bendera

MESKIPUN lulus kuliah linguistik umum dengan nilai A, sampai sekarang saya masih kesulitan memahami konsep arbitrer. Dalam kamus, konsep itu dipadankan dengan mana suka, sewenang-wenang. Dalam narasi yang lebih panjang, arbitrer dipahami sebagai tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep yang dilambangkannya.

Tentu saja sulit untuk menelusuri mengapa manusia melambangkn perabot untuk meletakkan sesuatu dengan lambang bunyi: meja. Dalam konsep arbitrer, dua hal itu disepakati begitu saja tanpa harus disertai penjelasan logis. Tapi, benarkah hubungan lambang dengan yang dilambangkannya bisa terjalin begitu saja?

Saya yakin setiap kata memiliki Sejarah (dengan S kapital) meskipun tidak memiliki sejarah. Artinya, kata memiliki proses dan perkembangan, namun tidak selalu tercatat.

Pada kata pahlawan, misalnya, mengapa orang yang berjuang untuk orang lain disebut pahlawan? Sangat mungkin, kata itu berasal dari kata pahala yang berarti ganjaran Tuhan atas perbuatan baik manusia. Orang yang memperoleh pahala lazimnya adalah orang yang berbuat baik, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi sesamanya.

Adapun bunyi -wan, dalam bahasa Indonesia biasanya dilekatkan untuk memberi keterangan bahwa subjeknya adalah seorang laki-laki. Ini logis karena bahasa Indonesia memang tumbuh dalam kebudayaan patrilineal yang memiliki kecenderungan melekatkan hal-hal baik kepada laki-laki.

Artinya, kata pahlawan lahir melalui proses berpikir dan sejarah yang dapat dinalar. Kata pahlawan tidak lahir sekonyong-konyong, tanpa penjelasan logis antara lambang dengan konsepnya.

Penelusuran yang sama dapat kita lakukan pada kata standar. Mengapa bagian sepeda motor yang digunakan untuk menjaga motor disebut standar? Kenapa peralatan yang digunakan untuk menopang microphone juga disebut standar? Mengapa pula ukuran kuantitas dan kualitas tertentu yang dijadikan patokan disebut sebagai standar?

Dalam catatan Kamus Etimology Online, kata standar mulai dikenal pada pertengahan abad 12 untuk menyebut “flag or other conspicuous object to serve as a rallying point for a military force.” Konon, ukuran bendera pada kerajaan-kerajaan di Eropa harus dibakukan ukurannya. Proporsi antara lebar dan panjangnya telah ditetapkan oleh raja, karena merupakan sebuah identitas.

Jadi normal, kalau kata standar kini bermakna “ukuran tertentu yang dijadikan patokan.”

Nah, tapi mengapa dulu orang menyebut bendera itu sebagai standard, bukan standurd, bukan pula standird? Bagi penganut arbitrer jawabannya akan sangat mudah: suka-suka mereka donk.

Tapi ternyata, itu pun dapat ditelusuri kronologisnya:

Panji-panji militer selalu dibawa dengan menggunakan tongkat, tiang, atau benda lain yang memungkinkan bender itu berkibar. Saat digunakan sebagai penanda titik berkumpul, tiang itu ditancapkan atau diberdirikan.

Nah, supaya bisa berdiri dengan kokoh, tiang itu harus ditancapkan atau diberdirikan dengan kuat. Orang berbahasa Inggris menyebutnya dengan “stand hard”. Berkat gabungan dua kata tersebut, lahirlah kata yang memiliki makna idiomatik mandiri: standard.

Bagaimana dengan kata mertua? Saya pernah tanya kepada guru bahasa Inggris saya yang kebetulan telah saya peristri, mengapa orang Inggris menyebut mertua dengan “mother in law” dan “father in law”. Pertanyaan itu saya utarakan karena sebagai orang yang baru belajar bahasa Inggris, kata itu saya artikan secara leksikal kata per kata sebagai “ayah dalam hukum” atau “ibu dalam hukum”.

Dia jawab, tidak ada penjelasan mengapa objek tertentu di beri nama tertentu. Menurutnya, itulah arbitrer.

Kalau menurut saya, orang berkultur Anglosaxon barangkali meyakini bahwa mertua bukanlah ayah dan ibu dalam arti yang sebenarnya. Mereka menjadi ayah dan ibu tetapi tidak dalam arti biologis, melainkan hanya dalam hukum. Hukum di sini bisa bermakna luas: adat, agama, hingga hukum negara.

Pilihan penutur bahasa Indonesia untuk menyebut orang tua dari suami/istri kita sebagai “mertua”, bagi saya juga tidak cukup memuaskan kalau dianggap sebagai arbitrer.

Ada unsur “tua” dalam kata “mertua”. Ini saya kira karena nyatanya, para mertua memang hampir selalu adalah orang yang lebih tua dari diri kita (menantu). Mbahs Subur dan Syek Puji mungkin punya mertua yang lebih muda dari usianya, namun mereka bukanlah tipe umum menantu di Indonesia.

Selain itu, orang Indonesia yang telah menikah mempersepsi bahwa ada kemenyatuan antara dirinya dengan pasangannya. Kemenyatuan dalam arti sosial, tempat tinggal, bahkan jiwa.. Orang tua dari pasangan adalah orang tua kita.

Bagaimana dengan kata meja, tangan, lari, dan kata lain? Mari kita selidiki.

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Sumber gambar : di sini  
Unduh PDF        : di sini

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar