KATA standar dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan. Kata ini diserap dari bahasa Inggris standard yang dalam Oxford Dictionary diartikan sebagai a level of quality or attainment.

Dalam catatan Etymology Online Dictionry, kata ini mulai digunakan pada pertengahan abad 12 dari tradisi militer untuk mengatur berat dan ukuran bendera militer yang mencolok sebagai tempat penanda tempat berkumpul bagi kekuatan militer. Dalam konteks penggunaan bendera, standard berujuk pada bobot dan ukuran sesuai kehendak raja.

Raja atau pihak kerajaan memiliki otoritas untuk mengatur bobot dan ukuran sesuatu. Standard juga berarti aturan pokok penghakiman. Pada tahun 1711, kata standar mulai melebar maknanya menjadi tingkat tertentu pencapaian, misalnya dalam kehidupan seseorang.

Lebih jauh lagi, standard dimungkinkan berasal dari kata estandard yang diambil dari bahasa Perancis Kuno. Menurut Bernhart etimology dictionary, kata itu berasal dari tradisi bahasa Frankish, bahasa suku Jermanik, dari kata standhard yang merupakan gabungan dari kata stand dan hard. Standhard dapat diartikan stand fast or firm, yang merujuk pada sifat bendera militer sebagai penanda tempat berkumpul. Namun beberapa sumber lain menyebut standar erasal dari bahasa Old France estendre yang berarti berbaring, bersumber dari bahasa latin extendere.

Selama bertahun-tahun, kata standard digunakan dalam dunia manajemen dan korporasi.  Ping (2011) berpendapat, standarisasi dalam bidang industri muncul karena kecenderungan alami perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperoleh keuntungan yang lebih tinggi. Ekspansi kapasitas berkaitan dengan kualitas tenaga kerja. Proses ini bermula di Inggris ketika terjadi revolusi industry setelah ditemukannya mesin uap oleh James Watt.

Standarisasi awalnya diterapkan pada aspek-aspek luar produk, namun kemudian berkembang mencakup aspek-aspek yang lebih penting, seperti desain produk dan proses produksi. Sejak teknologi informasi berkembang, standarisasi didorong dalam bidang teknilogi informasi dan komunikasi.

Di dunia korporasi modern standarisasi digunakan untuk menjaga perusahaan agar terhindar dari kinerja lemah, merosotnya produktivitas produksi, penurunan kualitas barang, pemborosan sumber daya, dan meningkatknya ongkos produksi. Untuk tujuan itulah perusahaan berupaya agar setap unit dalam produksinya berkinerja prima dan menghasilkan keuntungan yang pasti. Dorongan ini membuat standarisasi tidak hanya diterapkan pada proses produksi, tetapi juga untuk mengelola tenaga kerja.

Namun, standarisasi bidang tenaga kerja tidak dikembangkan oleh mereka sendiri, melainkan oleh para teknisi. Oleh karena itu, menurut Ping (2011) dalam produksi massal tenaga kerja tidak mendapat perlakukan tepat, tenaga berkeahlian master tidak diperlukan. Para pekerja juga tidak perlu memahami makna dari pekerjaannya. Tenaga kerja tampak seperti skrup dalam sebuah mesin besar yang ditugaskan untuk mengulangi pekerjaan yang sama setiap hari.

Di dunia korporasi, kata standard misalnya muncul dalam frasa standard operasional prosedur (SOP) yang digunakan untuk menyebut langkah-langkah yang harus dilakukan seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya. SOP berisi ketentuan-ketentuan tindakan yang harus dipenuhi karyawan untuk menghasilkan produk barang atau layanan sesuai standar. Dengan SOP, barang yang dihasilkan diharapkan memiliki bentuk, ukuran, dan kualitas yang sama.

Sampai di sini, penggunaan kata standar pada PP Nomor 19 Tahun 2005 dapat ditelisik ketepatan dan ketidaktepatannya. Jika digunakan untuk menggambarkan aspek-aspek manajerial standar dapat dipertanggung jawabkan karena memenuhi aspek bobot dan ukuran. Jumlah siswa dalam satu kelas, jumlah kelas dalam sebuah sekolah, rasio guru dengan siswa, atau pembagian jam mengajar guru dapat diatur dengan standar.

Namun jika digunakan untuk menggambarkan kondisi insani dan dimensi kemanusiaan, standar berpotensi menyimpangkan pemahaman terhadap hakikat manusia dan kemanusiaan. Standar mengacu pada konsep berat dan ukuran yang pasti dan mekanis, sedangkan realitas kemanusiaan selalu bersifat unik, spekulatif, perskriptif, dinamis, dan tanpa batas.

Manusia memilik dimensi psikologis, kognitif, spiritual, dan sosial yang membuat manusia berbeda antara satu dengan lainnya.  Manusia berkembang dengan variabel psikologis, kognitif, dan sosial yang sangat beragam dan unik.

Rahmat Petuguran, dosen Bahasa Indonesia Unnes, penulis buku Politik Bahasa Penguasa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons nartzco

Skip to toolbar