SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Cerpen Konservasi
November 16th, 2015 by Astri Setia Ningrum

Seandainya Pepohonan Adalah Mata,

Mungkin Sebentar Lagi Manusia Buta…

4

“Tebang saja semuanya” kata seseorang lengkap dengan tas pinggang kecil yang melingkari perutnya. “Kita akan dapat banyak untung! Hahahaha” lanjutnya dengan tawa yang menggelegar.

Suara itu benar-benar membuat Parjo ngeri. Orang kota itu memang jahat, batinnya. Dengan sesuka hati dia memusnahkan makhluk yang sama-sama hidup. Dan dengan perasaan yang masih takut-takut, Parjo kembali mengayuh sepedanya menuju rumahnya.

Tempat tinggal Parjo memang masih beberapa kilometer lagi dari Desa Kembang. Namun entah mengapa Parjo lebih suka melewati desa itu daripada mencari jalan alternatif yang lebih dekat dari rumahnya. Ya, Parjo memang selalu berangkat dan pulang sekolah melewati Desa Kembang. Alasannya, Desa kembang tidak beda jauh dari desanya, Desa Ngarum. Kedua desa itu masih terlihat asri. Banyak pepohonan yang rindang, sawah yang masih hijau, pun semak belukar masih nampak tumbuh di sana-sini. Jadi, jika Parjo mengayuh sepedanya sejauh apapun dia masih bisa merasakan oksigen masuk ke paru-parunya.

Tetapi kini, hampir-hampir Parjo selalu menebahkan dada saat melewati Desa Kembang. Dia terlampaui sering melihat pepohonan di sana ditebang begitu saja. Jika sudah begitu, terkadang jalan di sekitar Desa Kembang akan macet. Ada banyak truk yang berhenti di sepanjang jalan. Ada juga alat-alat besar yang bunyinya berisik. Semua itu membuat hati Parjo makin resah.

“Sudah pulang, Jo?” kata ibu sembari melipat beberapa baju di lincak, di teras rumah.

Parjo hanya mengangguk. Lalu meletakkan sepedanya di pekarangan rumahnya. Beberapa saat dia melangkah mendekati tempat dimana ibunya duduk. Dan dengan rasa hormat, dia mencium tangan ibunya.

“Sana makan dulu, Jo. Tumben jam segini kok baru pulang? Lewat Desa Kembang lagi?” tanya Ibu menghela nafas. “Kan ibu sudah bilang tho, Jo? Mbok ndak usah lewat Desa Kembang lagi. Jauh, Jo. Lagi pula Desa Kembang kan sering macet” lanjut ibu.

“Parjo tidak suka lewat desa yang lain, Bu. Parjo lebih suka melihat pemandangan di sekitar Desa Kembang” jawab Parjo sambil menarik nafas panjang. “Tapi sekarang, jalanan di sekitar Desa Kembang kok jadi seperti itu ya Bu?”

“Begitu bagaimana maksud kamu?”

“Sudah hampir habis pepohonannya, sawah-sawah yang dulu berkelok juga sekarang banyak yang jadi rumah, Bu”

“Mungkin memang sumber penghasilan Desa Kembang dari pepohonannya, Jo. Kan kamu tau sendiri kalau banyak pohon jati dan pohon pinus di sana”

“Menebang sih boleh saja, Bu. Tapi tidak boleh asal-asalan. Penebangan itu juga harus disertai juga dengan penanaman. Kata guru geografi Parjo, musim di Indonesia sudah tidak bisa ditentukan. Yang seharusnya musim hujan, masih saja kemarau panjang. Apalagi sekarang ada efek rumah kaca yang membuat temperatur bumi tidak stabil, Bu” jelas Parjo panjang lebar, dan ibunya hanya manggut-manggut mengerti. “Ya sudah, Parjo tak masuk dulu ke dalam, Bu” kata Parjo yang kemudian meninggalkan ibunya.

 

***

 

Malam itu, Parjo duduk di serambi rumahnya. Sebentar-sebentar suara jangkrik terdengar bersahutan. Disusul juga suara katak dari kejauhan. Suasana malam di Desa Ngarum memang begini. Meski terlihat kuno, diam-diam Parjo menaruh rasa bangga pada Desanya. Desa Ngarum masih memiliki pepohonan yang rindang yang tumbuh di mana-mana. Pun masih ada sawah yang belum tergantikan dengan bangunan-bangunan besar.

Lamunan Parjo terhenti seketika setelah air hujan tiba-tiba turun begitu lebatnya. Parjo segera menghambur ke dalam rumah. Dan beberapa menit setelahnya, para tetangga Parjo begitu gaduh. Sesekali ada yang berteriak histeris sambil berlari. Pintu rumah Parjo terketetuk beberapa kali. Ada apa ini? Bapak Parjo yang kemudian membuka pintu itu. Perlahan Parjo sayup-sayup mendengar pembicaraan bapak dan salah satu tetangga. Mereka membicarakan Desa Kembang. Tapi entahlah, Parjo yang berdiri di amping pintu tengah tidak begitu mengerti apa yang sedang mereka diskusikan.

Tiba-tiba saja bapak Parjo mengganti baju, kemudian mengenakan jas hujan dan siap pergi bersama beberapa rombongan tetangga.

“Ada apa, Pak?” tanya Parjo yang kemudian nyelonong keluar.

“Desa Kembang, Jo”

“Desa Kembang kenapa, Pak?”

“Longsor. Bapak mau bantu-bantu ke sana dulu. Kamu di rumah saja ya, jaga ibu kamu” kata Bapak yang kemudian bergegas pergi.

Parjo hanya mampu mengangguk, dan kemudian diam menatap langit yang masih gelap. Parjo tak habis pikir. Desa yang selalu dilewatinya, desa yang selalu dia kagumi selain desanya tiba-tiba setara dengan tanah. Pasti itu karena pohon-pohon yang sering ditebang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Dibalik titik hujan yang masih turun menghujam bumi, Parjo merasa sedih. Mengapa manusia sekarang enggan bersahabat dengan alam? Mengapa manusia hanya memikirkan dirinya sendiri? Tidak cintakah dia pada semesta ini?

Oh, seandainya pepohonan adalah mata, mungkin sebentar lagi manusia buta. Seandainya alam adalah jantung, barangkali esok pagi kita mati.

 

Sumber :

Mega Ayu, Relawan MRC Indonesia, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus.

 


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar