Manusia modern diidentifikasi dan mengidentifikasi diri sebagai makhluk yang hidup dengan penyandaran diri terhadap rasionalitas. Kecenderungan ini terutama dimulai ketika berlangsung revolusi kognitif dan kemudian revolusi sains. Untuk memahami dan mempercayai sesuatu, orang merasa perlu melakukan pengamatan dan penyelidikan melalui metode yang dibakukan sedemikian rupa. Dari tradisi itulah ilmu pengetahuan modern berkembang dan segera mendominasi cara manusia mempersepsi diri dan lingkungannya.

Perkembangan ilmu pengetahuan, harus diakui, telah mengubah hidup dan kehidupan manusia menjadi lebih baik dalam banyak aspek. Berkat penelitian yang dilakukan dengan penuh ketekunan oleh para ilmuwan, hari ini kita bisa memahami cuaca, letusan vulkanis, juga anatomi tubuh kita sendiri dengan lebih baik. Berkat ketelitiannya, para ilmuwan membuat kita mengetahui hal-hal baru sehingga kita bisa mengambil tindakan yang lebih baik dalam hidup. Edward Jenner dan Louis Pasteur berjasa besar menciptakan vaksin sehingga manusia bisa melindungi anak-anak dari serangan penyakit menyakitkan. Gregorius Mendell menyibak bahwa sifat genetis diturunkan. Adapun Alexander Graham Bell membuat anak-anak muda hari ini bisa bicara langsung dengan pacarnya yang di luar kota.

Dominasi pengetahuan ilmiah telah membuat kelogisan menjadi standar “benar” baru dalam kehidupan masyarakat modern. Sebuah penjelasan baru dianggap benar jika ilmiah, dapat diuraikan dengan  serangkaian pernyataan yang terhubung secara logis antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu, nasihat orang tua kepada anak-anak “Jangan keluar rumah saat sambekala, nanti dicolok wewe gombel” kini terasa begitu kuno dan tidak benar. Sebaliknya, penjelasan bahwa “Udara pada petang hari tidak baik bagi tubuh karena saat itu terjadi perubahan suhu secara ekstrim dari siang ke malam” dirasa lebih benar.

Lalu, apakah masyarakat modern cukup hidup dengan penjelasan ilmiah saja sehingga tidak lagi memerlukan penjelasan fiksi? Apakah keterampilan mengamati dan menyimpulkan secara logis lebih penting dan berharga dibanding keterampilan mengandaikan, mengimajinasikan, dan mengkhayalkan?  Untuk menjawab dua pertanyaan itu, tentu saja kita bisa memilih berbagai alternatif jawaban yang telah dikemukakan para ahli. Tetapi, tentu saja,  merenungkan dan menemukan jawaban baru adalah aktivitas yang berguna.

Sejak sebelum disebut sebagai sastra, karya sastra telah muncul dan berperan dalam hidup manusia. Ia berperan sebagai sarana hiburan, alat pendidikan, sekaligus sarana ekspresi estetik yang penting bagi diri manusia dan manusia secara kolektif. Fungsi sastra terus berkembang di berbagai peradaban, termasuk peradaban manusia modern saat ini. Meski bentuk ekspresinya berbeda, sastra masih dianggap penting dikreasikan dan dipelajari.

Melalui makalah saya ingin mengajak pembaca diskusi tentang peran karya sastra dalam kehidupan manusia modern. Diskusi itu, terutama akan difokuskan pada tiga permasalahan dasar, berikut:

  1. Apakah dalam masyarakat modern saat ini karya sastra telah menemukan fungsi-fungsi baru?
  2. Apakah kemampuan berimajinasi dan bercerita dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang?
  3. Bagaimana menggunakan sastra untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan imajinatif?

Sarana Berwacana

Sebagaimana objek lain, sastra telah berkembang begitu cepat sehingga memiliki fungsi jamak dalam kehidupan masyarakat. Pada periode Horatius (65-8 SM), fungsi ganda sastra dapat disarikan dengan frasa sederhana: dulce et utile. Dalam terjemahan yang sederhana, itu berarti indah berguna. Frasa itu juga biasa diterjemahkan dengan “menghibur dan berguna” juga “manis dan berguna”. Tapi sekarang, penjelasan itu kelewat sederhana untuk memahami fungsi factual karya sastra. Ada fungsi-fungsi baru yang berkembang karena sastra adalah “makhluk” yang berkembang pada masyarakat yang terus berubah.

Memang sih, jika fungsi “indah dan berguna” masing-masing dijabarkan, akan muncur banyak variasi penjelasan. Indah mencakup keseluruhan kualitas estetis yang memungkinkan karya sastra melahirkan pengalaman estetis pada pembaca: keseruan, ketegangan, haru, syahdu, marah, sebal, dan lain sebagainya. Adapun begruna mencakup keseluruhan aspek yang membuat pembaca memperoleh manfaat praktis, seperti berkembangnya wawasan, tumbuhnya kepekaan sosial, hingga membentuk perilaku tertentu (yang diharapkan).

Meski begitu, tetap saja dulce et utile terasa tidak lagi memadai, karena sastra telah berkembang menempati peran-peran baru pada arena-arena baru. Dalam tafsir Bourdieu, sastra adalah arena yang pada satu sisi memiliki otonomi hukum-hukumnya sendiri tetapi ia juga berada pada arena lain yang lebih besar. Ketika sastra menempati arena yang lebih besar (misalnya arena sosial dan politik) fungsinya menjadi semakin berkembang. Gambaran fungsi-fungsi baru itu, dapat digambarkan dalam diagram berikut:

Dari diagram di atas tampak bahwa sastra bisa memiliki fungsi jamak sekaligus. Ia menemukan fungsi yang berbeda ketika berada pada arena yang berbeda. Ketika hadir dalam arena sosial, ia bisa berfungsi sebagai alat komunikasi dan berwacana. Ketika hadir dalam arena ekonomi, sastra berubah menjadi komoditas. Adapun ketika didudukkan sebagai karya seni, sastra berfungsi sebagai alat ekspresi. Ketika hadir dalam ruang budaya, sastra adalah alat kontestasi estetik. Fungsi-fungsi itu terus berkembang sehingga sastra hadir di ruang yang semakin bervariasi.

Sebagai alat komunikasi, sastra berfungsi mengantarkan gagasan dan nilai pengarang kepada masyarakat pembacanya. Fungsi ini telah diketahui dan praktikkan sejak lama. Masyarakat Melayu tempo dulu misalnya menjadikan pantun sebagai sarana menasihati anak-anak muda. Di kalangan Suku Xhosa di Afrika Selatan, puisi-puisi digunakan para leluhur agar anak-anak muda menjaga tanah air mereka. Adapun di negara yang sedang bergolak menuntut kemerdekaan (seperti Indonesia pada tahun 1920-an hingga 1940-an), sastra digunakan untuk membangkitkan semangat perlawanan.

Masyarakat Pulau Simeuleu di Aceh menjadi perbincangan luas karena dinilai berhasil menjadikan karya sastra sebagai sarana membangun kesadaran tanggap bencana. Sebuah lagu rakyat di daerah itu berisi pengajaran tentang bahaya tsunami (smong) dan nasihat cara menyikapinya. Lagu itu diajarkan, diwariskan, sehingga membentuk pengetahuan kolektif warga. Keberhasilan mereka menjadikan sastra sebagai alat pendidikan kebencanaan dipercaya sejumlah peneliti (Takari, dkk., 2017 dan Suciani, dkk. 2017) telah menyelamatkan sebagian besar warga dalam bencana dahyst pada 26 Desember 2004.

Bagi manusia modern, sastra juga menjadi sarana berwacana. Sastra digunakan subjek tertentu sebagai alat pertarungan gagasan untuk menentukan standar baik, bagus, benar, dan wajar. Melalui karya sastra, seseorang atau sekelompok orang mendesakkan gagasan tertentu kepada masyarakat agar gagasan itu menjadi sumber nilai yang menjadi pedoman berperilaku. Dengan demikian, orang-orang dengan keterampilan bersastra memiliki kesempatan membuat gagasannya diterima dan diakui sebagai “kebenaran” dan “kebaikan” bersama.

Surahmat (2016) menunjukkan bahwa sastra memiliki peran signifikan dalam penyebaran Islam modern di Indonesia. Sebuah komunitas sastra yang didirikan pada 1998 menjadi motot gerakan kreatif untuk melawan dominasi karya sastra liberal. Digawangi oleh sejumlah tokoh (beragama) Islam, komunitas itu melakukan gerakan kebudayaan untuk menjadikan sastra sebagai sarana berdakwah. Melalui karya sastra, para pegiat komunitas itu berupaya mendefinisikan kembali “Islam” dan “perilaku islami” hingga mempengaruhi puluhan ribu pembacanya.

Ketika sastra yang lahir dari komunitas itu dialihwahanakan menjadi film, persebaran gagasan itu berkali-kali lipat lebih luas sehingga pengaruhnya juga semakin luas. Dengan demikian, gagasan yang diusung pengarang karya itu tersebar, diterima sebagai kebenaran, dan menjadi standar berperilaku. Dampak itu terutama terasa pada segmen pembaca masyarakat urban (perkotaan) yang menjadi segmen mereka. Lantaran tawaran gagasan dalam karya sastra itu telah tersebar sedemikian luas, tidak tertutup kemungkinan jika persepsi keagamaan kita juga dipengaruhi karya-karya mereka.

Di Mesir, novel-novel karya Nawaal El-Sadaawi diakui telah menginspirasi dan memperkuat perjuangan perempuan untuk mendapat hak dan perlindungan yang layak. Melalui karya legendaris seperti Perempuan di Titik Nol dan Matinya Sang Penguasa, El-Sadaawi membuka mata pembaca bahwa penindasan laki-laki terhadap perempuan benar-benar ada, terjadi akibat sistem sosial dan pengetahuan yang tidak adil, sehingga mendesak untuk diselesaikan. El-Sadaawi (yang juga berprofesi sebagai dokter) menjadikan novelnya sebagai pelantang agar aspirasinya mendapat perhatian memadai.

Dalam catatan Nordwall (2008) Sadawi percaya bahwa Islam dan feminisme bukanlah dua ide yang terpisah apalagi saling bertentangan. Sebab, Islam muncul dengan membawa jaminan keadilan pada bidang sosial, hukum, politik, dan ekonomi bagi perempuan. Oleh karena itu, dengan menjadikan Islam sebagai inspirasi gerakan feminisme Mesir, wanita Mesir bisa menemukan gerakan perjuangan feminis tanpa harus terpengaruh paradigma Barat. Ide-ide itulah yang ditawarkan Sadawi kepada pembacanya sehingga gagasannya lebih mudah berterima (meski di Mesir, tetap saja novelnya menuai kontroversi, bahkan penolakan).

Dicatat oleh Ruonakoski (2012), sastra menjadi pilihan berwacana bagi Simone de Buvoire untuk menyuarakan pembelaannya terhadap perempuan. Setelah menelusuri sejumlah puisi, Ruonakoski  menemukan fakta bahwa bagi Beauvoir salah satu tugas sastra yang paling penting adalah memecah kesendirian eksistensi manusia dengan berbagi pengalaman yang paling intim dan menyakitkan, seperti kematian orang yang kita cintai. Gejala ini menunjukkan bahwa sastra berguna sebagai alat komunikasi yang unik karena kemampuannya menjangkau wilayah yang sangat dalam dari diri manusia: hati.

Bukti bahwa sastra merupakan alat berwacana dapat diperpanjang daftarnya dengan menyebut sejumlah novel Indonesia modern yang memiliki muatan ideologis sangat kuat.  Melalui Perempuan Berkalung Sorban, misalnya, Abidah El khalieqy berupaya “menyentak” pembacanya bahwa posisi perempuan rentan mengalami ketidakadilan dalam masyarakat Muslim di Indonesia. Prasangka dan ketidakadilan terhadap perempuan kerap kali dilegitimasi oleh sistem pengetahuan dan nilai yang telah mapan. Oleh karena itu, ketidakadilan juga harus dilawan dengan menyibak sistem pengetahuan dan sistem nilai itu.

Kesanggupan sastra menjadi sarana berwacana yang efektif sangat dipengaruhi kualitas intrinsic sastra sebagai salah satu ragam wacana. Dibandingkan karya, khutbah, dan berita, karya sastra memiliki keunggulan komunikatif karena menawarkan informasi sekaligus pengalaman estetik. Ketika karya ilmiah harus ribet dengan urusan metodologi sastra justru mendorong creator dan penikmatnya untuk berekspresi secara suka-suka. Saat khutbah harus menanggung beban moral yang besar karena meuntut kepatuhan, sastra memberi kebebasan penikmatnya untuk mengikuti atau menyangkalnya. Saat berita membatasi diri pada hanya pada informasi factual, sastra menawarkan keseruan dengan masuk ke beyond fakta.

Kualitas internal karya sastra membuatnya memiliki keunggulan komunikatif. Artinya, gagasan yang disampaikan melalui wacana sastra cenderung lebih mudah diakuisisi oleh masyarakat pembaca dibandingkan dengan bentuk wacana lain.  Keunggulan komunikatif ini bisa berkaitan dengan aspek kognitif, yaitu aspek pemahaman. Keunggulan komunikatif juga bisa berkaitan dengan aspek afeksi, yaitu aspek sikap. Dengan begitu, nilai-nilai yang disampaikan melalui karya sastra memiliki peluang lebih mudah diterima oleh pembaca. Karya sastra bersifat lentur dengan menawarkan gagasan dan bukan memaksakannya. Karya sastra juga memberi keleluasan pembaca merefleksikan nilai tertentu sesuai konteks mental dan budayanya.

Menurut Boris (2017) cerita yang baik memiliki kekuatan komunikatif yang efektif karena dapat membangkitkan rasa terhubung (sense connection). Cerita dapat menciptakan keakraban (familiarity) dan kepercayaan (trust) karena mengajak pendengar atau pembaca masuk menjadi bagian cerita sehingga lebih membuka diri. Sebuah cerita yang bagus memungkinkan gagasan kompleks bisa tersampaikan dengan cara yang mudah dipahami. Keterlibatan emosi membuat penjelasan yang disampaikan melalui cerita lebih ramah pendengar dibandingkan data kering seperti statistic.

Keunggulan komunikatif itulah yang membuat keterampilan bercerita (storytelling) diberdayakan dalam komunikasi di berbagai bidang. Seorang CEO perusahaan menggunakan cerita untuk menjelaskan visi perusahaan dengan menginspirasi stafnya bekerja lebih enjoy. Guru matematika membuat narasi aritmatika untuk membuat penjelasan konseptual di bidang itu menjadi lebih kontekstual. Para politisi juga menggunakan cerita untuk meyakinkan pemilih bahwa gagasannya lebih baik dibanding gagasan lain. Dan tentu saja, yang sangat sering kita dengar: para motivator menggunakan cerita untuk membuat pendengarnya terinspirasi.

Dengan demikian, tampak jelas bahwa kecekapan bercerita melalui sastra merupakan keterampilan komukatif yang penting dan berguna. Manusia modern perlu melatih kecakapan berpikir dan bertutur secara sastrawi untuk mewujudkan kehidupan lebih baik. Kecakapan itu berguna bagi aktivis agar agenda masyarakat sipil yang diusungnya berterima. Kecakapan itu diperlukan orang tua untuk menuntun anak-anaknya pada kebaikan yang diyakininya. Juga tentu saja: kecakapan itu diperlukan para jomlo agar segera menemukan pasangan hidupnya. Gitu.

Kecerdasan Sastrawi

Salah satu bagian paling mengesankan dalam buku Sapiens karya Yuval Noah Harari adalah simpulan bahwa keberhasilan manusia (homo sapiens) menjadi spesies paling dominan di muka bumi adalah berkat keterampilan berimajinasi. Menurutnya, otak manusia mengalami perkembang evolutif yang mengagumkan sehingga mampu membayangkan sesuatu yang belum pernah dilihat, didengar, dan dialami. Kemampuan inilah yang membuat manusia bisa mencipta benda seni, negara, sistem perbankan, bahkan kendaraan ke Mars. Berbagai prestasi itu tidak pernah dicapai makhluk lain di bumi, baik oleh genus panthera yang gagah maupun reptilia yang melata.

Kemampuan imajinasi telah membawa dampak besar dalam peradaban manusia selama 70.000 terakhir. Kemampuan imajinasi itu telah membuat manusia pada masa palaelitikum bisa memanfaatkan  batu sebagai mata tombak sehingga bisa menaklukan serigala. Kemampuan yang sama telah membuat manusia menciptakan perabot dapur dari bahan mineral. Di era postmodern seperti kini, kemampuan imajinasi pula yang mendorong manusia (di Korea) membuat girlband dan boyband dengan bayaran supermahal meski personelnya hanya bisa jogad-joged ala kadarnya.

Bagi manusia, kemampuan berimajinasi berguna karena memungkinkannya menemukan cara-cara baru mengatasi masalah. Kemampuan itu  membuat manusia menjadi kreator yang sangat produktif. Imajinasi tidak hanya memungkinkan manusia melakukan temuan-temuan yang tak disengaja, tapi juga temuan yang terencana.

Masyarakat modern memuja kreativitas sebagai kemampuan yang penting. Setelah berdekade diabaikan, kreativitas dianggap sebagai kecakapan yang dirasa diperlukan agar manusia bisa mengatasi keterbatasan fisik dan lingkungannya. Kreativitas membuat manusia bisa terbang meski alam tidak “menganugerahinya” sayap. Dengan Boeing 747, teknologi yang diciptakan berkat kreativitas, manusia bahkan bisa manusia terbang bersama seluruh warga rukun warga (RW). Kreativitas pula yang membuat  manusia menyelam berjam-jam meski di dalam tubuhnya tidak ada insang. Dengan kapal selam Tipe 209 bikinan Jerman, 30 bisa menyelam sekaligus hingga kedalaman 500 meter.

Teknologi supermodern yang kini dimiliki manusia tampak seperti  omong kosong pada 500 tahun lalu. Jika kita melakukan perjalanan waktu ke era Raja Tawangalun di Kerajaan Blambangan dan bicara kepadanya kita bisa terbang dari Banyuwangi ke Pontianak hanya dalam dua jam, pasti kita dianggap gila. Sang raja mungkin akan marah dan menangkap kita karena telah mengedarkan kabar bohong. Pesawat mulai bergeser dari omong kosong dan kegilaan ketika rancangan teknisnya dikerjakan oleh Orville Wright dan Wilbur Wright pada sekitar tahun 1900-an. Namun Wright bersaudara itu, kemungkinan, tidak bisa mewujudkan pesawat itu tanpa imajinasi Abbas Ibn Firnas dan Leonardo Da Vinci (livescience.com, 2014).

Hampir semua teknologi modern kita hari ini merupakan produk imajinasi. Pertama-tama konsep tentang teknologi modern itu mungkin hadir dalam cerita mitos dan legenda yang dibawa seorang juru cerita. Ketika imajinasi itu mampir oleh seorang yang rasa ingin tahunya besar, imajinasi itu mulai dirancang dalam kertas kerja sederhana. Dengan kemampuan Teknik yang cukup, orang itu mungkin bereksperimen merealisasikan konsepnya. Ketika alat pendukung semakin baik, teknologi itu semakin dekat tercipta.

Sebelum dirancang oleh para insinyur, kapal selam hanyalah imajinasi Jules Verne dalam novel Twenty Thousand Leagues Under the Sea. Sebelum Proyek Manhattan dirintis untuk menciptakan bom ato berkekuatan tinggi, konsep itu telah diimajinasikan Robert Chromie dalam novel The Crack of Doom. Kini, sementara kita hanya menganggapnya sebagai keisengan imajiner sutradara Hollywood, upaya mengkoloni Mars benar-benar sedang dilakukan oleh ilmuwan SpaceX dan Blue Origin. Harari (2018) mengatakan, saat sebagian orang hanya membayangkan imortalitas sebagai imajinasi yang tertuang dalam serial kartun Dragon Ball, sejumlah ilmuwan di Lab Google sedang berupaya menghindarkan manusia dari kematian.

Fakta-fakta itu menunjukkan bahwa kemampuan berimajinasi telah menjadi instrumen peradaban yang sangat penting. peradaban manusia modern yang kini tampak begitu kokoh dibangun oleh kepingan-kepingan imajinasi. Oleh karena itu, kalau sekarang ada orang yang menganggap kemampuan berimajinasi bukan sesuatu yang berharga, kita perlu meluruskan persepsinya.

Persoalannya, contoh-contoh di atas menempatkan imajinasi sebagai kerja kolektif manusia. Lalu, apakah kecakapan berimajinasi juga diperlukan agar individu bisa mewujudkan kehidupan yang lebih baik?

Dalam buku laris Outlier, Gladwell mengisahkan dua orang yang sama-sama memiliki IQ tinggi. Dua orang cerdas itu kini punya nasib yang jauh berbeda. Satu orang menjadi pekerja serabutan, satunya lagi menjadi peneliti di salah satu laboratorium terkemuka di Amerika. Fakta bahwa keduanya sama-sama memiliki kecerdasan (IQ) menunjukkan bahwa IQ bukan variabel yang membuat keduanya punya nasib yang jauh beda. Gladwell kemudian melanjutkan, kemungkinan perbedaan itu ditentukan oleh kemampuan berimajinasi. Orang cerdas pertama (bernama Chris Langan) tidak menempuh cara-cara kreatif agar kecerdasannya bisa dikembangkan dan diberdayakan dalam masyarakat. Adapun orang cerdas kedua memiliki kreativitas mengemas kecerdasannya agar tampak berharga dan diapresiasi orang dalam dunia nyata.

Eksperimen terkenal bernama “Brick Test” berusaha menyelidiki pengaruh daya imajinasi terhadap kesuksesan hidup seseorang dalam kehidupan nyata. Dalam eksperimen itu peneliti bertanya kepada responden “Apa saja fungsi batu bata?”. Peneliti mempersilakan responden menjawab sesuka mereka sesuai kreativitas (kemampuan imajinasinya). Responden pertama menjawab “Untuk membangun tembok,  dilempar”. Adapun responden kedua menjawab “Untuk melempari lawan saat tawuran, membangun rumah bersama orang yang saya cintai, digunakan dalam permainan roulet Rusia, untuk ganjal tempat tidur, untuk membuka tutup botol Coca Cola.”

Dua tipe jawaban itu menunjukkan bahwa responden pertama cenderung kreatif. Adapun responden kedua lebih kreatif. Dan ternyata, jawaban kurang kreatif itu dilontarkan oleh seorang anak cerdas dengan IQ tertinggi di sekolahnya. Adapun jawaban kedua diberikan anak biasa dengan IQ lebih rendah dari responden pertama.

Tes itu menunjukkan, imajinasi adalah bekal yang diperlukan dalam kehidupan praktis manusia untuk melihat berbagai peluang penyelesaian masalah. Semakin tinggi kemampuan imajinasi seseorang, semakin bervariasi alternatif penyelesaian masalah yang bisa dipilihnya. Anak ber-IQ tinggi mungkin bisa memprediksi bahwa nanti akan turun hujan sehingga membawa payung ke sekolah. Adapun anak dengan imajinasi tinggi mungkin berpikir membendung air hujan di halaman sekolah dan menjadikannya kolam renang darurat yang asyik untuk seru-seruan. Tukang kay uber-IQ tinggi mungkin bisa mengolah kayu agar meminimalkan jumlah limbah. Tapi orang dengan kemampuan imajinasi tinggi mungkin bisa mengolah limbah menjadi mozaik artistik yang harganya lumayan mahal.

Merdeka, Memerdekakan

Dibanding jenis karya tulis lain, karya sastra relatif tidak terlalu ketat aturan. Untuk menulis cerpen, orang bisa mulai dengan teknik pembukaan apa pun yang disukainya. Anda tak harus menulis bab “Pendahuluan” yang diikuti “Latar Belakang Masalah” sebagaimana saat Anda menulis makalah. Anda bisa saja mulai dengan dialog, deskripsi, paparan, kutipan, bahkan tiruan bunyi tokek hamil tua yang sedang tidur mendengkur. Bahkan kalau sampai cerita selesai ditulis Anda belum dapat judul yang tepat, Anda boleh memberinya judul “Belum Ada Judul” sebagaimana Iwan Fals memberi judul lagunya.

Kemerdekaan dalam mencipta karya sastra tak terbatas pada aspek harfiah, tapi yang lebih penting adalah cara ungkap. Alih-alih mengucapkan “Gue sayang banget sama elo. Gue janji deh, gak bakal ninggalin lu” sebagaiaman dialog picisan anak-anak muda sekarang, Mbah Sapardi Djoko Damono mengemukakan rasa cintanya dengan “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,”. Alih-alih bicara “Aku tidak bisa hidup tanpa kamu” sebagaimana rayuan dalam FTV, Helvy Tiana Rosa menulis “Aku tak butuh lagi matahari, bulan, atau bintang lagi. Cukup kau cahaya yang Dia kirimkan untukku.”

Kebebasan pengarang untuk membuat cara-cara ungkap baru adalah unsur penting yang membuat sastra berharga. Kebebasan dalam proses kreatif penciptaan sejatinya juga dorongan agar sastra memiliki semangat merdeka dan memerdekakan. Melalui karya sastra pengarang ingin memerdekakan (pikiran) dirinya dan (pikiran) orang lain.

Semangat inilah yang, antara lain, bisa diperoleh anak-anak muda dengan melatih diri bercerita melalui sastra. Ketika menulis karya sastra, anak-anak muda sedang menerapi pikirannya agar melepas belenggu kebekuan sehingga menemukan cara ungkap baru yang segar. Dengan melatih diri menemukan jalan dan cara ungkap baru, seorang anak muda sedang melatih kreativitasnya agar terbiasa menemukan pola-pola relasi baru dalam kehidupan nyata.

Mengharap sastra membuat orang makin pintar mungkin terlampau muluk-muluk. Tapi mengharap sastra membuat orang terbiasa menemukan kemungkinan-kemungkinan baru adalah harapan yang realistis.

Daftar Rujukan

Gladwell, Malcolm. Outlier: Rahasia di Balik Sukses. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Harari, Yuval Noah. 2017. Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Harari, Yuval Noah. 2018. Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia. Jakarta: Pustaka Alvabet

Nordwall, Kristina. 2008. Egyptian Feminism: The Effects of the State, Popular Trends and Islamism on the Women’s Movement in Egypt. Makalah  https://www.coloradocollege.edu/dotAsset/f2b083ed-ed66-486f-aa1d-e8d634937f21.pdf. Diakses 20 November 2018.

Palermo, Elisabeth. 2015. Flying Machines? 5 Da Vinci Designs That Were Ahead of Their Time.  https://www.livescience.com/49210-leonardo-da-vinci-futuristic-inventions.html. Diakses 20 November 2018.

Ruonakoski, Erika. 2012. Literature As A Means Of Communication: A Beauvoirian Interpretation Of An Ancient Greek Poem Literatura Como Um Meio De Comunicação: Uma Interpretação Beauvoiriana De Um Antigo Poema Grego. Sapere Aude – Belo Horizonte. Volume 3 Nomor 6. Hlm. 250-270

Suciani, A, dkk. 2017. “Smong” as local wisdom for disaster risk reduction. Makalah dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 148 (2018) 012005

Surahmat. 2016. Sistem dan Mekanisme Produksi Karya Sastra Islami pada Komunitas Forum Lingkar Pena: Kajian Sosiologi Sastra, Tesis. Universitas Diponegoro

Takari, Muhammad, dkk. 2017. Nandong Smong Nyanyian Warisan Sarana Penyelamatan Diri dari Bencana Tsunami dalam Budaya Suku Simeulue di Desa Suka Maju: Kajian Musikal,Tekstual, Fungsional, dan Kearifan Lokal. Laporan Penelitian. Universitas Sumatra Utara

Boris, Vanessa . 2017. What Makes Storytelling So Effective For Learning? http://www.harvardbusiness.org/blog/what-makes-storytelling-so-effective-learning. Diakses 20 November 2018.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar