IMG_4665

Bekerja sama dengan Remotivi, BP2M Unnes menyelenggarakan diskusi buku Orde Media. Foto: Surahmat

TRADISI membaca dan menulis mahasiswa adalah bagian yang tak boleh diabaikan oleh Unnes, Universitas Konservasi yang memiliki cita-cita luhur menjadi rumah ilmu. Sebagai rumah ilmu, Unnes harus menjadi tempat yang nyaman bagi mahasiswa untuk mempelajari, mengembangkan, dan memanfaatkan pengetahuan. Ketiga hal itu harus ditopang dengan tradisi baca-tulis atau berliterasi yang baik.

Namun, memperkuat tradisi literasi mahasiswa bukan pekerjaan mudah. Selain karena bangsa Indonesia mewarisi tradisi lisan lebih kuat, kini mahasiswa dihadapkan pada perubahan cara hidup yang radikal akibat arus besar digital. Cara manusia beraktivitas, berhubungan dengan manusia lain, dan tentu saja cara manusia memperoleh dan memperlakukan informasi telah berubah.

Memang, di satu sisi, era digital membuat berbagai bentuk lebih cepat menyebar dan lebih mudah diperoleh. Informasi dapat digandakan dan disebarkan ke berbagai negara hanya dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, kemudahan-kemudahan itu justru membuat mahasiswa kerap tidak melakukan kajian dan konfirmasi yang mendalam. Akibatnya, informasi digital hanya seperti kerupuk, ramai saat dikunyah tapi tidak bergizi.

Dosen University Campus Suffol Dr Kate Garland membuktikan itu dalam riset berjudul Paper Vs Digital pada tahun 2014 bahwa terdapat perbedaan performa kognitif antara orang yang membaca informasi berbentuk cetak dengan informasi berbentuk digital. Garland menjelaskan bahwa ketika mengingat sesuatu, ingatan muncul tanpa harus berusaha mengingat konteks di mana pernah mempelajari sesuatu atau mencari petunjuk untuk menemukan jawaban. Menjadi tahu saja sudah cukup karena dapat mengingat fakta-fakta penting lebih cepat dan mudah.

Dalam riset itu Garland mengungkapkan tidak ada perbedaan antara pembaca buku dengan pembaca media digital dalam hal ingatan jangka pendek. Namun dalam aspek ingata jangka panjang, pembaca buku memiliki ingatan yang lebih baik. Salah satu hal yang membuat buku istimea adalah sensai membacanya. Ketika membaca buku, orang merasa lebih personal, human, dan lebih merasa tertarik dalam urusan penampilan.  Adapun pembaca media digital cenderung terburu-buru, berorientasi hanya pada isi.

“Apa yang kami temukan adalah bahwa orang-orang yang membaca dari kertas lebih cepat merasa tahu atas informasi yang dibaca. Ketika membaca lewat komputer, dibutuhkan waktu yang lebih lama dan harus membaca berulang-ulang agar pembaca dapat menjadi tahu,” kata Garland.

Saya sendiri merasakan kesulitan untuk fokus ketika membaca media digital, baik dalam bentuk berita online maupun ebook. Terlalu banyak informasi dalam satu muka yang berjejal, berebut ruang, menawarkan dirinya untuk segera dibaca. Adapun saat membaca buku, saya benar-benar fokus pada teks, mata bergerak dari baris ke baris tanpa godaan untuk memperhatikan link-link. Saat membaca buku saya juga bisa berinteraksi dengan buku itu dengan cara membuat catatan atau pertanyaan.

P_20160320_102410

Sejumlah buku karya dosen dan mahasiswa Unnes. Foto: Rahmat

Industri Buku Kian Lesu

Perubahan cara orang membaca ternyata berdampak pada industri buku di Tanah Air. industri buku kian lesu karena mulai ditinggalkan konsumennya, selain karena dinamika ekonomi makro. Terbukti, beberapa penerbit buku gulung tikar karena produknya tidak lagi memberi keuntungan yang memadai. Padahal satu dekade lalu, buku adalah komoditas yang sangat menggiurkan untuk diperdagangkan.

Saya pernah bertemu dan membahas hal itu dengan Ali Muakhir dan Koko Nata, dua karyawan Penerbit Syamil Bandung. Koko Nata, yang dikantorna bekerja sebagai Koordinator Divisi Kreatif, mengakui situasi industri buku memang banyak berubah. Setelah mencapai puncak kejayaan pada sekitar 2005, grafiknya terus menerus pada tahun-tahun setelahnya. Untuk bertahan di industri ini, setiap penerbit harus memiliki produk andalan. Syamil mengandalkan penjualan Al-Quran.

Kondisi serupa dialami Penerbit Mizan. Penerbit yang berbasis di Bandung ini dulu memiliki berbagai lini. Salah satu lini Penerbit Mizan adalah Lingkar Pena Publishing House. Divisi bisnis ini dulu didirikan Mizan karena pasar sastra populer islami sedang booming. Berkongsi dengan Forum Lingkar Pena (FLP), Mizan menerbitkan sejumlah novel pop islami melalui penerbit ini.

Ali Muakhir, pria yang pernah bekerja di Mizan ini menceritakan, kejayaan industri buku berlangsung pada 2005-an. Saat itu, katanya, berjualan buku sudah seperti jualan kacang goreng. “Buku terbit, dua minggu kemudian cetak ulang. Sudah seperti jualan kacang goreng,” katanya. Tapi itu dulu. Sekarang para enerbit harus putar otak lebih keras supaya bisa menjual buku supaya laris-manis.

Pengakuan Al Muakhir dengan data yang dirilis Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) melalui laman resminya. Berdasarkan data dari jaringan toko buku terbesar Gramedia, penurunan penjualan buku terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2012 penjualan mencapai 33.565. 472 eksemplar. Di tahun 2013 menurun, berada di angka 33.202.154 eksemplar. Angka penjualan menurun lagi di tahun 2014 di jumlah total 29.883.822 eksemplar. Sebuah penurunan yang cukup tajam di tahun 2014 yang lalu.  Data ini memang hanya bersumber dari Gramedia. Namun, data Gramedia biasanya menunjukkan tren nasional.

Apa makna dari fakta-fakta di atas? Pertama, perubahan cara manusia memperoleh informasi akan berdampak pada cara manusia mengelola dan menggunakannya. Pendapat ini mungkin senada dengan analisis Marshal McLuhan melalui ungkapan medium is the message. Maksudnya, media adalah pesan itu sendiri. Jenis media yang digunakan manusia menentukan makna apa yang diperolehnya.

Contohnya, dulu orang membaca buku untuk mengetahui informasi atau menguasai keterampilan tertentu. Buku menjanjikan pengalaman membaca yang intensif dan fokus tentang sebuah topik. Tapi sekarang, orang membaca berita di internet tidak selalu karena dia ingin mengetahui informasi. bisa saja ia membaca berita itu karena kebetulan nongol di layar komputer, muncul di beranda Facebook, atau link-nya tersebar.

Kedua, saya khawatir kita akan segera mengalami bencana digital berupa banjir informasi. Jika itu terjadi, kita akan sangat kesulitan untuk membedakan mana informasi yang benar-benat kita perlukan dan mana informasi sampah yang sebenarnya tidak baik untuk kita ketahui. Sebagaimana air saat banjir, semua informasi itu masuk ke rumah pikiran kita , tanpa kita ketahui mana yang benar dan mana yang bohong.

13

Bersama mahasiswa, saya mendiskusikan buku Melawan Kuasa Perut (2014). Foto: Lintang Hakim

Psikologis dan Sosial

Hampir setiap kali mengawali kuliah bahasa Indonesia saya melakukan survei kecil-kecilan untuk mengetahui daya baca mahasiswa. Survei itu biasanya saya kemas dengan pertanyaan  “Siapa di antara Anda yang dalam satu bulan terakhir selesai membaca setidaknya empat buku?” mahasiswa biasanya senyum-senyum, saling tatap satu dengan lain.

Pertanyaan saya ubah “Siapa di antara Anda yang dalam satu bulan terakhir selesai membaca setidaknya tiga buku?” Dari sekitar 50 mahasiswa di kelas itu, biasanya da 3-5 mahasiswa yang angkat tangan. Biasanya sih mahasiswi, meskipun di satu kelas saya juga temukan mahasiswa. Saya lalu tanya buku apa yang mereka baca. Sebagian besar menyebut judul novel atau komik.

Setelah selesai dengan 3-5 mahasiswa itu, saya melemparkan pertanyaan lagi: “Siapa di antara Anda yang dalam satu bulan terakhir selesai membaca setidaknya dua buku?”  biasanya akan ada 10-an mahasiswa yang angkat tangan.

Gongnya, sekaligus yang membuat saya sedih – meskipun tidak kaget – adalah saat saya tanya “Siapa di antara Anda yang sebulan terakhir tidak membaca sampai selesai satu buku pun?” Ada separuh mahasisa di kelas itu yang cengengesan kemudian tunjuk jari. Mereka tampak bersalah, dan untuk mengobati perasaan bersalah itu, biasanya ada yang berusaha menjelaskan “Saya baca tapi tidak selesai,” atau “Baca sih Pak, tapi buku kuliah.”

Tentu diperlukan penelitian yang mendalam untuk mengungkap tradisi baca-tulis mahasiswa. Tapi gambaran kondisi di kelas itu agaknya merepresentasikan kondisi umum: mahasiswa sekarang tidak banyak membaca buku.

Untuk mengatasi kondisi itu, cara-cara tradisional misalnya dengan menambah koleksi buku diperpustakaan sudah tidakefektif lagi. Tradisi membaca dan menulis kini bukan persoalan fasilitas, tetapi persoalan perilaku. Lantaran persoalan perilaku, cara yang dapat ditempuh adalah dengan menumbuhkan kesadaran literasi. Rekayasa-rekayasa psikologis dan sosiologis mungkin lebih efektif daripada sekadar meningkatkan fasilitas (meskipun meningkatkan fasilitas juga perlu).

Memang, proyek menumbuhkan kesadaran adalah poyek multidisiplin dan multiyears. Untuk menumbuhkan kesadaran membaca tidak dapat dilakukan satu guru, satu dosen, atau satu lembaga. Itu pun harus dilakukan dalam durasi waktu yang lama. Selama satu semester mendampingi mahasiswa di sebuah kelas, saya telah coba memprkatikan cara-cara itu. dalam jangka pendek, pada semester berlangsung, cara itu menunjukkan hasil positif. Namun saya belum pernah melakukan penelitian yang serius untuk menguji apakah cara itu efektif dalam jangka lama.

Nana

Jurnalis CNN Indonesia Nana Riskhi Susanti menjadi pembicara dalam pelatihan jurnalistik Klub Jurnalistik Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2015. Foto: Rahmat

Pengetahuan adalah Modal

Salah satu cara yang tahu adalah memeritahukan kepada mahasiswa tentang manfaat membaca dan menulis. Untuk memberitahu mahasiswa mengenai ini saya biasanya meminjam teori Pierre Borudieu tentang modal. Membaca adalah bagian dari akumulasi modal intelektual. Penjelasan itu kemudian saya kontekskan dengan jurusan atau cita-cita mahasiswa.

Seseorang yang memiliki modal intelektual bisa mengkonversinya menjadi modal sosial dan finansial. Contohnya, jika memiliki pengtahuan yang cukup orang bisa memperluas jaringan persahabatan di berbagai tingkat sosial. Dengan begitu, ia bisa melakukan mobilitas sosial secara vertikal.

Modal intelektual juga bisa dikonversi menjadi modal finansial, antara lain, dengan memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Posisi-posisi strategi di perusahaan dan pemerintahan biasanya juga dipercayakan oleh orang dengan kemampuan intelektualitas tinggi. Vulgarnya: semakin pintar Anda, semakin besar peluang Anda untuk kaya.

Namun itu sangat konseptual. Untuk membuatnya lebih konkret, saya sering berinteraksi dengan mahasiswa dalam berbagai bentuk kegiatan yang melibatkan buku. Ketika ada buku baru, misalnya, saya mengajak mahasiswa untuk mendiskusikannya. Tahun 2014, misalnya, saya mengajak mahasiswa untuk mendiskusikan buku Melawan KuasaPerut yang saya tulis. Tahun 2015 saya mengajak mahasiswa mendsikusikan buku Orde Media yang diterbirkan olehRemotivi. Peneliti Remotivi saya undang ke kampus untuk berbagi pandangan tentang isi bukunya.

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Unduh PDF        : di sini

Keterangan:
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Dosen dan Tendik. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.

Tagged with:
 

Comments are closed.

Skip to toolbar