Laki tuh kayak anjing. Jangankan perempuan bunting, tai juga doyan.

KALIMAT di atas muncul dalam dialog antara Saodah dengan Tinung, dua tokoh dalam novel Ca Bau Kan karya Remy Silado. Salah satu seting novel itu adalah Jakarta, selain Semarang dan Bandung. Tak bisa dihindari, penulis harus menggunakan tokoh berlatar sosiokultural Betawi. Saodah dan Tinung adalah dua dari sekian banyak.

Dari latar belakang kulturalnya, tokoh dalam novel ini bisa dikelompokkan dalam tiga kategori. Pertama, betawi. Kedua, Tionghoa. Ketiga, Belanda.

Pada masing-masing tokoh itu, penulis memanfaatkan sterotip, semacam asumsi yang telah disepakati umum. Kepada tokoh berlatar Betawi, Remy membuat deskripsi yag menunjukkan kegemaran mereka bicara. Kepada tokoh Tionghoa, Remy menggunakan sterotip bahwa mereka cermat berbisnis. Adapun pada tokoh berlatar Belanda, steretip yang muncul adalah berkuasa.

Dialog Saodah dengan Tinung di atas adalah bagian kecil dari keseluruhan konflik. Tapi dialog itu begitu kuat untuk mewakili karakter orang Jakarta yang suka bicara. Bukan sekadar suka, tapi semacam keranjingan. Seolah-olah ada kenikmatan yang direguk manakala mereka ber-cas-cis-cus. Segala macam pikiran dan perasaan, bisa diekspresikan dengan diksi dan tone yang bukan main atraktifnya.

Sebagai pembanding, kita dapat lihat tokoh fiksi dari lain generasi. Tengoklah, misalnya, tokoh-tokoh dalam serial Si Doel Anak Sekolahan. Keluarga besar Si Doel adalah keluarga yang begitu ekspresif menggunakan kata-kata. Konflik antartokoh muncul lewat kata-kata dan diselesaikan lewat kata-kata pula.

Mandra adalah tokoh yang paling menonjol. Disusul Babe, Engkong Tile, lalu Atun. Hanya Abdullah alias Doel yang digambarkan berpembawaan cool.

Itu pula karakter yang muncul dari pelawak beridentitas Jakarta yang kini kerap tampil di televisi. Hampir seluruhnya menggunakan ekspresi lisan untuk menciptakan kelucuan. Memang ada pelawak yang mahir bermain ekspresi, tapi jumlahnya tak banyak. Ada pula yang piawai bermain gerak tubuh, tapi juga minorias.

Lintas Generasi

Identitas warga Jakarta sebagai kelompok masyarakat yang gemar bicara tidak hanya dapat ditemui pada generasi tua. Anak-anak muda ibu kota, sejauh mereka mengidentifikasikan diri sebagai orang asli Betawi, juga memilih identitas cablaka. Persona cablaka seperti sudah jadi kesepakatan bersama. Bisa jadi itu berkah, bisa jadi itu “kutukan”.

Di era yang jauh berbeda, ada David. Barangkali Anda lupa, David adalah comic pemenang Stand Up Comedy Indonesia yang diadakan Kompas TV. Dia mengaku orang Betawi. Dari tampilan ke tampilan lain ia konsisten menjual persona itu. David berusaha merepresentasikan karakter anak muda Jakarta kekinian dengan kecerewetan yang sama Mpok Nori dan Haji Malih.

Para linguuis percaya, kecablakaan terbentuk oleh sebuah ruang kultural. Itulah asalan kenapa kecablakaan tidak hanya menjadi identitas personal, melainkan menjadi identitas komunal masyarakat. Kecablakaan, sebagaimana dialek, seperti tabiat yang menurun akibat persinggungan antarorang di sebuah ruang sosial.

Problem itu bisa dijelaskan dengan tiga pendekatan. Pertama, dari aspek pemerolehan bahasa, individu menduplikasi kosakata dan bentuk-bentuk ekspresi dari lingkungannya. Modus ekspresi bisa terus berkembang seiring persinggungan sosial individu bersangkutan. Individu itu akan menjadikan model yang paling kuat sebagai rujukan ekspresi lisannya.

Kedua, dari aspek psikolinguistik, ekspresi seseorang dalam berbahasa senantiasa dipengaruhi aktivitas mentalnya. Adapun aktivitas mental tidak terjadi dalam ruang hening kesendirian. Aktivitas mental selalu dihasilkan oleh stimulan eksternal yang direspon secara neural dan psikis. Sampai di situ, dapat dimaklumi jika ada kemiripan dan sterotip aktivitas mental satu orang dengan orang lain.

Ketiga, dari aspek, politik kultural. Penutur bahasa terdidik untuk mengekspresikan sesuatu dengan cara yang paling menguntungkan. Dan, keuntungan yang paling banyak dikejar orang ketika berkomunikasi adalah keberterimaan lingkungan. Dengan begitu, orang cenderung menyesuaikan diri terhadap bentuk ekspresi masyarakat yang telah mapan. Proses ini bisa disadari atau terjadi serta-merta. Namun keduanya menunjukkan keinginan penutur bahasa untuk bertahan, meraup keuntungan sosial dalam aktivitas komunikasinya.

Ketiga analisis itu agaknya relevan dengan tesis Pierre Bourdieu (1993) mengenai arena. Para penutur bahasa adalah para agen yang duduk menempati ruang sosial spesifik. Posisi mereka akan berubah dengan sangat dinamis. Perubahan posisi terjadi, lazimnya, melalui proses transaksi kultural.

Seseroang sebagai penutur bahasa adalah agen. Ia bertransaksi secara kultural dengan penutur bahasa lainnya. Sekelompok penutur bahasa adalah agen dalam arti yang lebih besar. Kelompok ini bertransaksi dengan kelompok lain. Kondisi demikian berarti menempatkan seseroang bertransaksi pada dua arena yang matranya berbeda.

Melayu Pasar

Musebab kecablakaan bahasa Betawi dapat dibaca dari sejarah bahasa Betawi itu sendiri. Terdapat catatan bahwa Betawi lahir sebagai stereotip bagi kelompok dengan identitas kultural campuran Melayu Jawa. Mengenai asimilasi dua sistem kebudayaan itu, tentu kita bisa mafhumi sebab Jakarta memang terletak di antara dua sistem kebudyaan besar itu. Melayu berpusat di Riau, sementara Jawa berpusat di Mataram (Yogyakarta).

Bahasa Betawi yang kita kenal kini merupakan perkembangan Melayu pasar. Beberapa orang juga menyebut Melayu rojak. Jika hipotesis ini benar, kecablakaan Betawi lahir dari tradisi cakap Melayu bercampur dengan situasi pasar. Sebagaimana diketahui, masyarakat Melayu memang memiliki rekam jejak ekspresi lisan yang sangat beragam. Kesusasteraan Melayu lahir dan berkembang melalui ucapan, bukan tulisan.

Pengaruh Melayu dapat dilihat dari eksisnya sejumlah seni lisan Melayu di Betawi. Pantun salah satunya. Orang Betawi menggunakan pantun untuk aneka kepentingan, mulai dari menyindir, melucu, hingga yang paling terkenal: dijadikan ritual dalam tradisi palang pintu. Bahkan melalui pantun pula orang Betawi memotivasi dirinya, antara lain melalu pantun berbunyi “Ya Allah ya Rabbi, nyari untung biar lebi, biar bise pegi haji, jiarah kuburan Nabi (Ya Allah Ya Rabbi, cari untung biar lebih, agar boleh pergi haji, ziarah kuburan Nabi).

Tapi, bagaimana menjelaskan situasi “pasar” sehingga membentuk identitas ekspresi yang cablaka?

Pasar merupakan arena yang memiliki keteraturan otonom. Pasar membentuk identitas dirinya dengan menjalankan keteraturan ekonomi. Memang, ada moral dan etika di sana. Namun di pasar, efektivitas dan efisiensi menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga. Tujuannya, apalagi kalau bukan profit.

Di sisi lain, pasar adalah arena pertarungan yang sesungguhnya. Di tempat ini pemilik modal kecil dan besar beradu kekuatan. Pasar tidak menyediakan kebijakan proteksi bagi yang lemah. Berbagai potensi harus dikerahkan untuk mementingkan kompetisi di arena ini.

Dalam arti denotatif, di pasar orang harus mampu menjelaskan keunggulan produknya agar bisa menarik minat calon pembeli. Tidak sekadar harus jelas, para pedagang juga harus atraktif agar informasinya berkekuatan persuasif. Nah, untuk tujuan ini, para penjual harus memiliki stok ekspresi yang memadai. Jika perlu, penjelasan disampaikan dengan nyaring agar mendominasi.

Dalam arti konotatif, pasar adalah arena pertukaran bagi segala jenis produk kebudayaan.  Pasar yang baik menyedaiakan sebanyak mungkin barang yang dibutuhkan pembeli. Orang Betawi barangkali mempersepsi diri sebagai “juragan”. Mereka membeli (kulakan) berbagai produk kebudayaan dan “menjualnya” kepada siapa pun yang memerlukan.

Palugada. Ape elu perlu, gua pasti ada.

Rahmat Petuguran, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang
Tulisan dipublikasikan majalah Esensi, Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar