P_20160328_140731

 

ADA banyak keluhan dari dosen tentang pesan pendek (sandek) mahasiswa yang terasa tidak santun. Mereka sebal, marah, bercampur geli saat menerima sandek dari mahasiswa yang kurang sopan. Ada yang terkesan memerintah, ada yang terkesan memaksa, ada pula yang terkesan serampangan.

Di kelas yang saya ampu, kesantunan berbahasa menjadi salah satu topik yang kami ulas. Melalui proses itu, kami berharap, mahasiswa menguasai konsep-konsep kesantunan sekaligus mempraktikannya.

Perkulaiahan tentang kesantunan dikelola dengan semacam mini research. Mahasiswa membuka arsip pesan pendek dalam ponselnya, memilih secara acak 10 pesan, dan memeringkatkannya dari yang paling santun ke yang paling tidak santun.

Saat membuat peringkat, otomatis mereka membuat analisis mengapa salah satu sandek terasa santun dan lainnya terasa tidak santun.

Berdasaran analisis mereka, sandek yang santun adalah dibuka dengan salam, disertai perkenalan diri (jika perlu), isi pesan jelas, dan ditutup dengan ucapan terima kasih.

Ada pula mahasiswa ayang menambahkan: jangan gunakan singkatan yang tidak populer dan gunakan kata sapaan yang tepat.

Sekilas, analisis mahasiswa ini tampak sederhana, tapi ternyata memiliki relevansi dengan teori kesantunan Geofrey Leech. Menurut Leech, setidaknya ada enam maksim yang perlu dipenuhi agar seseorang dapat berbahasa dengan santun.

Maksim kebijaksanaan ditunjukkan oleh sikap penutur untuk meminimalkan keuntungan yang bisa diraih. Sekalipun tujuan bertutur lazimnya adalah memperoleh sesuatu (informasi, dll), namun sebaiknya tidak ditunjukkan secara vulgar.

Maksim kedermawanan ditunjukkan dengan sikap penutur untuk memperbanyak keuntungan yang bisa diperoleh lawan tutur.

Maksim kesederhanaan, ditunjukkan dengan mengurangi (atau bahkan meniadakan) pujian terhadap diri sendiri.

Maksim penghargaan, ditunjukkan dengan memberikan pujian kepada mitra tutur.

Maksim kemufakatan, ditunjukkan dengan menunjukkan ekspresi yang relevan dengan yang disampaikan mitra tutur.

Terakhir, maksim simpati, ditunjukkan dengan produksi ungkapan simpatik yang menunjukkan perasaan turut terlibat dengan kondisi yang dialami mitra tutur.

Secara konseptual, enam maksim kesantunan Leech itu sangat sederhana. Namun konsep itu tak selalu dapat dipraktikkan karena berkaitan dengan mentalitas, worldview, dan pengetahuan seseorang terhadap sistem nilai masyarakatnya.
Kesantunan bukan perkara cara ungkap semata, melainkan sebuah sikap hidup yang diserap seseorang dari nilai sosial yang ada di masyarakatnya.

Oleh karena itu, pembelajaran tentang kesantunan sejatinya tidaklah sesederhana mengajarkan persoalan makna dan pragamtika saja, tetapi perlu juga kerelaan untuk menyelami kondisi, tradisi, dan nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Kutipan tangkap layar (screenshot) di bawah ini adalah kutipan yang saya peroleh dari mahasiswa di salah stu rombongan belajar. Kutipan tangkap layar ini mereka urutkan berdasarkan tingkat kesantunan berbahasa

Tangkap layar 1.

chatt 1

Tangkap layar 2:

chatt 2

Tangkap layar 3:
chatt 3
Tangkap Layar 4:
chatt 4
Tangkapan layar 5:
chatt 5
Tangkapan layar 6:
chatt 6
Tangkapan layar 7:
chatt 7
Tangkapan layar 8:
chatt 8
Tangkapan layar 9:
chatt 9
Tangkapan layar 9:
chatt 9
Tangkapan layar 10:
chatt 10
Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar