Sebagai bagian dari register bahasa, kata makian menunjukkan kekayaan ekspresi penuturnya. Semakin lengkap dan beragam, kata makian semakin memadai untuk mengungkapkan konsep, pikiran, dan perasaan seseorang. Karena itu, sebagaimana terhadap kata-kata lain, kata makian juga perlu diuri-uri agar lestari.

Dibandingkan bahasa Jawa dialek lain, bahasa Banyumas memiliki ragam makian yang relatif lebih kaya. Kondisi ini bisa terjadi karena tiga hal. Pertama, pola pergaulan sesama masyarakat Banyumas relatif lebih egaliter. Kedua, bahasa Banyumasan tidak terikat pakem resmi, misalnya, pakem yang dikeluarkan oleh keraton. Ketiga, modifikasi yang terus-menerus berkat interaksi penutur bahasa Banyumasan dengan situasi lingkungannya.

Secara umum kata makian berfungsi sebagai alat ungkap untuk mengeskpresikan perasaan negatif seperti marah, benci, jijik, kesal, dan sejenisnya. Namun dalam praktiknya, penggunaan kata makian sangat beragam. Dalam beberapa situasi, kata makian bahkan bisa menjadi penanda keakraban. Ada prinsip yang berkembang: semakin saru semakin seru.

Jika ditelusuri secara etimologi, ada pola perubahan kode yang membuat makian lahir. Ada yang dikodekan dari nama binatang, seperti wedus, asu, celeng, kampret, dan genjik. Ada pula yang dikodekan dari bagian tubuh, seperti ndasmu, dengkulmu, cangkemmu, juga (mohon maaf): kontol. Ada pula yang dikembangkan dari hubungan kekerabatan: mbahmu, mbahmu salto, dan semacamnya.

Djamika (2015) menunjukkan setidaknya ada 13 pola pembentukan kata makian. Ragam dan karakter makian sangat bergantung pada situasi kultural dan nilai masyarakat sekitar. Sistem nilai yang berbeda membuat asosiasi penutur terhadap sebuah kata juga berbeda. Kata yang terasa kasar pada satu sistem kultural tertentu belum tentu memiliki bobot kekasaran yang sama di sistem kultural lain.

Di Banyumas, kata makian bermetaformorfosis menjadi lebih trengginas karena dimodifikasi dengan berbagai strategi. Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982) yang ditulis Ahmad Tohari, misalnya, ada makian yang sangat produktif digunakan tokoh: asu buntung!. Selain lebih vulgar, makian itu terasa lebih ekspresif karena mengombinasikan dua makian sekaligus. Ungkapan makian itu jarang, atau bahkan tidak ada, dalam regsiter bahasa subkultur lain.

Kata asu saja sudah berasosiasi negatif karena dikodekan dari nama binatang yang dipersepsi mengandung najis. Efek makian itu semakin trengginas karena diikuti oleh kondisi kecacatan tubuh, yaitu buntung (tidak berkaki) yang juga berasosiasi negatif. Kombinasi itu melahirkan bentuk ekspresi yang berkali-kali lipat bobot kekasarannya. Karena itulah, jenis makian ini baru digunakan jika kondisi kemarahan yang nyaris memuncak.

Pola yang sama dapat ditemukan pada kata pejuh asu. Dalam bahasa Banyumas pejuh berarti air mani, sesuatu yang meskipun alami tetapi dianggap menjijikan. Makian pejuh asu sangat asertif karena mengombinasikan dua hal yang – dalam persepsi kolektif penutur – sama-sama menjijikan. Air mani saja sudah menjijikan, apalagi air main yang keluar dari binatang yang menjijikan.

Antara Kesantunan dan Ekspresi

Sebuah bahasa lazimnya berkembang ke dalam berbagai kutub yang berbeda, bergantung pada karakteristik dan kehendak politik penuturnya. Penutur elit, yang berpendikan tinggi dan memiliki kemampuan ekonomi baik, lazimnya mengembangkan bahasa ke arah yang santun. Oleh kelas elit bahasa dimodifikasi menjadi alat ekspresi yang halus. Dari situ lahirlah bentuk ungkap seperti sanepa, pasemon, eufemisme, dan semacamnya.

Strategi demikian dikembangkan karena kelompok elit lazimya enggan berkonflik. Mereka ingin menyampaikan gagasan, pemikiran, dan kritik dengan mengedepankan harmoni. Dalam istilah Thomas dan Wareing (1999) bahasa dikelola sebagai social lubricant, piranti sosial yang digunakan untuk membuat hubungan lebih lancar. Strategi ini sesuai dengan kebutuhan penutur elit yang selalu ingin mengambil untung dalam tiap transaksi tutur.

Oleh penutur di kubu berbeda, bahasa dikembangkan ke arah yang lebih ofensif. Penutur jenis ini menggunakan bahasa sebagai strategi merusak, menghancurkan, dan mendelegitimasi kekuatan lawan. Untuk mencapai tujuan itu, label-label negatif diciptakan sehingga lahirlah kata makian dan sarkasme. Dalam konteks ini makian tidak sekadar berfungsi sebagai alat memuntahkan emosi penuturnya, tetapi juga untuk membenamkan lawan bicara dalam perasaan minder, malu, atau takut.

Orang tua dan para pendidik lazimnya tidak mengajarkan kata makian karena alasan kesantunan. Kata makian kerap diidentikkan sebagai representasi kondisi kejiwaan penutur yang kasar, agresif, dan kurang ajar. Dalam sistem nilai di Jawa, kondisi psikologis demikian bukan merupakan profil kejiwaan yang ideal. Karna itulah, kata makian cenderung dihindari atau setidak-tidaknya dibatasi.

Sikap demikian tentu wajar dan bisa dimaklumi. Namun, pilihan itu bukan alasan untuk meniadakan kata makian dalam perbendaharaan kosakata penutur. Sebab, kata-kata itu tetaplah kekayaan ungkap yang berharga dalam sebuah sistem bahasa. Pada usia tertentu, kata makian itu lumrah dan perlu dikuasai penutur bahasa. Selain sebagai alat ungkap emosi negatifnya, makian itu adalah kode yang menjadi bagian dari semesta kode bahasa. Pemahaman terhadap kode-kode itu diperlukan untuk memperlancar komunikasi.

Surahmat
dosen Bahasa Indonesia Unnes
penulis buku Politik Bahasa Penguasa (2016)
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan Suara Merdeka, 7 Mei 2017

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons nartzco

Skip to toolbar