GAFATAR TRIBUN

SEPAK terjang Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) memicu keresehan masyarakat. Organisasi tersebut ditengarai bertanggung jawab atas hilangnya sejumlah orang, termasuk dr Rica dari Yogyakarta. Dengan dalih kegiatan agama, Gafatar merekrut sejumlah orang untuk aktivitas yang justru tidak relevan dengan ajaran agama.

Ada keganjilan yang patut dipertanyakan di balik praktik yang ditunjukkan Gafatar. Pertama, bagaimana Gafatar menghadirkan agama sehingga menarik perhatian calon pengikutnya? Kedua, bagaimana para pengikutnya memahami agama dari Gafatar sehingga bersikap loyal dan militan mengikuti instruksi organisasi tersebut?

Pemahaman seseorang terhadap sesuatu patut jadi perhatian untuk mempersoalkan tindakannya. Sebab, tindakan yang diambil seseorang adalah gabungan antara pemahaman personalnya sekaligus stimulus yang diterima dari lingkungan. Pemahaman bersifat subjektif, adapun stimulus bersifat objektif.

Dengan dasar teoretik itu, patut diduga bahwa Gafatar telah memproduksi kesalahamanan tentang agama. Kesalahpahaman ini disebarkan kepada masyarakat sehingga masyarakat juga memahami agama dengan cara yang salah pula. Reproduksi kesalahpahaman sangat mungkin dilakukan karena agama dan Tuhan merupakan realitas yang kompleks dan sulit dilukiskan dengan bahasa. Adapun bahasa adalah satu-satunya sarana manusia memahami realitas di sekitarnya.

Persoalan Bahasa

Bagi penganutnya, agama adalah benar karena datang dari Dzat yang Maha Benar. Ajaran agama diturunkan kepada manusia melalui para utusan yang diyakini benar perkataannya. Berbagai perintah, larangan, dan nasihat dari Tuhan itu kemudian dituliskan dalam sebuah kitab yang dipercaya kebenaran isinya. Oleh karena itu, untuk menjalani dan mencapai kehidupan yang benar, manusia “tinggal” melaksanakan ajaran dalam kitab suci.

Sampai di situ, beragama tampaklah sederhana. Namun, kitab adalah teks dengan karakter khusus karena bersumber dari sumber yang khusus dan istimewa pula, yakni Tuhan. Sistem tanda yang berlaku dalam kitab suci bisa berlapis-lapis sesuai kehendak Tuhan. Bukan hanya simbol berbentuk kata, kitab suci dimungkinkan memiliki pesan di balik susunan huruf, jumlah huruf, struktur bunyi, suasana, juga sistem lain yang bersifat beyond dan belum diketahui.

Masalah menjadi semakin kompleks karena tidak setiap orang belajari memahami agama dari bahasa asli kitab suci tersebut. Lebih banyak orang berusaha memahami agama melalui terjemahan. Ini memunculkan persoalan karena bahasa asli dan bahasa terjemahan lazimnya memiliki karakteristik yang berbeda. Tidak setiap gagasan dalam bahasa Arab dapat dituangkan secara tepat ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain.

Siddique (1983) mencontohkan bahwa kesalahpahaman beragam telah banyak diproduksi oleh “ulama” maskulin. Dengan teknis berbahasa tertentu, para “ulama tersebut menggambarkan Islam sebagai agama yang maskulin. Kesalahpahaman ini memicu teralienasinya hak-hak muslimah, terutama di negara-negara Arab.

Kesalahpahaman terhadap teks agama rentan memunculkan tindakan yang mengerikan. Itulah yang terjadi di Cikeusik, Pandeglang, Banten medio Februari 2011. Tiga anggota jamaah Ahmadiyah dibunuh oleh warga yang berpakaian khas muslim. Sejumlah sumber menyebut, penyerangan terhadap warga Ahmadiyah dimulai dari tuduhan bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan kafir. Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) menyebutkan ketika berjalan menuju lokasi kejadian, tepatnya sekitar jembatan, salah seorang dari kerumunan massa (berdiri paling depan) berteriak, “Polisi minggir! Kafir ini, kafir!”

Bagaimana umat memaknai kata “kafir” sehingga melahirkan tindakan yang demikian agresif dan brutal? Mengapa bisa, atas nama agama, orang melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama? Persoalan ini sangat mendasar.

Pikiran Kritis

Kecenderungan penyesatan nalar melalui bahasa sebenarnya tidak hanya terjadi dalam kegiatan (atas nama) agama. Dalam aktivitas politik, perdagangan, bahkan jurnalistik, kesalahpahaman demikian sangat mudah ditemukan. Namun, kesalahpahaman beragama relatif berdampak lebih besar.

Hal itu terjadi karena agama memiliki peran sosiologis dan psikologis yang sangat mendasar bagi manusia. Agama adalah institusi yang menyedaiakan argumentasi tentang fungsi hidup dan kehidupan. Agama menyediakan argumentasi bagaimana menjalani hidup yang baik. Agama juga menuntut ketaatan dari penganutnya. Tidak mengherankan jika energi manusia bisa meluap-luap dan terakumulasi demikian dahsyat untuk kepentingan agama.

Agama juga merupakan realitas sosial yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Hendropuspito (1983) berpendapat, agama memiliki lima fungsi dalam masyarakat, yakni fungsi edukatif, penyelamatan, kontrol sosial, memperkokoh persdaudaraan, dan fungsi transformatif.

Agar ajaran agama dapat dipahami (mendekati) benar, diperlukan pikiran yang kritis. Dalam contoh paling sederhana, kekritisan dapat ditunjukkan dengan membandingkan ajaran dengan ajaran yang telah mapan dan tidak lagi meragukan. Agama diturunkan kepada manusia untuk kebaikan. Jika ada orang yang menggunakan agama hingga berdampak buruk pada seseorang, ajaran itu harus ditolak, atau setidaknya dipertanyakan.

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan oleh Tribun Jateng dengan judul Gafatar dan Produksi “Ulama” Maskulin, Rabu (20/1)

Unduh PDF : di sini

 

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar