foto artis

DI media sosial bertebaran jutaan foto. Salah satu jenis foto yang paling mudah ditemukan adalah foto diri seseorang dengan tokoh, baik pejabat negara, tokoh intelektual, atlet, maupun artis. Fenomena itu dapat dipahami dengan menggunakan kaidah linguistik.

Dalam ilmu bahasa (atau hermeneutika ya?) ada prinsip (atau hukum) sintagmatik. Konsep sintagmatik menjadi salah satu dari empat konsep yang diperkenalkan Bapak Linguistik Modern, Ferdinan de Saussure.

Dalam konsep sintagmatik, sebuah kata berelesi dengan kata lain yang berjejer secara berurutan. Makna sebuah kata, secara sintagmatik, dipengaruhi oleh kata yang ada di sampingnya.

Fenomena sintagmatik ini dapat ditemukan juga dalam bidang kehidupan lain, tidak hanya dalam bahasa. Dalam sebuah riwayat misalnya, orang danjurkan untuk bergaul dengan penjual minyak wangi, supaya ia tertular aroma harumnya. Dari lima tombo ati, salah satunya adalah “wong kang saleh kumpulana”. Ini karena, kesalehan agaknya bisa menular seperti makna sebuah kata bisa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dijejerkan dalam kalimat.

Nah, orang-orang yang berfoto dengan tokoh besar adalah orang yang mempraktikan prinsip sintagmatik itu. Seseorang yang berfoto dengan tokoh berusaha agar  “makna” dirinya terpangruh oleh “makna” orang yang berjejer diajak berfoto olehnya.

Proses pengatrolan “makna” ini merupakan sesuatu yang lumrah karena manusia menilai sebuah objek tidak semata-mata berdasarkan sifat objek tersebut, tetapi juga berdasarkan objek lain yang ada di sekitarnya. Orang bisa tampak laim hanya karena ia ke masjid, tanpa ibadah sekalipun. Orang bisa tampak nista jika kepergok di lokalisasi, meskipun tidak melakukan hal-hal asusila.

Orang yang berfoto dengan tokoh, katakanlah pejabat, intelektual, atau selebriti sebenarnya ingin memanfaatkan kecenderungan itu. Dengan menjalin hubungan secara sintagmatik dengan pejabat, seseorang mengajak pemirsa fotonya untuk mempersepsi dirinya sebagai manusia kelas atas. Demikian pula saat berfoto intelektual atau artis, seseorang berusaha mempengaruhi persepsi pemirsanya supaya mempersepsi dirinya adalah intelektual atau figur.

Namun pesan itu tidak selalu sampai kepada pemirsa. Harus ada persyaratan agar cara kerja sintagmatik ini membuahkan hasil. Jika persyaratan ini tidak terpenuhi, pesan yang diterima pemirsa justru bisa tertukar, menghasilkan kesan yang berbeda atau bahkan bertentangan.

Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah kewajaran. Maksudnya, saat berfoto dengan tokoh, seseorang harus tampak wajar berelasi secara sejajar dengan tokoh itu. Misalnya, tampak akrab, cair, dan alami.

Jika syarat terpenuhi, popularitas dan wibawa tokoh bisa mengatrol popularitas dan wibawa seseorang itu. Sebab, dua orang tampak setara.

Nah, yang jadi masalah adalah kalau foto itu justru dilakukan secara terpaksa. Misalnya, saya berfoto dengan Anne Hatheway tetapi bahasa tubuh Anne justru menunjukkan bahwa dia tidak memperdulikan saya. Alih-alih tampak akrab dengan Anne, saya justru tampak seperti pengagum Anne lainnya, seperti anggota grupis.

Jika saya justru tampak seperti grupis, kesan keren yang tidak bisa lagi saya peroleh. Saya justru tampak seperti pengagum yang memaksa berfoto. Padahal, menjadi pengagum tidaklah keren karena selalu ada jarak yang jauh antara pengagum dengan idolanya.

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Sumber gambar : di sini   
Unduh PDF        : di sini

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar