Bahasa Politik Pejabat Publik

DUA pekan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), dua pekan pula Muhadjir Effendy menjadi bulan-bulanan masyarakat dan media. Idenya tentang full day school (FDS) mendapat penolakan di mana-mana. Ekspresi penolakan disampaikan dengan aneka cara, mulai analisis, sindiran, sarkas, hingga meme.

Penolakan publik terhadap ide FDS menegaskan betapa pentingnya kemampuan komunikasi bagi pejabat publik. Era telah berubah, cara manusia mencari dan memahami infomasi juga berubah.  Idealnya, cara pejabat publik menyampaikan gagasan dan kebijakannya juga berubah. Tidak sekadar berubah dalam memanfaatkan sarana, melainkan juga berubah dalam mengomposisikan bahasa.

Data kepemilikan smartphone di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar orang memperoleh informasi dari internet. Perilaku ini mempengaruhi cara manusia mempersepsi dan merespon informasi: cepat, massif, kadang terburu-buru. McLuhan pernah mengingatkan: medium is the message. Jenis sarana yang digunakan untuk menyampaikan dan menerima pesan, mempengaruhi makna pesan itu sendiri.

Ada empat sifat utama komunikasi di era internet seperti saat ini, yaitu massif, partisipatif, defusif, dan cepat. Massif berarti melibatkan publik dalam jumlah besar, tidak dapat dibatasi oleh ruang fisik. Partisipatif berarti ada keterlibatan yang besar, bahkan resiprokal. Defusif berarti tersebar hingga celah yang sangat sempit sekalipun. Cepat, bisa terjadi dalam hitungan detik.

Ketika menggagas full day school, Muhadjir tampaknya mengabaikan prinsip partisipatif. Tak ada angin tak ada hujan, ia mengeluarkan gagasan untuk menyelenggarakan sekolah seharian penuh. Publik merasa ide itu muncul begitu saja tanpa didahului diskusi dan kebutuhan riil masyarakat. Akibatnya, masyarakat merasa keberadaannya diabaikan. Padahal, kebijakan tentang waktu belajar sekolah adalah kebijakan yang berdampak langsung dengan kepentingan mereka.

Hubungan Politik

Tuturan Mendikbud tentang full day school dapat dipandang dari perspektif komunikasi politik. Jabatan Mendikbud sendiri merupakan jabatan politik. Dalam komunikasi politik, sebuah pesan sangat dipengaruhi tipe hubungan antara penutur dan mitra tutur, selain sarana dan tujuannya.

Penutur, dalam hal ini Mendikbud, adalah sosok yang memiliki akses langsung terhadap kebijakan pendidikan. Sebagai kepala kementerian, ia memiliki jaringan birokrasi yang membuat kebijakan bisa dengan mudah direalisasikan. Terlebih, kementerian pendidikan dan kebudayaan merupakan salah satu kementerian yang menerima dana APBN paling besar. Mendikbud memiliki kekuasaan yang sangat besar.

Dengan kondisi demikian, wajar jika publik memandang bahwa gagasan Mendikbud tidak semata-mata sebagai ide, melainkan semacam proposal. Dengan kekuatan besar yang dimilikinya, ide Mendikbud bisa didesakkan sebagai kebijakan resmi. Terlebih jika ide itu dilegitimasi oleh pihak lain yang memiliki legitimasi lebih besar.

Di pihak lain, mitra tutur Mendikbud adalah publik dalam jumlah besar yang merasa memiliki kepentingan langsung dengan kebijakan pendidikan. Mereka adalah siswa, guru, orang tua yang merasakan dampak langsung perubahan kebijakan pendidikan.  Mereka juga adalah kelompok masyarakat yang sedang asyik menikmati “bulan madu” karena merasa dilibatkan dalam aneka kebijakan pendidikan oleh Mendikbud sebelumnya, Anies Baswedan.

Posisi Muhadjir sebagai pengganti Anies, mau tidak mau, akan membuatnya terus dibanding-bandingkan dengan pendahulunya. Ini posisi politik yang tidak menguntungkan dan semestinya telah disadari Muhadjir. Ketika ia melahirkan gagasan, gagasannya akan tetap dibandingkan dengan Anies yang keberterimaannya selama menjabat sangat baik. Oleh karena itu, pembaruan yang digagas Muhadjir mestinya dilakukan secara lembut, tidak frontal. Kebijakan yang benar-benar baru, apalagi berseberangan dengan menteri sebelumnya, akan membuatnya menuai penolakan.

Bahasa Ratu

Di beberapa sistem kebudayaan, bahasa pejabat publik dipersepsi sebagai objek yang penting. Dalam keyakinan kolektif orang Jawa, misalnya, berlaku sabda pandhita ratu. Ucapan pejabat (ratu) harus berbobot karena memiliki kekuatan politik memaksa untuk dipatuhi. Dalam kebudayaan Melayu juga terdapat peribahasa “Manusia dipegang mulut, binatang dipegang tali” yang berarti, seseroang bisa dipercaya atau tidak bergantung pada ucapannya.

Di Amerika, performa bahasa presiden dan para menteri menjadi aspek yang sangat diperhatikan Gedung Putih. Bahasa politik pejabat publik dikemas untuk menunjukkan bahwa presiden hadir di antara rakyat, berempati kepada rakyat, sehingga kebijakan yang dilahirkannya dipersepsi untuk kepentingan rakyat. Dengan cara itulah kebijkan-kebijakan publik pemerintah relatif berterima, baik oleh publik luas, mitra koalisi, maupun  oposisi.

Thomas dan Warein (2012) mencatat Ronald Reagen adalah presiden Amerika yang paling berhasil mengelola bahasa politiknya. Dia dinilai berhasil melibatkan dirinya dengan audience terutama ketika berbicara di tempat publik. Sebaliknya, George W Bush Jr adalah presiden yang dinilai paling payah memberdayakan bahasa politik. Ada keangkuhan dan kegoisan dalam pidato dan pernyataan persnya.

Film sejarah The King Speech (2010) juga menunjukkan bahwa di Inggris performa bahasa merupakan unsur penting  keratuan seseorang. Kelayakan seseorang menjadi ratu, salah satunya dipengaruhi oleh kemampuan berbahasanya di depan publik. Persepsi demikian sangat wajar tumbuh dalam masyarakat, sebab kemampuan berbahasa menggambarkan banyak hal dalam diri seseorang. Kemampuan berbahasa menunjukkan tipe kepribadian, keyakinan, juga kecerdasannya.

Di Indonesia, bahasa politik memang jarang yang dokumentasikan secara akademik. Namun itu bukan berarti publik Indonesia abai terhadap performa bahasa pemimpinnya. Perhatian masyarakat lebih banyak dituangkan dalam bentuk peribahasa, pantun, dan aneka puisi lama lainnya.

Surahmat MHum, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar