SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
MAKALAH POST STRUKTURAL : Bahasa ALAY Sebagai Bentuk melawan Keterbatasan
November 11th, 2015 by Azez Blog

PENDAHULUAN
Bahasa adalah bentuk dari kebudayaan kelompok manusia. Budaya dan bahasa berjalan beriringan dan saling mempengaruhi. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, banyak budaya baru yang bertentangan dengan budaya lama walau dalam wilayah yang sama. Dalam pengertian yang penting, post strukturalisme adalah sebuah pemberontakan, sebab cara yang sangat efektif untuk memberontak adalah dengan menuduh pendahulu kita tidak berani menyokong keyakinan mereka sendiri

Melihat perkembangan bahasa slang di Indonesia, bahasa Alay berkembang dengan sendirinya, tidak menunggu pertimbangan apapun, diluar kesadaraan, dan hampir semua remaja pernah terjangkit “virus” alay tersebut. Pada umumnya bahasa alay lebih nampak dalam bentuk tulisan. Tulisan disini adalah bentuk representasi dari bahasa lisan. Pengguna bahasa Alay mengubah struktur tulisan ini menjadi lebih padat, dengan penggunaan angka, atau huruf yang lain.

 

RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu post structural ?
2. Bagai mana Hubungan bahasa alay dengan pos strukrural ?

 

PEMBAHASAN
Post-Strukturalisme adalah sebuah pemikiran yang muncul akibat ketidak puasan atau ketidak setujuan pada pemikiran sebelumnya, yaitu Strukturalisme. Pelopor strukturalisme itu sendiri adalah Ferdinand de Saussure. Beliau mengatakan bahwa bahasa sebagai sebuah sistem tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Aspek diakronis bahasa, yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa, dilihat sebagai bagian yang kurang penting.

Salah satu tokoh yang mendukung pemikiran Post-Strukturalisme adalah filsuf Prancis Jacques Derrida. Derrida mengatakan bahwa Saussure memberikan esensi manusia kepada bahasa. Logosentrime dan fonosentrisme adalah paham yang berusaha dikritik Derrida.  Menurutnya kelemahan logosentrisme adalah menghapus dimensi material bahasa dan kelemahan fonosentrisme adalah menomorduakan tulisan karena memprioritaskan ucapan. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Ia menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi karena dalam tulisan penanda selalu produktif, mengenalkan aspek sesaat kedalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified. Menurut Derrida jaringan tanda atau rajutan tanda bisa disebut dengan “teks”, Derrida menggunakan teks dalam arti yang jauh lebih luas daripada arti yang biasa, sebab bagi dia segala sesuatu yang ada merupakan status teks. Segala sesuatu yang ada ditandai tekstualitas. Kata Derrida, tidak ada hors-text, tidak ada sesuatu diluar teks. Jika fenomenologi dulu asyik berbicara dengan intersubyektifitas, maka Derrida sekarang berbicara tentang intertekstualitas, karena suatu teks tidak pernah terisolasi tetapi selalu berkaitan dengan teks-teks lain.

 

 

Bahasa adalah bentuk dari kebudayaan kelompok manusia. Budaya dan bahasa berjalan beriringan dan saling mempengaruhi. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, banyak budaya baru yang bertentangan dengan budaya lama walau dalam wilayah yang sama. Dalam pengertian yang penting, post strukturalisme adalah sebuah pemberontakan, sebab cara yang sangat efektif untuk memberontak adalah dengan menuduh pendahulu kita tidak berani menyokong keyakinan mereka sendiri (Peter Barry 2010).
analisis wacana pada umumnya menarget language use atau bahasa yang digunakan sehari-hari, baik yang berupa teks lisan maupun tertulis, sebagai objek kajian atau penelitiannya. Jadi objek kajian atau penelitian analisis wacana adalah unit bahasa di atas kalimat atau ujaran yang memiliki kesatuan dan konteks, bisa berupa naskah pidato, rekaman percakapan yang telah dinaskahkan, percakapan langsung, catatan rapat, debat, ceramah atau dakwah agama dsb. yang tidak artifisial dan memang eksis dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan analisis kebahasan biasa, analisis wacana tidak bisa disempitkan sebagai analisis lapisan atau kulit luar penggunaan bahasa, sekalipun banyak peneliti yang terjebak dalam kajian yang dangkal. Analisis wacana seharusnya menelusuri lebih jauh (beyond) ke dalam unit bahasa tersebut guna mengungkap hal-hal yang tidak tertampak oleh analisis kebahasaan atau analisis gramatika biasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahasa ALAY Sebagai Bentuk melawan Keterbatasan.

Pada saat ini di Indonesia, dalam lingkungan pergaulan telah dikenal dan berkembang bahasa Alay. Masih belum jelas kata Alay mewakili pengguna bahasa tersebut. Ada sumber yang menyebutkan, alay ini berasal dari singkatan “anak layangan”, yang punya asosiasi pada anak muda tukang kelayapan, atau anak kampung yang berlagak mengikuti tren fashion dan musik. Bahasa alay, mencampur aduk antara tulisan, lisan, dan gambar, sehingga semuanya menjadi kacau. Kekacauan bahasa itu terlihat karena peletakan gambar yang seenaknya dan kadang emosi juga diungkapkan secara tidak tepat. Jika meurut pandangan strukturalis fenomena bahasa alay merupakan kerusakan bahasa. Akan tetapi menurut pengguna bahasa alay, Bahasa yang rusak itu justru dianggap sebagai kreatifitas. Kreatifitas yang mendobrak struktur bahasa menjadi tak karuan. Bahasa Alay ini merupakan gerakan post-struktural, membuat strutktur baru, tidak tetap, dan menimbulkan kebudayaan baru.

 

Jika Derrida memulai pemikiran dekonstruksinya lewat linguistik, tentunya bahasa juga akan mempengaruhi sebuah perkembangan pemikiran-pemikiran yang lainnya lewat post-strukturalisme. Derrida menjelaskan dekonstruksi dengan kalimat negasi. Menurutnya dekonstruksi bukan suatu analisis dan bukan kritik, bukan suatu metode, bukan aksi maupun operasi. Singkatnya, dekonstruksi bukanlah suatu alat penyelesaian dari “suatu subjek individual atau kolektif yang berinisiatif dan menerapkannya pada suatu objek, teks, atau tema tertentu”.  Dekonstruksi adalah suatu peristiwa yang tidak menunggu pertimbangan, kesadaran, atau organisasi dari suatu subjek, atau bahkan modernitas.

Melihat perkembangan bahasa slang di Indonesia, Alay berkembang dengan sendirinya, tidak menunggu pertimbangan apapun, diluar kesadaraan, dan hampir semua remaja pernah terjangkit “virus” alay tersebut. Pada umumnya bahasa alay lebih nampak dalam bentuk tulisan. Tulisan disini adalah bentuk representasi dari bahasa lisan. Pengguna bahasa Alay mengubah struktur tulisan ini menjadi lebih padat, dengan penggunaan angka, atau huruf yang lain.

 

 

Beberapa penelitian dilakukan terhadap perkembangan bahasa alay ini. Sebagian besar para peneliti sepakat bahwa bahasa Alay muncul pertama kalinya sejak ada program SMS (Short Message Service) atau pesan singkat dari layanan operator yang mengenakan tarif per karakter yang berfungsi untuk menghemat biaya. Semua kata dan kalimat ‘dijungkirbalikkan’ begitu saja dengan memadukan huruf dan angka. Penulisan gaya alay ini tidak membutuhkan standar baku atau panduan khusus, semua dilakukan suka-suka dan bebas saja.

Bahasa ini ada karena keterbatasan, dalam hal ini bentuk tulisan pada Program SMS. Keterbatasan ini menjadikan pengguna ponsel, dipaksa secara halus untuk memadatkan bentuk tulisan. Hasilnya, penggunaan huruf dan angka dipadukan untuk membentuk bahasa baru yang kemudian berkembang menjadi bahasa alay. Sebagai contoh bentuk teks bahasa alay :

1n5y4 4JJl N4nt1 50re ud 4d4 4cr4. p0kUqnY 5e3p b3ud.  

Insya allah nanti sore uda ada acara. Pokoknya siip (beud) banget

Bentuk tulisan kacau nan alay ini, merupakan bentuk dari kreatifitas yang ada pada penulisan SMS karena keterbatasan karakter huruf. Secara tak sadar para pengguna ponsel pasti mempersingkat kata-kata karena keterbatasan tersebut.  Lalu muncul beberapa simbol untuk mewakili kata-kata tersebut. Seperti contoh diatas, kata Allah diganti menjadi 4JJl yang di analogikan sebagai  bentuk tulisan arab dari kata Allah. Bentuk ini bebas tidak teratur, tidak ada paduan khusus dan dengan sendirinya terbentuk karena keterbatasan.

 

Sebagai bentuk Post-sturktural, bahasa alay merubah dan mendekonstruksi bahasa tulis menjadi tatanan bahasa baru, dengan kreatifitas tanpa batas. Hal ini tentu menjadi kekacauan pengguna bahasa pada umumnya. Karena bahasa merupakan kebutuhan penting manusia dalam berkomunikasi. Disisi lain, bahasa alay merupakan ekspresi para penggunanya terhadap keterbatasan. Dengan merubah struktur bahasa yang sudah ada, menjadi bahasa baru, tidak terbatas, dan tidak mempunyai peraturan khusus.

 

 

 

Fenomena bahasa alay itu sendiri mengingatkan pada fenomena bahasa gaul yang hampir selalu ada pada setiap generasi anak muda. Bahasa-bahasa gaul yang tidak serta merta hilang terkubur dibawa peralihan generasi. Seperti “bokap” atau “nyokap”, jejak bahasa prokem yang tentu Anda masih sering dengar dalam bahasa percakapan saat ini. Bahasa alay saat ini lebih mencerminkan kultur yang arbitrer, serba acak dan suka suka. Penyebabnya, teknologi komunikasi dan informasi dengan jejaring informasi betul-betul membuat dunia lebih datar, seolah-olah tiap individu bebas untuk mengusung produk budaya masing-masing. Sehingga de facto tidak ada aturan yang benar-benar dianut secara baku seperti tampak dari bentuk bahasa alay yang tidak beraturan itu.

Sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar sarkasme tak bertanggung jawab dapat dilakukan dalam mengkaji fenomena ini. Di situs jejaring sosial semacam Facebook sendiri telah lama terbentuk Grup Anti Alay. Dan tindakan-tindakan ‘anti’ semacam ini telah berujung pada tindakan aniaya-karakter. Bukankah jauh lebih berharga bila mencurahkan energi untuk berbuat sesuatu terhadap gejala tindakan fasis seperti ini, dan bukan cuma dengan gagap dan latah mengatakan bahwa bahasa alay merusak bahasa nasional Indonesia.

 

 

PENUTUP

Kesimpulan dai ini Fenomena bahasa alay itu sendiri mengingatkan pada fenomena bahasa gaul yang hampir selalu ada pada setiap generasi anak muda. Bahasa Alay ini ada karena keterbatasan, dalam hal ini bentuk tulisan pada Program SMS. Keterbatasan ini menjadikan pengguna ponsel, dipaksa secara halus untuk memadatkan bentuk tulisan. Hasilnya, penggunaan huruf dan angka dipadukan untuk membentuk bahasa baru yang kemudian berkembang menjadi bahasaalay Sebagai bentuk Post-sturktural, bahasa alay merubah dan mendekonstruksi bahasa tulis menjadi tatanan bahasa baru, dengan kreatifitas tanpa batas
Daftar pustaka :

Adian, Donny Gahral.2002. “Menabur Kuasa Menuai Wacana”. Jakarta:Basis 01- 02 Januari-Februari 2002

Brown, Gillian. 1996. Analisis Wacana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Latif, Yudi dkk. 1996. Bahasa dan Kekuasaan. Bandung: Mizan

http://www.imababersatu.com/2013/05/perspektif-bahasa-alay-bahasa-dari.html
Kuncara ningrat, pengantar antropologi
 

 

MAKALAH POST STRUKTURAL : Bahasa ALAY Sebagai Bentuk melawan Keterbatasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NAMA      : Muhammad abdul aziz

NIM          : 3401413059

ROMBEL : 3

JURUSAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

      2013/2014


8 Responses  
  • heri writes:
    November 28th, 20155:17 pmat

    artikelnya kalau bisa di atur biar rata kanan dan kiri dan dikasih read more.. 🙂

  • nurul writes:
    December 1st, 20158:03 amat

    perhatikan lagi kerapian tulisannya ya kak, supaya tambah keren

  • ihdaayu writes:
    December 1st, 20159:05 amat

    materinya keren bangets, tapi harus ditambahin sajian yg bagus lagi biar ga males bacanya

  • Siti Mukharomah writes:
    December 1st, 20152:02 pmat

    struktur penulisannya masih kacau, coba diedit dan dikemas lebih menarik lagi agar pembaca lebih tertarik

  • Ida Nur Kholida writes:
    December 1st, 20156:06 pmat

    informasi nya bagus, tolong tampilannya di rapikan ya, kalu bisa dibuat seperti artikel 😀 semangat

  • Imas Ulufi writes:
    December 2nd, 20156:11 amat

    Informasi yang menarik,
    alangkah lebih bagus apabila sistematika penulisan diperingkas agar mempermudah pembaca,
    Semangat menulis dan terus eksplore info2 lain yang bermanfaat kaka 😀

  • Arsi Mafirotul Wakhida writes:
    December 2nd, 20156:25 amat

    Keren infonya. dirapihin pemilihan katanya ya kaka

  • Rukhiyatina Azizah writes:
    December 2nd, 20158:08 amat

    tampilannya dirapikan ya, kalau bisa penulisannya diubah seperti penulisan artikel, biar enak bacanya,


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar