Teori Friedrich Willem Nietzsche

 

Biodata dan riwayat hidup Friedrich Willem Nietzsche

gambar tokoh

Friedrich Willem Nietzsche lahir di Rocken pada tanggal 15 oktober 1844 dan wafat pada tahun 1900. Ayahnya bernama Karl Ludwig Nietzsche (1813-1897). Seorang pendeta saleh di desa Rocken, dekat Lutzen, Jerman. Sedangkan ibunya, Franziska Oeler (1826-1897) adalah seorang Lutheran yang taat beribadah dan berasal dari keluarga pendeta juga. Ibunya tergolong tipe orang kristen yang tidakdapat memahami bahwa orang sudah membaca dan mempelajari injil masih meragukan kebenaran yang ada di dalamnya. Sikap ibunya sering bertabrakan dengan sikap-sikap Nietzsche. Akan tetapi, justru ibunya yang paling dekat dengan Nietzsche. Kakek Nietzsche, Friedrich August Ludwid (1756-1862) adalah seseorang pejabat tinggi dalam gereja Lutheran, jabatannya bisa sejajar dengan seorang uskup dalam gereja katolik.

Menjelang usia enam tahun, Nietzsche di sekolahkan di sekolah Gymnasium. Hal itu terjadi karena perintah ibunya. Waktu itu , dia sudah bisa membaca dan menulis, sebab ia di ajar oleh ibunya. Menjadi semakin jelas bahwa dominasi ibunya dalam menentukan masa depan Nietzsche sangat besar. Akan tetapi, ibunya tidak sadar bahwa anaknya sedang mengarah ke neurotik dan merasa tidak aman berada dalam keluarga. Di sekolah Neitzsche pun mulai mengatasi konflik dalam dirinya. Ia tergolong orang yang pandai bergaul. Dengan cepat ia dapat menjalin persahabatan dengan teman-teman sekolahnya. Melalui teman-temannya, ia di perkenalkan dengan karya-karya Goethe dan Wanger yang berbeda jauh dari harapan orang tuanya. Dari perkenalan pertama kali degan sastra dan musik, dia merasa bahwa dia mempunyai bakat dalam bidang itu. Pergaulannya dengan dunia sastra dan musik merupakan cara yang di tempuh untuk mengimbangi dominasi dari keluarganya.

Nietzsche adalah seorang filsuf yang terkenal dengan kata “God Is Dead”. Dalam tulisannya yang berbentuk aforisme yang menandakan bahwa dia tidak ingin mengikuti sistem pada zamannya. Nietzsche juga di kenal dengan sebagai seorang filsuf yang mengacak-acak moralitas Kristen di eropa pada saat itu. Pada akhir abad ke 19, dan di kenal sebagai seorang pemikir yang melakukan serangan terhadap Kristianitas dan moralitas tradisioanal di Eropa pada zamannya. Fokus filsafat nya adalah pengembangan diri manusia semaksimal mungkin dan analisis kebudayaan di zamannya. Ia menekannkan sikap menerima dan merayakan kehidupan, kreativitas, kekuasaan, segala kontradiksi, serta absurditas hidup manusia. Ia menolak untuk mengakui adanya dunia lain di luar dunia ini.

Dia adalah filsuf yang mempunyai pemikiran yang sering kontroversial, radikal, frontal, dan ateistik. Dalam bukunya ST.Sunardi mneyebutkan,”Secara garis riwayat hidup Nietzsche dapat dibagi menjadi empat tahap. Tahap pertama meliputi kehidupan dalam keluarga dan masa kecilnya yang ditandai dengan suasana pendidikan kristen yang kuat. Kedua adalam masa dimana Dia adalah seorang pelajar dan mahasiswa. Pada masa ini Dia berkenalan dengan pujangga Jerman Johan Wolfgang Goethe (1749-1831), musikus Richard Wagner (1813-1883), dan filsuf Arthur Schopenhauer (1788-1860), hal ini yang mempengaruhi pemikiran nya. Tahap ketiga Dia bergulat dengan karirnya sebagai profesor di Basel. Mulai masa ini Dia sudah mencemaskan kesehatannya dan akhirnya di tahap selanjutnya Dia memutuskan untuk bertualang keberbagai kota dan negara untuk mencari tempat-tempat yang segar dan sepi sambil menyelesaikan karya-karya besarnya”. Tahapan itulah yang mengembangkan pemikirannya untuk berfikir radik dan kontroversial.

Pada abad ke 20, pemikiran Nietzsche amat terasa di daratan Eropa. Di mata para pemikir progresif, pembaharuan – pembaharuan ke ilmuan maupun seniman, Neitzsche di anggap sebagai seorang “nabi”. Beragam bidang kehidupan mulai dari arsitektur, metodologi penelitian ilmiah, filsafat, seni, sampai dengan fashion mengambil inspirasi dari ide-ide nya yang kreatif dan mencerahkan. Percikan-percikan pemikirannya selalu terasa segar, baru, dan inspiratif. Di dalam bidang psikologi, Nietzsche berpetualang mengangkat aspek-aspek hewani dan ketidaksadaran manusia, yang kemudian memberikan inspirasi bagi Freud untuk mengembangkan psikoanalisis nya. Tak jarang pula pemikiran-pemikiran Nietzsche di gunakan untuk membenarkan hal-hal kejam, seperti perang, penaklukan, diskriminasi, seperti yang di lakukan oleh NAZI Jerman dan partai fasis Italia.

Pada era 1960-an, pengaruh filsafat Nietzsche hanya terasa di kalangan seniman dan penulis. Pada masa-masa itu dunia akademik belum mengangkat kekayaan pemikirannya. Dunia filsafat sendiri masih terpesona pada pemikiran-pemikiran Hegel, Husserl, dan Heidegger. Strukturalisme Saussure dan Levi-Strauss baru mulai berkembang. Namun, pada akhir dekade 1960-an, terutama di prancis, para filsuf mulai menengok ke filsafat mereka sendiri. Inilah yang nantinya mengenal menjadi posmodernisme yang menentang cara berfikir lama, dan melakukan kritik sosial yang bersifat menyeluruh ( dari kritik ekonomi sampai gaya hidup ) pada zamannya. Di negara-negara berbahasa Inggris, karena kaitannya dengan fasisime dan NAZI jerman, para filsuf baru mulai membuka diskusi tentang pemikiran setelah abad ke 1970-an.

Walaupun hidup sakit-sakitan, Nietzsche tetap mampu menulis dengan amat baik dan kreatif selama bertahun-tahun di masa hidupnya. Rasa sakit di dalam tubuhnya pun terus datang dan pergi. Ini semua menggambarkan kekuatan mental yang ia miliki di dalam berpikir dan mencipta.

 

Teori pemikiran Nietzsche

 

Teori kehendak untuk berkuasa sebagai prinsip moralitas

 

GIlles Deleuze dalam buku nya Nietzsche and Philosophy mengatakan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan elemen yang diferensial dan genealogis yang menghubungkan daya dan dengan daya lain menghasilkan kualitas. Dengan kata lain kehendak untuk berkuasa mewujudkan diri dalam daya. Nietzsche menerima pengertian pokok dari Schopenhauer yaitu kehendak sebagai asas dari eksistensi manusia yaitu kehendak untuk berkuasa sebab kehidupan merupakan perjuangan untuk memperoleh kekuasaan dan perjuangan merupakan hal yang baik. D satu sisi gagasan kehendak untuk berkuasa yang di cetuskan Nietzsche di pengaruhi oleh buku Schopenhauer yang berjudul Die Welt als Wille und Vosrtellung, akan tetapi dari sisi lain pandangannya terhadap dunia merupakan kritik terhadap pandangan dunia yang di ajukan Schopenhauer.

Menurutnya kehendak pada hakikatnya berada di luar prinsip individualis atau pluralitas karena prinsip ini hanya dapat berlaku pada dunia fenomena yang harus taat pada asas-asas perubahan ruang dan waktu. Lebih jauh lagi, Schopenhauer berpendapat bahwa apa yang seseorang hadapi sebagai dunia tak lain adalah pantulan dari satu kehendak atau idea. Pandangan Schopenhauer yang bercorak sangat dualistik, tak henti-hentinya di tentang oleh Neitzsche. Fokus kritikannya terletak pada pemaknaan terhadap dunia fenomenal dan terhadap pengakuan metafisik kehendak. Menurutnya, pengakuan dunia sejati yang bersifat metafisik hanya datang dari orang yang lemah dan orang seperti ini adalah pesimis.

Kehendak untuk berkuasa merupakan saripati dari seluruh petualangan pemikiran Nietzsche. Kehendak berkuasa ini di dapat bukan dengan cara mengumpulkna premis-premis silogisme yang selanjutnya di tulis dalam kerangka yang sistematis. Kehendak untuk kuasa adalah hasil dari kontemplasi yang panjang Nietzsche. Nietzsche mengemukakan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan prinsip dari seluruh kehidupan manusia dan alam. Kehendakuntuk berkuaa merupakan prinsip dari keseluruhan manusia dan alam. Kehendak dalam kehendak untuk berkuasa ini bisa di sebut sebagai kekuatan yang memeriyahkan dirinya sendiri, bersifat memerintah dan menaati tanpa mengandalkan pasivitas apapun. Dalam kehendak untuk berkuasa, tidak ada pihak yang bersifat pasif. Hal ini menurut Nietzsche karena untuk menaati perintah kehendak untuk berkuasa tersebut di butuhkan kekuatan untuk memerintah diri sendiri.

Menurut Nietzsche, moralitas setiap orang yang lemah maupun kuat merupakan ungkapan kehendak untuk mengatasi diri atau kehendak untuk berkuasa. Kehendak untuk berkuasa sebagai prinsip moralitas terlihat dari pembedaan macam-macam moral berdasarkan tujuan dari moral tersebut. Lebih jelas lagi, Nietzsche menyatakan untuk memahami moralitas, kita harus mengkaitkannya dengan hidup yang tidak lain adalah kehendak untuk berkuasa.

Nietzsche menolak adanya fakta moral. Menurutnya, fakta moral itu tidak ada yang ada hanya interpretasi moral. Moralitas, menurut Nietzsche, adalah penafsiran untuk suatu penilaian. Pemikiran ini tidak terlepas dari kritiknya terhadap David Hume tentang adanya pengakuan fakta moral. Interpretasi dan penafsiran suatu penilaian di lakaukan manusia untukmempertahankan kehidupannya. Hidup adalah satuan kekuatan-kekuatan yang berada di bawah satu penguasaan dan moralitas ada untuk mengatasi kekuatan itu. Oleh karena itu, Nietzsche mengembalikan keutamaan moral manusia selama ini kepada fungsi organik dan biologis yang memang butuhkan untuk mempertahankan hidup.

Kehendak untuk berkuasa selain sebagai prinsip moralitas juga sebagai nilai tertinggi yang menurut Nietzsche harus dicapai manusia untuk menghadapi tekanan-tekanan kekuatan atau kehidupan. Ketika manusia sudah mencapai nilai ini dengan mewujudkan kehendak berkuasa, berpotensi untuk menjadi manusia super atau lebih terkenal dengan istilah Ubermensch. Ubermensch adalah manusia baru yang kembali ke semangat kekuasaan, yang telah terbebas dari belenggu sistem nilai dan moralitas lama dan mewujudkan kehendak untuk berkuasa. Ubermensch adalah manusia yang berani untuk berkata “IYA” pada hidup yang penuh dengan Chaos ini.

Kata Urbemensch apabila di terjemahkan ke dalam bahasa ingris adalah superman atau manusia super. Istilah ini berarti tingkat kemanusiaan yang jauh lebih tinggi daripada tingkat kemanusiaan yang ada, dan menjadi tumpuan akhir cita-cita dan tujuan evolusi. Akan tetapi seseorang komentator Nietzsche, Walter Kaufman menerjemahkannya menjadi overman atau manusia atas. Dengan konsep ini, dia sedang berbicara dan berharap mengenai masa dapan dan meramal manusia masa depan. Ajaran Nietzsche tentang Ubermensch di perkenalkan lewat mulut tokoh Zarathustra yang merupakan pembukaan dari buku Also Sprach Zarathustra. Bagi Nietzsche, kebutuhan orang yang paling mendesak adalah soal pemaknaan. Dia melihat bahwa nilai-nilai yang di wariskan oleh kebudayaan barat sampai pada saat iru telah runtuh di sebabkan oleh jaminan-jaminan yang di anggap seolah-olah telah ada, oleh karena itu melalui tokoh Zarathustra ia mengajarkan nilai tanpa jaminan kepada semua orang dan nilai ini tidak lain adalah Ubermensch. Maka Ubermensch adalah cara manusia memberikan nilai pada dirinya sendiri tanpa berpaling dari dunia dan menengok keseberang dunia.

Ajaran tentang Ubermensch mempunyai hubungan dengan konsep semangat untuk berkuasa. Makna terbesar dunia bagi Neitzsche terletak pada Ubermensch. Orang harus selalu menjadi jembatan menuju Ubermensch apabila seluruh hidupnya di jiwai semangat untuk berkuasa. Iniberarti bahwa orang harusselalu siap mengatasi naluri-naluri kebinatangannya dan mengatur hidupnya sedemikian rupa sehingga dia terus menerus mendapatkan pengalaman akan bertambahnya kekuasaan.

Moralitas budak dan Moralitas Tuan

                Nietzsche membagi moralitas menjadi dua, moralitas budak dan moralitas tuan. Moralitas budak adalah moralitas orang kecil, masal, lemah, moralitas yang tidak mampu untuk bangkit dan menentukan hidupnya sendiri dan selalu iri terhadap mereka yang kuat. Moralitas ini juga di sebut dengan moralitas kawanan. Moralitasini, menurut Nietzsche, cocok bagi mereka yang tidak pinya semangat dan ambisi dalam hdupnya. Moralitas kawanan ini menghindari perang dan konflik untuk mencapai kedamaian. Hal ini di lakukan mereka untuk memberi nilai pada hidupnya. Keytakutan mereka terhadap konflik dan nafsulah yang dapat membangun moralitas mereka.

Moralitas budak ini selalu mengikuti kelompok dan tidak berani untuk bertindak sesuai keingnan dirinya sendiri. Moralitas ini di batasi oleh sistem yang di ciptkan untuk melindungi masyarakat dari kehancuran dan kekacauan. Individu-individu dalam moralitas kawanan ini bersedia menerima moralitas ini karena tidak menggunakan kesadarannya untuk menerima kebenaran moralitas. Individu-individu ini di bius dengan nilai-nilai yang menjamin keberlangsungan moralitas dan salah satu nilai itu adalah ketaatan individu kepada otoritas.

Nietzsche lalu menunjukkan moralitas lain yang kepada individu-individu ini agar mereka tidak terbelenggu oleh moralitas kawanan. Moralitas ini adalah moralitas tuan. Moralitas tuan adalah yang di bangun berdasarkan semangat afirmatif setiap orang terhadap hidup. Semangat ini mencerminkan semangat dionisian yang selalu berkata “IYA” pada hidup. Berbeda dengan moralitas kawanan yang menuntut individu untuk hidupp berdasarkan moralitas yang satu dan seragam dengan moralitas individu lainnya, dalam moralitas tuang individu yang mencerminkan semangat dionisian harus hidup berdasarkan moralitasnya sendiri.

Bagi Nietzsche, moralitas tuan adalah moralitas yang melampaui kategori-kategori baik dan jahat. Seorang dionisian, harus mengukur suatu nilai dengan kategori baik dan jelek bukan baik dan jahat. Baik ada;lah apa saja yang mengingatkan kehendak untuk berkuasa sedangkan jelek adalah semua yang keluar dari sikap yang lemah. Seorang dionisian harus berperang untuk menunjukkan garis hidupnya yang selalau meningkat. Hal ini penting baginya karena dia akan merasa semakin kuat, otonom dan bebas. Meskipun moralitas kawanan ini buruk, Nietzsche tidak ingin moralitas ini hilang atau musnah. Hal ini menurutnya, di butuhkan juga dapat meningkatkan kehendak untuk berkuasa.

Selain itu, Nietzsche juga tidak mengakui prinsip kesamaan yang di anut dalam paham demokrasi dan sosialisme. Hal ini sama dengan penolakan terhadap universalisme moral Immanuel Kant. Keduanya di revisi dari moralitas Kristen dan bertentangan dengan moralitas yang di ajarkan oleh Nietzsche yang sesuai dengan semangat dionisian. Jika moralitas menggunakan prinsip persamaan, maka yang ada adalah moralitas budak atau moralitas kawanan yang hhanya membatasi manusia. Individu menurut Nietzsche, harus memiliki moralitas tuan yang berbeda dengan individu pada moralitas kawanan. Perbedaan moralitas ini di tambah semangat seorang diominisi akan membuat garis hidup individu meningkat dan kehendak untuk berkuasa sebagai nilai tertinggi dapat tercapai. Lalu setelah kehendak untuk berkuasa tercapai, manusia bisa menjadi sorang Ubermensch atau manusia super. Nietzsche mengusulkan supaya diadakan pembedaan tingkatan-tingkatan manusia berdasarkan moralitas yang di anutnya. Usulan ini tidak membedakan tipe-tipe manusia berdasarkan rasanya. Usulan ini di maksudkan agar individu berani untuk berpikir dan mempunyai moralitas tersendiri.

Keberatan Nietzsche terhadap agama Kristiani, demokrasi, dan sosialisme

Seperti yang sudah di jelaskan pada permasalahan moralitas budak dan tuan, gereja membatasi manusia untuk melakukan kehendak untuk berkuasa. Orang – orang Kristen atau pihak gereja adalah pelaku dari moralitas kawanan yang cenderung meredam nafsu-nafsu spontan yang merupakan ungkapan arus hidup itu sendiri yaitu kehendak untuk berkuasa. Agama Kristiani menekankan manusia untuk hidup secara damai dengan menjauhi konflik padahal hal ini hanya akan membatasi garis hidup individu. Hal ini sangat bertentangan dengan keinginan Nietzsche agar setiap individu menjadi seorang dionisian yang harus berperang untuk meningkatkan garis hidupnya serta kehendak untuk berkuasa.

Selain itu, Nietzsche juga tidak mengakui prinsip kesamaan yang dianut dalam paham demokrasi dan sosialisme. Hal ini sama dengan penolakannya terhadap universalisme moral Immanuel Kant. Keduanya direvisi dari moralitas Kristen dan bertentangan dengan moralitas yang di ajarkan oleh Nietzsche yang sesuai dengan semangat disionisian. Jika moralitas menggunakan prinsip persamaan, maka yang ada adalah moralitas budak atau moralitas kawanan yang hanya membatasi manusia. Individu menurut Nietzsche, harus memiliki moralitas tuan yang berbeda dengan individu pada moralitas kawanan. Perbeedaan moralitas ini di tambah semangat seorang disionisian akan membuat garis hidup individu meningkat dan kehendak untuk berkuasa sebagai nilai tertinggi dapat tercapai. Lalu setelah kehendak untuk berkuasa tercapai manusia bisa menjadi seorang Ubermensch atau manusia super. Nietzsche mengusulkan supaya di adakan pembedaan tingkatan-tingkatan manusia berdasarkan moralitas yang di anutnya. Usulan ini tidak di maksudkan untuk membedakan tipe-tipe manusia berdasarkan rasnya. Usulan ini di maksudkan agar individu agar individu berani untuk berpikir dan mempunyai moralitas tersendiri.

Moral tinggi dan Moral rendah

                Moral orang Kristiani menurut Nietzsche adalah moral rendah atau moral kasta rendahan. Moral orang Kriastiani tersebut memutarbalikkan nilai. Moral yang tertinggi. Hal itu di awal oleh orang-orang yahudi, sebagai hasil rasa benci dan sakit hati. Moral yang tertinggi mempunyai kata kunci baik dan jelek. Baik di ungkapkan dalam sikap sederhana, baik hati, tentram, dan penuh belaskasihan. Sementara jelek di ungkapkan dalam sikap berlebihan, berbahaya dan luar biasa. Rasa permusuhan (hostility) Nietzsche dengan pendidikan dalam keluarganya yang bercocok religius sangat besar, bahkan sampai membenci orang Kristiani seluruhnya. Kebenciannya itu tidak hanya tampak dalam ketidakpercayaan pribadinya, tetapi juga dengan membalikkan secara total seluruh nilai moral agama kristen.

Moral budak yang berbahaya di Mata Nietzsche

                Dalam karya nya Nietzsche yang berjudul Khotbah dari Sang Pembunuh Tuhan yang di dalam karya tersebut tentang bagaiman Nietzsche mengambarkan dalam sabdanya tersebut melalui tokoh “ orang gila “ yang memproklamirkan diri telah membunuh Tuhannya pada suatu pagi di sebuah pasar dengan lentera menyala di tangan. Lewat perumpamaan orang gila yang berkoar-koar di tengah pasar itulah yang di simpulkan oleh F. Budi Hardiman sebagai pintu gerbang datangnya zaman ateistis, dan kegilaan yang di maksud Nietzsche tentu saja adalah gambaran dari dirinya sendiri yang kehilangan sosok Tuhan, sementara orang-orag zaman itu tidak memahaminya, sampai datang kegilaan universal, yakni penemuan kesadaran bahwa manusia telah kehilangan Tuhan.

Pada saat itu, yang ingin di kemukan oleh Nietzsche adalah sudah saat nya menyambut datangnya suatu zaman dimana kreativitas dan kemerdekaan merupakan bahan bakkar utama yang mengerakkan segalanya, sebab dengan matiya Tuhan terbukalah horizon seluas – luasnya bagi segala energi kreatif untuk berkembang penuh. Tanpa larangan dengan teror neraka maupun perintah-peritah dengan iming-iming kenikmatan abadi adalah surga. Moralitas budak di sini dalam perspektif Nietzsche bukanlah budak dalam artian yang farsial dan tertindas melainkan sekawanan koloni manusia yang miskin secara batin dan ekonomi, energi, vitalitas dan sama sekali jauh dari kata menarik baik secara fisik maupun ekonomi. Dengan hidup dalam keadaan serba kekurangan itulah secara fisik maupun ekonomi

Dengan hidup dalam keadaan serba kekurangan itulah yang memerosokkaan kaum budak ke dalam kubangan dendam dan marah terhadap kemuraman hidup yang mereka jalani. Suatu sikap yang semula marah terhadap kaum aristrokat yang notabene memiliki segala apa yang tidak di punyai mereka. Karena itu tak berlebihan kiranya jika kemudian mereka memandang para aristrokat sebaga orang yang berbahaya dan jahat bagi kelompoknya. Kebencian terhadap kaum aristrokat yang memilki moralitas tuan ini tidak membuat kaum budak menjadi terpacu untuk memperbaiki dirinya, pun juga tak serta merta membuat mereka berani melawan(perang) secara terang-terangan dan merebut segala yang di punyai kaum aristrokat ini untuk sebesar-besarnya kemakmuran golongan mereka. Kebencian mereka lebih terlihat seperti gerundelan tak menghasilkan apa-apa.

Perang yang mereka lakukan hanya terjadi di dunia antah berantah untuk kemudian diaplikasikan ke dunia nyata dengan cara mengembalikan nilai-nilai.pembalikan nilai –nilai itu antara lain dengan menganggap kaum aristrokasi yang tadinya mereka anggap tinggi dan agung menjadi nilai-nilai rendah yang berkubang dosa. Kaum aristrokat di gambarkan sebagai manusia berlumur dosa karena keserakahan mereka dalam mencari kemaakmuran duniawi dan siksa nereka pantas mereka terima sebagai balasannya. Pembalasan dendam itu tidak di laksanakan oleh mereka, melainkan oleh sebuah entitas entah bernama Tuhan di akhirat kelak.

Dengan penghiburan seperti itu, dendam mereka terhadap kaum aristrokat merasa terlampiaskan dengan mematok nilai-nilai berbalik yang mengangap kaum aristrokat selaku orang jahat yang layak di hukum di neraka oleh sebuah entitas yang mereka ciptakan yakni Tuhan sebagai eksekotor dari nilai-nilai aristokrasi. Kemudian dari hukuman yang di berikan Tuhan tersebut pasti ada balasannya atau ganjaran. Nietzsche menganggap bahwa moralitas budak begitu berbahaya dan memiskinkan kemanusiaan. Oleh kerena itu, menurut Nietzsche sistem yang melahirkan moralitas budak seperti itu mesti segera di dekontruksi, dan langkah pertama yang paling tepat adalah dengan membunuh sumber dari malapetaka itu sendiri yakni Tuhan.

Tuhan harus di bunuh sebagai idealisasi dari rasa benci dari sebuah rasa ketakberdayaan kaum budak terhadap kaum aristikat. Lebih lanjut, Tuhan harus di bunuh karena ia telah sedemikian kronisnya di gunakan sebagai penghiburan diri atas kemalasan mereka menjadi sosok manusia unggul. Bagaimana tidak, dengaan adanya Tuhan beserta janji-jani pembalasan dan hadiah di dunia fiktif (neraka dan surga ) membuat kaum budak berdamai dengan kegagalan, kelemahan, kekalahan dan sebagainya tanpa ada upaya untuk bangkit sama sekali. Mereka menyerah pada kungkungan nasibnasib yang di ciptakan oleh entitas yang mereka puja, karena mereka pikir dengan sikap fatalis seperti itu mereka telah berbuat kebajikan dan layak di ganjar dengan surgawi dengan kenikmatannya yang tanpa batas itu.

Setelah membunuh Tuhan, Neitzsche menciptakan sosok manusia super (Ubermench). Sosok yang bisa di raih dan akomodatif dengan langkah-langkah menuju keagungan. Pernyataannya manusia terhadap manusia unggul itu dapat di temukan dalam satu kutipan terkenal yang terdapat dalam Thus Spoke Zaarathustra.

Neitzsche juga memiliki kritik konsep dasar tentang WILL & WILL TO POWER – The Genealogy of Moral . suatu kritik Nietzsche terhadap orang kristen khususnya moralitas, bahwa sebenarnya moralitas orang kristen berasal dari kebencian dan kebahagian lahir dari reaksi kelemahan mereka. Kedua, setiap manusia memiliki suara hati dan orang kristen percaya suara hati adalah suara Allah dalam hati manusia tapi bagi Neitzsche itulah naluri kekejaman. Ketiga, manusia punya cita-cita bagaimana mereka hidup sesuai kehendak Tuhaan. Bagi Neitzsche, itu justru cita-cita yang merusak kehidupan sebenarnya dan membuat orang kristen jadi penakut karena takut terhadap “ meaningless”. Nietzsche punya mimpi manusia memiliki moralitas seperti yunani, persia, yahudi dan jerman, dengan will to power di ciptakan untuk melindungi masyaraat dan masyarakat hidup dalam ketaatan .

Konsep ini membuat Neitzsche bisa di kategorikan sebagai seorang pemikir yang naturakistic (naturalistic thinker), yakni yang melihat manusia tidak lebih sekedar insting-insting alamiahnya ( natural instincts) yang mirp dengan jelas hewan, maupun hidup lainnya. Nietzsche dengan jelas menyatakan penolakannya pada berbagai konsep filsafat tradsional, seperti kehendak bebas (free will), substansi (substance), kesatuan, jiwa, dan sebagainya.

Daftar Pustaka

  1. https://qzink666.wordpress.com/2010/08/01/moral-budak-yang-berbahaya-di-mata-nietzsche/
  2. http://filsafat.kompasiana.com/2012/01/18/teori-nietzsche-mengenai-etika-431673.html
  3. https://masdardesiawan.wordpress.com/2010/06/22/kritik-nietzsche-terhadap-nilai-moral/
  4. http://hooillands-obralkata.blogspot.com/2012/03/kepribadian-nietzsche-menurut-teori.html
  5. http://ibnuhazm57.blogspot.com/2011/06/friedrich-w-nietzsche-dan-pandangannya.html
  6. http://elsykibum.blogspot.com/2013/04/friedrich-nietzsche-dan-nihilisme.html
  7. http://kaostokoh.blogspot.com/2013/03/biografi-friedrich-nietzsche.html

1 comment

  1. Tulisannya sangat bermanfaat nis 🙂

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: