Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati menyampaikan orasi ilmiah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada Kamis (30/3). Sebagai pembicara publik, Sri Mulyani sukses menyampaikan orasinya dengan menarik, bahkan cukup kuat.

Selama hampir satu jam di atas podium, ia menyampaikan sesuatu yang tidak sederhana. Namun berkat keterampilan berbicaranya, ia dapat menyita perhatian pendengar. Sesuatu yang kompleks dapat dibuatnya menjadi ramah pendengar.

Saya mencatat, ada tujuh hal yang membuat pidatonya menarik.

1. Reputasi Pribadi

Nama besarnya sebagai Menteri Keuangan, salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia mendahului kehadirannya. Ini membuat publik berekspektasi bahwa ia akan menyampaikan gagasan yang berharga.

Bagi pembicara, ini adalah modal yang sangat berharga. Dengan modal reputasi seperti itu, Sri Mulyani bisa membuat audience mengambil posisi duduk nyaman dan menyimpan ponsel ke saku segera setelah MC mengumumkan giliran dia yang bicara.

Di kelas, kepada mahasiswa saya sering sampaikan bahwa berbicara di depan publik tidak dimulai saat kita mengucap salam pembuka. Bicara di depan publik jauh hari sebelumnya. Salah satunya dengan mempersiapkan imaji diri yang terbentuk dalam pikiran calon audience.

2. Berbasis Data

Untuk mengatakan jenis pekerjaan yang terancam hilang karena akan digantikan robot, ia mengambil prediksi Price Waterhouse Cooper.

Untuk menunjukkan pemahaman sains dan daya baca pelajar Indonesia yang masih rendah ia menggunakan data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Untuk menunjukkan kondisi kekurangan gizi ia mengambil data dari Bank Dunia.

Data-data itu ia instrumentasikan dengan data Kementerian Keuangan yang tentu sangat ia kuasai. Data-data itu ia tenun menjadi narasi yang bernalar. Logis dan meyakinkan.

3. Personalisasi

Dia berupaya meyakinkan publik bahwa apa yang disampaikannya adalah sesuatu yang menarik bagi dirinya secara pribadi. Strategi ini efektif sehingga membuat ia hadir dan diterima oleh komunitas pendengarnya. Sebagai “orang ekonomi” dia adalah pendatang bagi audience-nya yang mayoritas “orang pendidikan”.,

Perhatikan ketika di awal pidato dia membuka dengan kalimat ini: “Pendidikan adalah passion saya. Saat saya kecil bapak ibu selalu membicarakan pekerjaannya sebagai dosen.”

Di lain kesempatan dia sampaikan “Bahagianya kalau bapak dan ibu (saya) tahu bahwa minat jadi guru sekarang begitu tinggi.”

Di lain kesempatan lagi, ia juga menceritakan pengalaman personalnya saat mengambil rapor anak. Ini digunakan untuk menunjukkan bahwa pendidikan memang bahan perhatiannya.

4. Improvisasi

Ia membuat kejutan segar dengan memberi penghargaan khusus kepada Christian Hadinata, orang yang agaknya tidak dia ketahui akan hadir dalam acara itu.

Di awal orasi dia katakan “Salah satu yang membuat acara ini istimewa, bagi saya pribadi, adalah kehadiran Bapak Christian Hadinata. Dia adalah idola saya saat remaja. Dia dan Rudi Hartono membuat saya bangga menjadi Indonesia.”

Respon spontan juga ia tunjukkan saat ia menyentuh benda di podium dan hampir jatuh. Dia memanfaatkan kondisi itu dengan mengatakan: “Kalau bicara tentang guru mungkin bapak dan ibu saya datang.”

“Kecelakaan” itu justru dimanfaatkan Sri Mulyani sebagai jeda untuk membuat pidato segar.

5. Penilaian Pribadi

Meski berbicara dengan data yang rimbun, orasi ilmiah Sri Mulyani tetap segar karena ia juga menyampaikan penilaian-penilaian pribadi. Perspektif.

Lihat misalnya, saat ia mengatakan “Kalau saya jadi mahasiswa sekarang, tidak perlu sekolah di Harvard atau universitas di luar negeri, karena silabus dan kurikulumnya bisa diakses melalui internet.”

6. Humor

Inilah “jurus” yang disukai oleh siapa pun: humor. Dia berhasil memantik tawa audience ketika mengatakan: sekarang kalau ambil rapor yang berangkat malah satpam.

7. Emosional

Setidaknya tiga kali Sri Mulyani menghentikan pidato untuk menahan tangis. Ketiga momen itu terjadi saat ia berbicara tentang orang tuanya. Emosional seperti ini mudah dimaklumi karena ia berbicara tentang dua orang yang amat dicintainya dan telah tiada.

Dalam pidato, ini adalah momen “emas” yang menunjukkan keterikatan batin seseorang dengan topik yang sedang diciptakannya.

Hasilnya, Sri Mulyani berhasil meraup perhatian dan simpati audience. Buktinya, setiap kali ia berhenti pidato karena menahan tangis, ribuan audience langsung meresponnya dengan tepuk tangan yang gemuruh.

Tepuk tangan itu bisa ditransliterasi menjadi ucapan: “Tetap semangat. Kami bersama Anda, Bu.”

Surahmat, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang, penulis buku Politik Bahasa Penguasa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar