KAMPUNG NELAYAN

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara maritim memiliki wilayah laut yang luas, dengan panjang pantai berkisar 81.000 km, dan tidak ada negara lain yang menyamainya. Indonesia juga tersusun atas banyaknya pulau besar dan kecil yang menyebabkan panjangnya garispantai dan lautnya yang amat terluas.

Laut Indonesia diketahui memiliki banyak sekali kekayaan sumber daya alam yang dikandung. Sebut saja segala jenis fauna seperti ikan, udang, kepting, kerang mutiara dan masih banyak yang lainnya. Dari hal tersebut mempengaruhi mata pencaharian penduduk indonesia yakni melaut / nelayan

PEMBAHASAN

Kampung Nelayan yang merupakan lokasi penelitian yang terletak di Desa Tasikagung Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang Propinsi Jawa Tengah. Tasikagung merupakan desa pesisir yang berada disebelah utara jalur Pantura. Batas-batas desa Tasikagung meliputi:

  • utara: laut Jawa
  • timur : pantai Kartini yang sekarang menjadi Dampo Awang Beach
  • barat : Desa Tanjung Sari yang dibatasi oleh sungai Karanggeneng
  • selatan : Desa Sumberjo.

Pelabuhan Tasikagung memiliki dermaga sebagai tempat berlabuh kapal-kapal, kemudian memiliki tempat pelelangan ikan (TPI) Tasikagung dengan lahan seluas 3 hektare. TPI dibagi menjadi 2 bagian, yaitu TPI sebelah timur yang produksinya khusus didistribusikan di dalam negri dan TPI sebelah barat yang produksinya khusus diimpor. Fasilitas TPI memiliki fasilitas dermaga bongkar, dermaga muat, turap (spell), jetty, jalan kompleks, dan drainase. Kemudian fasilitas fungsional meliputi lantai lelang, tempat pengepakan, gedung administrasi, timbangan, trais keranjang ikan, kereta pengangkut ikan, tempat jemuran ikan, pabrik es mini. Di samping itu, ada fasilitas penunjang berupa kantor perhubungan, kantor polairut, mushola, kantor HNSI, KUD, dan kendaraan roda dua.

Pendidikan

Pendidikan merupakan hal yang utama dalam sebuah kehidupan bagi kaum nelayan di Desa Tasikagung, Rembang, Jawa Tengah. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh narasumber kami yaitu Bapak Solikan ( 39 ). Beliau mengatakan bahwa disini sudah menerapkan pendidikan bagi anak – anak mereka. Karena mereka beranggapan bahwa pekerjaan nelayan tidak menentu dan kurang mensejahterakan kehidupan kelak dimasa depan. Sehingga pendidikan memang sangat penting bagi anak-anak mereka demi menunjang bagi anak itu sendiri dan bisa membantu perekonomian keluarganya nanti.

Nelayan di Desa Tasikagung bisa dikatakan sebagai perkampungan nelayan modern dalam menerapkan pola pendidikan bagi anaknya. Biasanya di kampung nelayan yang masih tradisional sang anak nelayan tidak boleh bersekolah dan harus membantu orang tuanya melaut.  Namun di Desa Tasikagung sang anak dibebaskan untuk memilih, antara membantu orang tuanya melaut atau bersekolah. Kebanyakan mereka memilih bersekolah guna mencapai cita-cita yang ingin mereka gapai dan membantu orang tuanya kelak. Pendidikan anak-anak nelayan di sini boleh dibilang lumayan, karena rata-rata mereka adalah tamatan SMA ( Sekolah Menengah Atas ) / SMK ( Sekolah Menengah Kejuruan ).

Cara Melaut dan Proses Melaut

Hal yang terpenting dan paling utama bagi nelayan adalah melaut. Karena dari profesi melaut lah mereka dapat hidup dan meneruskan kelangsungan hidupnya. Laut adalah sumber utama bagi penghidupan mereka. Maka dari itu mereka sangat peka dan pandai dalam menyikapi berbagai hal yang berhubungan dengan air laut dan isinya.

Tak terkecuali di Desa Tasikagung. Mereka sangat menjaga serta mencintai alam yang merupakan sumber penghidupan bagi mereka. Dalam menjaga lingkungan mereka menghindari menggunakan bom dan sebagainya yang merusak ikan, karena mereka percaya bahwa menggunakan bom akan merusak ekosistem di bawah laut yang akan berdampak jangka panjang dan akan mengurangi bahkan membuat ikan akan punah sehingga mengganggu kehidupan dan proses tangkap-menangkap ikan bagi mereka. Maka mereka hanya menggunakan jaring yang ditebar seperti nelayan pada umumnya. Meskipun hasil tangkapan yang tidak menentu namun mereka tetap bersyukur karena masih bisa dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus.

Dalam melaut ada suatu periode dimana antara bulan januari sampai februari ada masa terbaik untuk menangkap ikan karena sedang banyak-banyaknya. Sebelum menangkap ikan para nelayan di desa Tasik Agung melakukan suatu prosesi upacara adat yang disebut Manakib. Suatu prosesi yang disebut syukuran agar hasil tangkapan bisa berkah dan para awak nelayan diberi keselamatan serta berkah dalam menangkap ikan. Manakib dalam tradisi jawa biasa disebut Bancakan dengan Nasi udug, kering, mie kuning, tahu, dan ayam kampung sebagai sesajinya yang setelah di doakan diberikan kepada warga sekitar.

Nelayan di Desa Tasik Agung biasanya melaut dengan menggunakan kapal berukuran kecil dan besar, tergantung tujuan serta cuacanya. Kapal kecil biasanya dibuat dengan modal sekitar 50juta-an, tergantung bahan dan ukuran biasanya bisa mengangkut 5 sampai 10 orang yang biasanya di isi oleh para nelayan setempat. Karena memang biasanya kapal kecil ini dimiliki oleh individu-individu di Desa Tasik Agung dengan modal terbatas. Jarak tempuh yang di oleh kapal kecil hanya di sekitar wilayah Desa Tasik Agung saja, karena memang ukuran serta bahan yang digunakan tidak sekuat kapal besar. Kapal kecil mampu membawa 4-8 tongyang digunakan untuk menampung ikan dalam sekali melaut. Perahu kecil ini biasanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk melaut tergantung cuaca guna mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal. Kapal kecil yang dimiliki nelayan setempat beberapa sudah dilengkapi teknologi GPS untuk menentukan arah, Sounder untuk melacak karang agar tidak terjadi crash atau tabrakan dengan karang yang dapat menyebabkan kebocoran pada bagian bawah kapal, serta Orari sebagai alat komunikasi antar nelayan ( semacam walkie talkie ) guna berkomunikasi dengan nelayan disekitarnya.

Selanjutnya adalah kapal besar yang biasanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang kelautan dan perikanan. PT terbesar di Desa Tasik Agung adalah PT Karya Mina yang memiliki beberapa Kapal Motor besar yang dioperasikan sekitar 15 sampai 20 awak kapal. Sekali melaut Kapal Motor ini biasanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan, karena memang daya jelajahnya yang sangat luas serta kualitas kapal yang mumpuni disertai teknologi GPS, Sounder dan Orari yang lebih canggih dari kapal nelayan biasa, maka tidak heran jika hasil tangkapan yang dihasilkan oleh KM besar lebih banyak karena juga memiliki kapasitas angkut ikan yang lebih banyak dari kapal kecil, yaitu sekitar 10-20 tong. Bahkan KM yang sudah modern biasanya meletakkan ikan hasil tangkapan langsung di bawah deck kapal yang sudah didesain dengan membuat kotak-kotak khusus untuk menampung ikan dan sudah dilengkapi pendingin otomatis.

Pembagian Peran           

Pembagian peran dalam keluarga di Desa Tasikagung umumnya sama dengan masyarakat yang tidak berprofesi sebagai nelayan, namun tetap ada perbedaan meski hanya sedikit. Ayah sebagai kepala keluarga sudah pasti sebagai tulang punggung keluarga yang mencari nafkah dengan bekerja sebagai nelayan. Sementara ibu sebagai ibu rumah tangga pada umumnya namun memiliki tugas/pekerjaan tambahan membantu ayah mengeringkan hasil tangkapan ikan dan dibuat ikan asin dll. Sementara anak juga memiliki peran dalam keluarga. Tugas pokoknya adalah belajar, namun juga kadang ikut membantu ayah untuk mencari ikan dilaut.

Pemasaran Ikan

Hasil tangkapan nelayan di Desa Tasikagung bisa berkisar antara sedang sampai banyak, karena disana terdapat banyak kapal. Dari yang besar sampai yang kecil. Jika kapal besar hasil tangkapannya bisa di jual ke luar daerah. Jika kapal sedang dan kecil biasanaya langsung di jual kepada tengkulak yang sudah bersiap di pinggir pantai. Namun ada pula yang langsung dijual kepada para pedagang, karena biasanya harganya lebih mahal dan bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar dari pada di jual ke tengkulak.

Masalah di Desa Tasik Agung

Seorang nelayan juga manusia biasa yang pasti memiliki masalah. Masalah yang biasanya di alami masyarakat Desa Tasikagung adalah harga ikan yang sering  naik turun.

Harga naik turun. Jika harga naik para nelayan bisa hidup sejahtera namun jika harga ikan turun biasanya mengalami kerugian.

Disamping masalah diatas, ada pula masalah dari alam. Kadang laut juga mengalami pasang surut. Menurut Bapak Solikan ( 39 ) saat air pasang tinggi ada juga para nelayan yang tetap melaut namun tidak seperti saat air tidak pasang.

Menurut Bapak Solikan ( 39 ) masalah yang lain yaitu harga solar yang mahal. Jika harga solar naik biasanya hanya sedikit para nelayan yang pergi ke laut untuk mencari ikan. Itu pun juga nekat, karena biasanya jika harga solar naik dan hasil tangkapannya sedikit, mereka mengalami kerugian. Namun jika hasil tangkapannya banyak, mereka hanya mendapatkan untung sedikit. Ada pula para nelayan yang hanya menangkap ikan di tepi pantai karena tidak memiliki biaya untuk membeli solar yang harganya mahal.

 

PENUTUP

Kesimpulan

            Anakanak Para nelayan di Desa Tasikagung juga melakukan tugas utamanya yaitu bersekolah dan juga banyak yang membantu orang tua untuk melaut untuk mencari ikan. Para nelayan di Desa Tasikagung memiliki tradisi adat saat bulan februari yaitu Manakib. Suatu prosesi yang disebut syukuran agar hasil tangkapan bisa berkah dan para awak nelayan diberi keselamatan serta berkah dalam menangkap ikan.

Saran

            Penulis hanyalah manusia biasa yang memiliki kekurangan dalam penulisan laporan. Maka dari itu penulis meminta kritik dan saran agar penulis bisa lebih baik lagi dalam menulis laporan.

Posted by Andri Erwanto   @   16 November 2015

Like this post? Share it!

RSS Digg Twitter StumbleUpon Delicious Technorati

2 Comments

Comments
Nov 25, 2015
1:00 pm

isinya menarik.. tetapi penulisan seperti pendahuluan, pembahasan dan simpulan lebih baik dihapus saja..

Nov 25, 2015
1:10 pm

iya makasih sarannya

Leave a Comment

Name

Email

Website

Previous Post
«
Next Post
»
Powered by Wordpress   |   Lunated designed by ZenVerse
Lewat ke baris perkakas