ciyus miapah

Bahasa alay hampir selalu dipersepsi sebagai ekspresi iseng, riang, atau lincah remaja. Padahal, ada sejumlah hal ideologis berkelindan di sana. Arenanya adalah remaja, golongan usia paling dominan jumlahnya dan memiliki kecenderungan konsumsi irasional.

Ada tiga tesis untuk menelisik alasan mengapa bahasa alay hadir. Pertama, dalam tatanan sosial mana pun akan hadir para pembaharu yang mencoba memecah kebekuan (juga kebakuan?). Saat bahasa terjebak pada selingkung ilmiah, jurnalistik, dan formal yang mengikat, bahasa alay adalah dobrakan. Para pendukungnya menawarkan ordo bahasa baru yang lebih bebas dan kreatif.

Kedua, penutur bahasa alay memiliki energi kreatif berlebih yang tidak tersalurkan pada ceruk-ceruk konvensional yang telah tersedia. Mereka kemudian menumpahkan energinya dengan mencipta dan memopulerkan bahasa alay.

Ketiga, ada kemungkinan, penutur bahasa alay berasal dari kelompok marginal. Mereka terpinggirkan dari panggung kebudayaan. Tak mau larut dalam kebudayaan mainstream, mereka membangun ordo bahasa baru. Pada masyarakat marginal seni dan bahasa adalah ikhtiar paling nyata untuk mengukuhkan eksistensi diri.

Represi

Di tengah merebaknya bahasa alay, usaha menelesuri asal muasal bahasa alay menjadi tidak signifikan. Perhatian linguis dan kerja kebudayaan masyarakat akan lebih bermanfaat untuk mengungkap ideologi yang berkelindan di balik bahasa itu. Sebab dimungkinkan, jalan bahasa ditempuh seseorang atau pemilik kekuatan tertentu untuk memuluskan tujuan yang lebih besar, yaitu kekuasaan.

Dua pihak yang patut dicurigai pertama kali adalah pemilik modal dan para politikus. Para pemilik modal membangun habitus bahasa baru untuk melanggengkan praktik konsumsi pada remaja. Pasalnya, dibanding usia anak-anak dan dewasa, remaja adalah pasar potensial yang sangat besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun 2010 penduduk berusia 10-19 tahun berjumlah 42 juta atau 17 persen dari seluruh jumlah penduduk Indonesia. Remaja juga memiliki perilaku konsumsi yang lebih besar dibanding kelompok usia lain.

Bahasa alay digunakan pemodal supaya remaja senantiasa memiliki jiwa remaja. Sekalipun secara biologis mereka tumbuh dewasa tapi tetap memiliki karakter remaja: manja, lincah, mudah terpengaruh, dan itu tadi: konsumtif. Dengan cara itu, pemilik modal dapat terus mengeruk keuntungan dari komoditas yang mereka perdagangkan, seperti kosmetik, fashion, gadget, layanan komunikasi, atau produk lain.

Kalau benar kaum industriawan menjadi sutradara di balik merebaknya bahasa alay, mereka melakukannya dengan rangkaian riset. Mereka mengenali remaja, mengidentifikasi kebutuhan remaja jauh melebihi apa yang remaja itu sendiri ketahui.

Selain pemilik modal, pihak yang juga patut “dicurigai” menyeting kondisi ini adalah politikus (penguasa). Mereka mengambil untung karena bahasa alay dapat dimanfaatkan untuk menyusupkan ideologi tertentu. Bahasa alay menjaga remaja tetap hidup pada dunianya, dunia yang riang, sederhana, dan pragmatis. Mereka tidak perlu melakukan protes, pemberontakan, atau bahkan revolusi karena tidak merasakan kegelisahan atas karut-marut republik.

Mekanisme kerja bahasa alay  memisahkan remaja dari pikiran kritis atas realitas sosial dapat dilakukan dalam dua bentuk. Di tingkat personal bahasa alay menjaga remaja supaya terus menerus remaja. Fase perkembangan ini dihambat sehingga mereka gagal memasuki fase perkembangan berikutnya.

Kedua, di tingkat komunal bahasa mentranformasi informasi, ide, gagasan, dan nilai. “Menjabak” remaja pada dunianya sendiri, yang terpisah dengan dunia dewasa, hampir sama artinya dengan mengarantina mereka dari pikiran-pikiran redikal dan ideologis. Dengan cara itu, kegelisahan, makna, dan nilai yang diyakini orang dewasa tidak dapat diwariskan dengan baik. Remaja dapat terus dikuasai dengan ide-ide konsumtif.

Emang masalah buat eloh?” adalah salah satu produk bahasa alay yang kentara muatan ideologisnya. Idiom ini mengajarkan remaja untuk acuh terhadap perspektif liyan.  Urusan pribadi dilokalisasi sebagai urusan yang benar-benar privat. Maka, ketika ada orang lain yang mencampurinya, sekalipun dengan itikad baik, mereka patut ditolak dengan kasar.

Sampai di titik ini, gejala bahasa alay sesungguhnya persoalan serius republik ini. Generasi muda bangsa dalam ambang krisis identitas diri. Mereka terus menerus mereproduksi idiom yang tidak lahir dari proses kreatif mereka. Itu artinya, mereka berada dalam pengaruh penguasa politik dan ekonomi yang memiliki pamrih tersembunyi.

Counter Hegemony

Jika bahasa alay adalah strategi kapitalis menancapkan hegemoni, pendidik dan orang tua perlu waspada menyikapinya. Salah satu strategi yang patut ditempuh adalah dengan membangun tradisi berbahasa tandingan. Ya, counter hegemony.

Namun, harus diakui, melawan budaya pop pasti akan panjang dan melelahkan. Dalam Tri Sakti yang ditawarkannya, Soekarno menawarkan tiga hal; berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Jika ingin memiliki kebudayaan yang merdeka, harus merdeka dulu secara politik dan ekonomi.

Inilah kendala terbesar bangsa kita saat ini. Ketika secara ideologis republik ini dikuasai lembaga global dan gerak ekonomi bergantung pada aktivitas asing, sulit membangun kebudayaan tandingan yang original. Remaja kita akan tetap gumunan, mengagumi secara berlebihan budaya bangsa lain, sehingga kesulitan menemukan konsep dirinya. Kalau sudah begitu, ciyus miapah?

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar