bahasa-kampanye-rawan-dimanipulasi

BANJARNEGARA – Bahasa dalam kampanye pemilihan kepada daerah rawan dimanipulasi. Bahasa rawan digunakan secara tidak adil oleh pihak tertentu untuk memanipulasi pengetahuan dan kesadaran calon pemilih.

Demikian diungkapkan peneliti bahasa dari Universitas Negeri Semarang, Surahmat, saat diskusi tentang bahasa kampanye pada pilkada, kemarin. ”Oleh karenya pemilih diminta bersikap kritis dan tidak langsung percaya dengan halhal dijanjikan kandidat kepadanya,” kata dia. Lebih jauh ia menjelaskan, target akhir manipulasi bahasa dalam kampanye adalah menggerakkan pemilih memilih kandidat tertentu. Untuk meraih tujuan itu, bahasa didesain persuasif dan sugestif.

Dalam pengamatannya, ada tiga trik manipulasi bahasa yang paling sering dilakukan, yaitu simplifikasi, hiperbolis, dan distorsi. Menurut laki-laki kelahiran Punggelan ini, simplifikasi dilakukan dengan menyederhanakan persoalan.

Seorang kandidat menganggap bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat sederhana dan ia percaya diri untuk menyodorkan solusinya. Padahal persoalan yang sesungguhnya kompleks. ”Hiperbolis berarti membesar- besarkan sesuatu. Kalau ditujukan kepada dirinya, hiperbola digunakan untuk menunjukkan kehebatan diri,” lanjutnya.

Kelemahan Lawan

Dan jika digunakan untuk menyerang lawan, hiperbola digunakan untuk meyakinkan orang bahwa kesalahan atau kelemahan lawan adalah sesuatu yang berbahaya. Adapun distorsi, kata penulis buku Politik Bahasa Penguasa itu, sering dilakukan untuk mengaburkan sesuatu sehingga pesan yang sesungguhnya dipahami keliru oleh publik.

Menurut Surahmat, untuk menghindari manipulasi bahasa dalam kampanye, calon pemilih sebaiknya tidak langsung percaya, melainkan membandingkan tuturan yang didengarnya dengan tuturan sumber lain. Secara kritis, bahasa dapat ditelaah dengan mempertimbangkan empat hal. Pertama, kenali siapa penuturnya. Kedua, ketahui bagaimana ia menuturkan pernyataan itu. Ketiga, pahami bagaimana tuturan itu disampaikan.

Dan keempat, ketahui, kepentingan apa yang sedang dibela oleh penutur sehingga dia menuturkan hal itu. Sebagaimana diketahui, pada masa kampanye, masingmasing kandidat berusaha meyakinkan calon pemilih untuk memilih dirinya.

Mereka memproduksi berbagai bentuk tuturan, baik yang disampaikan secara lisan maupun media visual. ”Cara terbaik berkampanye sebenarnya dengan mengungkapkan visi dan program kerja secara detail dan komprehensif,” ujar dia.

Namun visi dan misi biasanya terlalu panjang dan teknis, maka mereka mengemasnya dalam bentuk jargon, yel-yel, dan tuturan lainnya. Jargon dan yel-yel bersifat atraktif dan emotif, diproduksi untuk membangkitkan kedekatan dan kepercayaan. ”Padahal isinya belum tentu akurat. Sehingga pemilih tidak boleh lantas percaya begitu saja melainkan harus mencari referensi,” katanya. (J3-14)

Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/bahasa-kampanye-rawan-dimanipulasi/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar