Membentuk Kecerdasan Lewat Seni
Seni memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi emosi sekaligus kognisi anak. Karena seni sesungguhnya adalah media yang paling nyaman dan mampu memikat anak untuk mempelajari apa pun. Ketua Asosiasi Pengajar Seni Indonesia, Dr Cut Kamaril Wardani, mengatakan seni merupakan bahasa. Musik merupakan bahasa bunyi, seni rupa merupakan bahasa rupa, seni tari dan drama merupakan bahasa bahasa gerak dan mimik. Seni berada di wilayah rasa, yaitu estetika. Pembentukan nilai estetika pada anak dapat menstimulasi perasaan cerdas (smart feeling), yaitu anak bisa mengatur emosinya, anak mengetahui kapan dan cara yang tepat mengutarakan emosinya.
Cut Kamaril mengatakan, seni tak hanya menggunakan perasaan atau intuisi, namun juga logika dan kreativitas. ’’Pendidikan seni memiliki fungsi dan peran meningkatkan kreativitas dan mengembangkan bakat anak. Perlu digaris bawahi bukanlah sebatas bakat seniman saja tapi juga meningkatkan kecerdasan-kecerdasan lain. Seni menjadikan anak kreatif secara utuh,’’ paparnya.
Pakar pendidikan anak usia dini, Ellen Booth Church, dalam artikelnya From Scribbles to Symbols, mengatakan, seni dikatakan juga sebagai bahasa pertama anak karena mereka menggunakan perasaan dan pengalaman sendiri dalam membuat karya seni. Bahkan melalui goresan-goresan yang sering kita sebut benang kusut anak tengah berkomunikasi melalui media seni. Setiap anak menghasilkan arti yang berbeda-beda dalam setiap tarikan garisnya.
Di masa golden age umumnya otak kanan lebih dulu berkembang daripada otak kiri. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan psikolog anak, Dr Sylviana Murni SH Msi, meski perkembangan otak secara keseluruhan juga penting, orangtua hendaknya memberikan stimulasi yang mengembangkan fungsi otak kanan antara lain melalui kegiatan menyanyi, menari, menggambar, dan bermain. Hal ini mengindikasikan bahwa stimulasi yang diberikan didasari oleh seni. Berbagai potensi dasar anak yang dapat dikembangkan, yaitu perasaan atau emosi, kapasitas intelektual, perkembangan motorik, kreativitas, kepekaan estetis dan perkembangan sosial.
Pintu kecerdasan
Pengembangan motorik anak melalui kegiatan seni terlihat dengan berkembangnya keterampilan motorik halus dan kasarnya. Kematangan motorik sangat diperlukan dalam mengekspresikan dirinya. Cut menambahkan, salah satu contoh kegiatan seni yang dapat meningkatkan kecerdasan kinestetik anak ialah kegiatan menggunting. Saat anak usia 1-2 tahun, berikan kertas dan gunting kemudian biarkan ia berupaya sendiri. Kegiatan ini berfungsi untuk menstimulasi konsentrasi mata dan kecerdasan kinestetiknya. Kegiatan lainnya adalah menari.
Pengembangan perseptual berkaitan dengan kepekaan sensori yang diperoleh melalui berbagai pengalaman bereksplorasi melalui aktivitas seni. Saat anak melihat bunga, membantu anak membentuk persepsi tentang sifat bunga baik warna, bentuk, dan kegunaannya. Anak pun akan melihat keindahan sebagai hal yang berharga sehingga bisa memperlakukan lingkungannya dengan, baik seperti tidak memetik bunga sembarangan, mencoret-coret tembok, dan membuang sampah pada tempatnya.
Salah satu pengembangan kapasitas intelektual melalui seni, misalnya belajar matematika. Melalui seni musik, misalnya konsep lingkaran, minta anak membentuk lingkaran tersebut 2-3 orang untuk mewakili lingkaran kecil dan 5-6 orang untuk mewakili lingkaran besar. Nyanyikan lagu yang mewakili setiap ukuran lingkaran besar-kecil lalu ajak anak menghitung keliling, lingkaran besar 6 orang berarti 6 meter, tentu akan lebih menyenangkan.
