Dalam proses pencarian data, kelompok kami melakukan dua kali observasi, yaitu hari kamis dan hari selasa.
Kamis (1 Juni 2017)
Proses observasi kelompok kami yang pertama, kami lakukan pada hari kamis, 1 Juni 2017 di daerah Tugu Muda Semarang. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan, kami menemukan beberapa data/ informasi mengenai fokus penelitian kami, yaitu tentang anak jalanan di Tugu Muda Semarang:
Pak Biyanto (tukang koran): ia menjelaskan tentang bagaimana keadaan yang sebenarnya dialami oleh anak jalanan di Tugu Muda Semarang, serta bagaimana cara anak jalanan ini bekerja. Beliau menjelaskan bahwa para anak jalanan ini tinggal bersama orang tua mereka. Dalam keseharianya, para anak jalanan ini disuruh bekerja oleh orang tua mereka, dalam hal ini yaitu berjualan koran.
Bu Ulfa (penjual es/ ibu anak jalanan): Bu Ulfa menjelaskan tentang bagaimana kehidupan pribadinya (keluarga anak jalanan), dan apa saja kebutuhan anak jalanan setiap harinya. Menurut penuturannya, Bu Ulfa ini tinggal sendiri bersama dua orang anaknya, suaminya telah pergi meninggalkan dia dan anak-anaknya. Untuk mencukupi kebutuhan setiap harinya, Bu Ulfa bekerja sebagai penjual es di pingir jalan di kawasan Tugu Muda, untuk menambah penghasilannya, ia menyuruh anaknya untuk bekerja (jualan koran). Untuk kebutuhan anak jalanan sangat beragam, diantaranya yaitu untuk membeli makan sehari-hari, untuk beli jajan, untuk membayar SPP pendidikan (bagi yang bersekolah), serta untuk membayar kontrakan (bagi yang tinggal menetap).
Farel (anak jalanan): ia menjelaskan mengenai apa saja pekerjaan anak jalanan di Tugu Muda Semarang serta pendapatan dari masing-masing pekerjaan tersebut, alasan jadi penjual koran, serta harapan-harapannya kedepan. Menurutnya, pekerjaan para anak jalanan di Tugu Muda Semarang ini ada tiga jenis dengan jumlah pendapatan masing-masing, yaitu ada penjual koran, pengemis, dan juga pemulung. Sebagai penjual koran, para anak jalanan ini biasa memperoleh penghasilan antara 50 – 170 ribu/ hari, dengan harga 2.000 – 5.000 per koran. Untuk pengemis, para anak jalanan ini mendapatkan penghasilan sebesar 50 – 200 ribu /malam. Sedangkan untuk pemulung, para anak jalanan ini biasanya mendapatkan penghasilan sebesar 3.000/ kg. Dalam sehari, ia mendapatkan penghasilan 60.000 dari menjual koran. Ia menjual koran karena terpaksa, karena keadaan ekonomi keluarganya yang serba kekurangan, akhirnya mendorong ia untuk menjual koran. Dalam kondisi yang demikian, ia masih mempunyai cita-cita dan harapan yang besar, ia ingin agar kondisi seperti ini tidak berjalan lama, ia ingin merubah keadaan ia sekarang menjadi keadaan yang lebih baik, bahkan di tengah hiruk-pikuknya kondisi jalanan, tersemat cita-cita tinggi dalam dirinya, yaitu ingin jadi presiden.

Elen (anak jalanan): informan yang ini menjelaskan mengenai bagaimana kondisi keluarganya, dan bagaimana pendidikannya. Menurut pendapatnya, kondisi keluarganya masih sedikit lebih baik dibandingkan kondisi keluarga teman-temannya sesama anak jalanan, bahkan ia masih mempunyai kesempata untuk menimba ilmu di salah satu sekolah. Ia merupakan siswi kelas 4 SD (untuk SD nya dirahasiakan).

Selasa (6 Juni 2017)
Observasi yang kedua ini, kami lakukan untuk mencari beberapa tambahan data/ informasi yang telah kami dapatkan dari hasil observasi kami yang pertama. Untuk tempatnya masih sama yaitu di kawasan Tugu Muda Semarang. Hasil dari observasi yang kedua kami yaitu:
Seon (anak jalanan): ia menjelaskan mengenai mengapa para anak jalanan bekerja demikian (sebagai penjual koran, pengemis, serta pemulung). Menurutnya, tidak ada pekerjaan lain yang bisa mereka kerjakan selain pekerjaan-pekerjaan tersebut. ia menuturkan bahwa, cara bertahan hidup seperti ini sudah dilakukan oleh Bapak/ Ibunya dari dulu hingga sekarang.

Adit (anak jalanan): informan ini menjelaskan tentang bagaimana para anak jalanan bekerja, mulai dari penjual koran (biasanya dilakukan di pagi hari hinga korannya habis terjual semua).

Sumber :
Hasil Observasi dan Catatan Lapangan

5 Responses to “STRUGGLE OF LIFE (Cara Bertahan Hidup) Anak Jalanan Tugu Muda Semarang”

  1. hasna farras elian ridhwan Says:

    Isi postingannya cukup informatif hanya saja terlalu kaku/formal. Mungkin bisa menggunakan bahasa yang simple dan tidak terlalu formal

  2. Wiwin Wahyuningsih Says:

    Postingan yang menambah wawasan saya tentang kehidupan anak jalanan di Kota Semarang. mungkin dapat ditambahkan foto ketika observasi untuk lebih menarik dan mendukung tulisannya

  3. Putri Afra Husnun Mufidah Says:

    dari postingan ini saya jadi tahu bagaimana kehidupan anak jalanan di TUGU Muda Semarang

  4. aknes novi febriana Says:

    Terimakasih hana dan wiki atas masukannya

  5. aknes novi febriana Says:

    Terimakasih hasna dan wiwin atas masukannya

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons nartzco

Lewat ke baris perkakas