<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Koran Pagi dHeArdhi Unnes</title>
	<atom:link href="http://blog.unnes.ac.id/ardhi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi</link>
	<description>Blog&#039;ge Pakdhe Ardhi &#039;nggo Cangkrukan Babagan &#039;ra Nggenah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 Jun 2010 09:35:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Gaya Mengajar Guru = Gaya Belajar Siswa</title>
		<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/06/30/gaya-mengajar-guru-gaya-belajar-siswa/</link>
		<comments>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/06/30/gaya-mengajar-guru-gaya-belajar-siswa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 09:35:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardhiprabowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran SD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unnes.ac.id/ardhi/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[ISMIRA, seorang siswa SD, memiliki kecerdasan spasial-visual dan musikal. Selama di kelas, ia mudah lelah dan cepat bosan serta paling tidak bisa duduk manis mendengarkan ceramah gurunya. Ia lebih suka coret-coret dan bersenandung sendirian. Apa yang disampaikan gurunya nyaris tidak bisa dicernanya secara baik. Namun itu tidak menjadi masalah bagi guru cerdas yang mempunyai kombinasi pilihan obat mujarab yang dapat dikombinasikan dengan kecerdasan yang dimiliki Ismira. Dalam proses pembelajaran, sang guru mengajarkan kosa kata bahasa dengan alunan ritme lagu, sering menggunakan instrumen bergambar, dan mengajak siswa belajar di alam bebas yang terbuka dengan mengamati langsung dan merasakan sendiri materi pelajaran. Hasilnya, pembelajaran yang dirasakan siswa menjadi lebih menyenangkan, kepercayaan diri Ismira melejit, semakin mudah menguasai materi belajar, dan ia tumbuh menjadi anak yang mandiri. Inilah salah satu contoh kesesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Setiap manusia terlahir ke dunia ini dalam keadaan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan genetik ini juga ditambah dengan pengaruh lingkungan yang melingkupi pengalaman hidup manusia. Hasilnya, kombinasi perbedaan genetik dan perbedaan pengalaman hidup tersebut mentransformasikan seorang manusia menjadi individu yang memiliki karakter dasar yang unik. Sayangnya, tidak semua pihak menyadari keragaman karakter seseorang tersebut. Dalam dunia sekolah kita yang serba seragam, perbedaan karakter [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">ISMIRA, seorang siswa SD, memiliki kecerdasan spasial-visual dan musikal. Selama di kelas, ia mudah lelah dan cepat bosan serta paling tidak bisa duduk manis mendengarkan ceramah gurunya. Ia lebih suka coret-coret dan bersenandung sendirian.      Apa yang disampaikan gurunya nyaris tidak bisa dicernanya secara baik. Namun itu tidak menjadi masalah bagi guru cerdas yang mempunyai kombinasi pilihan obat mujarab yang dapat dikombinasikan dengan kecerdasan yang dimiliki Ismira. Dalam proses pembelajaran, sang guru mengajarkan kosa kata bahasa dengan alunan ritme lagu, sering menggunakan instrumen bergambar, dan mengajak siswa belajar di alam bebas yang terbuka dengan mengamati langsung dan merasakan sendiri materi pelajaran.      Hasilnya, pembelajaran yang dirasakan siswa menjadi lebih menyenangkan, kepercayaan diri Ismira melejit, semakin mudah menguasai materi belajar, dan ia tumbuh menjadi anak yang mandiri. Inilah salah satu contoh kesesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa.      Setiap manusia terlahir ke dunia ini dalam keadaan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan genetik ini juga ditambah dengan pengaruh lingkungan yang melingkupi pengalaman hidup manusia. Hasilnya, kombinasi perbedaan genetik dan perbedaan pengalaman hidup tersebut mentransformasikan seorang manusia menjadi individu yang memiliki karakter dasar yang unik. Sayangnya, tidak semua pihak menyadari keragaman karakter seseorang tersebut.      Dalam dunia sekolah kita yang serba seragam, perbedaan karakter siswa kerap menjadi masalah bagi pihak sekolah dan guru, khususnya yang langsung bersentuhan dengan siswa dalam proses pembelajaran. Adanya siswa yang &#8220;berbeda&#8221; dengan karakter siswa normal yang lain kerap kali dianggap nakal, gagal, bodoh, lambat, bahkan dianggap siswa yang punya keterbelakangan mental. Jika kita renungkan lebih dalam, ternyata bukan mereka yang bermasalah, melainkan sebenarnya mereka mengalami kebingungan dalam menerima pelajaran karena tidak mampu mencerna materi yang diberikan oleh guru.      Bobbi dePorter, Presiden Learning Forum California USA dan penulis buku Quantum Learning dan Quantum Teaching, menjelaskan bahwa proses pembelajaran dapat divisualisasikan dengan membayangkan diri kita berada dalam ruangan yang gelap gulita. Ketika sebuah senter dinyalakan, selisih waktu antara munculnya cahaya yang terpantul ke dinding dengan saat jari kita menekan tombol &#8220;on&#8221; pada senter tersebut sangat cepat, bahkan hampir bersamaan. Begitu juga dalam proses pembelajaran, seharusnya kecepatan otak siswa dalam menangkap materi dan informasi dari guru adalah 1.287 km per jam, sama dengan kecepatan cahaya yang keluar dari senter yang memantul ke dinding. Tapi kenapa banyak siswa yang bingung, lambat, bahkan gagal dalam mencerna materi belajar dari guru?      Ternyata, banyaknya siswa yang dianggap lambat dan gagal menerima materi dari guru disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Sebaliknya, jika gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran akan terasa sangat mudah dan menyenangkan. Guru akan merasa senang karena menganggap semua siswanya cerdas dan berpotensi untuk sukses pada jenis kecerdasan yang dimilikinya.      Munif Chatib mengatakan bahwa hakikatnya gaya mengajar yang dimiliki guru adalah strategi transfer informasi yang diberikan kepada siswanya. Sedangkan gaya belajar adalah bagaimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh siswanya.      Penelitian yang dilakukan Howard Gardner menunjukkan bahwa ternyata gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan jenis kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut. Artinya, jika seorang siswa memiliki kecenderungan kecerdasan visual-spasial, gaya belajarnya akan ditunjukkan dengan banyak mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar, senang membaca daripada dibacakan, senang menggambar dan mendesain, serta senang berdemonstrasi daripada ceramah. Gaya belajar ini menjadi modal bagi guru untuk menerapkan gaya mengajarnya sesuai dengan gaya belajar siswa tersebut. Jika hal ini terjadi, dipastikan pembelajaran akan semakin mudah dan menyenangkan bagi guru dan siswanya.      Sebaliknya, siswa tersebut akan cepat merasa bosan dan tidak betah di kelas jika ia punya kecenderungan kecerdasan spasial-visual sementara gurunya mengajar dengan gaya ceramah yang monoton. Dengan begitu, tidak tepat kalau kita sebagai guru memvonis siswa yang bermasalah, lambat, dan gagal, padahal sebenarnya gaya mengajar kita tidak sesuai dengan gaya belajar siswa.      Apabila guru berhasil masuk ke dunia siswa lewat penyesuaian gaya belajar siswa, siswa akan rela hak mengajarnya kepada guru karena, menurut dePorter, wewenang mengajar dan hak mengajar itu berbeda. Mungkin setiap guru yang memiliki lisensi mengajar punya wewenang untuk mengajar. Namun hak mengajar adalah sesuatu yang harus diraih oleh seorang guru dengan kerja keras dan hak tersebut ada dalam keinginan para siswa.      Oleh karena itu, seharusnya setiap guru memiliki data tentang gaya belajar siswanya masing-masing. Kemudian setiap guru harus menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa yang telah diketahui dari hasil pengamatan kecerdasan siswa tersebut. (*) </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">artikel oleh:<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">* USEP SAEFUROHMAN SPd, Guru SDIT Bina Muda Cicalengka dan MA Quwatul Iman Pacet</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/06/30/gaya-mengajar-guru-gaya-belajar-siswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>8 keys to be excellent</title>
		<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/05/06/8-keys-to-be-excellent/</link>
		<comments>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/05/06/8-keys-to-be-excellent/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 14:05:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardhiprabowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unnes.ac.id/ardhi/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Setiap pesawat luar angkasa memiliki system pengendali.Â  Pesawat itu tidak hanya diisi berton-ton bahan bakar yang mudah terbakar, diarahkan ke arah yang tepat, dinyalakan mesinnya, dan dibiarkan meluncur dengan sangat cepat.Â  Ada sebuah system yang dibangun untuk mengendalikan pesawat selama penerbangan, menjaga agar daya bakar hebat yang menggerakkan pesawat tidak merobek pesawat itu menjadi berkeping-keping. Visi kita â€“ untuk membuatnya sedinamis roket â€“ membutuhkan system pengendali juga.Â  Bobbi DePorter, penggagas metode Quantum Learning, memiliki 8 Katalis Kunci sebagai system pengendali untuk mencapai kesuksesan yang kita harapkan. Mengapa disebut Katalis Kunci? Dalam reaksi kimia dan fisika, katalis mendorong perubahan yang diinginkan.Â  Dalam reaksi mental, katalis berfungsi seperti anak-anak kunci di dalam kunci.Â  Kunci dirancang agar kita tidak bisa masuk.Â  Ketika kita terkunci di luar konsep-konsep ini, kita tidak bisa masuk dalam Quantum Success.Â  Kita tidak bisa sukses tanpa kunci-kunci ini. Untuk mendapatkan reaksi katalis ajaib yang dihasilkan oleh konsep-konsep ini, kita harus merenggut anak kunci dan masuk ke dalamnya. Bobbi pertama kali mengembangkan 8 katalis kunci untuk SuperCamp.Â  Sebelumnya, konsep ini dikenal sebagai 8 Keys of Excellence selama dua puluh delapan tahun yang lalu. Kedelepan Katalis Kunci ini adalah: 1. Integrity 2. Failure Leads to Success 3. Speak with Good Purpose [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Setiap pesawat luar angkasa memiliki system pengendali.Â  Pesawat itu tidak hanya diisi berton-ton bahan bakar yang mudah terbakar, diarahkan ke arah yang tepat, dinyalakan mesinnya, dan dibiarkan meluncur dengan sangat cepat.Â  Ada sebuah system yang dibangun untuk mengendalikan pesawat selama penerbangan, menjaga agar daya bakar hebat yang menggerakkan pesawat tidak merobek pesawat itu menjadi berkeping-keping.</p>
<p style="text-align: justify">Visi kita â€“ untuk membuatnya sedinamis roket â€“ membutuhkan system pengendali juga.Â  Bobbi DePorter, penggagas metode Quantum Learning, memiliki 8 Katalis Kunci sebagai system pengendali untuk mencapai kesuksesan yang kita harapkan.</p>
<p style="text-align: justify">Mengapa disebut Katalis Kunci? Dalam reaksi kimia dan fisika, katalis mendorong perubahan yang diinginkan.Â  Dalam reaksi mental, katalis berfungsi seperti anak-anak kunci di dalam kunci.Â  Kunci dirancang agar kita tidak bisa masuk.Â  Ketika kita terkunci di luar konsep-konsep ini, kita tidak bisa masuk dalam Quantum Success.Â  Kita tidak bisa sukses tanpa kunci-kunci ini. Untuk mendapatkan reaksi katalis ajaib yang dihasilkan oleh konsep-konsep ini, kita harus merenggut anak kunci dan masuk ke dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify">Bobbi pertama kali mengembangkan 8 katalis kunci untuk SuperCamp.Â  Sebelumnya, konsep ini dikenal sebagai 8 Keys of Excellence selama dua puluh delapan tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Kedelepan Katalis Kunci ini adalah: </strong><br />
1. Integrity<br />
2. Failure Leads to Success<br />
3. Speak with Good Purpose<br />
4. This is It!<br />
5. Commitment<br />
6. Ownership<br />
7. Flexibility<br />
8. Balance</p>
<p>Mengapa kita tidak bisa sukses tanpa Katalis Kunci ini?Â  Coba bayangkan seperti apa visi kita tanpa diarahkan katalis-katalis ini? Kita ingin mencapai mimpi-mimpi kita. Sangat menginginkannya tercapai. Namun, apakah kita begitu menginginkannya sehingga memanfaatkan dan menyakiti orang lain untuk mencapainya? Bukankah tujuan mengejar visi kita adalah untuk melakukan sesuatu yang baik di dunia ini?</p>
<p style="text-align: justify">Jika kita meninggalkan kekecewaan, ketidakpercayaan, dan rasa sakit, untuk apa mencapai tujuan kita?Â  Visi tanpa prinsip-prinsip akan menjadi ambisi yang keji.Â  Ambisi menjadi sangat terobsebsi dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak peduli siapa yang dilindas untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.Â  Katalis Kunci menjunjung hubungan.Â  Konsep-konsep ini mengatur cara berinteraksi dengan hidup, diri kita sendiri dan orang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/05/06/8-keys-to-be-excellent/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1 ons bukan 100 gram. Nah Lo?</title>
		<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/03/09/1-ons-bukan-100-gram-nah-lo/</link>
		<comments>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/03/09/1-ons-bukan-100-gram-nah-lo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 13:18:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardhiprabowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Hasil Penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[Pembelajaran Apapun]]></category>
		<category><![CDATA[kelirumologi]]></category>
		<category><![CDATA[salah kaprah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unnes.ac.id/ardhi/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wr.wb. Kesalahan yang dilakukan oleh para guru kita ternyata ada pula yang berimbas samapai sekarang. Percayakah anda bahwa ternyata 1 ons tidak sama dengan 100 gram, dan 1 pon bukan pula setengah kilogram. Berikut ada cerita menarik yang saya dapat dari seorang saudara dan memang harus saya publikasikan kepada semua guru dan para pendidik di Indonesia. PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG. Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Assalamu&#8217;alaikum wr.wb.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Kesalahan yang dilakukan oleh para guru kita ternyata ada pula yang berimbas samapai sekarang. Percayakah anda bahwa ternyata 1 ons tidak sama dengan 100 gram, dan 1 pon bukan pula setengah kilogram. Berikut ada cerita menarik yang saya dapat dari seorang saudara dan memang harus saya publikasikan kepada semua guru dan para pendidik di Indonesia.</span></p>
<p style="text-align: justify"><strong><span style="color: #ff0000">PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><strong><span style="color: #ff0000">SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia , yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia . Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua<br />
anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan &#8220;ons&#8221; dan &#8220;pound&#8221;.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia .</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Sampai kapan mau dipertahankan ?</span></p>
<p style="text-align: justify"><strong><span style="color: #ff0000">BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?</span></strong></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. &#8220;Racun&#8221; ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk resmi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><strong><span style="color: #ff0000">TANGGUNG JAWAB SIAPA ?</span></strong></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">&#8220;acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">secara internasional , yang menyatakan bahwa :</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.&#8221;?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain<br />
Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan &#8220;ons&#8221; dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).. Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana &#8220;Ons dan Pound (Depdiknas)&#8221; ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.</span></p>
<h3 style="text-align: center"><strong><span style="color: #ff0000">HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.</span></strong></h3>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia . Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia . Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang<br />
berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">ACUAN MANA YANG BENAR ?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford , dll. (maaf, ini bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).</span></p>
<h2 style="text-align: center"><span style="color: #ff0000">1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)</span><span style="color: #ff0000">1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #ff0000">1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)</span></p>
</h2>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!<br />
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN &#8211; LALU SIAPA ?.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan &#8220;ons dan pound yang keliru&#8221; dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai<br />
pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/03/09/1-ons-bukan-100-gram-nah-lo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar sukses saja di dunia, Insya Allah&#8230;</title>
		<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/03/04/agar-sukses-saja-di-dunia-insya-allah/</link>
		<comments>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/03/04/agar-sukses-saja-di-dunia-insya-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 11:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardhiprabowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Sains]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Rubrik Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Referensi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unnes.ac.id/ardhi/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum. Hmmmm&#8230; membaca tulisan ini di Yahoo, jadi kena juga. 3 pertama insya allah sudah, yang keempat, belum 100%, tapi sudah 90an lah. Kalo yang kelima, baru 30-40% kena, masalahnya adalah posisi birokrasi yang menuntut untuk bersikap sabar. Silahkan sobat baca sendiri. KOMPAS.com &#8211; Ada banyak hal yang diperlukan untuk mencapai posisi atau gaji yang diinginkan. Contohnya, kemampuan kerja, kecerdasan, atau keahlian berbicara. Namun bagi lima wanita yang memiliki gaji atau bayaran termahal ini, ada hal-hal sederhana yang juga diperlukan. Apa sajakah itu? ADVERTISEMENT 1. Jadilah diri sendiri Indra Krishnamurthy Nooyi, CEO PepsiCo kelahiran India, adalah CEO wanita dengan gaji tertinggi di Amerika. Saat menghadapi beberapa wawancara kerja pada awal karirnya, Nooyi dengan pede mengenakan pakaian tradisional negaranya, sari. Hingga sekarang, Nooyi masih memakai pakaian tersebut untuk menghadiri acara-acara korporat. 2. Nama Anda adalah merek Anda, jadi jagalah sebaik-baiknya &#8220;Saya sangat berhati-hati dengan merek itu sendiri. Vas bunga yang ada nama saya itu, saya desain sendiri,&#8221; kata Rachael Ray, host talk show &#8220;Rachael Ray&#8221; yang juga celebrity chef dengan bayaran termahal di Amerika. 3. Jangan menghabiskan energi melawan pembenci Anda &#8220;Saya enggak bisa berharap semua orang menyukai apa pun yang saya lakukan,&#8221; ujar BeyoncÃ© Knowles, penyanyi, penulis lagu, produser rekaman, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Assalamu&#8217;alaikum.</p>
<p style="text-align: justify">Hmmmm&#8230; membaca tulisan ini di Yahoo, jadi kena juga. 3 pertama insya allah sudah, yang keempat, belum 100%, tapi sudah 90an lah. Kalo yang kelima, baru 30-40% kena, masalahnya adalah posisi birokrasi yang menuntut untuk bersikap sabar. Silahkan sobat baca sendiri.</p>
<p style="text-align: justify">KOMPAS.com &#8211; Ada banyak hal yang diperlukan untuk mencapai posisi atau gaji yang diinginkan. Contohnya, kemampuan kerja, kecerdasan, atau keahlian berbicara. Namun bagi lima wanita yang memiliki gaji atau bayaran termahal ini, ada hal-hal sederhana yang juga diperlukan. Apa sajakah itu?<br />
ADVERTISEMENT</p>
<p style="text-align: justify">1. Jadilah diri sendiri<br />
Indra Krishnamurthy Nooyi, CEO PepsiCo kelahiran India, adalah CEO wanita dengan gaji tertinggi di Amerika. Saat menghadapi beberapa wawancara kerja pada awal karirnya, Nooyi dengan pede mengenakan pakaian tradisional negaranya, sari. Hingga sekarang, Nooyi masih memakai pakaian tersebut untuk menghadiri acara-acara korporat.</p>
<p style="text-align: justify">2. Nama Anda adalah merek Anda, jadi jagalah sebaik-baiknya<br />
&#8220;Saya sangat berhati-hati dengan merek itu sendiri. Vas bunga yang ada nama saya itu, saya desain sendiri,&#8221; kata Rachael Ray, host talk show &#8220;Rachael Ray&#8221; yang juga celebrity chef dengan bayaran termahal di Amerika.</p>
<p style="text-align: justify">3. Jangan menghabiskan energi melawan pembenci Anda<br />
&#8220;Saya enggak bisa berharap semua orang menyukai apa pun yang saya lakukan,&#8221; ujar BeyoncÃ© Knowles, penyanyi, penulis lagu, produser rekaman, aktris, dan desainer pakaian untuk label miliknya, House of Dereon.</p>
<p style="text-align: justify">4. Pastikan pasangan mendukung Anda<br />
&#8220;Saya biasa pulang ke rumah setelah menghadiri meeting, dan saya hanya bilang, &#8216;Sori, aku terlambat&#8217;, dan suami saya cuma geleng-geleng kepala. Suami saya memang baik sekali,&#8221; ujar Sallie Krawcheck, mantan Chief Financial Officer dan Head of Strategy Citigroup yang juga peraih Most Powerful Women in Business dari majalah Forbes.</p>
<p style="text-align: justify">5. Posisikan diri Anda untuk pekerjaan yang Anda inginkan<br />
&#8220;Ketika saya masih meniti karier menuju puncak di dunia tenis, saya tidak pernah mengatakan ingin menjadi nomor dua. Saya katakan, saya ingin menjadi nomer satu,&#8221; demikian dikatakan mantan petenis nomer satu dunia dan peraih tiga gelar Grand Slam, Maria Sharapova.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/03/04/agar-sukses-saja-di-dunia-insya-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cintai Aku Apa Adanya</title>
		<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/02/01/cintai-aku-apa-adanya/</link>
		<comments>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/02/01/cintai-aku-apa-adanya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 13:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardhiprabowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masterpiece]]></category>
		<category><![CDATA[Rubrik Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dan perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[mahligai]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unnes.ac.id/ardhi/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif sertaberperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal. Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. &#8220;Mengapa?&#8221;, dia bertanya dengan terkejut. &#8220;Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan&#8221;. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, &#8220;Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?&#8221;. Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, &#8220;Saya punya pertanyaan, jika kau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.</p>
<p>Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif sertaberperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.</p>
<p>Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.</p>
<p>Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.</p>
<p>&#8220;Mengapa?&#8221;, dia bertanya dengan terkejut. &#8220;Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan&#8221;. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.</p>
<p>Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, &#8220;Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?&#8221;.</p>
<p>Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, &#8220;Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.</p>
<p>Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?&#8221; Dia termenung dan akhirnya berkata, &#8220;Saya akan memberikan jawabannya besok.&#8221;. Hati saya langsung gundah mendengar responnya.</p>
<p>Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan &#8230; &#8220;Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.&#8221; Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.</p>
<p>&#8220;Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu &#8220;teman baikmu&#8221; datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi &#8220;aneh&#8221;. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.</p>
<p>&#8220;Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.&#8221;</p>
<p>Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.</p>
<p>&#8220;Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.&#8221;</p>
<p>Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.</p>
<p>Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.</p>
<p>Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.</p>
<p>Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/02/01/cintai-aku-apa-adanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membentuk Kecerdasan Lewat Seni</title>
		<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/02/01/membentuk-kecerdasan-lewat-seni/</link>
		<comments>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/02/01/membentuk-kecerdasan-lewat-seni/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 13:16:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardhiprabowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[mainan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unnes.ac.id/ardhi/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Seni memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi emosi sekaligus kognisi anak. Karena seni sesungguhnya adalah media yang paling nyaman dan mampu memikat anak untuk mempelajari apa pun. Ketua Asosiasi Pengajar Seni Indonesia, Dr Cut Kamaril Wardani, mengatakan seni merupakan bahasa. Musik merupakan bahasa bunyi, seni rupa merupakan bahasa rupa, seni tari dan drama merupakan bahasa bahasa gerak dan mimik. Seni berada di wilayah rasa, yaitu estetika. Pembentukan nilai estetika pada anak dapat menstimulasi perasaan cerdas (smart feeling), yaitu anak bisa mengatur emosinya, anak mengetahui kapan dan cara yang tepat mengutarakan emosinya. Cut Kamaril mengatakan, seni tak hanya menggunakan perasaan atau intuisi, namun juga logika dan kreativitas. â€™â€™Pendidikan seni memiliki fungsi dan peran meningkatkan kreativitas dan mengembangkan bakat anak. Perlu digaris bawahi bukanlah sebatas bakat seniman saja tapi juga meningkatkan kecerdasan-kecerdasan lain. Seni menjadikan anak kreatif secara utuh,â€™â€™ paparnya. Pakar pendidikan anak usia dini, Ellen Booth Church, dalam artikelnya From Scribbles to Symbols, mengatakan, seni dikatakan juga sebagai bahasa pertama anak karena mereka menggunakan perasaan dan pengalaman sendiri dalam membuat karya seni. Bahkan melalui goresan-goresan yang sering kita sebut benang kusut anak tengah berkomunikasi melalui media seni. Setiap anak menghasilkan arti yang berbeda-beda dalam setiap tarikan garisnya. Di masa golden age umumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Seni memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi emosi sekaligus kognisi anak. Karena seni sesungguhnya adalah media yang paling nyaman dan mampu memikat anak untuk mempelajari apa pun. Ketua Asosiasi Pengajar Seni Indonesia, Dr Cut Kamaril Wardani, mengatakan seni merupakan bahasa. Musik merupakan bahasa bunyi, seni rupa merupakan bahasa rupa, seni tari dan drama merupakan bahasa bahasa gerak dan mimik. Seni berada di wilayah rasa, yaitu estetika. Pembentukan nilai estetika pada anak dapat menstimulasi perasaan cerdas (smart feeling), yaitu anak bisa mengatur emosinya, anak mengetahui kapan dan cara yang tepat mengutarakan emosinya.</p>
<p>Cut Kamaril mengatakan, seni tak hanya menggunakan perasaan atau intuisi, namun juga logika dan kreativitas. â€™â€™Pendidikan seni memiliki fungsi dan peran meningkatkan kreativitas dan mengembangkan bakat anak. Perlu digaris bawahi bukanlah sebatas bakat seniman saja tapi juga meningkatkan kecerdasan-kecerdasan lain. Seni menjadikan anak kreatif secara utuh,â€™â€™ paparnya.</p>
<p>Pakar pendidikan anak usia dini, Ellen Booth Church, dalam artikelnya From Scribbles to Symbols, mengatakan, seni dikatakan juga sebagai bahasa pertama anak karena mereka menggunakan perasaan dan pengalaman sendiri dalam membuat karya seni. Bahkan melalui goresan-goresan yang sering kita sebut benang kusut anak tengah berkomunikasi melalui media seni. Setiap anak menghasilkan arti yang berbeda-beda dalam setiap tarikan garisnya.</p>
<p>Di masa golden age umumnya otak kanan lebih dulu berkembang daripada otak kiri. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan psikolog anak, Dr Sylviana Murni SH Msi, meski perkembangan otak secara keseluruhan juga penting, orangtua hendaknya memberikan stimulasi yang mengembangkan fungsi otak kanan antara lain melalui kegiatan menyanyi, menari, menggambar, dan bermain. Hal ini mengindikasikan bahwa stimulasi yang diberikan didasari oleh seni. Berbagai potensi dasar anak yang dapat dikembangkan, yaitu perasaan atau emosi, kapasitas intelektual, perkembangan motorik, kreativitas, kepekaan estetis dan perkembangan sosial.<br />
<strong><br />
Pintu kecerdasan</strong><br />
Pengembangan motorik anak melalui kegiatan seni terlihat dengan berkembangnya keterampilan motorik halus dan kasarnya. Kematangan motorik sangat diperlukan dalam mengekspresikan dirinya. Cut menambahkan, salah satu contoh kegiatan seni yang dapat meningkatkan kecerdasan kinestetik anak ialah kegiatan menggunting. Saat anak usia 1-2 tahun, berikan kertas dan gunting kemudian biarkan ia berupaya sendiri. Kegiatan ini berfungsi untuk menstimulasi konsentrasi mata dan kecerdasan kinestetiknya. Kegiatan lainnya adalah menari.</p>
<p>Pengembangan perseptual berkaitan dengan kepekaan sensori yang diperoleh melalui berbagai pengalaman bereksplorasi melalui aktivitas seni. Saat anak melihat bunga, membantu anak membentuk persepsi tentang sifat bunga baik warna, bentuk, dan kegunaannya. Anak pun akan melihat keindahan sebagai hal yang berharga sehingga bisa memperlakukan lingkungannya dengan, baik seperti tidak memetik bunga sembarangan, mencoret-coret tembok, dan membuang sampah pada tempatnya.</p>
<p>Salah satu pengembangan kapasitas intelektual melalui seni, misalnya belajar matematika. Melalui seni musik, misalnya konsep lingkaran, minta anak membentuk lingkaran tersebut 2-3 orang untuk mewakili lingkaran kecil dan 5-6 orang untuk mewakili lingkaran besar. Nyanyikan lagu yang mewakili setiap ukuran lingkaran besar-kecil lalu ajak anak menghitung keliling, lingkaran besar 6 orang berarti 6 meter, tentu akan lebih menyenangkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/02/01/membentuk-kecerdasan-lewat-seni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya Hangout di Anak?</title>
		<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/25/budaya-hangout-di-anak/</link>
		<comments>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/25/budaya-hangout-di-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 14:34:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardhiprabowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unnes.ac.id/ardhi/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Pada kalangan dewasa, hang out menjadi media untuk bersosialisasi atau meeting dengan rekan kerja. Menjamurnya tempat-tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama rekan dan kolega, seperti restoran, mal dan kafe mendorong kebiasaan ini menjadi sebuah kebutuhan. Kini, budaya ini telah memasuki komunitas kecil karena pengaruh kehidupan sosial yang terbiasa berkumpul di tempat-tempat tertentu layaknya orang dewasa. Menurut konselor pendidikan dari Universitas Paramadina, Fatchiah Kertamuda MSc, hang out diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan bersama teman sebaya maupun keluarga untuk rileksasi ataupun bersenang-senang. Pada dasarnya anak belum mengerti benar arti dari hang out. Di dalam benak anak, hang out diartikan sebatas pergi dan bersenang-senang bersama. Kegiatan belajar bersama atau bermain di rumah teman pun dikategorikan sebagai kegiatan hang out. Kebutuhan kegiatan hang out pada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Anak belum memiliki konsep kebutuhan layaknya orang dewasa. Mereka hanya mengikuti kebiasaan orang dewasa seperti mengobrol atau bersenda gurau di kafe, mal dan restoran. Namun, sebenarnya pada anak usia tertentu memang membutuhkan kegiatan untuk bersosialisasi. Hang out bisa jadi media untuk memenuhi tugas perkembangan anak. â€Mulai usia 7-8 tahun, anak belajar bergaul dengan teman sebaya, lebih mandiri, membentuk sikap terhadap kelompoknya, serta mengembangkan nurani, moralitas, dan sikap,â€ kata Fatchiah. Psikolog perkembangan anak dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Pada kalangan dewasa, hang out menjadi media untuk bersosialisasi atau meeting dengan rekan kerja. Menjamurnya tempat-tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama rekan dan kolega, seperti restoran, mal dan kafe mendorong kebiasaan ini menjadi sebuah kebutuhan. Kini, budaya ini telah memasuki komunitas kecil karena pengaruh kehidupan sosial yang terbiasa berkumpul di tempat-tempat tertentu layaknya orang dewasa.</p>
<p>Menurut konselor pendidikan dari Universitas Paramadina, Fatchiah Kertamuda MSc, hang out diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan bersama teman sebaya maupun keluarga untuk rileksasi ataupun bersenang-senang. Pada dasarnya anak belum mengerti benar arti dari hang out. Di dalam benak anak, hang out diartikan sebatas pergi dan bersenang-senang bersama. Kegiatan belajar bersama atau bermain di rumah teman pun dikategorikan sebagai kegiatan hang out.</p>
<p>Kebutuhan kegiatan hang out pada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Anak belum memiliki konsep kebutuhan layaknya orang dewasa. Mereka hanya mengikuti kebiasaan orang dewasa seperti mengobrol atau bersenda gurau di kafe, mal dan restoran. Namun, sebenarnya pada anak usia tertentu memang membutuhkan kegiatan untuk bersosialisasi. Hang out bisa jadi media untuk memenuhi tugas perkembangan anak. â€Mulai usia 7-8 tahun, anak belajar bergaul dengan teman sebaya, lebih mandiri, membentuk sikap terhadap kelompoknya, serta mengembangkan nurani, moralitas, dan sikap,â€ kata Fatchiah.</p>
<p>Psikolog perkembangan anak dari UI, Luth Savitri Msi,juga mengungkapkan kebersamaan dengan teman-teman menjadi hal penting bagi anak terutama di usia 9-10 tahun. Pada masa ini, anak ingin mencari tahu lingkungan di luar keluarga dan rumahnya, salah satu caranya hang out bersama teman. â€™â€™Jadi jangan kaget jika terkadang anak terkesan suka membangkang atau memberontak karena pengaruh teman lebih besar dibandingkan orangtua,â€™â€™ ujarnya.</p>
<p>Savitri menambahkan, Anak bisa mulai hang out tergantung dari lingkungan sosialnya, sejak kapan orangtua mengizinkan anak bersosialisasi bersama teman-temannya. Akan berbeda antara anak yang dibesarkan di lingkungan yang memiliki izin keluar rumah bersama teman-teman sejak SD, SMP, SMA, atau bahkan kuliah. Jika pada usia SD anak sudah diizinkan, maka budaya ini tentu lekat dan tidak asing dalam dirinya kelak, sehingga seringkali dijadikan kebutuhan oleh anak.</p>
<p>Melalui hang out, lanjut Savitri, anak juga dapat memastikan identitas dirinya, yaitu apakah tergolong populer atau tidak. Untuk masuk ke kelompok tertentu tak jarang anak akan memenuhi persyaratannya yang sering disebut dengan conformity. Alasan anak menyukai hang out, karena adanya perasaan kebersamaan bersama teman-teman. Mereka bisa sharing apapun tanpa takut dihakimi. â€Anak pun beranggapan dirinya sudah mampu menentukan pilihan, sehingga terkadang aturan dirasakan mengganggu. Sedangkan teman tidak memberikan aturan,â€ paparnya.</p>
<p>Ditambah lagi, anak bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri dan orang lain serta merasa bebas melakukan kegiatan apapun. Umumnya kegiatan hang out yang biasa anak lakukan antara lain, makan dan minum di restoran cepat saji sambil mengobrol atau tukar menukar barang koleksi, menonton di bioskop, belanja, dan main games.Â  â€Hang out dirasa anak sebagai salah satu kebutuhan tahapan perkembangan, yaitu kebutuhan sosialisasi dan autonominya,â€ kata Savitri.</p>
<p><strong>Pengaruh Teman VS Kekhawatiran Orangtua</strong></p>
<p>Kegiatan berkelompok ini juga sangat mempengaruhi perkembangan sosial anak antara lain keinginan anak menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial. Melalui hubungan dengan teman sebaya, anak akan belajar berpikir secara mandiri, mampu mengambil keputusan, serta menerima pandangan dan nilai-nilai selain dari lingkungan keluarga. Untuk diterima dalam lingkungannya, anak akan mempelajari pola perilaku yang diterima kelompoknya.â€Melalui kegiatan ini maka akan terjadi transfer nilai baik hal-hal positif hingga yang bersifat negatif, â€ kata Fatchiah.</p>
<p>Tak jarang pula hal ini dapat mempengaruhi konsep diri anak. Apabila hang out tidak memberikan makna pada anak maka akan menyebabkan anak tidak nyaman dengan kelompoknya, misalnya minat atau kebiasaan dalam kelompoknya tidak sesuai dengan minatnya. Anak pun merasa ditolak dan tidak merasa diterima dalam kelompoknya. Alhasil, anak kesulitan menyesuaikan diri. â€Seringkali anak takut tidak diakui oleh teman-temannya sehingga akan berusaha mengikuti peraturan dalam kelompoknya meskipun buruk,â€ tambah Fatchiah.</p>
<p>Fatchiah juga menyayangkan pilihan tempat hang out anak yang belum sesuai dengan tahapan perkembangannya seperti kafe, atau restoran. Penyebabnya, tempat-tempat tersebut umumnya lebih besar dimasuki komunitas orang dewasa dibanding anak-anak. Sehingga anak-anak pun semakin dekat dengan kebiasaan orang dewasa seperti merokok dan sebagainya. Sebab itu, orangtua harus mengamati pilihan tempat hang out anak. Sebaiknya pilih tempat yang memang memiliki unsur edukasi dan sesuai untuk anak-anak, misalnya sanggar kesenian, kebun binatang, arena bermain, dan sebagainya.</p>
<p>Pilihan tempat dan kegiatan hang out yang salah dapat menimbulkan kekhwatiran pada orangtua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/25/budaya-hangout-di-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pagerank dan Webometric</title>
		<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/11/pagerank-dan-webometric/</link>
		<comments>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/11/pagerank-dan-webometric/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 11:56:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardhiprabowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogger Share-Kit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unnes.ac.id/ardhi/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Berkarya namun tak tersebarkan rasanya menjadi sia-sia, demikian kata seorang teman dalam suatu kesempatan. Makanya sekarang saya menuruti kata teman saya untuk mencoba mengekspresikan apa yang saya ingin ekspresikan untuk menyebarkan pikiran saya, kalau memang berguna. Satu fasilitas kampus yang saya gunakan adalah http://blog.unnes.ac.id. Mantap bener fasilitas itu, 50MB gratis (jujur saja, itu masih sangat kecil, ditambah lagi untuk upload, file yang diijinkan hanya maksimal 2MB. Susah) diberikan kampus untuk kami yang mau menyebarkan melalui blog.dan bukti tersebarnya karya itu dapat ditunjukkan melalui pagerank yang diperoleh blog berdasarkan peringkat dari Google. Pagerank, webometric atau perangkat pengukur statistik web yang lain memang menarik untuk diikuti. Perangkat tersebut enyajikan informasi berapa kali blog atau web kita diakses, darimana saja para pengakses itu, bahkan berapa lama pengakses itu hadir di blog kita. Senang juga ketika awal tahun ini blog yang saya coba manfaatkan ini diberi peringkat lumayan dari Google. Awal tahun ini blog ini sudah dapat rank 2, padahal baru beberapa bulan eksis di dunia blogging kampus unnes. Kawan bisa bayangkan dengan blog saya yang di blogger, mesti harus 1 tahun untuk dapat pengakuan rank 2 dari om Google. Webometric kampus, sama pula mestinya. Saya cuma bisa berpartisipasi, semoga apa yang saya coba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-218" src="http://blog.unnes.ac.id/ardhi/files/2010/01/number-two-150x150.jpg" alt="number-two" width="108" height="108" />Berkarya namun tak tersebarkan rasanya menjadi sia-sia, demikian kata seorang teman dalam suatu kesempatan. Makanya sekarang saya menuruti kata teman saya untuk mencoba mengekspresikan apa yang saya ingin ekspresikan untuk menyebarkan pikiran saya, kalau memang berguna. Satu fasilitas kampus yang saya gunakan adalah <a href="http://blog.unnes.ac.id" target="_blank">http://blog.unnes.ac.id</a>. Mantap bener fasilitas itu, 50MB gratis <span style="color: #ff0000"><em>(jujur saja, itu masih sangat kecil, ditambah lagi untuk upload, file yang diijinkan hanya maksimal 2MB. <img src='http://blog.unnes.ac.id/ardhi/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  Susah)</em></span></span> diberikan kampus untuk kami yang mau menyebarkan melalui blog.dan bukti tersebarnya karya itu dapat ditunjukkan melalui pagerank yang diperoleh blog berdasarkan peringkat dari Google.</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Pagerank, webometric atau perangkat pengukur statistik web yang lain memang menarik untuk diikuti. Perangkat tersebut enyajikan informasi berapa kali blog atau web kita diakses, darimana saja para pengakses itu, bahkan berapa lama pengakses itu hadir di blog kita. Senang juga ketika awal tahun ini blog yang saya coba manfaatkan ini diberi peringkat lumayan dari Google. Awal tahun ini blog ini sudah dapat rank 2, padahal baru beberapa bulan eksis di dunia blogging kampus unnes. Kawan bisa bayangkan dengan blog saya yang di blogger, mesti harus 1 tahun untuk dapat pengakuan rank 2 dari om Google.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Webometric kampus, sama pula mestinya. Saya cuma bisa berpartisipasi, semoga apa yang saya coba manfaatkan dengan blog ini bisa meningkatkan traffic web kampus saya, visit ya <a href="http://unnes.ac.id" target="_blank">http://unnes.ac.id</a>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Salam sukses.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/11/pagerank-dan-webometric/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UASBN SD 2010</title>
		<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/10/uasbn-sd-2010/</link>
		<comments>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/10/uasbn-sd-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 13:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardhiprabowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Pelatihan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Soal UAN Matematika]]></category>
		<category><![CDATA[matematika SD]]></category>
		<category><![CDATA[UASBN]]></category>
		<category><![CDATA[UASBN 2010]]></category>
		<category><![CDATA[UASBN Matematika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unnes.ac.id/ardhi/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum. Hanya menyampaikan pesan saja, bahwa UASBN SD tinggal menunggu waktu saja. Silahkan unduh filenya di halaman unduh pada blog ini. Selamat mencoba. Untuk contoh prediksi soalnya, tunggu saja sebentar lagi. Setelah tanggal 31 nanti. Namun, prediksi tersebut sesungguhnya saya maksudkan untuk berlatih, dan kemudian mencari variasi soalnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum. Hanya menyampaikan pesan saja, bahwa UASBN SD tinggal menunggu waktu saja. Silahkan unduh filenya di <a href="http://blog.unnes.ac.id/ardhi/halaman-download/">halaman unduh</a> pada blog ini. Selamat mencoba. Untuk contoh prediksi soalnya, tunggu saja sebentar lagi. Setelah tanggal 31 nanti. Namun, prediksi tersebut sesungguhnya saya maksudkan untuk berlatih, dan kemudian mencari variasi soalnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/10/uasbn-sd-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kosmografi dan Antariksa Kuno</title>
		<link>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/05/kosmografi-dan-antariksa-kuno/</link>
		<comments>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/05/kosmografi-dan-antariksa-kuno/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 10:03:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ardhiprabowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unnes.ac.id/ardhi/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian Antariksa Pengetahuan manusia tentang alam semesta/antariksa dan alam perbintangan sudah sejak zaman purba. Bangsa-bangsa Persia, Sumeria, Babylonia, Asyria dll sudah mempunyai pengetahuan yang Â­dalam tentang Ilmu Bintang-bintang. Di tahun 1500-an M Ilmu Bintang (astronomi) berkembang sebagai ilmu pengetahuan. Ilmu Bintang ini dipelajari hingga sekarang. Tidak dapat disangkal berkat petahuan ini manusia sekarang berhasil dalam usahanya menaklukkan ruang angkasa. Kosmografi Ilmu Kosmografi adalah bagian Ilmu Bintang. Dalam Ilmu Kosmografi diperbincangkan keadaan-keadaan yang telah ada dalam alam-raya. Tugas ilmu kosmografi mernberi pelajaran kepada kita tentang riwayat pertumbuhan kosmos. Kosmografi memberi pergetahuan hubungan alam semesta benda-benda langit matahari, bulan, bintang-bintang, bumi dan sebagainya. Tetapi objek-objek langit ini hanya dipandang sebagai bagian alam amat kecil terhadap kosmos yang maha besar itu. Kosmografi pada khususnya, ilmu bintang-bintang pada umumnya, dipergunakan diberbagai cabang ilmu pengetahuan: ilmu pelayaran, ilmu penerbangan, ilmu ukur tanah, penetapan waktu, penetapan musim, perhitungan tinggi air pasang, perhitungan gerhana, dll. Keadaan-keadaan: suhu berjuta derajat tingginya, tekanan berjuta atmosfer besarnya, vakum berlipat rendahnya, atau ruang tak berdinding dan pengaruhnya terhadap sifat-sifat materi tak mungkin atau sukar dicapai di laboratorium. Untuk mengetahui hal demikian, Ilmu Astrofisikalah yang dapat menjawabnya. Perkembangan sangat cepat sebagian ilmu astronomi dan saling pengaruhnya terhadap ilmu alam yang lain pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong>Pengertian Antariksa</strong></p>
<p style="text-align: justify">Pengetahuan manusia tentang alam semesta/antariksa dan alam perbintangan sudah sejak zaman purba. Bangsa-bangsa Persia, Sumeria, Babylonia, Asyria dll sudah mempunyai pengetahuan yang Â­dalam tentang Ilmu Bintang-bintang. Di tahun 1500-an M Ilmu Bintang (astronomi) berkembang sebagai ilmu pengetahuan. Ilmu Bintang ini dipelajari hingga sekarang. Tidak dapat disangkal berkat petahuan ini manusia sekarang berhasil dalam usahanya menaklukkan ruang angkasa.</p>
<p style="text-align: justify"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify"><strong>Kosmografi</strong></p>
<p style="text-align: justify">Ilmu Kosmografi adalah bagian Ilmu Bintang. Dalam Ilmu Kosmografi diperbincangkan keadaan-keadaan yang telah ada dalam alam-raya. Tugas ilmu kosmografi mernberi pelajaran kepada kita tentang riwayat pertumbuhan kosmos.</p>
<p style="text-align: justify">Kosmografi memberi pergetahuan hubungan alam semesta benda-benda langit matahari, bulan, bintang-bintang, bumi dan sebagainya. Tetapi objek-objek langit ini hanya dipandang sebagai bagian alam amat kecil terhadap kosmos yang maha besar itu.</p>
<p style="text-align: justify">Kosmografi pada khususnya, ilmu bintang-bintang pada umumnya, dipergunakan diberbagai cabang ilmu pengetahuan: ilmu pelayaran, ilmu penerbangan, ilmu ukur tanah, penetapan waktu, penetapan musim, perhitungan tinggi air pasang, perhitungan gerhana, dll.</p>
<p style="text-align: justify">Keadaan-keadaan: suhu berjuta derajat tingginya, tekanan berjuta atmosfer besarnya, vakum berlipat rendahnya, atau ruang tak berdinding dan pengaruhnya terhadap sifat-sifat materi tak mungkin atau sukar dicapai di laboratorium. Untuk mengetahui hal demikian, Ilmu Astrofisikalah yang dapat menjawabnya. Perkembangan sangat cepat sebagian ilmu astronomi dan saling pengaruhnya terhadap ilmu alam yang lain pada dasawarsa ini memperluas perkembangan ilmu teknik.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><strong>Pandangan Manusia tentang Alam Semesta</strong></p>
<p style="text-align: justify">Sejak ribuan tahun lalu, manusia takjub menyaksikan keindahan langit malam bertaburan penuh bintang yang bergeser tiada henti-hentinya. Bertanya-tanya pada diri sendiri atau pada sesamanya: Apakah sesungguhnya titik-titik cahaya di langit yang ribuan jumlahnya? Berapa jauhkah mereka dari bumi? Di manakah kiranya tempat bumi ini di jagat-raya tersebut? Apakah bumi diam diri tidak bergerak di tengah-tengah alam semesta? Bagaimanakah asal mula terjadinya jagat-raya beserta segala isinya ini? Karena tidak dapat memperoleh jawaban, diciptakanlah banyak mitos-mitos dan dongeng-dongeng tidak masuk akal, baik mengenai keadaan benda-benda langit tersebut maupun mengenai kelahiran alam semesta ini.</p>
<p style="text-align: justify">Seiring perkembangan zaman, lahirlah beberapa pandangan para ahli perbintangan memecahkan rahasiaÂ­ di alam semesta ini dengan berbagai hipotesis ilmiah sesuai dengan tingkat perkembangan teknologi dan pengetahuan saat itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unnes.ac.id/ardhi/2010/01/05/kosmografi-dan-antariksa-kuno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
