Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ketemu lagi dengan saya, Rahmat Petuguran, dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang.

Teman-teman yang belajar sosiolinguistik pasti pernah belajar tentang idiolek kan ya? Sekadar menghangatkan ingatan ya, idiolek adalah keseluruhan ciri perseorangan dalam berbahasa. 

Idiolek bisa pada tingkat pengucapan atau fonologi, pada tingkat pembentukan kata atau morfologi, pada tingkat pembentukan kalimat atau sintaksis, juga pada tingkatan pilihan kata atau leksikon. 

Sederhananya sih, setiap orang diasumsikan memiliki idiolek karena kita cenderung menggunakan bahasa dengan cara yang berbeda-beda. Itu karena bahasa, selain bersifat sosial juga bersifat individual.

Nah, apa sih manfaatnya belajar tentang idiolek? Apa bisa pengetahuan tentang idiolek diaplikasikan dalam aktivitas yang lebih konkret? 

Bisa banget dong.

Dari sisi komunikasi, pemahaman kita tentang idiolek membantu kita berkomunikasi dengan lebih baik. Memahami keunikan orang berbahasa akan membuat kita lebih mudah memahami maksudnya. 

Selain itu, kita juga bisa menyesuaikan diri dengan orang lain agar komunikasi lebih lancar dan tujuan komunikasi bisa tercapai dengan lebih mudah. 

Tapi tidak cuma itu lho manfaatnya. Idiolek ternyata juga konsep yang penting dalam linguistik forensik. 

Sekadar info awal saja ya, mungkin ada yang belum tahu, linguistik forensik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan hukum. Bisa dalam proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan, persidangan, sampai pascaputusan. 

Nah, salah satu peran idiolek dalam linguistik forensik adalah dalam pemrofilan penulis atau pembicara. 

Misalnya nih, penyidik perlu memastikan apakah sebuah ucapan atau tulisan benar-benar merupakan ucapan atau tulisan tersidik. Atau, jangan-jangan itu milik orang lain. 

Dengan memanfaatkan konsep idiolek, kita bisa cek keaslian tulisan atau ucapan itu. 

Supaya lebih konkret, yuk kita belajar dari penyidikan kasus Unabomber di Amerika Serikat. 

Dalam catatan FBI nih, terjadi pengeboman misterius antara tahun 1978 sampai 1995 di Amerika. Pelaku mengirimkan paket berisi bom secara random yang menyebabkan ledakan, luka serius, bahkan menewaskan penerimanya. Bomb itu biasanya dikirim ke universitas atau airlines. Itulah yang membuat pengirim bom ini dijuliku unabomber, singkatan dari university and airlines bomber. 

Selama belasan tahun FBI tidak berhasil mengidentifikasi siapa pelakunya. Sampai tahun 1995 si pelaku mengirimkan esai panjang 35 ribu kata kepada sejumlah koran di Amerika. Dalam surat dia bilang, kalau esai berisi manifesto itu dipublikasikan dia akan berhenti mengirim bom. 

Dengan berbagai pertimbangan, The Washington Post dan New York Times, dua  koran terbesar di Amerika saat itu memutuskan untuk menerbitkan manifesto itu. Setelah terbit, esai itu dibaca banyak orang dong. 

Nah, salah satu pembaca bernama David Kaczynski meyakini kalau yang menulis esai itu adalah kakak laki-lakinya yang sudah tidak dia temui sejak 10 tahun lalu. Namanya Theodore Kaczynski alias Ted Kaczynski.

David meyakini itu tulisan kakaknya karena ada satu istilah atau frasa yang sangat khas dalam esai itu, yaitu “cool-headed logicians”.

Nah, berbekal informasi itulah FBI dan polisi mulai menelusuri identitas dan tempat tinggal Ted. Setelah berbulan-bulan, diketahui bahwa dia ternyata seorang mantan profesor matematika. Tapi karena dia punya pandangan politik berbeda akhirnya memilih mundur dan mengasingkan diri. Pada 3 April 1996 Ted ditemukan hidup dalam sebuah gubuk kecil di hutan lindung daerah Lincoln, Montana. 

Dalam penangkapan itu FBI menemukan puluhan ribu jurnal yang ditulis tangan, sejumlah bahan bom rakitan, dan beberapa bom siap kirim. Itu membuktikan bahwa Ted memang si Unabomber. Identifikasi adiknya lewat frasa cool-headed logicians itu terbukti benar. 

Dalam bidang linguistik forensik, pemanfaatan idiolek tidak hanya terjadi dalam kasus Unabomber. 

Ada banyak kasus pembunuhan, penipuan, pemalsuan dokumen, dan waris yang bisa dipecahkan dengan identifikasi idiolek. 

Sosiolinguistik sendiri sudah menyediakan aneka konsep dan teori yang memungkinkan identifikasi idiolek dilakukan. Tentu saja itu dilakukan dengan memanfaatkan konsep dan teori dari cabang ilmu bahasa lain seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik, analisis wacana, dan sebagainya.

Menurut saya, tantangan dalam melakukan identifikasi idiolek ada empat. 

Pertama terkait penyediaan data. Dalam beberapa kasus, data kebahasaan yang ada bisa sangat singkat. Misalnya cuma pesan pendek di WhatsApp, sepenggal surat catatan bunuh diri yang tidak banyak memuat data metabahasa. Atau datanya berkualitas buruk karena sudah rusak, tidak jelas, dan sebagainya. Data kebahasaan yang singkat dan rusak akan membuat identifikasi menjadi lebih sulit.

Kedua, proses memilah data. 

Penyediaan data, bisa dilakukan secara deduktif atau induktif. Data yang ada bisa saja kurang relevan dengan perkara yang sedang disidik. Makanya, linguis atau penyidik yang mengkajinya harus bekerja ekstra menemukan data yang relevan.

Ketiga, perlu kehati-hatian tingkat tinggi dalam justifikasi data. Memang sih, secara teoretis semua orang memiliki karakter kebahasaan yang unik. Tapi tidak berarti satu ekspresi berbahasa tertentu betul-betul hanya dimiliki oleh satu orang seperti sidik jari. Seperti saya bilang sebelumnya, selain bersifat personal, bahasa kan juga bersifat sosial, properti bersama yang digunakan oleh banyak orang. 

Keempat, tantangan yang paling sulit dipecahkan penyidik adalah penyamaran dan pemalsuan. Orang-orang yang terlibat kejahatan biasanya sengaja menyamarkan suara, tulisan, dan dokumen supaya tidak terlacak. Ini biasanya merepotkan penyidik karena performa kebahasaan sudah dimanipulasi. 

Meski begitu, dengan bantuan teknologi dan ketekunan, idiolek masih menjadi konsep yang sangat berguna dalam linguistik forensik.

Kalau kamu memahami konsep ini dengan baik, kamu juga bisa memanfaatkannya di berbagai bidang kok. Bisa di bidang komunikasi, perdagangan, bahkan sampai asmara. 

Kita ketemu lagi di kesempatan yang akan datang, bersama saya Rahmat Petuguran.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sumber foto: 13newsnow.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar