Film The Burning Season: The Chico Mendes Story

Judul   : The Burning Season: The Chico Mendes Story

Durasi  : 1 jam 55 menit

Tahun  : 1994

Review

Film The Burning Season menceritakan seorang tokoh dunia yang merupakan aktivis lingkungan, yaitu Chico Mendes. Di dalamnya diceritakan bagaimana jalan kehidupan dari Chicho Mendes ini, mulai sejak masa kecilnya hingga meninggal. Beliau adalah anak dari seorang petani karet di daerah Cachoeira, Brazil.


sumber gambar: bbc.com

Pada masa kecilnya, Chico Mendes bersama ayahnya bekerja sebagai petani karet disalah satu hutan di Brazil. Konflik dalam film ini dimunculkan ketika Chico bersama ayahnya hendak menjual hasil karet yang telah dikumpulkan tersebut kepada tengkulak. Terjadi kecurangan pada saat penimbangan kemudian ditambah lagi dengan beberapa pengurangan. Chico kecil bertanya kepada ayahnya, apakah memang harus begitu dalam penjualannya. Ayahnya hanya mengiyakan tanpa memberi penjelasan, seolah-olah hanya pasrah pada situasi tersebut. Kemudian ditampilkan bahwa apabila ada orang yang menentang sistem tersebut misal dengan membuat perserikatan, maka akan dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup. Chico kecil bersama ayahnya dan warga lainnya melihat proses hukuman tersebut.

Titik balik dari kehidupan Chico yang buruk adalah ketika bertemu dengan seorang pengelana atau bisa dibilang pengangguran yang datang ke hutan dari Sao Paolo, orang itu bernama Euclides Tavora. Kemudian Euclides Tavora ini semacam menjadi guru bagi Chico kecil, dia mengajarkan beberapa hal mulai dari membaca hingga menghitung dan juga membuka pemikirannya tentang betapa serakahnya para petinggi pada masa itu.

Cerita berikutnya dilanjutkan ketika Chico Mendes dewasa. Bersama dengan temannya yang bernama Wilson Pinheiro membentuk sebuah organisasi dengan bersama jamaah gereja. Pada saat mengetahui adanya penebangan pohon di hutan oleh pengusaha dari kota yang ingin membuka lahan untuk peternakan, Chico, Pinheiro bersama jamaah gereja lainnya mencoba menghalangi proses penebangan tersebut. Pinheiro dan Chico mengadakan sebuah pidato singkat dengan tujuan untuk membuka pemikiran sekaligus membujuk para pekerja agar tidak melanjutkan pekerjaannya.

Setelah mengadakan pergerakan tersebut, proses penebangan hutan sempat dihentikan. Akan tetapi hanya selang beberapa hari, penebangan tersebut dilanjutkan, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Melihat usaha yang dilakukan tidak berhasil, Chico bersama penduduk lainnya menghalangi kembali penebangan tersebut di hutan. Pada kali ini, salah satu dari penduduk terluka karena ulah dari penebang tersebut. Sehingga pekerja yang menebang merasa bersalah dan menghentikan kegiatannya. Kemudian Chico pergi ke pusat kota untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah. Namun yang dia dapatkan adalah sebuah kegagalan, karena mereka semua yang ada disana tidak mengenal dan mengakui keberadaannya.

Ketika Chico kembali ke daerahnya, betapa terkejutnya melihat penebangan besar-besaran kembali terjadi. Dia kembali mengumpulkan penduduk dan mencoba menentangnya, dengan tanpa kekerasan. Namun keadaanya sudah sangat berbeda, kali ini penebangannya dikawal dengan para tentara bersenjata sehingga usaha yang dilakukan oleh penduduk tidak berhasil dan menimbulkan sebuah pembantaian.

Singkat cerita, pemerintah mendengar kejadian tersebut kemudian turun secara langsung menuju kediaman Chico untuk bernegosiasi. Proses tersebut terjadi selama sehari semalam, hingga paginya ketika pintu rumahnya dibuka, Chico, anggota pemerintah, dan juga pengusaha terkejut karena mendapati warga telah menunggu keputusan yang dihasilkan. Keputusan akhir yang didapat adalah pemerintah akan melindungi hutan yang ada dari penebangan liar. Sontak saja keputusan tersebut memberikan hawa segar bagi masyarakat Cachoeira.

Keputusan yang diambil tersebut nampaknya menimbulkan kecemburuan di dalam hati para pengusaha yang menginginkan lahan tersebut. Pada keesokan harinya, kejadian simbolik yang sebelumnya dialami oleh Wilson Pinheiro yang mana didapati kepala kambing digantungkan didepan rumahnya sebagai simbol untuk memilik pergi atau mati, kembali terjadi kepada Chico. Dia memilih untuk tetap tinggal di rumahnya. Dan akhirnya sama seperti Pinheiro, pada malam harinya Chico ditembak mati oleh orang tak dikenal tepat didepan rumahnya. Akhir cerita, untuk mengabadikan jasa yang telah dilakukan oleh Chico Mendes dalam menghentikan penebangan hutan dan pembakaran liar, namanya diabadikan sebagai nama hutan hujan tropis, hutan Chico di kawasan Amazon.

Hal-Hal Menarik dalam Film The Burning Season

Saya baru tahu, selain di daerah Indonesia, terdapat juga kepercayaan animisme, yaitu kepercayaan adanya sosok makhluk yang bernama curupira, sang penjaga hutan. Curupira ini adalah manusia cebol yang memiliki kaki terbalik, sehingga tidak akan bisa dilacak. Kemunculannya akan terjadi apabila ada seseorang yang mengambil kekayaan hutan secara berlebihan tanpa memperhatikan keberlangsungannya.

Kemudian hal menarik selanjutnya adalah perjuangan yang dilakukan oleh Chico dan temannya dalam mengusir para penebang liar yang tanpa sedikitpun menggunakan senjata dan kekerasan. Kejadian tersebut membuktikan bahwa setiap kejahatan yang dilakukan oleh manusia tidak harus dilawan dengan kekerasan.

Hal menarik lainnya adalah adanya sebuah interaksi menggunakan simbol, yang menurut saya mengandung unsur sosiologi yang sangat kental. Simbol-simbol tersebut muncul ketika adegan sebelum kematian Pinheiro dan juga Chico sendiri. Sebelum kematiannya, ditampilkan sebuah adegan dimana di depan rumahnya digantungkan kepala kambing sebagai simbol untuk segera pergi dari rumah atau pilih mati. Saya dapat menyimpulkan hal ini karena kedua tokoh ini (Pinheiro dengan Chico) memilih untuk tetap tinggal di rumahnya, dan keesokan harinnya mereka meninggal dengan cara ditembak oleh orang asing. Menurut saya hal tersebut menarik karena ternyata simbol-simbol tersebut bukan hanya ada di Indonesia, tetapi juga di Brazil.

Potret Proses Pembangunan yang Ada Di Negara Berkembang

Pembangunan yang ada di negara berkembang, khususnya yang ditampilkan dalam film ini adalah di sektor pertanian dan peternakan. Pembangunan tersebut dilaksanakan dengan cara membuka lahan dari hutan, menebangi pohon-pohon yang ada. Kemudian lahan-lahan tersebut dijual kepada para pengusaha lainnya.

Pembangunan seperti ini akan menimbulkan kesenjangan antara masyarakat penduduk asli hutan tersebut yang menggantungkan kehidupan dari hutan dengan para pengusaha yang membuka hutan demi kepentingan pribadinya. Kesenjangan tersebut sampai menimbulkan konflik, akan tetapi beruntung para penduduk lokal tidak menggunakan kekerasan sehingga dapat terkendali.

Pengaruh Pembangunan Terhadap Masyarakat

Pengaruh pembangunan tersebut terhadap masyarakat adalah hilangnya sumber pendapatan dari masyarakat lokal, karena sebagian besar sumbernya berasal dari pohon karet yang mana telah ditebang untuk membuka lahan. Masyarakat seakan-akan dipaksa untuk pindah tempat tinggal dan juga berganti mata pencaharian menjadi petani maupun peternak.

Hal yang Harus Dilakukan Dalam Situasi Tersebut

Melihat dari peristiwa tersebut, hal yang sebaiknya dilakukan memang sudah benar seperti yang digambarkan oleh film The Burning Season ini. Sebaiknya diadakan sebuah perundingan, tidak melalui jalan kekerasan. Apabila masyarakat tidak dapat melakukannya secara mandiri, mereka bisa dengan cara melaporkan kepada pemerintah bahwa kegiatan tersebut (penebangan dan pembakaran hutan secara liar) merupakan sebuah pelanggaran yang dapat merusak ekosistem.

1 ping

  1. […] membakar semangat penduduk desa, para aktivis memutar film-film. Salah satu film itu berjudul “The Burning Season” (Musim Kebakaran) yang berkisah perjuangan penyadap karet dan aktivis Chico Mendes di Brasil […]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

%d blogger menyukai ini: