Terdapat tradisi unik di desa Prawoto dalam kegiatan hajatan atau selamatan setiap warga masyarakat, kegiatan tersebut adalah kegiatan nyumbang. Tradisi nyumbang dalam siklus daur hidup masyarakat Jawa di Desa Prawoto menejelaskan adanya suatu resiprositas yang ada dalam tradisi ini. Tradisi nyumbang ini dilakukan pada saat ada warga yang sedang memiliki hajat atau selamatan. Tradisi nyumbang biasanya ketika ada seorang yang memiliki hajat maka orang lain atau tetangga sekitar akan menyumbang atau memberi barang, barang tersebut biasanya adalah rokok dan sembako. Seiring perkembangan zaman tradisi nyumbang ini tidak mengalami pergesaran akan tetapi malah semakin diminati oleh warga masyarakat Desa Prawoto, hal ini terbukti dari banyaknya warga yang berlomba-lomba untuk melaksanakan hajatan dalam rangka apapun. Karena warga menganggap bahwa ketika mereka semakin banyak melaksanakan kegiatan hajatan maka semakin banyak pula orang yang akan menyumbang mereka dan mendapatkan untung yang banyak dalam waktu singkat. Akan tetapi tradisi nyumbang ini mereka tidak berfikir bagaimana mereka nanti akan menggantinya kelak di kemudian hari ketika warga yang lain mempunyai hajat. Aktivitas tersebut mengandung unsur kerjasama resiprositas (hubungan timbal balik) antara orang-orang yang turut terlibat didalam hajatan. Resiprositas dianggap sebagai strategi yang dilakukan individu atau masyarakat di Desa Prawoto untuk melestarikan tradisi yang dimilikinya agar dapat bertahan hingga sekarang. Resiprositas yang ada mengarah pada resiprositas yang seimbang, individu dalam resiprositas ini tidak mau ada yang saling dirugikan, walaupun kadangkalah juga ditemukan resiprositas negatif dengan maksud ingin mencari keuntungan semata tetapi jarang ditemukan dalam masyarakat. Keputusan untuk melakukan kerjasama resiprositas lebih dilatarbelakangi oleh motif ekonomi dan motif sosial. Bagi sebagian besar masyarakat Desa Prawoto  tradisi nyumbang terkadang dianggap memberatkan perekonomian rumah tangga, tetapi disisi yang lain mereka juga tidak dapat menghindarinya ataupun menolaknya hal ini dikarenakan adanya pengharapan dari tradisi tersebut. Keinginan untuk bisa menggelar hajatan serta menyumbang rata-rata menjadi harapan warga desa, temasuk keinginginan untuk bisa menyumbang atau mengembalikan pemberian, walaupun dengan cara berhutang kepada warung-warung kecil di Desa Prawoto. Warung yang ada di desa dianggap sebagai penyelamat karena mereka bisa hutang untuk melakukan nyumbang kepada warga lain. Walaupun sebenarnya hal ini sangat memberatkan warga itu sendiri.

  1. Bentuk resiprositas dari tradisi nyumbang yang ada di Desa Prawoto

Sekilas tradisi nyumbang tersebut hamper mirip dengan barter namun terdapat perbedaan diantara keduanya. Dalam barter, orang akan bertransaksi apabila merasa cocok dengan barang yang akan dibarter. Sementara dalam tradisi nyumbang, penukaran yang terjadi adalah biasanya barang yang sejenis namun pemberiannya terjadi di lain waktu dan tidak secara langsung. Jadi tradisi nyumbang ini juga dapat dikatakan sebagai bentuk dari resiprositas. Resiprositas merupakan proses timbal balik yang terjadi ketika seseorang melakukan pengungkapan diri, hubungan yang didalamnya terdapat sebuah tindakan timbal balik, pengaruh, memberi dan menerima, korespondensi, antara dua pihak. istilah timbal balik adalah berasal dari bahasa latin kata, reciprocus, makna bergantian. Resiprositas sendiri juga dibagi menjadi tiga macam yaitu resiprositas umum, resiprositas sebanding dan resiprositas negatif. Pada tradisi nyumbang sendiri termasuk kedalam bentuk resiprositas sebanding sebab Resiprositas ini menghendaki barang atau jasa yang dipertukarkan mempunyai nilai yang sebanding dan disertai dengan kapan pertukaran itu berlangsung, kapan memberikan, menerima, dan mengembalikan yang dapat dilakukan individu, dua atau lebih dan dapat dua kelompok atau lebih. Dan juga jika hal tersebut dilanggar tidak terdapat hukuman yang berat melainkan hanya tekanan moral dalam masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari tradisi nyumbang yang ada dimana terdapat suatu kesepakatan jika tindakan tukar menukar barang kebutuhan pokok sembako tersebut sudah memiliki kesepakatan waktu yang akan dilakukan untuk melakukan pertukaran.  Dalam pertukaran tersebut juga didasari dengan rasa prestise sebab dalam pertukaran tersebut pelaku pertukaran harus melakukan pertukaran atau melakukan hubungan timbal balik karena jika tidak melakukan pertukaran akan di anggap sebagai perilaku yang tidak baik sebab dalam tradisi nyumbang seseorang yang memiliki hajatan pasti akan di sumbang, begitu juga sebaliknya, bilamana ada orang lain yang memiliki hajat orang tersebut juga harus melakukan hal serupa yaitu nyumbang. Walaupun materi yang diberikan tidak sama besar tapi warga masyarakat tidak bisa mengabaikan tradisi nyumbang tersebut. Tradisi ini sudah turun-temurun dari dulu hingga sekarang, maka tradisi ini masih sangat melekat pada warga Desa Prawoto yang masih menjunjung tinggi nilai tradisi.