Tanamkan Konservasi dalam Hati… #1

Universitas Negeri Semarang atau sering disebut UNNES merupakan kampus yang bergelar Kampus Konservasi. Apa sih konservasi itu? Mungkin banyak pertanyaan dari teman-teman yang baru pernah mendengar kata Konservasi. Ya, disini saya akan menceritakan sedikit tentang konservasi. Konservasi menurut saya adalah upaya pelestarian lingkungan dengan tetap memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh dari lingkungan. Nah, sekarang giliran kita menjadi kader konservasi.

Tugas dari kader konservasi adalah melestarikan lingkungan dan seisinya. Contoh kegiatan konservasi yang dapat dilakukan sehari-hari adalah : mematikan lampu setelah digunakan, mematikan kran air apabila sudah tidak digunakan, membuang sampah pada tempatnya, membersihkan lingkungan, menghemat penggunaan kertas, mengolah limbah, melestarikan budaya Indonesia, dan lain sebagainya.

Di Unnes juga memproduksi pupuk organik sebagai wujud dari konservasi yaitu memanfaatkan limbah daun kering yang semula berserakan di mana-mana kini menjadi bermanfaat sejak dijadikan pupuk organik. Banyak sekali manfaat dari pupuk oraganik yaitu salah satunya adalah menyuburkan tanaman.

4 pilar yang diterapkan di Unnes untuk pengelolaan limbah, yaitu :

1. Memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai (Reuse).

2. Mengurangi kegiatan yang menghasilkan sampah (Reduse).

3. Melakukan daur ulang terhadap sampah atau limbah untuk dimanfaatkan kembali (Recycle).
4. Melakukan pemulihan kembali terhadap fungsi dari fasilitas-fasilitas di Unnes yang telah berkurang pemanfaatannya (Recovery).

Sebagai kader konservasi kita harus kritis dan tanggap terhadap lingkungan, bukan hanya sampah dan tanaman yang kita pikirkan. Namun, kita juga harus melestarikan budaya Indonesia. Sebagai generasi penerus kita harus menjaga budaya Indonesia supaya tetap lestari dan untuk dijadikan warisan anak cucu kedepannya. Banyak sekali budaya Indonesia yang perlu kita lestarikan contohnya adalah wayang kulit dan tari tradisional. Walaupun sekarang masih banyak yang menampilkan wayang kulit dan tari tradisional tetapi apa salahnya kalau kita berlatih agar bisa berperan dalam budaya tersebut. Kebanyakan yang menjadi dalang (pemain wayang kulit) adalah orang tua jaman dahulu dan masih sangat sedikit anak sekarang yang menjadi dalang wayang kulit. Kebanyakan dari meraka lebih suka terhadap budaya barat dan tari Dance Modern. Maka dari itu kita sebagai kader konservasi harus bisa  melastarikan dan mengenalkan budaya Indonesia ke dalam lingkup Internasional.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Univesritas Negeri Semarang, tulisan ini adalah karya sendiri dan bukan jiplakan”

Referensi :

Hardiati,Puji.2015.Pendidikan Konservasi.Semarang:Magnum Pustaka Utama.

2 Responses to “Tanamkan Konservasi dalam Hati… #1”

  1. Eva nurfitriani Says:

    mba mau tanya kalo mau ngepost blog award itu di laman ini kah?

  2. Agustina Maharani Says:

    iya mba di blog mba, pilih yang posts terus add post kalo gak salah.

Leave a Reply


Skip to toolbar