misunderstanding

SEJARAH  kesalahpahaman telah dimulai sejak manusia belum menghuni bumi. Bahasa tak pernah bisa mengatasinya. Kecermatan bahasa, pada titik tertentu, hanya memungkinkan penutur bahasa tidak menjadi objek kebohonan penutur bahasa lain.

Mula-mula, saya kira, bahasa hadir sebagai semata-mata strategi bertahan hidup. Bahasa mencegah manusia saling memangsa – kecenderungan yang telah ada sejak masa purba. Kian kemari bahasa jadi semakin kompleks fungsi aksiologisnya. Manusia menjadikan bahasa berfungsi jamak –tak sekadar ganda.

Verbalisasi lahir dari proses intepretasi atas situasi, wujud, dan konsep. Bahasa jadi kurir makna. Singkatnya, bahasa memfasilitasi negosiasi antara symbol, makna, dan referen. Ketiganya terlibat dalam ikhtiar intepretasi.

Intepretasi hampir selalu jadi mula berbahasa. Intepretasi berambisi pada penemuan makna. Intepretasi jadi bekal berharga manusia memahami diri dan lingkungannya. Sekaligus, intepretasi bergerak tak tentu arah, tanpa kendali siapa pun.

Sebagai alat ekspresi bahasa ternyata hanya mampu membuka kemungkinan terjadinya pertukaran pesan. Bahasa tak pernah menjamin sebuah pesan berpindah dengan bantuannya. Sebab, pikiran memiliki eksistensi pada dirinya sendiri.

Pada proses inilah kesalahpahaman muncul dan dimunculkan. Sebagian kesalahpahaman coba diatasi dengan upaya-upaya konfirmasi, sebagian lainnya sengaja dipelihara, bahkan terus diciptakan.

Kesalahpahaman muncul akibat ruang kosong dalam relasi segitiga makna. Kondisi itu diperparah oleh dinamika, perubahan terus menerus yang mengiringi peristiwa bahasa. Tak pernah ada dua manusia yang memiliki intepretasi sama, lebih-lebih dengan latar sosiokultural dan tingkat kewarasan berbeda.

Apakah kesalahpahaman sebagai fenomena adalah bencana? Tidak juga. Penutur “bahasa negatif” menjadikan kesalahpahaman sebagai ruang bermain mengasyikan, ladang uang, dan sumber dukungan politik.

Ya, para penyair, prosais, dramawan adalah aktor yang bermain dengan kesalahpahaman. Mereka mengaransemen intepretasi yang beragam sehingga menjadi indah, dan – bisa jadi – bermakna. Lagu tak bakal indah jika maknanya tunggal alias tanpa kesalahpahaman.

Para pengusaha menciptakan kesalahpahaman melalui iklan. Mitos dimunculkan, hal fiktif “disulap” faktual, agar konsumen memahami produk mereka secara salah paham. Saat kesalahpahaman – di dunia industri kerap disebut brand – sudah muncul, produk-produk jadi laris di pasaran.

Para politisi menghendaki kesalahpahaman melebihi kelompok mana pun. Bagi mereka kesalahpahaman adalah formula ampuh agar yang buruk bisa tampak baik. Kesalahpahaman dilahirkan melalui slogan, pidato politik, dan ucapan selamat hari raya idul fitri. Apa yang kita sebut sebagai industri citra adalah industri kesalahpahaman. Bahasa jadi menarik sekaligus berbahaya lantaran kesalahpahaman bakal langgeng.

Etimologi Bahasa

Agar tidak menjadi objek kebohongan, para pentur bahasa perlu mengambil jarak dengan teks yang dihadapinya. Nalar kritis perlu dijaga agar bunyi dan teks tidak berjarak dengan sejarah dan kontesk perbincangan. Salah satu caranya, melakukan penulusuran terhadap asalmuasal kata.

Kajian soal asal muasal kata telah berlangsung sejak masa linguistik tradisional. Etimologi lahir dengan asumsi dasar bahwa tiap kata lahir dari proses sosiokultural yang bisa ditelusuri jejaknya. Kata menarasikan pergaulan bangsa-bangsa. Kata mengisahkan persahabatan manusia dengan entitas lain di sekitarnya. Kata juga menggambarkan problematik batin manusia.

Dengan asumsi itu, etimologi bisa menjadi “pisau” yang tajam membedah sengketa kekuasaan pada penutur bahasa – baik orang per orang maupun komunitas. Pandangan ini relevan dengan unen-unen “bahasa menunjukkan bangsa”.

Tentu saja kita tak perlu mengernyitkan dahi untuk mencari tahu, mengapa dalam bahasa Malaysia berhamburan istilah bahasa Inggris. Juga, tak perlu mengernyitkan dahi untuk mencari tahu mengapa istilah hukum di Indonesia bertauburan kata dari bahasa Belanda.

Sejarah kata adalah sejarah penaklukan dan dominasi. Bahasa dan kekuasaan berelasi seperti anak domba dan induknya: saling mengikuti. Penaklukan memanfaatkan bahasa pada satu waktu dan bahasa adalah bukti otentik penaklukan di waktu yang lain. Penaklukan melalui bahasa adalah penaklukan terhadap nalar.

Penaklukan wilayah mungkin tidak menarik lagi bagi bangsa-bangsa Eropa. Aneksasi wilayah juga bukan cara populer dan ramah hukum internasional. Meski begitu, ambisi penaklukan tak pernah padam. Maka, penaklukan dialihkan dengan strategi kultural yang lebih halus. Bahasa adalah salah satu alatnya.

Etimologi kritis berperspektif bahwa kata-kata adalah arena kuasa. Kata mewakili gagasan, ide, dan identitas. Etimologi kritis tidak saja menaruh perhatian kepada apa “makna” sebuah kata, tetapi juga “bagaimana” kata itu dihasilkan dan dipopulerkan. Untuk mengerti “bagaimana”, perlu diketahui lebih dulu “mengapa” agen-agen bahasa memopulerkan sebuah kata.

Kata, Frasa, Logika

Bagaimana gagasan bisa terdistribusi melalui kata? Awalnya, saya kira, adalah melalui kata. Satuan bahasa ini mampu mewartakan gagasan karena telah memiliki makna leksikal. Menerjemahkan kata sama halnya mengintepretasi gagasan. Menyerap kata (asing) berarti mengakui bahwa sebuah gagasan patut menjadi bagian dalam dialektika masyarakat.

Bangsa Indonesia barangkali tak berambisi mendirikan negara berbentuk republic jika para intelektual pada masa pergerakan tak mengenal “demokrasi”. Demokrasi masuk melalui buku, melalui para tokoh, melalui sebuah dialektika yang panjang – dan bisa jadi tidak disengaja. “demokrasi” sebagai kata mengenalkan “Demokrasi” sebagai gagasan. “demokrasi” memungkinkan “Demokrasi” menjadi aras bernegara di sebuah wilayah yang selama ribuan tahun menggunakan monarki.

Jalan kedua adalah melalui frasa. Frasa adalah gabungan kata, sama seperti klausa. Namun, unsure-unsur frasa tak memiliki hubungan predikatif.

Dua kata atau lebih yang tergabung menjadi sebuah bentuk baru biasanya membawa konsep baru. Konsep baru kadang tak jauh berbeda dengan unsur-unsur pembentuknya, namun bisa jadi sangat berlainan.

Di Indonesia ada frasa baru yang mulai populer: konsumen cerdas. Sebagai konsep “konsumen cerdas” masih relative baru. Frasa ini muncul pada wacana ekonomi, khusunya berbelanja. Agaknya, frasa ini adalah terjemahan bebas dari “smart shoper”.

Frasa ini hendak mendikotomikan bahwa ada dua tipe konsumen, yakni yang cerdas dan yang bukan. Konsumen tak cerdas bereferensi pada cara belanja lama. Adapun konsumen cerdas bereferensi dengan cara-cara baru berbelanja baru. Pihak-pihak tertentu mendeskripsikan cara berbelanja “konsumen cerdas” adalah yang seperti mereka kehendaki.

Saya mengira, istilah “smart shoper” ini dimunculkan oleh kaum industry baru. Kaum industri baru adalah para pelaku usaha yang menggunakan teknologi dalam aktivitas produksi dan distribusi mereka. Kaum industri baru ingin menggerakan konsumen meninggalkan cara berbelanja lama supaya bermigrasi menggunakan cara-cara baru berbelanja.

Kaum industri baru akan mengatakan bahwa berbelanja sayur sejauh 2 kilometer adalah cara pekerjaan yang tak efektif. Bagi mereka, “Smart shoper” lebih memilih berbelanja di swalayan dekat komplek yang telah mereka bangun.  Kaum industry baru mungkin akan mengatakan, pergi ke sanggar batik untuk membeli dua potog kain batik adalah cara lama yang tidak smart. Bagi mereka, “smart shoper” adalah yang membeli kain cukup melalui internet.

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Sumber gambar: di sini
Unduh PDF: di sini

 

One Response to Industri Kesalahpahaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar