Manusia dan Kebudayaan
November 9th, 2015 by alfiyah

2.1. Keanekagaraman Makhluk Manusia dan Kebudayaan

Seorang ahli biologi Chrles Darwin, jauh sebelum terbitnya buku The Origin of Species Darwin memiliki tiga pandangan di kalangan Eropa dalam melihat masyarakat dan kebudayaan makhluk hidup. Yang pertama, berpendapat bahwa pada dasarnya makhluk manusia memang diciptakan beraneka-macam atau polegenesis dan menganggap orang – orang di Eropa yang berkulit putih merupakan makhluk manusia yang paling baik dan kuat. Kedua,berpendapat bahwa sebenarnya makhluk manusia itu hanya pernah diciptakan sekali saja atau monogenesis. Dan yang ketiga yaitu berpendapat bahwa sebenarnya makhluk manusia dan kebudayaan tidak mengalami proses degenerasi.

Dalam buku L’Esprit des Lois, mengatakan bahwa keanekaragaman masyarakat manusia itu lebih disebabkan oleh akibat dari sejarah mereka masing – masing di pengaruhi karena lingkungan alam dan struktur internnya. Oleh karena suatu unsur kebudayaan,tidak dapat di nilai dari pandangan kebudayaan lain melainkan harus dari system nilai dalam kebudayaan itu sendiri(relativisme kebudayaan). Manusia dan kebudayaan merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan, sementara itu pendukung kebudayaan adalah makhluk manusia itu sendiri. Kebudayaan mengenal ruang dan tempat tumbuhkembangnya, dengan mengalami perubahan, penambahan dan pengurangan. Manusia tidak berada pada dua tempat atau ruang sekaligus, ia hanya dapat pindah ke ruang lain pada masa lain. Pergerakan ini telah berakibat pada persebaran kebudayaan, dari masa ke masa , dan satu tempat atau ke tempat lain. Sebagai akibatnya di berbagai tempat dan waktu yang berlainan, di mungkinkan adanya unsur – unsur persamaan di samping perbedaan. Oleh karena itu di luar masanya, suatu kebudayaan dapat dipandang ketinggalan zaman(anakronistik), dan di luar tematnya di pandang asing atau janggal.

2.2. Konsep Kebudayaan

Konsepsi kebudayaan yang bervariasi, dan setiap pembatasan arti yang diberikan akan dipengaruhi oleh dasar pemikiran tentang azaz – azaz pembentukan masyarakat dan kebudayaan. Dalam antropologi menekankan bahwa, berbagai cara hidup makhluk hidup manusia tercemin dalam pola – pola tindakan ( action) dan kelakuan (behavior) keduanya merupakan aspek terpenting sebagai obyek penelitian dan analisisnya. Oleh karena itu, adanya pembatasan konsep kebudayaan yang menekankan pada aspek belajar (learned behavior).

Dalam antropologi budaya, ruang lingkup kajian kebudayaan mencakup variasi obyek yang sangat luas, antara lain meliputi dongeng,ragam bahasa,ragam keranjang, hokum, upacara minta hujan. Selain itu, C Kluckhohn mengatakan kebudayaan makhluk manusia terdapat unsur kebudayaan yang bersifat universal, yaitu system organisasi, system mata pencaharian hidup, system teknologi, system pengetahuan, kesenian, bahasa dan religi. Konsep kebudayaan yang berkembang di kalangan ahli antropologi, telah berkembang pula ke berbagai bidang pemikiran, sekalipun seringkali masih dijumpai belum ada konsistensi penggunaannya, terutama dalam pemakaiannya masih terdapat pemahaman yang kurang jelas. Sebagai contoh, Roger M. Keesing(1981) dan Goodenough(1957,1961) mengatakan bahwa dalam konteks definisi serta penggunaannya sering kali masih kabur: missalnya, dalam membedakan antara “pola untuk perilaku” dan “pola dari perilaku”

2.3. Ekologi dan Homeostatis

          Dalam kaitannya kebudayaan dengan suatu perubahan ekologis juga akan dapat membuat manusia menyesuaikan berbagai gagasan mereka, misalnya tentang kosmologi, suksesi politik, kesenian. Selain itu, pendekatan ekologis berupaya menemukan spesifikasi lebih tepat mengenai hubungan antara kegiatan manusia dan proses alam tertentu dalam suatu kerangka analisis ekosistem, atau menekankan saling ketergantungan sebagai suatu komunitas alam. Terpelihara keseimbangan system atau homeostatis merupakan kekuatan pengatur ‘ perimbangan alam’ atau the balance of nature; misalnya, sekawanan bir – biri di padang rumput yang memakan rumput dengan gigi – giginya, sementara itu biri – biri tadi juga dapat memupuk padang rumput dengan kotorannya.

Selanjutnya, dalam tulisan Geertz tentang mojokuto, ia juga menekankan akan pentingnya pembedaan kultur dengan struktur social dan secara khusus ia membahas pula paradigma kultural. Dengan sejarah social dalam bukunya, bukan hanya sekedar kisah orang dan peristiwa tetapi lebih merupakan bahasan dari suatu keseimbangan social. Faktor ekologi, ekonomi, social dan kultral berperan dalam perubahan dan semua itu sebagai akibat pertemuan system ekonomi modern (Belanda) dan ekonomi subsistem dari pribumi Jawa.

2.4. Ekologi Budaya

Pada dasarnya , J.H.Steward berpendapat bahwa proses perkembangan kebudayaan di dunia memiliki corak khas dan unik. Proses perkembangannya di berbagai belahan bumi dan tidak terlepas antara satu dengan lainnya bahkan ada beberapa diantara tampak sejajar, terutama terutama system mata pencaharian hidup, system kemasyarakatan dan system religi. Seperti contohnya pada masyarakat berburu, ada kecenderungan mereka hidup di lingkungan alam yang sulit dengan binatang buruan yang terpencar. Steward juga berpendapat lagi bahwa hubungan antara kebudayaan dengan alam sekitanya juga dapat dijelaskan melalui aspek – aspek tertentu dalam suatu kebudayaan,sekalipun alam sekitarnya belum tentu akan berpengaruh terhadap kebudayaan dari suatu suku-bangsa. Steward juga menekankan bahwa kajian ekologi budaya harus dipisahkan dengan kajian ekologi budaya, karena yang terakhir ini cenderung lebih melihat hubungan antara suatu organisma dengan alam sekitarnya. Akan tetapi perbedaan alam sekitar bukan merupakan satu – satunya yang menyebabkan kebudayaan. Oleh karenanya, ia menyarankan agar dalam sustu penelitian misalnya, tidak dibuat hipotesa bahwa alam sekitar sebagai faktor yang mempengaruhi kebudayaan.

Pendekatan ekologi budaya yang di miliki oleh Steward tidak berlaku pada seluruh aspek kehidupan manusia secara luas dan besar, melainkan hanya lebih di dasarkan atas kecocokan dalam menerapkan konsep dan asas ekologi pada aspek – aspek tertentu dari kehidupan social dan budaya manusia. Atas dasar pemikirannya, ia mengusulkan konsep ‘ tipe kebudayaan’ atau ‘culture type’ , yaitu yang di dasarkan atas jenis teknologi tertentu dan mengkaitkannya dengan sifat – sifat suatu lingkungan dan jenis teknologi yang dipergunakannya.

2.5. Determinisme Lingkungan dan Posibilisme

Dalam konteks antropologi ekologi memiliki sudut pandang yang merupakan upaya untuk mendapatkan suatu kerangka analisis, terutama konteks mengenai kajian yang saling pengaruh – mempengaruhi antara manusia dengan seluruh isi alam, dengan maksud untuk dapat melihat manusia dan latar belakang habitatnya, apakah melalui pemahaman yang bersumber pada antropogeografi atau posibilisme. Kebudayaan selalu dikaitkan adanya keterkaitan perilaku manusia dengan lingkungan atau environmental determinism (geographical determinism atau ethnographic environmentalism). Pendekatan yang mendasarkan pada suatu pandangan bahwa kondisi suatu lingkungan amat berperan dalam membentuk kebudayaan suatu suku- bangsa. Dalam perkembangan, terutama di kalangan ahli antropologi amerika, muncul pemikiran yang berlawanan, yaitu antara kaum possibilian berpendapat bahwa perilaku suatu kebudayaan dipilih secara selektif, secara tak terduga hasil adaptasi dengan lingkungannya. Sedangkan, Kaum Antropogeografis berpendapat bahwa lebih mendasarkan suatu pendekatan menekankan mengenai sejauh mana bagimana cara – cara kebudayaan atau determinisme lingkungan.

Pada umumnya, istilah environmentalism, dipakai untuk mengelompokan suatu pemikiran yang beranggapan bahwa perilaku social-budaya dari makhluk hidup ditentukan oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, tetapi dalam proses pembentukannya lebih ditentukan oleh lingkungan alam tempat mereka itu bertempat tinggal. Sebagian besar penganut paham enivironmentalism berpendapat bahwa pada dasarnya perbedaaan perilaku social dari makhluk hidup, demikian pula bentuk fisik dan kejiwaan, karena mereka itu hidup dalam suatu wilayah yang memiliki yang memiliki iklim berbeda. Ada beberapa kajia empiric mencoba menggambarkan suatu lingkungan dapat berpengaruh terhadap perilaku makhluk manusia (Ellen,1941). Akan tetapi berbagai paradigma environmental determinism di bangun oleh kaum environmentalism, ternyata lebih didukung oleh data empiric yang di peroleh selama observasi dari pada di hasilkan melalui suatu hipotesis yang telah mengalami berulang kali di uji kebenarannya.


3 Responses  
  • Silfa Herawati writes:
    November 18th, 20152:25 pmat

    bagus sekali isinya, membantu sekali ^_^

  • oding wikanti writes:
    November 28th, 20158:43 amat

    sangat bermanfaat,,

  • nunik writes:
    November 29th, 20154:19 amat

    bagus, manarik dan sangat bermanfaat bagi saya,,, terimakasih


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar