bolot

ADA sejumlah nama orang di Indonesia yang kerap digunakan layaknya kata. Lihat misalnya: Kartini. Lihat pula: Bolot.

Dalam pemberitaan tentang aksi Dipasung Semen, sembilan perempuan Pegunungan Kendeng disebut sebagai Kartini Kendeng. Tidak sedikit media yang menggunakan itu.

Dalam perbincangan sehari-hari, banyak orang menggunakan kata “bolot” untuk menyebut orang yang pendengarannya kurang baik. Kata ini merujuk ke nama pelawak Betawi bernama Muhammad Sulaeman Harsono.

Gejala ini mungkin tidak muncul dalam daftar spekulasi Max Muller, tetapi memiliki pola yang sama. Menurut Muller, ada empat kemungkinan asal-usul kata.

Pertama, dalam teori bow-wow Muller berspekulasi bahwa kata-kata bermula sebagai imitasi dari teriakan hewan-hewan liar atau burung. Mekanisme ini masih berlaku hingga kini, misalnya, ketika manusia menyebut tokek.

Kedua, dalam teori Pooh-Pooh dipercaya bahwa kata-kata pertama dari ungkapan spontan yang muncul oleh rasa sakit, senang, terkejut, dan lainnya. “Duh” mungkin bisa diartikan “sakit”.

Ketiga, dalam teori ding-dong menyatakan bahwa semua makhluk memiliki getaran resonansi alami, yang digemakan oleh manusia dalam perkataan awalnya dengan suatu cara.

Keempat, dalam teori yo-he-ho diyakini bahwa bahasa muncul dari kegiatan kerja sama yang teratur dan usaha untuk menyinkronisasi otot, sehingga menghasilkan suatu suara yang ‘menghela’ bergantian seperti ho.

Jika teori itu benar, kita bisa simpulkan bahwa bahasa hanyalah imitiasi dari bunyi-bunyian alami yang berserakan di sekitar manusia. Bunyi itu diberi arti melalui proses konvensi. Bahasa kian variatif karena bunyi-bunyi itu terus dimodifikasi.

Proses semacam itu akan terus berlangsung karena bahasa terus berkembang. Manusia selalu membutuhkan kata dan ungkapan baru untuk menggambarkan konsep-konsep dalam pikirannya yang terus berkembang.

Nah, “kartini” adalah bunyi alam yang menurut penutur bahasa Indonesia tidak memiliki arti. Kartini adalah nama manusia sama seperti Paijo, Harmoko, atau Tamara.

“Kartini” menjadi “kartini” karena penutur bahasa Indonesia memerlukan sebuah ungkapan untuk menyebut “perempuan pejuang” atau konsep semacamnya. Maka dipungutlah “bunyi alam” itu, dinegosiasikan artinya, hingga kemudian menjadi mapan.

Kata “bolot” menunjukkan bahwa proses kata pungut-memungut bisa berjalan seperti siklus.

Nama Bolot diambil dari bahasa Jawa yang biasanya digunakan untuk menyebut orang yang malas atau jarang mandi. Saat masih bocah, Muhammad Sulaeman Harsono menunjukkan kecenderungan itu sehingga dipanggil orang tuanya dengan nama panggilan “Bolot”.

Nama itu terpakai hingga dewasa, hingga dia dikenal sebagai pelawak yang khas dengan acting budeknya. Bolot yang dulu adalah sebuah kata, berubah menjadi nama orang, lalu berubah lagi menjadi kata lagi dengan makna baru.

Proses yang sama hampir terbentuk pada nama Jonru. Melalui proses di media sosial, nama PKS lover ini hampir menjadi kata dengan makna negatif: menyebar kebencian. Di luar itu, barangkali juga banyak nama-nama lain.

Tapi, tidak setiap nama memiliki potensi menjadi kata. Hanya nama-nama yang memenuhi persyaratan yang berpotensi menjadi kata. Dua syarat utamanya adalah kadiah fonetis dan fonotaktis.

Surahmat

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar