flyboys

PILOT  muda Amerika bernama Blaine Rawling ditugaskan ke Perancis saat terjadi huru-hara Perang Dunia. Di sana dia bertemu perempuan cantik bernama Lucianne dan jatuh cinta sejak pandangan pertama. Uhuk!

Tetapi Rawling tidak bisa berbahasa Perancis. Sementara Lucianne tidak bisa berbahasa Inggris. Keduanya kesulitan berkomunikasi.

Tentu ini jadi perkara besar. Rawling dan Lucianne kesulitan mengungkapkan perasaan mereka. Isyarat saja tidak cukup.

Maka, mau tidak mau, Rawling belajar bahasa Perancis. Sementara Lucianne membeli kamus bahasa Perancis-Inggris.

Nah, konflik minor dalam film Flyboy ini menunjukkan bahwa bahasa penting untuk melempengkan urusan asmara. Dalam banyak hal, asmara itu menyerupai diplomasi, kelancaran komunikasi menentukan kesepakatan akhir.

Tentu saja hambatran berbahasa tidak hanya dialami oleh pasangan yang beda bahasa. Dengan orang yang menggunakan sistem bahasa yang sama pun, hambatan bahasa bisa muncul dalam urusan asmara. Itu karena dua alasan, setidaknya.

Pertama, ketika orang jatuh cinta, mereka (atau cuma saya?) merasakan perasaan-perasaan khusus yang berbeda dengan perasaan sebelumnya. Untuk mengungkapkan perasaan khusus itu, tentu diperlukan lambang khusus pula.

Orang Indonesia memiliki berbagai ungkapan untuk menunjukkan ketertarikan kepada lawan jenis: naksir, suka, cinta, berahi, dan mungkin ungkapan lainnya. Konsep-konsep itu mestinya dibedakan agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Kedua, dalam banyak hal, sebuah kata tidak lagi cukup mewakili konsep yang dirasakan orang yang sedang jatuh cinta. Seseorang mungkin merasakan dirinya jatuh cinta, tetapi jatuh cinta yang benar-benar jatuh cinta. Ada intensi lebih dalam cinta yang dirasakannya. Untuk mengekspresikan intensi lebih itu, seseorang memerlukan ungkapan khusus.

Orang jatuh cinta mungkin merasakan kangen tetapi sekaligus marah? Kangen sekaligus benci? Atau kangen sekaligus berahi? Lambang bahasa apa yang bisa digunakan untuk mengungkapkan spesifik yang unik itu, jal?

Dalam komunikasi lisan, itu bisa ditautkan dengan unsur-unsur suprasegmental seperti tempo, intonasi, dan jeda. Jika lisan tatap muka, unsur-sunur suprasegmental itu bisa dipadukan dengan isyarat tertentu: gestur, pandangan, atau kode-kode khusus?

Tapi, bagaimana mengungkapkan hal-hal itu dalam komunikasi tekstual? Orang-orang yang sedang jatuh cinta bisa menggunakan simbol-simbol khusus yang dibuat atas kesepakatan dua pihak.

Seorang mahasiswa di kelas yang saya ampu, misalnya, mengaku kerap menulis “iloveu” dalam sms kepada pacaranya. Semua huruf itu dirangkai, tanpa spasi.

Kalau pacarnya tanya, kenapa tidak pakai spasi? Mahasiswa itu menjawab “Karena tidak ada jarak lagi antara aku dan kamu selain cinta.”

Gombal banget!

Tapi, dari dulu begitulah cinta, kreativitasnya tidak ada akhirnya.

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar