deduction

Ilustrasi metode deduksi Sherlock Holmes.

BEBERAPA detik setelah memotret, kini orang bisa langsung melihat hasilnya. Kita tinggal memencet tombol view, dan di layar akan tampak gambar. Gambar yang tampak dilayar adalah duplikasi visual dari objek yang kita potret.

Tapi ternyata, foto mengandung informasi lebih banyak dari yang dapat diamati secara visual. Di dalam foto (digital) tersimpan sejumlah data tak tampak. Misalnya, tanggal pengambilan gambar, jenis kamera yang digunakan, setingan ASA, dan informasi lain. Dalam dunia fotografi (digital), data-data tersebut kerap disebut metadata.

Serupa dengan foto, bahasa ternyata juga memiliki dua lapis informasi, atau bahkan lebih. Lapisan terluar bahasa adalah pesan, konten yang diantar si penutur melalui ucapan. Pesan ini mudah diterima pendengar, asal si pendengar dapat memaknai secara leksikal, gramatikal, dan kontekstual kata-kata yang diungkapkan.

Lapisan kedua adalah lapisan dalam (beyond?). Setiap tuturan senantiasa mengandung informasi yang tidak tampak atau terdengar. Lantaran tidak tampak dan tidak terdengar, informasi ini seringkali dianggap tidak ada. Dalam studi linguistik, informasi ini kerap disebut metabahasa.

Secara sederhana, metabahasa saya maknai sebagai data-data penyerta yang senantiasa melekat pada tuturan. Metabahasa berisi informasi tentang mengapa dan bagaimana tuturan diproduksi. Ibarat makanan, metabahasa berisi informasi tentang apakah sebuah bahan dikomposisikan dengan perbandingan yang tepat, apakah dimasak dengan panas yang cukup, atau lebih dalam lagi: apakah dimasak oleh koki profesional atau pendatang baru.

Saat seseorang merangkai kalimat, misalnya, ia tidak bisa terhindar untuk memilih kata dan menyusun kalimat. Pilihan kata seseorang menggambarkan selera estetik, pengetahuan, dan hal-hal sosiokultural lainnya. Unsur-unsur suprasegmental ketika kata diproduksijuga menggambarkan kondisi psikologis si penutur.

Demikian pula cara seseorang merangkai kata menjadi kalimat, menggambarkan konstruksi logika yang melatarbelakanginya. Dari gramatikal pula, kita bisa tangkap realitas apa yang dijadikan referen tuturannya. Dari bentuk gramatikalnya, dapat dibaca kerumitan/kesederhaan proses berpikir si penutur. Ada gramatika sederhana yang dicanggihkan, ada gramatika canggih yang disederhanakan.

Di era pencitraan dan basa-basi, pembacaan terhadap metabahasa kini menjadi penting. Salah satu fungsi dasar metabahasa adalah untuk mengetahui apakah pesan permukaan sama dengan pesan beyond. Dalam praktik, informasi metabahasa bisa dijadikan alat justifikasi apakah ucapan seseroang layak dipercaya atau tidak. Dengan informasi bahasa pula, seseorang bisa membaca “pesan sejati” sebuah tuturan.

Saya coba hadirkan contoh: seseorang yang menceritakan jumlah uang yang dihasilkannya, tampaknya sedang menginformasikan kehebatannya. Namun bisa jadi, pesan bahwa “saya punya banyak uang” hanyalah pesan permukaan. Perlu dipertanyakan, mengapa seseorang ini perlu menceritakan jumlah uangnya? Apa keuntungan yang ingin ia peroleh dengan menceritakan hal semacam itu?

Ada kemungkinan, orang yang menginformasikan jumlah yang dimiliki, menganggap bahwa uang yang ia miliki saat ini sangat besar. Nominal itu, dianggapnya sebagai nomial yang luar biasa, bernila berita, sehingga perlu dikabarkan. Dengan analisis begitu, besar kemungkinan, orang yang menceritakan bahwa penghasilannya saat ini besar sebenarnya sedang memamerkan bahwa uang (yang selama ini dihasilkannya) ternyata kecil. Ada ketidaksinkronan di sini, bahkan paradoks.

Teman saya Sherlock Holmes adalah orang yang dengan baik menggunakan metabahasa sebagai pendeteksi kebohongan. Ia melakukan deduksi untuk mengonfirmasi, apakah ucapan seseorang relevan dengan motif tuturnya atau tidak. Tidak heran kalau dia bisa bedakan, mana orang yang jujur degan cara jujur, mana yang bohong dengan cara jujur, mana yang jujur dengan cara bohong, atau mana yang bohong dengan cara bohong.

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Sumber gambar : di sini  
Unduh PDF        : di sini

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar