkan anak-anak.

 

Kedua, imam tarawih. Saya dapat jadwal di masjid mengimani sholat tarawih dan witir di masjid. Alhamdulillah “gaya” mengimami saya bisa diterima oleh jamaah. Penekanan saya dalam sholat ini yaitu pembacaan Alqur’an/surat di sholat yang tartil. Tidak terlalu cepat.  Bacaan jelas.

 

Ketiga, berdiskusi dengan jamaah. Setelah sholat witir, biasanya jamaah berkumpul. Disinilah, sebgaai tempat untuk berdiskusi tentang agama. Durasi waktu diskusi kurang lebih 15-20 menit.

 

Keempat, imam sholat Subuh. Imam sholat Subuh sudah menjadi kebiasaan saya diluar bulan Ramadhan. Setelah sholat Subuh saya memberikan kultum selama 7 menit. Itu dilakukan tiap hari.

 

Kelima, belajar privat bersama salah satu jamaah. Ada seorang jamaah ingin belajar agama secara khusus, saya lakukan di masjid setelah melakukan kultum Subuh. Ia sangat giat, saya pun bersemangat. Ia butuh pendampingan dalam melafalkan huruf hijaiyah, sehingga saya lakukan dengan cara intensif.

 

Kelima, kegiatan rutin inilah yang saya lakukan selama Ramadhan. Basisnya, adalah masyarakat. Tidak dilakukan dengan sendiri. Minimal 2 orang. Semoga berkah. Ramadhan kita mendapatkannya. Amin.

 

Semarang, 24 Mei 2018

 

 

• Friday, May 25th, 2018

 

Ziarah Pemikiran Almarhum Hernowo Hasim

Oleh Agung Kuswantoro

 

Penulis siapa yang tidak mengenak sosok Hernowo Hasim? Saya termasuk kategori orang yang terlambat mengenal dia. Menyesal? Tidak! Justru, saya langsung mencari referensi mengenai dia. Saya bergabung di komunitas penulisan. Disitulah saya mengenal lebih mendalam. Tidak personal/pribadinya. Tetapi, ilmunya.

 

Mengikat makna, menulis tanpa beban, free writing, mengalir, dan disiplin menulis, serta alarm. Istilah-istilah itulah yang saya ketahui tentangnya.

 

Saya masih ingat, dalam komunitas penulisan, saya bertanya mengenai teknik menulis. Dia menjelaskan dengan gamblang. Jelas sekali. Bahkan, ia mencontohkan/mendemostrasikannya seperti menulis bebas dibantu dengan alarm.

 

Ia adalah pembelajar. Model belajar yang ditawarkan adalah “ngemil” membaca. Membaca tidak harus banyak. Beberapa halaman itu sudah cukup, lalu “ikatlah” dengan sebuah tulisan. Ada buku tentang tafsir, koran, dan peristiwa yang ia baca.

 

Kebanyakan orang membaca, setelah itu tidak menulis, sehingga memori atau ingatan akan informasi tersebut cepat hilang. Alias lupa. Strategi yang ditawarkan, menurut saya tepat.

 

Ia juga sosok yang sosial. Keilmuan tentang menulisnya ia bagi kepada orang yang mau belajar. Tidak ada kata ‘sindiran’ untuk orang yang mau belajar menulis. Adanya semangat dan mendorong untuk selalu berlatih.

 

Santun kalimatnya. Senyum dan lantang dalam menjelaskan suatu materi. Itulah kenangan saya bersamanya.

 

Selain itu, ia sosok yang rajin membaca pemikiran orang dengan cara membaca buku-buku para tokoh. Selain itu, rajin mengikuti twitter para ahli menurut dia, seperti Ulil Absor Abdallah. Setelah itu, ia kaji dengan buku yang ia baca. Dan, ditulisnya. Ia share ke facebook dan grup WA.

 

Tidak hanya tulisan, ia juga sering menampilkan gambar yang mewakili atas tulisan tersebut. Jarang ada penulis yang demikian. Sempatnya mencari gambar dan menulis dengan teliti.

 

Itulah, kenang-kenangan saya dengannya. Sekarang, sang guru telah pulang ke pangkuan Allah. Semoga buku-buku yang ia tulis menjadi amal jariah yang selalu mengalir hingga akhirat. Selamat jalan, Bapak. Semoga saya bisa meneladani Bapak. Buku-buku yang Bapak tulis yang belum saya baca, akan saya baca dan saya “ikat”.

 

Semarang, 25 Mei 2018

 

 

• Wednesday, May 23rd, 2018

 

 

Mujizat dan Tadarus Alqur’an

Oleh Agung Kuswantoro

 

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkan Alqur’an. Alqur’an adalah salah satu mujizat Nabi Muhammad. Kebanyakan mujizat bersifat fisik dan tujuannya untuk menantang/melawan terhadap status kenabian.

 

Quraish Shihab (2014) mengatakan ada 4 unsur mujizat yaitu (1) hal peristiwa yang luar biasa, (2) terjadi atau disampaikan oleh seorang yang mengaku Nabi, (3) mengandung tantangan yang meragukan kenabian, dan (4) tantangan tersebut tersebut tidak mampu/gagal dilayani.

 

Kebanyakan mujizat bersifat fisik seperti tongkat menjadi ular oleh Nabi Musa, perahu Nabi Nuh yang besar dan mampu bertahan dengan ombak, unta betina yang lahir dari celah-celah batu oleh Nabi Saleh, tidak terbakar dengan api oleh Nabi Ibrahim, dan mujizat-mujizat Nabi lainnya.

 

Lalu, adakah mujizat yang bersifat nonfisik? Para ahli menjawabnya, ada. Yaitu  Alqur’an. Alqur’an adalah mujizat Nabi Muhammad yang diberikan oleh Allah. Bukti Alqur’an sebagai mujizat yaitu isinya berupa petunjuk. Sebagaimana Sayyid Muhammad Rasyid Ridho dalam tafsir Almanar, bahwa petunjuk Alqur’an berisikan akidah ketuhanan, persoalan metafisika, akhlak, sosial, politik, dan permasalahan lainya.

 

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa  meneladani Alqur’an itu sebagai mujizat? Jawaban yang tegas adalah membacanya. Terlebih di bulan Ramadhan yaitu dengan tadarus.

 

Ada beberapa istilah yang perlu kita pahami yaitu tadarus dan tilawah. Tadarus secara bahasa berasal dari kata darusa yadrusu darsan. Mengikuti wazan fa’ala yaf’ulu fa’lan. Yang memiliki arti mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji, dan mengambil pelajaran.

 

Lafal darusa, ada tambahan huruf ta sehingga menjadi tadarosa yatadarusu, mengikuti wazan tafa’ala yatafa’lu. Maknanya yaitu lil mu syarokati baina itsnaini fa aksaro, artinya persekutuan timbal balik antara dua orang atau lebih. Sehingga, tadarus bermakna saling belajar, saling meneliti, saling menelaah, dan saling mengkaji. Berarti pula, minimal dilakukan oleh dua orang/subjek.

 

Mari kita lihat hadist sohih berikut ini. Rasulullah SAW “Adalah orang yang paling dermawan. Dan, beliau bertambah dermawannya ketika bulan Ramadhan. Datanglah JIbril di setiap malam Ramadhan untuk mempelajari Alqur’an”(HR. Albukhori).

 

Kalimat dalam hadist tersebut adalah Fadarisuhu (maka bertadarus). Nabi Muhammad SAW menelaah ayat demi ayat Alqur’an bersama malaikat Jibril. Tadarus. Itulah makna tadarus secara bahasa dan hakikat.

 

Makna tadarus sebagaimana di atas berbeda dengan realita yang ada. Ada yang membaca dengan cepat. Hak-hak huruf pun hilang. Apalagi mahroj dan tajwidnya, tidak diperhatikan. Terlebih, berbicara mengenai makna/tafsir kandungan suatu ayat, tidak dikajinya.

 

Ada model dengan cara disimak. Dalam suatu majlis, ada orang yang membaca dan menyimak. Lalu, bergantian membacanya dan menyimaknya. Ada juga, model membaca sendiri, tanpa ada yang menyimak. Hanya membaca saja. Jika paktiknya seperti itu, dinamai tilawah. Hanya membaca bukan tadarus.

 

Lalu, bagaimana biar dapat pahala lebih banyak dari tilawah? Buatlah tilawah wal istima’. Membaca dan mendengar.

 

Membaca=Mendengar

 

“Apabila dibacakan Alqur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Al ‘Arof: 204). Maknanya, bahwa membaca sama dengan mendengar. Pahala antara orang yang membaca dan mendengar itu sama. Itulah yang dimaksud tilawah wal istima’.

 

Bagaimana jika ada yang masih lemah bacaan Alqur’an nya? Jawabnya, ia tidak membaca Alqur’an sendirian. Sebaiknya ia didampingi guru/ustad/kiai agar ada yang membetulkan bacaannya. Sehingga, yang diperlukan bukan tadarus. Tetapi belajar membaca Alqur’an. Mulai dari turutan, jilid, qiroaty, juz amma, ghorib, dan tajwid.

 

Dalam tafsir Attobari diceritakan bahwa “seseorang dari kami telah mempelajari 10 ayat, ia tidak menambahkan sampai ia mengetahui makna dan mengamalkannya.” 10 ayat yang dipelajari, dimaknai, dan diamalkan itulah kurang lebih model tadarus. Berarti, tidak  ada target khatam.

 

Lafal yang mendekati tadarus selain qiroah adalah tilawah. Tilawah maknanya membaca Alqur’an dengan baik dan indah. Sehingga tepat jika ada istilah MTQ/Musabaqoh Tilawatil Qur’an, dimana ada seni baca Alqur’an. Indahnya ada di situ.

 

Mari, baca Alqur’an sebagai mujizat Nabi Muhammad yang hingga sekarang masih ada. Sebagai umat Nabi Muhammad untuk merasakan Alqur’an itu mujizat, maka Alqur’an harus dibaca. Bagaimana, kita mengatakan Alqur’an itu suatu mujizat namun tidak membacanya? Bagaimana, hati kita akan bergetar, jika tidak bisa membaca Alqur’an?

 

Jika belum bisa membaca, maka berlatihlah agar bisa membacanya dengan tahapan-tahapan dalam qiroaty/turutan. Jika sudah bisa membacanya, maka dengarkan orang yang sedang membaca Alqur’an (tilawah wal istima’). Berikan masukan kepadanya, jika bacaannya ada yang kurang tepat.

 

Setelah bertilawah dan istima’, lalu mentahsin/memperbaiki bacaan Alqur’an. Sedangkan puncaknya adalah tadarus.

 

Inilah yang dimaksud men-tahsin. Men-tahsin yaitu memperbaiki atau memperkaya. Artinya, tuntunan agar dalam membaca Alqur’an harus benar dan tepat sesuai dengan contohnya. Tujuannya agar terjaga orisinalitas praktik tilawah yang sesuai dengan sunah Rasulullah SAW.

 

Demikian tulisan singkat ini. Ada beberapa kesimpulan:

  1. Alqur’an itu mujizat Nabi Muhammad SAW yang hingga sekarang masih ada.
  2. Agar kita merasakan Alqur’an itu suatu mujizat, maka bacalah Alqur’an.
  3. Ada beberapa tahapan agar bisa membaca Alqur’an:
  4. Membaca didampingi oleh guru/ustad.
  5. Membaca yang ada orang lain menyimak/mendengar (tilawah wal istima’).
  6. Men-tahsin/memperbaiki bacaan dengan ilmu tajwid.
  7. Tadarus adalah level paling atas, dimana minimal dilakukan oleh dua orang dan puncaknya adalah pengalaman atas ayat yang telah dibaca. Tidak ada target khatam.

 

Semoga kita bisa membedakan istilah tadarus dan tilawah, sehingga memahami Alqur’an sebagai mujizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad.

 

 

Semarang, 17 Mei 2018

• Tuesday, May 15th, 2018

Peresensi            : Agung Kuswantoro

Judul                   : Kumpulan 101 Kultum tentang Islam: Akidah, Akhlak, Fiqih, Tasawuf, dan Kehidupan Setelah Kematian

ISBN                    : 978 – 602 – 7720 – 44 – 2

Hal                       : xii + 636 halaman

Penulis                : M. Quraish Shihab

 

Kultum : Singkat dan Padat

Oleh Agung Kuswantoro

 

Buku ini adalah kumpulan kultum yang dilakukan oleh M. Quraish Shihab di media televisi (TV). Orang awam pasti mengenalnya, hampir setiap tahun ia muncul di TV untuk menyampaikan kultum saat akan buka puasa. Namun, belum tentu kita memahami maksudnya.

 

Buku ini sangat membantu bagi orang yang ingin mengetahui tentang Islam, terutama dari segi akidah, akhlak, fiqih, tassawuf, dan kehidupan setelah kematian.

 

Penulis, seorang guru besar dan pakar tafsir Alqur’an memiliki gaya penyampaian yang khas. Santun, materi mengena, dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Mungkin, kita belum bisa “menangkap” pesannya, karena faktor bahasa.

 

Ada orang mengatakan kajian yang dibawakan olehnya tidak berlaku untuk orang awam. Menurut saya, ada benarnya. Tetapi, kurang tepat pula. Cobalah baca buku ini. Materinya ringan. Tiap judul hanya 3-4 halaman saja, lalu disertai dengan dalil di Alqur’an dan Hadist. Kemudian, ada pembahasan dan contohnya. Dan, ada sebuah halaman penguat berupa motivasi dari tiap judul tersebut.

 

Kelebihan buku ini adalah tuntas dalam menjelaskan suatu masalah yang ada di setiap judul. Sama sekali tidak menyinggung orang dalam pembahasannya. Bahasanya sederhana dan santun. Isi buku ini, lebih banyak membahas bab puasa. Menurut saya wajar, karena kultum tersebut disampaikan di bulan Ramadhan. Mari, kita harus tepat mencari sosok guru yang menjadi panutan hidup kita. Jika kita salah guru, maka salah pula pikiran dan tindakan kita. Sosok M. Quraish Shihab, menurut saya tepat menjadi guru kehidupan kita. Semoga, beliau sehat selalu agar kita bisa terus belajar darinya melalui buku dan kultum, kajian tafsir, dan makalah-makalahnya.

 

Semarang, 12 Mei 2018

• Tuesday, May 15th, 2018

Manajemen E-mail

Oleh Agung Kuswantoro

 

Hal yang terpenting dalam lembaga/perusahaan mengenai email harus diatur, diantaranya kapasitas daya penyimpanan dan penamaan atas email tersebut. Kapasitas daya penyimpanan harus besar karena menyangkut data-data yang diterima /dikirim oleh perusahaan.

 

Penamaan atas email harus berdasarkan nama perusahaan atau “issue” bisnis tersebut. bukan berdasarkan trend IT (Informasi dan Teknologi). Saya baru mengetahui sebuah email ternyata memiliki type. Menurut Azad (2009) email sebuah perusahaan memiiki dokumen type sebagai berikut:

 

Field Name Data Type Lenght Format
From Alphanumeric 255  
To Alphanumeric 255  
Cc Alphanumeric 255  
BCc Alphanumeric 255  
Subject Alphanumeric 255  
Content Alphanumeric Variable  
Date Date Time   Depends on Country’s format
Sent/Received Boolean    

 

Maksudnya, email document type terdiri dari form, cc, Bcc, subject, content ditulis dengan data type Alphanumeric, dengan length 255. Untuk content, lengthnya variable. Sedangkan, untuk field name date, data type-nya date time, dengan format depends on country’s format. Dan, untuk sent/received data type-mya Boolean.

 

Mungkin selama ini, kita hanya menggunakan fasilitas email gratis dari gmail, sehingga tidak menyadari, sebenarnya pengaturan tersebut itu ada. Bahkan, tidak mudah. Karena, kita hanya menggunakan fasilitas gmail berupa email, maka akses keamanannya kurang aman, karena kita hanya pengguna.

 

Tetapi, kita pernah melihat email dengan nama perusahaan. Misal nama email contac@ptx.co.id. Itu jelas ptx telah membeli dan mengatur emailnya. Bahkan, sampai stafnya pun bisa menggunakan domainnya, seperti staf@ptx.co.id

 

Ini pula yang saya rasakan pada lembaga saya bekerja. Website lembaga adalah: http//unnes.ac.id. email resmi lembaga tersebut adalah humas@mail.unnes.ac.id. Email saya – selaku staf – yaitu agungbinmadik@mail.unnes.ac.id.

 

Keuntungan menggunakan email tersebut adalah resmi milik lembaga dan teknisi IT dapat mengatur daya simpan kapasitas ukuran besarnya sebuah email. Akses kerahasiaan dalam email pun dijamin. Cara, seperti ini, pastinya lembaga tersebut telah melakukan transaksi pembelian/berbayar dengan penyedia email tersebut.

 

Semarang, 14 Mei 2018

• Tuesday, May 15th, 2018
Catatan Menuju Ramadhan
Oleh Agung Kuswantoro
 
Doa setelah subuh yang saya ucapkan bersama jamaah adalah “Ya Allah, panjangkan umur kami hingga selesai akhir bulan Rajab, dan Sya’ban. Sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan. Kemudian, materi tentang puasa. Materi ini, saya mulai sejak akhir bulan Rajab hingga Sya’ban. Tak terasa, bulan Sya’ban akan habis. Berikut catatan-catatan kajian selama ini:
1. Puasa itu wajib. Puasa yang wajib, bukan tarawih. Puasa umat Nabi Muhammad berbeda dengan umat Nabi sebelumnya. Berbeda pula dengan ajaran agama lainnya.
 
2. Syarat puasa meliputi Islam, baligh, berakal, dan mampu. Islam itu sebagai syarat, tetapi Alqur’an mengundang/menyapa orang beriman.
Jadi, Islam sebagai syarat, harus ditingkatkan menjadi Iman. Balig juga sebagai syarat puasa. Anak-anak puasa hingga dhuhur itu bukan puasa sebagaimana yang diajarkan dalam fiqih. Namun, sebagai pembelajaran itu tidak masalah. Latihan puasa, namanya.
 
3. Sunah puasa salah satunya menjaga lisan. Hati-hati puasa kita, jangan sampai mendapatkan haus dan lapar, karena tidak bisa menjaga lisan. Jika tidak bisa menjaga lisan, lakukanlah tadarus Alqur’an, zikir, sholat sunah, dan amalan baik lainnya. Jika tidak mampu melakukan amalan baik, diamlah.
 
4. Hakikat puasa adalah menahan. Menahan apa pun. Nafsu termasuk. Untuk siapa? Untuk orang kaya, miskin, pejawab, orang biasa, dan umat Islam. Apa pun “godaannya” harus ditahan.
 
5. Hukum sahur diakhir waktu itu sunah. Namun, fiqih mengatakan tidak cukup hanya saur diakhir waktu. Ada amalan sunah lainnya, seperti sholatul lail/tahajud, tadarus, sholat qobla subuh, dan subuh. Itulah rangkaian di akhir waktu. Jadi, setelah sahur jangan tidur.
 
6. Pandai menempatkan hukum. Sekali lagi, puasa yang wajib, ibadah pendukungnya sunah. Misal, rajin tarawih, tapi tidak puasa. Itu salah. Seharusnya puasa itu harus dilakukan tetapi tarawih bisa dilakukan kapan saja di malam bulan Ramadan. Misal, ada perawat yang bertugas dan ia pulang malam. Maka, tarawih bisa dilakukan di rumah. Tetapi, paginya, ia tetap berpuasa.
 
7. Memantaskanlah agar kita bisa masuk ke bulan Ramadhan. Jadikanlah diri Anda yang “anggun”. Karena, ada orang yang diperpanjangkan umur bisa memasuki bulan Ramadhan, tetapi ia ”cuek” terhadap bulan tersebut. puasa hanya dapat nahan lapar dan haus. Ada Alqur’an tetapi tidak dibaca/tadarus. Ada masjid, tetapi tidak sholat jamaah. Itu namanya belum memantaskan. Oleh karenanya, sejak sekarang kita memantaskan menjadi pribadi yang layak masuk bulan Ramadhan.
 
Itu beberapa catatan sebelum Ramadhan. Besok kita lanjutkan lagi di kajian subuh di masjid Nurul Iman.
 
Semarang, 14 Mei 2018
• Friday, May 11th, 2018

Rukun Sholat: Berdiri (4)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Orang sholat dengan duduk, posisi yang paling utama adalah duduk iftiros/duduk tahyat awal. Lalu, posisi yang baik berikutnya adalah duduk bersila, dan duduk tawaruk/tahyat akhir.

 

Kalau masih tidak mampu duduk saat sholat, maka boleh sholat dengan berbaring. Posisi berbaring dengan muka dan bagian depan badannya menghadap kiblat. Bila miringnya ke kiri hukumnya makruh, dengan catatan tidak ada udzur/miring ke kanan tidak bisa.

 

 

Semarang, 9 Mei 2018

 

 

 

Rukun Sholat: Berdiri (5)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Jika sholat dengan tidur miring tidak mampu, maka diperbolehkan sholat dengan tidur terlentang. Dua telapak kakinya menghadap kiblat.

 

Wajib memberikan bantal di bawah kepala, agar wajahnya dapat menghadap kiblat. Wajib memberi kode ke arah kiblat waktu ruku’ dan sujud. Kode sujud, harus melebihi kode rukuk.

 

Jika tidak dapat memberi kode dengan kepala, boleh dengan pelupuk mata. Kalau, tidak mampu dengan pelupuk mata, boleh dengan hati.

 

Ya, hati. Sholat dengan kode hati. Yuk, kita sholat mumpung sehat, sebelum sholat dengan hati.

• Wednesday, May 09th, 2018

Masa Lalu, Ippho Santosa

Oleh Agung Kuswantoro

 

Ippho Santosa – pakar otak kanan – seorang pemuda dan pengusaha. Enerjik. Namun, tak disangka ternyata dulu ia sering sakit. Masa SD hingga SMA sering sakit. Hampir dikatakan tiap bulan, pasti sakit. Bahkan, upacara saja, ia sering pingsan.

 

Tak hanya itu, sewaktu SMP, ia dikenal paling bodoh mata pelajaran Bahasa Inggris. Sewaktu kuliah, Bapaknya meninggal dunia.

 

Masa lalunya yang kelam ini, menjadikan ia ingin menjadi “pemenang” hidup. Atas izin Allah, sekarang ia sehat. Ia menjadi pengusaha. Ia juga pernah menjadi penerjemah untuk proyek PBB dan dosen untuk kelas Internasional. Ia pun menjadi pembicara.

 

Kata kunci keberhasilannya adalah hak menjadi pemenang hidup. Ia tidak memilih menjadi pecundang. Kelemahannya, ia tutupi dengan kelebihannya. Hingga, keterbatasannya menjadi kekuatannya. Itu saja ceritanya. Jangan melihat orang sukses itu sekarang. Tapi, lihatlah masa lalunya.

 

 

Semarang, 8 Mei 2018