• Friday, June 12th, 2020

“Lonjakan” Pengunjung dan Pembaca
Oleh Agung Kuswantoro

Saya memang suka nulis. Ide nulis saya, banyak. Ada dari hasil membaca, renungan, pemikiran, diskusi, permasalahan kehidupan, dan lainnya.

Tiap kali selesai nulis, biasanya saya “bagi” ke Grup WA, Facebook, dan blog. Saya membagikannya, sederhana yaitu dengan naskah “utuh” ke Grup WA, Facebook, dan blog. Mengapa seperti itu? Tujuannya, biar orang mudah membaca.

Beberapa hari ini dan sering–bisa dikatakan seperti itu, menurut saya–blog saya diingatkan oleh perusahaan pemilik blog, bahwa ada lonjakan pengunjung. Bagi, saya menyikapinya, dengan ucapan “Alhamdulillahi robbil ‘alimin”. Ternyata, ada yang membaca pula tulisan saya di blog. 100 pembaca dalam sehari.

Itulah (mungkin) sedekah saya kepada sesama makhluk Tuhan, yaitu berbagi “informasi” melalui tulisan. Senang rasanya, ada yang membaca. Doakan, agar saya sehat dan “bugar” otak agar bisa selalu berbagi kepada sesama. [].

Semarang, 12 Juni 2020
Ditulis di Rumah, jam 05.15-05.30 WIB.

• Tuesday, June 09th, 2020

Setiap Anak Itu Cerdas
Oleh Agung Kuswantoro

Ada yang menarik dari situasi Pandemi Covid-19, dimana anak belajar di Rumah bersama orang tuanya. Seharusnya. Namun, yang terjadi justru anak bermain sendiri. Bahkan, “orang tuanya” adalah HP, Youtube, dan TV kabel. Orang tua, saat anak di Rumah, malah kebingungan menghadapi perilakunya. Bingung harus melakukan “pembelajaran” apa buat dia? Orang tua sendiri sudah sibuk dengan pekerjaan di Rumah.

Buku “Semua Anak Bintang” menuntun saya—sebagai orang tua—agar mengembangkan kecerdasan anak. Menariknya lagi, penulis buku—Munif Chatib—mendefinisikan cerdas itu sederhana sekali. Cerdas menurut versi beliau adalah mampu membawa manfaat atau benefit positif bagi orang dirinya dan orang lain.

Artinya, apa? Berarti ia melakukan sesuatu yang bermanfaat. Titik itu, saja. Melakukan, apa? Nah, jawabnya, apa? Melakukan tindakan bisa berupa lingustik, matematis-logis, spasial-visual, dan kinestetis. Masing-masing tindakan tersebut, secara otomatis berpengaruh pada kondisi anak. Sehingga, gaya mengajar guru—dalam hal ini orang tua—berpengaruh sekali dalam pembelajaran di Rumah.

Ternyata, jadi orang tua itu –menurut saya—tidaklah mudah. Dibutuhkan ilmu dalam mengembangkan kecerdasan anak. Sudahkah Anda—selaku orang tua—belajar menjadi “guru” terbaik buat anak Anda?

Semarang, 9 Juni 2020
Ditulis di Rumah, jam 03.30-03.45 WIB.

• Friday, June 05th, 2020

Mbah Darman (Tidak) Buta
Oleh Agung Kuswantoro

Pasca lockdown Masjid selama 2 bulan, Alhamdulillah berangsur-angsur Masjid di Desa saya mulai kondisi new normal. Protokol kesehatan, tetap harus dipatuhi oleh jamaah saat pelaksanaan ibadah di Masjid.

Semenjak Masjid “dibuka”, hampir dipastikan setiap sholat, saya menjumpai mbah Darman. Ia/mbah Darman bagi saya adalah sosok yang biasa. Mengapa? Karena, saya sudah mengenal sejak tahun 2002. Waktu itu, saya masih berstatus mahasiswa strata satu di UNNES.

Saya mengenalnya di Masjid dekat kos dulu – yaitu Masjid Attakwa Gang Pete – saat sholat Jum’at. Saya sering mengantarkannya pulang usai sholat Jumat di Masjid Attakwa. Saya mengantarkan pulang dari Masjid ke rumahnya, sambil menggandeng tangannya. Bisa dikatakan, saya jalan kaki dengannya itu sangat pelan. Tidak berjalan cepat.

Apa, pasal saya selalu mengantarkannya pulang dengan jalan kaki dan berjalan pelan? Ya, betul, jawaban Anda, yaitu ia adalah orang yang diberi karunia oleh Allah SWT berupa buta. Buta matanya.

Melalui Masjid dan sholat Jumat, saya selalu “menyisihkan” waktu untuk mengantarkan pulang. Saya sendiri melakukannya dengan senang. Bahkan, ia bertanya kepada saya, mengenai identitas saya, dimana saya adalah seorang mahasiswa, kala itu.

Singkat cerita, saya diberi “rizki” oleh Allah SWT yaitu membeli rumah satu RT yang saya tempati dulu, waktu nge-kos. Ternyata, Allah SWT mengizinkan berdirinya tempat untuk sebuah Masjid didekat rumah saya.

Salah satu jamaah Masjid yaitu mbah Darman. Ia aktif dalam jamaah sholat wajib dan kegiatan Masjid. Setelah Idul Fitri 1441 Hijriah, ia sering menjadi muadzin dan sholat berjamaah di Masjid. Suatu ketika, saya mengajak berdiskusi mengenai kelemahan saya selaku manusia dan kemajuan Masjid. Mengingat, dulu, ia juga pernah menjadi muadzin di sebuah Masjid.

Bisa dikatakan, setelah Ramadhan, ia sering meng-adzan-i di Masjid dekat rumah saya. Saya hafal betul, karakter suaranya. Di Masjid ini pula, saya diberi amanah oleh Allah SWT menjadi imam, khotib, pengurus masjid, dan pengelola madrasah Aqidatul Awwam.

Kedekatan saya dengannya, mengingatkan saya dulu, sewaktu saya studi strata satu. Tahun 2002 waktu itu, sekarang Tahun 2020. Karakter mbah Darman yang suka dan aktif berjamaah tetap “terjaga”. Saya pun, alhamdulillah masih aktif mengantarkannya ke barisan shaf hingga pulang melewati tangga Masjid.

Hati
Buta (mata) mbah Darman, bisa jadi buta (hati) untuk saya. Kegelapan ruang mbah Darman, bisa jadi kegelapan (‘dimensi’) bagi saya. Bagi mbah Darma buta, bukan menjadi penghalang untuk beribadah ke Masjid. Tidak hanya beribadah sholat rowatib saja, sholat gerhana pun ia pergi Masjid.

Bisa jadi, saya yang “buta” melihat dunia ini. Mbah Darman-lah yang “melihat” dunia. “Kegelapan” hati itu, ada pada diri saya. Sedangkan “terang” hati itu, milik mbah Darman. Hati, mbah Darman sudah dibuka. Dengan rajin datang ke Masjid 30 menit sebelum tiba waktu sholat. Ia sudah berdzikir terlebih dahulu, sebelum tiba waktu sholat. Padahal, lampu Masjid belum dinyalakan. “Gelap gulitanya” Masjid, namun “terang benderang” baginya untuk berdzikir, sebelum adzan dikumandangkan olehnya. Kejadian tersebut, sering saya lihat olehnya. Saat saya menyalakan lampu Masjid, ternyata didalamnya ada Mbah Darman.

Kemudian, saya menata tempat duduknya yang biasanya masih miring (belum menghadap kiblat). Bagi saya, mbah Darman itu “tidak buta”. Buktinya, ia bisa mandiri bisa pergi ke Masjid dan aktif menjadi muadzin. Ia berjalan sendiri dari rumah ke Masjid dan dari Masjid ke rumah.

Malu rasanya, hati saya setiap melihat beliau berperilaku seperti itu. Saya berdoa kepada Allah SWT, semoga saya bisa didekatkan kepadanya. Karena, apa yang ia dikerjakan dan diajarkan oleh mbah Darman adalah sesuatu yang mulia. Bukan ucapan yang disampaikan, tapi perbuatan yang ditunjukkan.

Ia sering itikaf di Masjid. Belum tentu, saya melakukan itikaf di Masjid. Ia sering berdzikir menunggu waktu sholat tiba. Saya “biasa” datang Masjid, tanpa berdzikir terlebih dahulu, karena datang pas waktu sholat tiba.

Syukur, saya sebagai hamba Allah SWT diberi kenikmatan dalam keadaan sehat. Namun, kesehatan itu, apakah sudah saya dan Anda digunakan untuk itikaf, sholat sunah, rajin pergi ke Masjid untuk sholat berjamaah, dan kegiatan Masjid lainnya? Bisa jadi, jarang dilakukan, padahal fisik sehat dan semua organ berfungsi. Mata saya dan Anda, digunakan untuk apa? Jalan kaki, saya dan Anda diarahkan kemana? Dan, hati saya dan Anda tertuju kepada, siapa?

Terima kasih mbah Darman, telah mengajarkan dan mempraktekkan apa yang baik untuk saya. Sampai bertemu dan sholat gerhana lagi dan sholat Rowatib berjamaah. Semoga, mbah Darman panjang umur, sehingga saya bisa selalu belajar dengan Mbah Darman di Masjid. Amin.

Yuk, syukuri setiap dari tubuh kita yang sudah berfungsi dengan baik dengan rajin beribadah. Hitung, berapa kali sudah pergi ke Masjid semenjak new normal? Berapa kali sudah itikaf di Masjid? Dan, berapa kali meng-adzan-i Masjid? Dan, berapa kali tidak mengeluh karena fungsi tubuh yang tidak berfungsi? []

Semarang, 4 Juni 2020
Ditulis di Rumah, jam 03.30 – 04.00 WIB.

Tulisan ini atas seizin Mbah Darman.

• Tuesday, June 02nd, 2020

 

Hujjah Ahli Sunnah Wal Jamaah
Oleh Agung Kuswantoro

Adalah kitab “Hujjah Ahli Sunnah Wal Jamaah”, sebuah kitab yang mengantarkan saya mengenai pemahaman permasalahan-permasalahan Islam. Isinya sangat simpel membahas pahala ganjaran/pahala mengirim doa dan sedekah kepada orang yang meninggal, sholat sunah qobliyah Jumat, talqin mayit setelah dikubur, sholat tarawih, pahala puasa bulan Ramadan dan Syawal, ziarah kubur, nikmat dan siksa kubur, ziarah ke makan Rasulullah, dan tawasul kepada para Nabi, wali, dan orang yang sholih.

Dari kitab ini, saya betul “dibukakan” berbagai pendapat mengenai keislaman. Kitabnya tidak tebal, namun isinya sangat fundamental. Bagi saya yang orang awam menjadi dasar untuk memahami Islam. Misal, ada kasus orang sholat Jumat, datang terlambat saat Imam sedang tahyat akhir. Maka, berdasarkan pendapat-pendapat dari ahli dalam kitab ini, mengatakan agar saat melanjutkan sholat yang terlambat dengan sholat dhuhur.

Artinya, ia sholat empat rokaat. “solla ala nawa, nawa wala shola”. Kurang lebih dalilnya, seperti itu. Niat dengan sholat Jumat, namun pelaksanaannya sholat Dhuhur. Apa pasal, bisa melakukan seperti itu? Karena, salah satu alasannya yaitu ia telah meninggal atau tidak mendengarkan dua khutbah jumat, dimana kedua khutbah Jumat itu, hukumnya wajib didengarkan bagi seorang makmum.

Pemahaman-pemahaman inilah yang saya “jumpai” dalam kitab ini. Butuh pemahaman yang mendalam dalam memaknai kitab ini. Saya dulu diampu oleh KH. Romadlon SZ dalam mata pelajaran Tauhid. Tanggal 27 November 1997, saya mengkhatamkan kitab ini. Saya belajar kitab ini di Madrasah Salafiyah Kauman Pemalang. Begitu menikmati saat belajar ini. Waktu itu, saya kelas 3 SMP.

Ada ulasan mengenai kitab ini di Suara Merdeka edisi Sabtu, 9 Mei 2020 yang ditulis oleh H. Samsul Munir Amin (Ketua Komisi Dakwah MUI, kabupaten Wonosobo dan Wakil Rektor III UNSIQ Wonosobo). Saat saya membaca ulasan inni, langsung ingatan saya tertuju kepada masa lalu saya dimana pernah belajar dengan KH. Romadlon SZ. Melalui beliaulah saya menjadi dibuka pemahaman mengenai Islam.

Yuk, bagi yang sedang belajar untuk semangat untuk “menimba” ilmu. Kegunaan ilmu itu sangat “awet”. Buktinya, saya belajar waktu SMP (1997). Sekarang, lagi belajar lagi di Doktoral (2020), namun ilmunya masih membekas. Dan, Alhamdulillah bermanfaat sekali. Jadi, tidak ada yang sia-sia saat belajar itu. Percaya?

Semarang, 2 Juni 2020
Ditulis di Rumah, jam 03.45-04.10 WIB.

• Saturday, May 30th, 2020

Mutu Dalam “Jasa” Pendidikan
Oleh Agung Kuswantoro

Bicara mutu dalam sebuah produk yang diproduksi oleh suatu perusahaan itu sudah pasti jelas, mulai dari QC/Quality Control, QA/Quality Assurance, dan TQM (Total Quality Management). Namun, bagaimana jelas bicara mutu dalam sebuah lembaga yang bergerak dibidang “jasa” pendidikan?

Saya mengatakan “jasa” untuk pendidikan, karena pendidikan bukanlah memproduk suatu barang, yang mampu menunjukkan suatu kualitasnya. Kalaupun, bicara “produk”, lalu “produk” pendidikan itu, seperti apa?

Sallis (2002) mengatakan Service Quality (SQ) memiliki karakteristik yang lebih sulit dibandingkan mutu sebuah produk. Mengapa? Karena, karakteristik – mutu jasa mencakup elemen – subjek – yang banyak melalui QC, QA, dan TQM. Namun, untuk sebuah “produk” jasa, tak semudah menerapkan QC, QA, dan TQM.

“Produk” pendidikan, menurut para ahli berpendapat, berbeda-beda. Ada yang mengatakan produk pendidikan adalah peserta didik. Ada pula yang berpendapat, bahwa produk pendidikan adalah institusi itu sendiri, dengan nilai akreditasi.

Oleh karena “licinnya”, menentukan sebuah mutu dalam bidang “jasa” pendidikan diperlukan sebuah alat/tools untuk mendapatkan mutu yang baik. Di Indonesia mengenal dengan istilah MBS/Manajemen Berbasis Sekolah untuk mencapai mutu dalam lembaga pendidikan/sekolah.

Konsep MBS adalah desentralisasi. Artinya, sekolah memiliki kewenangan dalam mengelola lembaganya. Kepala sekolah menjadi kata kunci dalam mengelola organisasinya.

Kemudian, pemerintah menentukan standar-standar nasional yang ditentukan melalui peraturan-peraturan sebagai acuan/patokan untuk menggapai kontrol mutu/QC. Harapannya, sekolah melalui MBS dapat “melampaui” atas standar dari pemerintah. Tidak hanya “terstandar” saja. Tetapi, harus “melampaui” target dari standar yang ditentukan oleh pemerintah.

Sehingga, bisa dikatakan MBS itu “embrio” dari TQM. QC-nya adalah MBS, sedangkan TQM adalah peraturan-peraturan Standar Nasional Pendidikan/SNP.

Dengan demikian, sekolah-sekolah yang ada di Indonesia dapat mengidentifikasi standar-standar mutu yang akan ditentukan berdasarkan kemampuan sumberdaya sekolah.

Adapun indikator SNP tersebut meliputi (1) standar kompetensi lulusan; (2) standar isi; (3) standar proses; (4) standar penilaian; (5) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (6) standar pengelolaan; (7) standar sarana prasarana; dan (8) standar pembiayaan.

Menurut Pamatmat (2016) dalam penelitiannya mengatakan bahwa TQM memiliki indikator (1) kepemimpinan; (2) Fokus pada klien; (3) komitmen untuk berubah dan perbaikan yang berkesinambungan; (4) keputusan berdasarkan data; (5) pembelajaran yang profesional; (6) kerja tim; dan (7) fokus pada sistem. Pamatmat melakukan penelitian ini pada 60 guru dan 6 kepala sekolah di Filipina. Hasilnya, TQM memberikan dampak terhadap sebuah mutu pendidikan.

Hal yang menarik, hasil penelitian dari Pamatmat yaitu indikator untuk mengukur sebuah mutu, yaitu dimulai dari kepemimpinan hingga fokus pada sebuah sistem. Dimana, indikator-indikator tersebut berbeda dengan indikator standar mutu yang ada di Indonesia (dalam hal ini SNP). Indikator yang digunakan oleh Pamatmat itu lebih “aktif”, dibanding SNP yang cenderung “pasif”. Sehingga, hasil untuk mencapai mutu dalam sebuah lembaga pendidikan dengan mengimplementasikan TQM itu, berbeda-beda.

Maknanya, TQM itu, memiliki cara tersendiri untuk mengukurnya. Misal, TQM di Indonesia dalam menentukan mutu ada, MBS. TQM di Jepang, ada istilah Kaizen. Dimana, masing-masing TQM di negara tersebut memiliki indikator yang berbeda-beda tiap negara.

Bisa dikatakan, bahwa MBS itu, bukan satu-satunya untuk mewujudkan TQM. Masih banyak cara untuk mewujudkan TQM. Perumpamaannya, obat Paramex, bukan satu-satunya obat sakit kepala. Masih ada obat sakit kepala lainnya, seperti Bodrex dan Panadol. MBS bukan satu-satunya “obat” TQM. Masih banyak “Quality Control” yang lain untuk menuju TQM.

Sebagai orang yang “awam” dengan mutu, saya mengajak kepada diri sendiri untuk memperbanyak referensi mengenai TQM, dan menelaah jurnal bertema mutu. Karena, tema ini sangat fundamental, terlebih di dunia pendidikan. “Nutrisi” yang “bergizi” dibutuhkan, agar saya dan Anda tidak terlalu “mendewa-dewakan” MBS. Buktinya, Pamatmat di Filipina, mampu menemukan indikator yang berbeda terkait TQM, dimana indikatornya berbeda dengan teori yang selama ini ada yaitu SNP. Setujukah, Anda dengan pendapat saya?

Semarang, 29 Mei 2020
Ditulis di Rumah, jam 21.30 – 22.30 WIB.

• Thursday, May 28th, 2020

more…

• Tuesday, May 26th, 2020

Sehabis Ramadhan
Oleh Agung Kuswantoro

Sebentar lagi–empat hari–Ramadhan meninggalkan kita. Jujur, saya masih kebayang bulan suci tersebut. Meskipun, saya full beribadah di Rumah. Namun, rasanya bulan itu masih ada di hati.

Saat Isya tiba. Segera sholat Isya, Tarawih, dan Witir. Saat Sahur, segera menyiapkan makanan. Dan, saat Magrib, saya berbuka puasa. Itulah aktivitas yang saya lakukan.

Namun, saat Syawal datang. Mbokles, rasanya. Ramadhan sudah pergi. Ramadhannya yang pergi. Bukan, saya yang pergi. Karena, Ramadhan itu pasti datang lagi pada 11 bulan berikutnya.

Namun, apakah usia saya dan Anda bisa sepanjang 11 bulan lagi?

Semoga saya bisa mengambil hikmah bulan puasa kemarin. Terlebih, Ramadhan saat pandemi Covid-19. Demikian juga, Idul Fitri saat pandemi Covid-19.

Saya hanya manusia. Hanya bisa merencanakan. Allah yang memutuskan. Rindu Ramadhan. Semoga, hamba-Mu ini bisa dipertemukan pada Ramadhan 1442 Hijriyah. Amin.

Semarang, 27 Mei 2020

more…

• Tuesday, May 26th, 2020

Ibadah Adalah Salah Satu Cara Hidup Sehat
Oleh Agung Kuswantoro

Mau hidup sehat itu harus sadar dulu. Sadar dimulai dari diri sendiri. Bukan, berawal dari orang lain menjadi tidak tepat. Gaya hidup sehat, tetapi selalu diingatkan oleh orang lain. Artinya, diri orang tersebut belum menyadari akan makna hidup sehat.

Awalilah hidup sehat itu dari diri Anda sendiri. Caranya, bagaimana? Kenali diri Anda sendiri, Anda harus kenal betul diri Anda. Jangan sampai orang lain mengetahui informasi yang ada dalam diri Anda, namun Anda tidak – sadar – mengetahuinya.

Meminjam istilah “Johari Window”, bahwa ada empat daerah dalam diri setiap orang. Mengenali diri sendiri itu, termasuk dalam daerah terbuka. Artinya, segala sesuatu mengenai diri saya itu sayalah yang mengetahui.

Contohnya: saya penyuka makanan pedes dengan level 3. Namun jika ia makan makanan pedes pada level 5, maka resiko yang dihadapinya ia sudah siap. Apa itu? Diare atau sakit perut.

Misal lagi, orang yang memiliki gangguan lambung, maka saat Idul Fitri, tidak usah berburu “opor ayam” yang kental santan. Biasa saja. Apa sebab? Ya, betul. Jika terlalu banyak makanan bersantan, maka lambung menjadi sakit. Karena, yang bersangkutan memiliki penyakit mag.

Cara lain agar gaya hidup menjadi sehat adalah rajin beribadah. Rajin beribadah adalah “buah” kesadaran seseorang atas pemahaman suatu agama. Artinya, ibadah implikasi seseorang dalam pengamalan suatu agama.

Ibadah menjadikan otak itu “tajam” dan hati tenang. Imbang antara urusan dunia dan akhirat. Jika cita-citanya “setinggi” langit, namun tidak terwujud, maka penyeimbangnya adalah hati. Otak sudah bekerja, mati-matian. Namun keputusan ada di tangan Tuhan. Apabila cita-cita tidak terwujud, maka hatilah sebagai solusinya.

Beribadah adalah penyeimbang gaya hidup antara dunia dan akhirat. Cara ini lebih ampuh dalam kehidupan seseorang. Yang dibutuhkan oleh seseorang untuk level ibadah yaitu ilmu dan iman. Sehingga, berbuah kesadaran. Dari kesadaran itulah muncul gaya hidup sehat. Salah satunya, adalah beribadah.

Jadi kata kuncinya adalah kesadaran diri. Kesadaran diri menjadi sangat penting dalam gaya hidup sehat. Tanpa, ada orang yang mengingatkan atau “mengoprak-oprak” dalam hidup sehat. Semoga Anda, termasuk yang ada dalam kategori hidup sehat dengan cara beribadah.

Semarang, 26 Mei 2020
Ditulis di Rumah, jam 08.00 – 08.30 WIB.

• Monday, May 25th, 2020

Apa Perbedaaan Kontrol Mutu, Jaminan Mutu, dan Mutu Terpadu?
Oleh Agung Kuswantoro

Anda pernah mendengar istilah quality control, quality assurance, dan total quality? Saya yakin pernah mendengarnya. Lalu, apakah Anda tahu arti dari istilah tersebut? Tahu artinya? Quality control itu kontrol mutu, quality assurance itu jaminan mutu. Dan total quality itu mutu terpadu.

Apa makna dari ketiga istilah tersebut? Kontrol mutu itu maksudnya deteksi dan eleminasi/penggantian komponen atau produk yang tidak sesuai dengan standar. Ini adalah proses produksi yang mencari/melacak dan menolak item-item/bagian-bagian yang cacat. Pelakunya, biasanya disebut dengan pemeriksa. Pekerjaannya disebut pemeriksaan. Ada pula yang menyebutnya inspeksi. Tujuan inspeksi/pemeriksaan itu memeriksa standar. Standar telah dipenuhi atau belum.

Jaminan mutu lebih menekankan pada pencegahan produksi. Tujuan jaminan mutu adalah menjamin bahwa proses produksi menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Meminjam istilah Crosby, yaitu zero defects/produk, tanpa cacat itu tujuan dari jaminan mutu.

Sedangkan TQM/Total Quality Management itu pengembangan dari jaminan mutu. TQM bisa dikatakan usaha untuk menciptakan sebuah kultur mutu yang mendorong semua stafnya untuk memuaskan para pelanggan.

TQM ada kaitannya dengan kepuasan pelanggan. Pernahkah mendengar istilah pelanggan adalah raja? Nah, istilah tersebut adalah “produk” dari konsep mutu terpadu.

Dari penjelasan di atas, perhatikanlah benda yang ada di sekitar Anda, misal, bolpoin. Benda yang disebut bolpoin itu, apakah ada unsur kontrol mutu, jaminan mutu, dan mutu terpadu?

Jawablah pertanyaan tersebut, sebagai bukti Anda paham dimana sebuah bolpoin itu ada kontrol mutu, jaminan mutu, dan mutu terpadu. Karena, jika bolpoin itu tidak mengandung ketiga unsur tersebut, maka bolpoin tersebut, pastinya tidak ada hingga saat ini. Artinya, bolpoin itu mengandung suatu mutu. Lalu, dimana letak kontrol mutu, jaminan mutu, dan mutu terpadunya? []

Semarang, 22 Mei 2020
Ditulis di Rumah, jam 00.00 – 00.30 WIB.

• Monday, May 25th, 2020

“Kulit” Kebijakan Pendidikan Tiap Jenjang Pendidikan
Oleh Agung Kuswantoro

Materi yang disampaikan oleh Prof. Fakhrudin, M.Pd membahas mengenai kebijakan pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, dan SMA/SMK. Ternyata, masing-masing jenjang pendidikan memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Namun, bisa dikatakan permasalahan tersebut mirip/identik dengan satuan pendidikan satu sama lain. Dimulai dari isu utama, lalu konsep satuan pendidikan, dan permasalahan yang terjadi di jenjang pendidikan tersebut.

Isu utama diantaranya ekuitas kebutuhan ragam belajar, kurikulum, manajemen guru, dan koordinasi pemerintah dan kebijakan.

Setelah isu muncullah pertanyaan-pertanyaan seperti: Siapa yang mengajar? Bagaimana sumber dana? Siapkah siswa belajar? Sarana apa saja yang disiapkan untuk belajar? Bagaimana kompetensi belajar? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Baru setelah itu, ada prinsip yang harus ada dalam jenjang pendidikan. Lalu, muncullah kebijakan pendidikan setiap jenjang pendidikan.

Itulah inti dari mata kuliah kebijakan pendidikan yang saya terima. Yang saya tulis hanya “kulitnya” saja. Belum secara detail. Ini hanya “pancingan” saya agar lebih giat lagi belajar kebijakan pendidikan. []

Semarang, 22 Mei 2020
Ditulis di Rumah, jam 05.00 – 05.30 WIB.