Oleh: Ardhi Noorkhan Syuhada, 3401415046

Disuatu hari yang membosankan, seorang mahasiswa terlihat sedang duduk termenung dan bermalas-malasan disebuah warung makan di belakang Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes, ya, warung makan Bu Yanti. Sambil memandangi otang yang berseliweran, dia juga memikirkan tugas yang semakin hari semakin menumpuk, memikirkan kata-kata yang akan dituliskan dalam sebuah karya featurenya. Dia pun berpikir, walau gerimis begini, aku harus tetap berkarya, harus selalu menghasilkan sesuatu yang akan berguna bagi sesama.

“Oh ya! Aku akan membuat sebuah motivasi untuk para mahasiswa Indonesia yang lain”. Para pembaca pasti berpikir, bagaimana bisa seorang pemalas yang hanya duduk di warung makan membuat sebuah motivasi untuk tetap berkarya bagi mahasiswa lain? Bukan, dia bukanlah seorang mahasiswa pemalas, dia hanyalah bagian dari mahasiswa yang terkubur tugas dari dosen dan organisasinya.

Mulailah dia menulis sebuah feature. Dalam benak pikirannya, menghasilkan sebuah bacaan motivasi pastinya sangat sulit, karena tulisan tersebut sebaiknya mempunyai tata bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Dia berpikir keras untuk memenuhi persyaratan tersebut. Mulailah dia membuka laptopnya dan mengetik. Satu dua kata diketiknya,  lalu kemudian dihapus lagi. Ketik, backspace, ketik, backspace, begitu terus sampai akhirnya adzan ashar terdengar begitu menggelegar. Dia memutuskan untuk pergi ke masjid untuk shalat berjamaah.

Berwudlulah dia di kamar mandi kosnya,  kemudian melangkah ke masjid. Entah apa yang melatarbelakangi semangatnya untuk shalat berjamaah di masjid. Setelah selesai shalat ashar di masjid, cuaca berubah menjadi gerimis. Pada saat itulah dia mendapatkan ide yang sangat bagus. Ide tersebut didapatkannya setelah melihat seorang mahasiswi melintas didepannya, menembus dahsyatnya air gerimis dengan berteduhkan payung. Bagai disambar petir dia langsung saja pulang ke kosnya dengan berlari-lari kecil.

Sesampainya di kos, dia menuangkan idenya kedalam microsoft word 2007 laptopnya. Jiwanya membara, kata-katanya mengucur dengan derasnya. Dalam waktu singkat tugas yang sudah dikerjakannya tadi selama dua jam belum selesai, sekarang dapat terselesaikan dengan waktu sepuluh menit saja.

“Alhamdulillah ya Allah”. Dia mengucapkan rasa syukurnya kepada Tuhan. Kemudian mahasiswa itu duduk termenung didepan laptopnya, memikirkan sebuah pelajaran dari peristiwa yang baru saja dilaluinya. “Ternyata dengan kita mengutamakan urusan akherat, secara tidak langsung Allah akan mengurus urusan duniawi kita. Bukankah tadi merupakan sebuah kebetulan, seusai shalat turun gerimis, mahasiswi melintas didepan mata, mengenakan payung dan dengan semangat menembus gerimis, pada akhirnya muncul ide tulisan ini?”. Begitulah yang ada dibenak pikirannya setelah itu.

Dari peristiwa tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa sesibuk apapun diri kita, separah apapun kondisi kita, seberantakan apakah diri kita, janganlah melupakan kewajiban kita sebagai manusia untuk selalu beribadah kepada Tuhan. Ketika ibadah kita kepada-Nya teratur, tertib, intinya kita merapikan akherat kita ( tanpa melepas secara total urusan duniawi), maka Allah akan membantu urusan duniawi kita, memudahkan segala urusan kita, membantu memberikan jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita hadapi. Oleh karena itu, kita boleh saja berusaha dengan keras menyelesaikan permasalahan dunia yang ada, tetapi tetaplah mengutamakan urusan akherat, karena kita bukanlah apa-apa tanpa pertolongan dari-Nya.