BerghelFamilyTree

KAJIAN soal asal muasal kata telah berlangsung sejak masa linguistik tradisional. Etimologi lahir dengan asumsi dasar bahwa tiap kata lahir dari proses sosiokultural yang bisa ditelusuri jejaknya. Kata menarasikan pergaulan bangsa-bangsa. Kata mengisahkan persahabatan manusia dengan entitas lain di sekitarnya. Kata juga menggambarkan problematik batin manusia.

Dengan asumsi itu, etimologi bisa menjadi “pisau” yang tajam membedah sengketa kekuasaan pada penutur bahasa – baik orang per orang maupun komunitas. Pandangan ini relevan dengan unen-unen “Bahasa menunjukkan bangsa”.

Tentu saja kita tak perlu mengernyitkan dahi untuk mencari tahu, mengapa dalam bahasa Malaysia berhamburan istilah bahasa Inggris. Juga, tak perlu mengernyitkan dahi untuk mencari tahu mengapa istilah hukum di Indonesia bertauburan kata dari bahasa Belanda.

Sejarah kata adalah sejarah penaklukan dan dominasi. Bahasa dan kekuasaan berelasi seperti anak domba dan induknya: saling mengikuti. Penaklukan memanfaatkan bahasa pada satu waktu dan bahasa adalah bukti otentik penaklukan di waktu yang lain. Penaklukan melalui bahasa adalah penaklukan terhadap nalar.

Penaklukan wilayah mungkin tidak menarik lagi bagi bangsa-bangsa Eropa. Aneksasi wilayah juga bukan cara populer dan ramah hukum internasional. Meski begitu, ambisi penaklukan tak pernah padam. Maka, penaklukan dialihkan dengan strategi kultural yang lebih halus. Bahasa adalah salah satu alatnya.

Etimologi kritis berperspektif bahwa kata-kata adalah arena kuasa. Kata mewakili gagasan, ide, dan identitas. Etimologi kritis tidak saja menaruh perhatian kepada apa “makna” sebuah kata, tetapi juga “bagaimana” kata itu dihasilkan dan dipopulerkan. Untuk mengerti “bagaimana”, perlu diketahui lebih dulu “mengapa” agen-agen bahasa memopulerkan sebuah kata.

Bagaimana gagasan bisa terdistribusi melalui kata? Awalnya, saya kira, adalah melalui kata. Satuan bahasa ini mampu mewartakan gagasan karena telah memiliki makna leksikal. Menerjemahkan kata sama halnya mengintepretasi gagasan. Menyerap kata (asing) berarti mengakui bahwa sebuah gagasan patut menjadi bagian dalam dialektika masyarakat.

Bangsa Indonesia barangkali tak berambisi mendirikan negara berbentuk republic jika para intelektual pada masa pergerakan tak mengenal “demokrasi”. Demokrasi masuk melalui buku, melalui para tokoh, melalui sebuah dialektika yang panjang – dan bisa jadi tidak disengaja. “demokrasi” sebagai kata mengenalkan “Demokrasi” sebagai gagasan. “demokrasi” memungkinkan “Demokrasi” menjadi aras bernegara di sebuah wilayah yang selama ribuan tahun menggunakan monarki.

Jalan kedua adalah melalui frasa. Frasa adalah gabungan kata, sama seperti klausa. Namun, unsur-unsur frasa tak memiliki hubungan predikatif.

Dua kata atau lebih yang tergabung menjadi sebuah bentuk baru biasanya membawa konsep baru. Konsep baru kadang tak jauh berbeda dengan unsur-unsur pembentuknya, namun bisa jadi sangat berlainan.

Di Indonesia ada frasa baru yang mulai populer: konsumen cerdas. Sebagai konsep “konsumen cerdas” masih relative baru. Frasa ini muncul pada wacana ekonomi, khusunya berbelanja. Agaknya, frasa ini adalah terjemahan bebas dari “smart shoper”.

Frasa ini hendak mendikotomikan bahwa ada dua tipe konsumen, yakni yang cerdas dan yang bukan. Konsumen tak cerdas bereferensi pada cara belanja lama. Adapun konsumen cerdas bereferensi dengan cara-cara baru berbelanja baru. Pihak-pihak tertentu mendeskripsikan cara berbelanja “konsumen cerdas” adalah yang seperti mereka kehendaki.

Saya mengira, istilah “smart shoper” ini dimunculkan oleh kaum industry baru. Kaum industry baru adalah para pelaku usaha yang menggunakan teknologi dalam aktivitas produksi dan distribusi mereka. Kaum industry baru ingin menggerakan konsumen meninggalkan cara berbelanja lama supaya bermigrasi menggunakan cara-cara baru berbelanja.

Kaum industry baru akan mengatakan bahwa berbelanja sayur sejauh 2 kilometer adalah cara pekerjaan yang tak efektif. Bagi mereka, “Smart shoper” lebih memilih berbelanja di swalayan dekat komplek yang telah mereka bangun.  Kaum industry baru mungkin akan mengatakan, pergi ke sanggar batik untuk membeli dua potog kain batik adalah cara lama yang tidak smart. Bagi mereka, “smart shoper” adalah yang membeli kain cukup melalui internet.

Istilah-istilah baru telah membanjiri penutur bahasa Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir. Sebagian istilah baru itu berusaha menggoyahkan istilah lama yang telah mapan. Tapi sebagian istilah lainnya langsung bisa menyingkirkan istilah lama. Istilah baru yang memiliki kekuatan menyingkrikan istilah lama biasanya karena lahir melali jalur formal, dokumen resmi pemerintah.

Lembaga pendidikan kita juga tak luput dari upaya “sejumlah pihak” mengenalkan konsep-konsep tertentu melalui kata dan istilah. Sekolah dan perguruan tinggi jadi sasaran empuk karena peran sosial kedua lembaga itu sangat vital. Sekolah dan perguruan tinggi adalah persemaian ilmu pengetahuan. Infiltrasi konsep-konsep pada lembaga-lembaga pendidikan dipastikan lebih ampuh untuk mempengaruhi cara bernalar masyarakat. Apalagi jika sekolah dan perguruan tinggi jadi rujukan.

Pada awal masa kemerdekaan, sebutan untuk anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan adalah”siswa”. Kata ini agaknya berasal dari bahasa Sanskerta, bahasa yang telah ama digunakan di Nusantara. Kemudian hari “siswa” menemukan sinomim “murid”. Murid berasal dari bahasa Arab berasal dari serapan bahasa Arab yakni araada, yuriidu, muriidan yang maknanya kurang lebih, memiliki keinginan, berkehendak dan mempunyai minat.

Entah kapan pastinya, pemerintah menawarkan istilah baru “peserta didik”. Istilah ini agaknya lahir sebagai oposan untuk istilah pendidik yang telah lahir lebih dulu. Saya termasuk yang menyayangkan jika “siswa” dan “murid” diganti peserta didik. Selain tak hemat, “peserta didik” agaknya mendudukkan anak-anak sebagi objek yang pasif.

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Sumber gambar: di sini
Unduh PDF        : di sini

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar