Materi Sosiologi Kelas XI : Pembentukan Kelompok Sosial

Desember 15, 2015 in Pembelajaran Sosiologi SMA,Sosiologi | Comments (0)

Manusia apabila disandingkan dengan makhluk hidup lain seperti hewan, maka dia tiak akan mungkin bisa bertahan hidup sendiri. Misalnya saja seekor anak ayam, walaupun ditinggal induknya tetap bisa mencari makan sendiri, namun manusia tanpa manusia lain pasti akan mati. Dalam menghadapi alam sekeliling maka manusia harus hidup berkawan dengan manusia-manusia lainnya. Karena apabila manusia hidup sendiri, maka akan terjadi gangguan dalam perkembangan jiwanya. Naluri  manusia untuk selalu hidup dengan orang lain disebut dengan gregariousness sehingga manusia disebut juga social animal (hewan sosial), yaitu hewan yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama.  Karena sejak dilahirkan manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok, yaitu:

  1. Keinginan untuk selalu menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (yaitu masyarakat).
  2. Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.

Dengan demikian maka kesemuanya itu akan menimbulkan kelompok-kelompok sosial di dalam kehidupan manusia ini. Kelompok-kelompok sosial tersebut merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama. Secara sosiologis pengertian kelompok sosial adalah suatu kumpulan orang-orang yang mempunyai hubungan dan saling berinteraksi satu sama lain dan dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama.

Faktor Pendorong Timbulnya Kelompok Sosial

  1. Dorongan untuk mempertahankan hidup

Dengan manusia membentuk atau bergabung dengan kelompok sosial yang telah ada, maka secara tidak langsung manusia tersebut telah berusaha mampertahankan hidupnya, karena kebutuhan hidupnya  tidak mungkin akan terpenuhi dengan hidup menyendiri. Selain itu dengan adanya kelompok sosial, hubungan manusia semakin luas sehingga kemanapun ia pergi akan senantiasa merasa aman.

  1. Dorongan untuk meneruskan keturunan

Tidak dapat dipungkiri bahwa semua makhluk hidup mempunyai sifat alamiah yang sama, yakni meneruskan keturunan. Dengan kelompok sosial itulah seseorang akan menemukan pasangannya masing-masing, sehingga dengan demikian dorongan untuk meneruskan keturunan ini dapat tercapai.

  1. Dorongan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja

Di era modern seperti sekarang ini manusia dituntut untuk melakukan pekerjaan yang efektif dan efisien dan memperoleh hasil kerja yang maksimal. Oleh sebab itu dengan adanya kelompok sosial akan dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja. Misalnya pada kelompok formal, dengan adanya pembagian tugas yang jelas maka pekerjaan yang dihasilkan akan dapat maksimal.

Sementara itu, dalam pembentukan kelompok sosial ada dasarnya tersendiri. Dasar pembentukan kelompok Sosial, diantaranya adalah:

  • Common Ancestry – Kesatuan genealogis atau faktor keturunan.

Kesatuan genealogis adalah kelompok-kelompok sosial yang terbentuk atas dasar persamaan darah dan keturunan. Diawali dari terbentuknya keluarga batih kemudian menjadi keluarga besar dan berkembang menjadi kerabat. Melalui proses yang sangat panjang kerabat-kerabat ini akan membentuk kelompok-kelompok suku bangsa dalam kuantitas yang kecil, menengah hingga kelompok suku bangsa yang besar.

  • Kesatuan religius

Kesatuan religius adalah kelompok sosial yang terbentuk atas dasar persamaan agama atau kepercayaan tertentu. Melalui kesamaan agama atau kepercayaan inilah terbangun komunikasi dan kerjasama yang erat antara anggota yang tersebar di dalam lingkungan negara, benua, bahkan seluruh penjuru dunia.

  • Daerah asal yang sama – Kesatuan territorial ( community)

Kesatuan teritorial adalah kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat yang terbentuk atas dasar persamaan wilayah tempat tinggal, misalnya RT, RW, kelurahan, desa, kabupaten atau provinsi.

  • Common Interest – Kesatuan kepentigan ( asosiasi)

Asosiasi atau kesatuan kepentingan adalah kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat yang terbentuk atas dasar persamaan-persamaan kepentingan. Perwujudan konkritnya misalnya PSSI, kelompok-kelompok kesenian, kelompok-kelompok dagang seperti firrma, koperasi dan lain sebagainya.

Bentuk-Bentuk/ Klasifikasi Kelompok Sosial

  1. Berdasarkan Sikap Anggota Terhadap Kelompoknya & Kelompok Lain yaitu dikelompokkan menjadi kelompok In-group dan out-group

In Group adalah kelompok sosial dimana individu mengidentifikasikan dirinya dengan kelompoknya. Sedangkan kelompok sosial out-group adalah kelompok sosial yang oleh individu diartikan sebagai lawan dari in group-nya.  Perasaan in group maupun out group didasari pada suatu sifat yang dinamakan dengan etnosentris. Yaitu adanya anggapan bahwa kebiasaan-kebiasaan dalam kelompoknya merupakan yang terbalik dibanding dengan kelompok lainnya.

  1. Berdasarkan Besar Kecilnya Jumlah Anggota yaitu digolongkan menjadi Primary group dan secondary group

Dalam hal ini digunakan klasifikasi berdasarkan perbedaan antara kelompok kecil dimana hubungan anggotanya rapat sekali, dan kelompok yang lebih besar. Kelompok primer atau face to face group merupakan kelompok sosial yang paling sederhana dimana anggotanya saling mengenal serta ada kerja sama yang erat. Contohnya adalah keluarga, kelompok sepermainan, dan lain sebagainya.

Adapun kelompok sekunder adalah kelompok yang terdiri dari banyak orang, yang sifat hubungannya tidak berdasarkan pengenalan secara pribadi dan juga tidak langgeng. Contohnya adalah hubungan kontrak jual beli.

  1. Berdasarkan Sifat Ikatan Antar Anggota yaitu terdapat kelompok sosial Paguyuban dan patembayan

Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Dasar hubungannya adalah rasa cinta, misalnya keluarga dan kelompok kekerabatan. Sedangkan patembayan adalah ikatan untuk jangka waktu yang pendek bersifat formal dan mekanis. Misalnya ikatan antar pedagang serta organisasi buruh dalam suatu pabrik.

  1. Berdasarkan Interaksinya di kelompokkan menjadi Membership group dan reference group

Membership group adalah suatu kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Reference group adalah kelompok sosial yang menjadi ukuran bagi seseorang (bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk pribadi dan perilakunya

            Sumber :

Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Yad Mulyadi dkk. 2013. Sosiologi SMA Kelas XI. Jakarta: Yudhistira

Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyatno. 2006. Sosiologieks Peng : Tantar & Terapan. Jakarta : Kencana.


Leave a Reply