Dapat dikatakan bahwa Hipotesis Relativitas Bahasa atau yang dikenal dengan Sapir-Whorf Hypotesis adalah subjek yang kontroversoal sejak pertama kali diungkapkan. Ide awal hipotesis ini berasal dari  seorang etnologis dan linguis Amerika bernama Eduard Sapir. Secara meyakinkan dia menuangkan hipotesisnya dalam esai berjudul “Tha Status of Linguistics as a Science” (CF Sapir, Selected Essays, 1961). Benjamin L Whorf memformulasikan ulang hipotesis ini pada 1940 melalui esi berjudul “Science ad Linguistics” (cf. Whorf Selecetd Writing, 1956).

Hipotesis Sapir-Whorf mempersoalkan pengaruh bahasa terhadap pikiran dan persepsi. Implikasi dari hipotesis ini adalah bahwa penutur dari bahasa berbeda akan berpikir dan menerima realitas dengan cara yang berbeda karena sebuah bahasa menentukan pandangan dunianya sendiri.

Isu yang diangkat Sapir-Whorf ini bukan hanya isu menarik dalam bidang linguistik, tetapi juga menjadi perhatian dalam bidang psikologi, etnologi, antropologi, sosiologi, filsafat, dan tentu saja ilmu pengetahuan alam. Jika realitas adalah pengetahuan saintifik maka dipeorleh secara subjektif. Inilah yang membuat prinsip ini berembang melahirkan dtermenisme. Apa bila bahasa yang kita gunakan menentukan sikap kita terhadap realitas berarti dipengaruhi oleh worldview yang inherent dalam bahasa.

Dalam paper ini, penulis hanya ingin mengawali diskusi untuk menjawab pertanyaan yang belum terjawab oleh hipotesis ini. Meski demikian, latar belakang umum dan singkat mengenai Linguistic Relativity Hypothesis tidak dapat dielakkan.

Bermula di Jerman

Sapir dan Worf bukanlah inisator hipotesis relativitas bahasa. Ida bahwa sistem bahasa mempengaruhi cara manusia berpikir pertaka kali diformulasikan oleh filsuf Jerman, JG Herder (1744-1803) dan WV Humboldt (1767-1835). Bagaimanapun, filsafat bahasa Humboldt  dipengaruhi oleh linguistik. Dia merasa bahwa linguistik dapat mengungkapan bentuk gagasan. Itu berarti, jika bahasa membentuk gagasan maka berarti bahasa juga membentuk sikap seseorang. Di sini, perbedaan cara berbicara individu memiliki perbedaan pandangan dunia (world view).

Pandangan Sapir

Bagi Sapir, bahasa tidak merefleksikan realitas, tetapi secara aktual membentuknya. Dengan demikian, dia menakui adanya realitas alam secara objektif, tetapi sejak persepsi terhadap realitas dipengaruhi kebiasaan linguistik kita, pada saat itu bahasa memainkan peran aktif dalam proses kognitif. Hipotesis relativitas lingistik Sapir dapat dinyatakan dalam dua bentuk pernyataan berikut:

Pertama, bahasa yang kita gunakan untuk berbicra dan berpikir membentuk cara kita menerima dunia.

Kedua, eksistensi berbagai sistem bahasa membuat orang-orang yang berpikir dalam bahasa berbeda akan menganggap dunia secara berbeda.

Ida bahasa bahasa bawaan membentuk realitas menirukan ide Humboldt bahwa world view melekat dalam setiap sistem bahasa. Sapir memperkenalkan kembali gagasan Humboldt, tetapi idenya bahwa bentuk bahasa dalam proses kognitif tidak secara genetis terhubung dengan opini Humboldt. Sapir merefleksikan pandangannya berdasarkan data empiris yang dihasilkan berdasarkan penelitiannya terhadap bahasa orang-orang Indian di Amerika.

Sapir menunjukkan ada hubungan yang sangat dekat antara bahasa dan kebudayaan sehingga salah satu di antara keduanya tidak dapat dipahami dengan mengabaikan lainnya. Pandangan Sapir mengenai hbungan antara bahasa dan kebudaaan secara jelas diekspresikan melalui bukunya: Language.

Menurut Sapir manusia tidak hidup dalam dunia objektif sendirian, tetapi dipengaruhi oleh “belas kasih” bahasa yang menjadi medium ekspresinya dalam masyarakat.

Pandangan Benjamin Whorf

Formulas relativitas lingustik yang membuat Whorf terkenal adalah hasil dari penelitian panjang yang dilakukannya terhadap bahasa Hopi (bahasa suku Indian). Salah satu simpulan pertamanya adalah bahwa gramatika bahasa Hopi masuk dalam kategori indo-Eropa ategori. Struktur bahasa yang ditemukannya sangat berbeda dengan bahasa aslinya, bahasa Inggris. Whorf berpendapat bahwa perbedaan sistem bahasa berdampak terhadap perbedaan cara berpikir. Sejak gagasan diekspresikan menggunakan bahasa, struktur bahasa memiliki pola pemikiran yang mempengaruhi persepsi. Konskuensinya, seorang penutur bahasa Hopi yang menggunakan bahasa itu sebagai medium  harus melihat realitas dengan formula bahasa tersebut.

Formulasi Whorf tentang relativitas bahasa lebih radikal dipandingkan Sapir, tetapi  secara umum merupakan satu hipotesis yang dikenal dengan Sapir-Whorf hipotesis. Hipotesis ini tidak homgen sebagaimana namanya.

Sapir tidak menyangsikan keberadaan dunia objektif. Dia mengatakan bahwa manusia tidak hidup dalam dunia objektif sendirian, tetapi dunia nyata adalah sesuatu yang luas yang tanpa disadari dibangun oleh kebiasaan bahasa komunitas (grup).

Whorf menyatakan bahwa dunia nyata dibentuk oleh  perubahan yang terus-menerus atasi yang dibangun oleh sistem bahasa di dalam pikiran manusia. Bagi Whorf, dunia objektif secara total dobetuk oleh pengalaman subjektif.

Whorf memperpanjang gagasannya gurunya, Eudard Sapir, dengan menyatakan bahwa hubungan bahasa dan budaya adalah saling menentukan. Salah satu pernyataan paling kuat dari Whorf adalah:

“Latar belakang sistem bahasa (grammar) pada sebuah bahasa tidak sekedar memproduksi instrumen suara untuk menyatakan gagasan, tetapi justru membentuk gagasan itu sendiri, program dan panduan bagi aktivitas mental individu.”

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang
Gambar: ozlemsschoolexperience.blogspot.co.id

Catatan:
Tulisan ini disadur dari “The Sapir-Whorf Hypothesis Today” karya Basel Al-Sheikh Hussein dari Al-Zaytoonah Private University of Jordan

Tagged with:
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

[+] kaskus emoticons nartzco

Skip to toolbar