ahok

TEMAN di Facebook menulis ulasan cukup panjang tentang penggusuran yang dilakukan Pemerintah DKI Jakarta selama tahun 2015. Itulah periode ketika Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi gubernur.

Tulisan itu, sebagaimana tulisan tentang Ahok lainya, diikuti dengan perdebatan yang pelik. Dari komentar-komenar dalam debat itu, segera tampak siapa menyerang siapa menyayang.

Kadang saya mengakui argumentasi bahwa penggusuran adalah tindakan yang tidak manusiawai, lebih-lebih jika didahului dengan teror kehadiran pentungan apalagi senjata. Ini jenis argumen yang digunakan penyerang Ahok.

Tapi saya juga kerap mengakui bahwa orang tidak bisa dibiarkan membuat rumah di atas tanah orang lain, apalagi yang mestinya diperuntukan untuk kawasan hijau. Sebaiknya mereka pindah. Dan jika tidak punya cukup uang, mereka bisa tinggal di rumah susun sewa. Ini jenis argumen yang banyak digunakan penyayang Ahok.

Berbagai argumen itu sama-sama memiliki landasan logika yang tertib dan konsisten. Tetapi dalam debat, persamaan bukan sesuatu yang dikehendaki. Orang-orang justru lebih asyik terus mencari perbedaan, meruncingkannya dengan pemahaman-pemahaman personal.

Perdebaatan di Facebook memiliki kelemahan karena kerap dituturkan dengan ungkapan-ungkapan ringkas. Ada yang menuliskannya hanya dalam beberapa kalimat. Padahal masalah yang sedang mereka perdebatkan, misalnya penggusuran, adalah realitas yang kompleks dan rumit.

Para linguis telah memperingatkan bahwa bahasa adalah permainan simbol yang disimplifikasi. Bahasa dgunakan sebagai tiruan atas konsep yang hidup dalam pikiran manusia. Adapaun konsep dalam pikiran terbentuk atas pembacaan terhadap realitas yang diintepretasi dengan sistem nilai tertentu.

Realitas itu kompleks. Ketika realitas direkam dalam ingatan kognitif seseroang, terjadi simplifikasi.  Simplfifikasi dapat terjadi karea keterbatasan alat indra manusia sekaligus karena pemusatan perhatian.

Pembacaan terhadap realitas melahirkan realitas konseptual dalam kepala. meskipun hasil simplifikasi, realitas konseptual juga kompleks karena dibumbui dengan penilaian, opini, dan kode-kode kebudayaan.

Nah, realitas konseptual itulah yang diverbalkan seseorang dalam bentuk bahasa. Untuk mengungkapkan realitas konseptual, penutur bahasa memilih kata yang tepat sekaligus merangkainya menjadi kalimat yang bermakna.

Di sinilah proses simplifikasi  terjadi. Ada berbagai konsep dalam ruang kognitif seseorang yang tidak dapat disimbolkan karena kata da bentuk kalimat terbatas. Akibatnya, tidak setiap hal yang dipikirkan seseorang dapat disampaikan dengan bahasa. Selalu ada kosep yang tertinggal, yang tercecer dalam kepala.

Kondisi inilah yang membuat perdebatan meruncing. Satu pihak yang berdebat kesulitan membaca secara utuh pikiran pihak lainnya karena bahasa memang tidak memungkinkan satu pihak mengungkapkan pikirannya dengan paripurna.

Nah, ketika situasi semacam itu ditambah dengan ego untuk menang, tidak ada kerendahhatian untuk mengakui bahwa pihak lawan sebenarnya benar (hanya saja tidak dapat mengatakannya). Yang kerap terjadi justru sebaliknya; menganggap lawan picik, dungu, dan kurang berpengathuan karena pengetahuan yang terverbalisasi sama sekali tidak menggambarkan kebenaran sesuai standar kita.

Sarana paling layak sebuah perdebatan adalah tuturan lisan dalam sebuah perjumpaan. Lebih-lebih dengan durasi yang tidak dibatasi. Di situasi semacam itu, setiap pihak bisa leluasa mengungkapkan pandangannya hingga terasa purna. Lawan debat bisa menggunakan kesempatan itu untuk mengendapkan.

Jika harus dilakukan dengan tertulis, idealnya ada kerelaan hati untuk menulis dengan panjang, terurai. Lawan debat diberi waktu membaca dan mengendapkannya. Waktu yang layak dapat digunakan untuk memahami pesan terdalam sebuah pesan.

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Sumber gambar: di sini
Unduh PDF: di sini

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar