SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Memakmurkan Manusia dan Alam agar Seimbang di Universitas Negeri Semarang #3
Nov 16th, 2015 by Astri Setia Ningrum

Oleh: Astri Setia Ningrum

Pendidikan Fisika 2014

3

Di era Perkembangan IPTEK yang semakin maju, semakin banyak pula kebutuhan manusia dalam kehidupan. Hal ini memicu munculnya sifat ketidakpuasan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa memperhatikan lingkungan alam sekitar, karena pada umumnya sifat manusia yang konsumtif seiring pengaruh globalisasi.

Dampak yang terjadi akibat pengeksploitasian yang besar-besaran tersebut membuat alam kita tidak seimbang. Hal ini di perparah dengan pembangunan gedung-gedung bertingkat yang mencakar langit turut merusak ekosistem alam yang pelaksanaannya tidak memperhatikan lingkungan, baik ekositem laut, ekositem darat, maupun ekositem udara. Selain merusak ekosistem, pembangunan tersebut juga memunculkan wabah penyakit yang mengancam masyarakat.

Oleh karena itu, kita sebagai kader konservasi harus segera mencegah dan menyelamatkan alam kita dari kerusakan dengan kegiatan konservasi. Jangan hanya mementingkan diri pribadi, melainkan juga memperhatikan lingkungan sekitar. Namun, gerakan konservasi tanpa aksi adalah tindakan nihil belaka. Yang kita perlukan adalah tindakan nyata, bukan omong kosong belaka.

Langkah Nyata Kita sebagai Mahasiswa untuk Mewujudkan Konservasi di UNNES

  1. Mengefisiensi energi dengan menggunakan lampu dan alat listrik yang hemat energi, menggunakan listrik saat diperlukan, mematikan alat listrik saat tidak di gunakan, meyediakan fasilitas kendaraan umum massal secara efektif dan efisien, mensosialisasikan kegiatan-kegiatan yang bersifat menghemat energ, mengembangkan dan melakukan penelitian untuk energi alternatif, dan lain-lain.
  2. Membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah sesuai dengan kategorinya, mengurangi sampah plastik, dan lain-lain.
  3. Mencintai Lingkungan Hidup Sekitar dengan kegiatan kerja bakti bersih lingkungan UNNES.
  4. Menjaga Lingkungan Kampus yang Sehat.
  • Mengurangi atau menghemat penggunaan lampu pendingin ruang kelas, konsumsi air dan energi lainnya.
  • Membangun mekanisme pembuangan sampah di kampus.
  • Membiasakan untuk kegiatan hemat atau bahkan mendaur ulang semua kertas, plastik dan sejenisnya
  • Melakukan diskusi atau studi kasus tentang pemeliharaan lingkungan kampus dan sejenisnya.
  • Mengadakan karya wisata atau studi banding dalam rangka pemeliharaan dan peningkatan kebersihan dan kelestarian lingkungan kampus.
  1. Mengurangi Pencemaran dengan Bersepeda, Berjalan Kaki dan Transportasi Umum
  • Jika tidak jauh, bersepeda atau berjalan kaki adalah transportasi yagn sebaiknya kita pilih untuk kegiatan sehari-hari. Bersepeda dan berjalan kaki tidak hanya mengurangi jumlah polutan penyebab polusi tetapi juga membantu kita untuk lebih sehat
  • Apabila menempu jarak menengah hingga jauh, kita dapat mempergunakan transportasi umum massal, Pertimbangannya adalah mengurangi volume kendaraan dan emisi gas yang dihasilkan setiap hari.
  • Berbagi kendaraan. Sebuah perusahaan atau ekolah, atau pribadi sebaiknya menyediakan saranan angkutan khusus seperti bus karyawan atau kampus yang dapat mengangkut karyawan dan murid yang memiliki rute searah.
  • Memberlakukan sistem jam three in one. Hal ini dilakukan untuk mengefisienkan penggunaan kendaraan roda empat, yaiut minimal tida orang di dalam sebuah kendaraan.
  1. Memanfaatkan fasilitas kampus dengan sebaik-baiknya, seperti membaca buku di perpustakaan, menggunakan Rumah PKM sebagai tempat belajar organisasi, ruang kuliah untuk kegiatan perkuliahan, dan lain-lain.
Cerpen Konservasi
Nov 16th, 2015 by Astri Setia Ningrum

Seandainya Pepohonan Adalah Mata,

Mungkin Sebentar Lagi Manusia Buta…

4

“Tebang saja semuanya” kata seseorang lengkap dengan tas pinggang kecil yang melingkari perutnya. “Kita akan dapat banyak untung! Hahahaha” lanjutnya dengan tawa yang menggelegar.

Suara itu benar-benar membuat Parjo ngeri. Orang kota itu memang jahat, batinnya. Dengan sesuka hati dia memusnahkan makhluk yang sama-sama hidup. Dan dengan perasaan yang masih takut-takut, Parjo kembali mengayuh sepedanya menuju rumahnya.

Tempat tinggal Parjo memang masih beberapa kilometer lagi dari Desa Kembang. Namun entah mengapa Parjo lebih suka melewati desa itu daripada mencari jalan alternatif yang lebih dekat dari rumahnya. Ya, Parjo memang selalu berangkat dan pulang sekolah melewati Desa Kembang. Alasannya, Desa kembang tidak beda jauh dari desanya, Desa Ngarum. Kedua desa itu masih terlihat asri. Banyak pepohonan yang rindang, sawah yang masih hijau, pun semak belukar masih nampak tumbuh di sana-sini. Jadi, jika Parjo mengayuh sepedanya sejauh apapun dia masih bisa merasakan oksigen masuk ke paru-parunya.

Tetapi kini, hampir-hampir Parjo selalu menebahkan dada saat melewati Desa Kembang. Dia terlampaui sering melihat pepohonan di sana ditebang begitu saja. Jika sudah begitu, terkadang jalan di sekitar Desa Kembang akan macet. Ada banyak truk yang berhenti di sepanjang jalan. Ada juga alat-alat besar yang bunyinya berisik. Semua itu membuat hati Parjo makin resah.

“Sudah pulang, Jo?” kata ibu sembari melipat beberapa baju di lincak, di teras rumah.

Parjo hanya mengangguk. Lalu meletakkan sepedanya di pekarangan rumahnya. Beberapa saat dia melangkah mendekati tempat dimana ibunya duduk. Dan dengan rasa hormat, dia mencium tangan ibunya.

“Sana makan dulu, Jo. Tumben jam segini kok baru pulang? Lewat Desa Kembang lagi?” tanya Ibu menghela nafas. “Kan ibu sudah bilang tho, Jo? Mbok ndak usah lewat Desa Kembang lagi. Jauh, Jo. Lagi pula Desa Kembang kan sering macet” lanjut ibu.

“Parjo tidak suka lewat desa yang lain, Bu. Parjo lebih suka melihat pemandangan di sekitar Desa Kembang” jawab Parjo sambil menarik nafas panjang. “Tapi sekarang, jalanan di sekitar Desa Kembang kok jadi seperti itu ya Bu?”

“Begitu bagaimana maksud kamu?”

“Sudah hampir habis pepohonannya, sawah-sawah yang dulu berkelok juga sekarang banyak yang jadi rumah, Bu”

“Mungkin memang sumber penghasilan Desa Kembang dari pepohonannya, Jo. Kan kamu tau sendiri kalau banyak pohon jati dan pohon pinus di sana”

“Menebang sih boleh saja, Bu. Tapi tidak boleh asal-asalan. Penebangan itu juga harus disertai juga dengan penanaman. Kata guru geografi Parjo, musim di Indonesia sudah tidak bisa ditentukan. Yang seharusnya musim hujan, masih saja kemarau panjang. Apalagi sekarang ada efek rumah kaca yang membuat temperatur bumi tidak stabil, Bu” jelas Parjo panjang lebar, dan ibunya hanya manggut-manggut mengerti. “Ya sudah, Parjo tak masuk dulu ke dalam, Bu” kata Parjo yang kemudian meninggalkan ibunya.

 

***

 

Malam itu, Parjo duduk di serambi rumahnya. Sebentar-sebentar suara jangkrik terdengar bersahutan. Disusul juga suara katak dari kejauhan. Suasana malam di Desa Ngarum memang begini. Meski terlihat kuno, diam-diam Parjo menaruh rasa bangga pada Desanya. Desa Ngarum masih memiliki pepohonan yang rindang yang tumbuh di mana-mana. Pun masih ada sawah yang belum tergantikan dengan bangunan-bangunan besar.

Lamunan Parjo terhenti seketika setelah air hujan tiba-tiba turun begitu lebatnya. Parjo segera menghambur ke dalam rumah. Dan beberapa menit setelahnya, para tetangga Parjo begitu gaduh. Sesekali ada yang berteriak histeris sambil berlari. Pintu rumah Parjo terketetuk beberapa kali. Ada apa ini? Bapak Parjo yang kemudian membuka pintu itu. Perlahan Parjo sayup-sayup mendengar pembicaraan bapak dan salah satu tetangga. Mereka membicarakan Desa Kembang. Tapi entahlah, Parjo yang berdiri di amping pintu tengah tidak begitu mengerti apa yang sedang mereka diskusikan.

Tiba-tiba saja bapak Parjo mengganti baju, kemudian mengenakan jas hujan dan siap pergi bersama beberapa rombongan tetangga.

“Ada apa, Pak?” tanya Parjo yang kemudian nyelonong keluar.

“Desa Kembang, Jo”

“Desa Kembang kenapa, Pak?”

“Longsor. Bapak mau bantu-bantu ke sana dulu. Kamu di rumah saja ya, jaga ibu kamu” kata Bapak yang kemudian bergegas pergi.

Parjo hanya mampu mengangguk, dan kemudian diam menatap langit yang masih gelap. Parjo tak habis pikir. Desa yang selalu dilewatinya, desa yang selalu dia kagumi selain desanya tiba-tiba setara dengan tanah. Pasti itu karena pohon-pohon yang sering ditebang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Dibalik titik hujan yang masih turun menghujam bumi, Parjo merasa sedih. Mengapa manusia sekarang enggan bersahabat dengan alam? Mengapa manusia hanya memikirkan dirinya sendiri? Tidak cintakah dia pada semesta ini?

Oh, seandainya pepohonan adalah mata, mungkin sebentar lagi manusia buta. Seandainya alam adalah jantung, barangkali esok pagi kita mati.

 

Sumber :

Mega Ayu, Relawan MRC Indonesia, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus.

 

UNNES sebagai Kampus Konservasi dalam Upaya Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan #2
Nov 16th, 2015 by Astri Setia Ningrum

   2.. 

Di era reformasi sekarang ini pendekatan hukum dengan mengandalkan kekuatan aturan tidaklah efektif untuk dijadikan sebagai satu-satunya modal dalam memecahkan masalah pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut dapat dimaklumi, sebab disatu sisi masyarakat melanggar aturan (merusak lingkungan) jika tidak terkontrol oleh aparat hukum yang berwewenang, sementara disisi lain petugas dapat mengatur damai di tempat jika menemukan masyarakat yang melanggar aturan. Oleh karena itu pendekatan pendidikan juga merupakan alternatif yang paling jitu dalam merubah perilaku masyarakat secara menyeluruh untuk berperilaku ramah terhadap lingkungan.

Pendidikan lingkungan merupakan salah satu sarana dalam rangka membentuk warga negara yang berwawasan lingkungan. hal ini disebabkan oleh berbagai fakta yang menunjukkan bahwa akar penyebab krisis lingkungan adalah manusia, sementara untuk mengubah segala aspek psikologis manusia tiada jalan lain kecuali melalui pendidikan.

Pendekatan pendidikan merupakan jalur strategis yang memberikan harapan untuk menunjang upaya pemecahan masalah lingkungan jangka panjang. Program pendidikan selalu berkembang dan maju dengan berbagai inovasi, agar sesuai dengan aspirasi masyarakat. Dunia pendidikan berfungsi sebagai wadah untuk memperkenalkan dan membina norma-norma baru yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan pembangunan dan perkembangan kebudayaan nasional dan pada akhirnya kesadaran dan perilaku yang berwawasan lingkungan dari masyarakat dapat terwujud. Dengan demikian pendekatan pendidikan diperlukan sebagai salah satu alternatif terbaik guna menjawab tantangan masalah lingkungan yang berkembang pada saat ini dan yang akan datang

Pendidikan lingkungan hidup mesti disempurnakan sedemikian rupa sehingga mampu menjadi ajang pendidikan bagi upaya menuju kehidupan berkelanjutan di Bumi. Dan masyarakat tidak hanya mampu menjadi warga negara pengembang dan pengamal IPTEK yang ramah lingkungan dan hemat sumber daya alam, melainkan juga mampu menerima dan menjalankan etika dan moralitas

Pendidikan Konservasi di UNNES merupakan salah satu pendidikan Lingkungan hidup sebagai upaya menuju kehidupan berkelanjutan. Badan Pengembang Konservasi UNNES, mempunyai tugas untuk mengembangkan nilai-nilai konservasi di lingkungan UNNES dan sekitarnya.

Badan Pengembang Konservasi UNNES mempunya 8 pilar konservasi yang terdiri dari :
1. Arsitektur Hijau dan Transportasi Internal

Arsitektur hijau, secara sederhana mempunyai pengertian bangunan atau lingkungan binaan yang dapat mengurangi atau dapat melakukan efisiensi sumber daya material, air dan energi, dalam pengertian yang lebih luas, adalah bangunan atau lingkungan binaan yang efisien dalam penggunaan energi, air dan segala sumber daya yang ada, mampu menjaga keselamatan, keamanan dan kesehatan penghuninya dalam mengembangkan produktivitas penghuninya, mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan.

Dalam divisi ini akan dikembangkan guidline penyertaan struktur ramah lingkungan pada penggunaan gedung saat ini dengan fungsi baru, pengembangan jalur sepeda dan jalan kaki, penggunaan transportasi ramah lingkungan, pembuatan shelter sepeda, pembuatan contoh sumur resapan, dan pembuatan model bangunan hemat energi

Hal ini bertujuan membentuk budaya ramah lingkungan pada lingkungan kampus. Pada tahap awal sejak deklarasi UNNES sebagai universitas konservasi pengembangan jalur sepeda dan jalan kaki telah dilaksanakan.

  1. Biodiversitas

Secara geografis, Unnes terletak di daerah pegunungan dengan topografi yang beragam dan memiliki tingkat keanekaragaman hayati (biodiversity) baik flora maupun fauna yang relatif tinggi.

Untuk meneguhkan diri menjadi sebuah universitas konservasi, telah dikembangkan “Taman Keanekaragaman Hayati” yang meliputi program penghijauan, pemilahan sampah organik dan anorganik, dan pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Inventarisasi awal fauna khususnya burung dan kupu-kupu di kampus pusat Unnes pada tahun 2005, 2008, dan awal 2009, berhasil mengidentifikasi sebanyak 58 jenis burung.

Dari jumlah tersebut, 14 diantaranya dilindungi peraturan dan perundangan Indonesia; 2 jenis termasuk dalam kategori spesies yang dilindungi CITES (Conservation on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendix II, I dan termasuk kelompok spesies yang dilindungi IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan kategori Endangered Species: EN, dan lima jenis termasuk kategori spesies endemik Jawa.

Selain itu ditemukan sebanyak 33 jenis kupu-kupu dan salah satunya merupakan jenis yang dilindungi menurut sistem perundangan Indonesia.

  1. Energi Bersih

Program ini merupakan upaya pemanfaatan sumber energi terbarukan dan penggunaan teknologi energi yang efisien dengan budaya hemat energi.

Energy surya (solar energy) merupakan sumber energy terbarukan yang paling sederhana, sehingga dengan penerapan panel surya di beberapa titik utama, kampus akan mengurangi konsumsi listrik dari PT.PLN.

Selain itu dikembangkan pula biofuel. Proses composting dari bio-massa merupakan salah satu alternatif untuk memperoleh biofuel dan dipadukan pada sistem pengolahan limbah organik.

Tenaga angin adalah sumber energy yang dapat dimanfaatkan di Unnes dengan membuat kincir angin di area terbuka kampus dan bersinergi dengan panel surya.

Selain itu sosialisasi terhadap civitas akademika UNNES dan lingkungan sekitar kampus juga dilaksanakan guna mendukung pelaksanaan kebijakan green energy.

  1. Seni Budaya

Bersamaan dengan upaya konservasi secara ekologis, penguatan pada aspek sikap dan perilaku segenap warga universitas serta lingkungan disekitarnya yang mencerminkan nilai konservasi menjadi program konservasi di budang budaya.

Implementasinya lewat sosialisasi dan pembudayaansikap hidup ramah lingkungan, semangat menanam sekaligus merawatnya, mengutamakan nir kertas, efisien energi sekaligur pengembangan energi ramah lingkungan yang semua bermuara pada perlindungan dan penguatan

Sejalan dengan itu, kegiatan yang telah berlangsung akan diteruskan, difasilitasi, dan dioptimalkan. Antara lain sarasehan ‘selasa legen (rebo legen)’, sanggar tari, sanggar pedalangan, sanggar panatacara, dan pembangunan kampung budaya

Kampung budaya, secara fisik, merupakan sebuah perkampungan yang mencerminkan prinsip multikultural. Diperkampungan inilah berbagai aspek dan wujud kebudayaan dieksplorasi, diapresiasi dan dikembangkan.

Diperkampungan ini akan dibangun rumah berbagai etnis lengkap dengan uba rampe dan aktifitas yang mencerminkan entitas tiap-tiap etnis (kultur/subkultur).

  1. Kaderisasi Konservasi

Program ini merupakan upaya peningkatan kader konservasi baik di lingkungan UNNES maupun masyarakat sekitar UNNES.

Kegiatan yang dilakukan antara lain adalah penjaringan kader, pelatihan kader melalui pendidikan konservasi, sosialisasi, dan memperluas kerjasamadengan pihak terkait dengan kegiatan konservasi dan lingkungan hidup.

Bersamaan dengan upaya konservasi secara ekologis, penguatan pada aspek sikap dan perilaku segenap warga universitas serta lingkungan disekitarnya yang mencerminkan nilai konservasi menjadi program konservasi di budang budaya.

Implementasinya lewat sosialisasi dan pembudayaansikap hidup ramah lingkungan, semangat menanam sekaligus merawatnya, mengutamakan nir kertas, efisien energi sekaligur pengembangan energi ramah lingkungan yang semua bermuara pada perlindungan dan penguatan

Sejalan dengan itu, kegiatan yang telah berlangsung akan diteruskan, difasilitasi, dan dioptimalkan. Antara lain sarasehan ‘selasa legen (rebo legen)’, sanggar tari, sanggar pedalangan, sanggar panatacara, dan pembangunan kampung budaya

Kampung budaya, secara fisik, merupakan sebuah perkampungan yang mencerminkan prinsip multikultural. Diperkampungan inilah berbagai aspek dan wujud kebudayaan dieksplorasi, diapresiasi dan dikembangkan.

Diperkampungan ini akan dibangun rumah berbagai etnis lengkap dengan uba rampe dan aktifitas yang mencerminkan entitas tiap-tiap etnis (kultur/subkultur).

  1. Kebijakan Nir Kertas

Pemanfaatan Teknologi Informasi di lingkungan Unnes diharapkan mampu membuka peluang mengurangi secara signifikan penggunaan kertas dalam surat menyurat dan dokumentasi melalui Paperless Policy.

Implementasi kebijakan ini berlaku dalam pengelolaan administrasi akademik berbasis teknologi informasi, pengelolaan administrasi dokumen perkantoran berbasis teknologi informasi dan rancangan e-Administrasi.

Dengan kata lain kebijakan nir kertas merupakan program meminimalisasi penggunaan kertas dengan memanfaatkan teknologi informasi yang dimiliki UNNES, antara lain dengan melakukan pengembangan sistem aplikasi berbasis web, pengembangan penerbitan online, peningkatan sarana pendukung, dan pengembangan organisai.

Melalui kebijakan Paperless Policy diharapkan konsumsi kertas akan semakin ditekan tanpa mengurangi efektifitas kerja dan merupakan salah satu upaya dalam pencegahan pemanasan global dan mengembalikan fungsi hutan sebagai paru-paru dunia.

  1. Pengolahan Limbah

Program ini melputi daur ulang kertas, plastik, logam/kaleng, pengolahan limbah laboratorium, dan pengolahan bunga/daun kering. Sejak tahun 2009 telah dilakukan pemisahan tempat sampah antara sampah organik dan sampah anorganik di setiap gedung Unnes.

Program kelanjutan dari pemisahan sampah ini adalah adanya pengelolaan yang berkelanjutan sesuai dengan jenis sampah tersebut, sampah organik dikelola menjadi pupuk kompos, sedangkan untuk sampah anorganik dilakukan pemilahan untuk dilakukan daur ulang atau dikirim ke TPA.

Selain untuk menjaga kelestarian lingkungan diperlukan pula pengelolaan lingkungan meliputi pengelolaan sampah, daur ulang sampah organik menjadi kompos dan perencanaan Unit Pengelolaan Limbah Laboratorium Kimia dan Biologi.

Dalam pengolahan kompos ini warga sekitar lingkungan kampus juga dilibatkan agar terciptanya lapangan pekerjaan bagi warga sekitar guna mendukung budaya konservasi. Pengembangan pengolahan kompos ini dilakukan bertahap seiring peningkatan produksi pupuk kompos yang diproduksi.

Sumber:

http://konservasi.unnes.ac.id/

https://docs.google.com/file/d/0B68owKEuWwKqbEZRUkM1RkwtekE/edit?usp=sharing

Konservasi, Ikhlas dan Berani Memulai dari Sekarang? #1
Nov 15th, 2015 by Astri Setia Ningrum

tanam-pohon

Konservasi merupakan kegiatan yang dilakukan atas dasar manfaat positif dalam pelestarian dan pemanfaatan lingkungan. Hal ini didasari karena konservasi adalah bagian dari kehidupan yang bijak, tepat guna, serta ideal dalam ruang lingkup aktivitasnya seperti konservasi air, darat, tanah, terumbu karang dan udara serta pemanfaatan limbah dengan nilai tepat guna.

Berbagai alternatif telah diupayakan dalam penerapan disiplin ilmu ini dalam segala bidang, dengan berbagai mekanisme dan teknik yang berbeda tanpa mempengaruhi nilai dampak, efek bahkan tujuan konservasi itu sendiri serta menghasilkan banyak rekomendasi penting ke arah yang lebih baik. Fenomena kerusakan dan ketimpangan serta penerapan yang “serakah” dari aturan yang tidak mementingkan “konservasi” mengakibatkan tidak seimbangnya berbagai kawasan atau tepatnya ekosistem lingkungan pada konteks hidupnya masing-masing inilah.

Gebrakan dari latar belakang konservasi inilah yang akhirnya melahirkan hukum, aturan dan mekanisme penting oleh daerah, negara bahkan pada strata tertinggi hukum adat dalam mengelola perundang-undangan “Kearifan Lokal”. Dengan “kearifan Lokal ” diharapkan terbentuk pengembangan dan kecerdasan dalam membentuk dinamika baru tentang martabat pengelolaan lingkungan yang baik, turut melahirkan juga karakter berpikir cerdas terhadap lingkungan, baik dalam mengelola, merawat, menjaga dan melestarikan serta mendaur kembali siklus hidupnya.

Kita sebagai mahasiswa, Agen Of Change sudahkah menerapkan nilai-nilai Kearifan Lokal di lingkungan kita ?

Sebagai Agen Of Change, mahasiswa sudah tentu tahu kewajiban untuk menerapkan nilai-nilai kearifan lokal dengan menjunjung nilai-nilai luhur yang berlaku dan bertindak cerdas, khususnya tindakan konservasi di lingkungan sekitar kita. Namun faktanya, sebagian besar dalam pelaksanaannya masih ada yang enggan menerapkan nilai-nilai tersebut karena kurangnya kesadaran di dalam diri mereka akan pentingnya konservasi.

Ikhlas Melakukan Konservasi ?

Untuk menyadarkan di dalam diri kita akan pentingnya konservasi, perlu dibarengi dengan “Ikhlas” atau rasa sepenuh hati dalam menerapkannya. Meniatkan ikhlas dan sungguh- sungguh terlebih dahulu agar tidak setengah-setengah. Alasannya sederhana bahwa setiap orang yang melakukan kegiatan konservasi dengan sungguh-sungguh berarti sudah beramal menuju kehidupan yang baik dan mulia, dan tanpa pamrih merupakan status penghargaan tertinggi di dunia karena tiadalah ia sebagai “pelaksana” yang mementingkan pencitraan atau popularitas yang tak sesuai yang dapat mengikis nilai-nilai positif yang telah ditanamkan, sehingga menjadi tidak selaras dengan makna sebenarnya dari “Konservasi” itu sendiri.

Berani memulai Konservasi ?

Setelah bersungguh-sungguh, tindakan “Berani Memulai” adalah langkah selanjutnya dan sangat diperlukan untuk bergerak, sehingga atribut-atribut dan teknik serta mekanisme konservasi dapat terpelajari dan teraplikasikan dengan sendirinya.

Setelah berniat ikhlas sungguh-sungguh dan berani memulai dalam menerapkan konservasi, selanjutnya memaksimalkan proses yang baik tentunya diimbangi dengan sikap positif dan cerdas karena kita “Kader Konservasi”. Kalau bukan kita, siapa lagi ???

#”Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar