perlindungan korupsi

MENTERI¬† Dalam Negeri Tjahjo Kumolo memecat staf di kantornya.¬† Pemecatan dilakukan karena pihaknya mengaku menemukan indikasi kesengajaan dalam kesalahan penulisan kepanjangan KPK menjadi “Komisi Perlindungan Korupsi”. Istilah yang Tjahjo gunakan bahkan agak seram: sabotase internal.

Pemecatan dengan tidak hormat staf yang konon lulusan SMA itu menurut hemat saya berptensi zalim. Terutama karena pemecatan itu akan berdampak terhadap hilangnya kesempatan staf tersebut memperoleh nafkah.

Dari aspek bahasa, ada sejumlah argumentasi yang menunjukkan bahwa kesalahan penulisan itu merupakan kekeliruan yang tidak disengaja. Bukan kesengajaan, apalagi sabotase.

Pertama, ketika seseorang berbahasa, dalam bentuk lisan maupun tulisan, seseorang menggunakan nalarnya. Oleh karena itu, untuk memahami perilaku kebahasaan seseorang kita bisa melakukan penyelidikan psikolinguistik.

Dalam psikolinguistik, seseorang yang berbahasa sedang melakukan aktivitas mental.

ketika seseorang berusaha mengungkapkan sesuatu, seseorang berusaha memilih sejumlah kata dan istilah yang ada dalam perbendaharaan kosakatanya yang relevan dengan konsep yang diinginkannya. Dalam proses ini, seseorang yang sedang berbahasa memilih simbol yang tepat untuk mewakili gagasannya yang abstrak.

Dalam kondisi ideal, seorang penutur bahasa memiliki setidaknya satu kata yang unik untuk menggambarkan konsep dalam pikirannya. Namun dalam kondisi tertentu yang tidak ideal, satu kata atau istilah kadang harus dipakai untuk menggambarkan beberapa konsep sekaligus. Bahkan ada kemungkinan, sebuah kata digunakan untuk menggambarkan konsep yang tidak relevan.

Kondisi tidak ideal penutur bahasa bisa terjadi dalam beberapa hal. Pertama, perbendaharaan kosakata seseorang kurang. Dalam kondisi seperti ini, seorang penutur bahasa terpaksa harus menggunakan kosakata seadanya untuk menggambarkan sebuah konsep, meski ada ketidakrelevanan antara keduanya.

Kedua, kondisi tidak ideal juga bisa terjadi jika organ kognitif (otak) mengalami penurunan performa, misalnya kelelahan atau mengalami gangguan klinis seperti benturan atau rusaknya organ karena penyakit. Dalam kondisi lelah, orang bisa mengami slip berbahasa. Jika mengalami gangguan klinis seperti penyakit, orang bahkan bisa kehilangan seluruh memori kebahasaannya.

Ketiga, kondisi tidak ideal juga bisa dialami jika penutur bahasa mengalami gangguan khusus seperti diseleksia dan sejenisnya. Dalam produksi dan resepsi bahasa, disleksia bisa mengakibatkan kekacauan dalam menulis dan membaca.

Di luar tiga sebab itu, kekecauan berbahasa seseorang bisa disebabkan oleh sebab lain yang belum terjelaskan secara akademik. Saya sendiri misalnya, hampir selalu keliru menulis kata “seseorang” menjadi “seseroang”. Tiap-tiap orang bisa mengalami ketidaknormalan yang unik.

Berdasarkan tiga kategori itu, besar kemungkinan staf di Kementerian Dalam Negeri itu mengalami kondisi kedua. Dia slip memilih kata “perlindungan” untuk menuliskan kepanjangan KPK.

Slipt kata seperti itu sangat normal karena kata “perlindungan” memang memiliki kedekatan dengan kata “komisi” dalam memori penutur bahasanya. Pasalnya, penutur bahasa Indonesia sering mendengar kata “komisi” dan “perlindungan” digunakan secara berurutan. Misalnya, pada “komisi perlindungan anak indonesia” dan “komisi nasional perlindungan perempuan”.

Saya setuju dengan Pakdhe Timur Sinar Suprabana, kawan di Facebook, yang menyebut tindakan Mendagri memecat staf tersebut sebagai tindakan bodoh.

Hemat saya, tindakan itu diambil Tjahjo karena isu ini telah menjadi perhatian publik. Ketika isu sudah menjadi perhatian publik, di situ berlaku hukum panggung.

Dalam panggung orang merasa dirinya diperhatikan oleh banyak orang. Oleh karena itu, di atas panggung orang sering berebut peran hero, memantas dirinya agar dipersepsi berperan protagonis dalam sebuah drama. Syukur-syukur bisa dianggap hero.

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar