SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
PERTUKARAN DAN RESIPROSITAS
November 16th, 2015 by Daula Mega Safitri

Sumbang-menyumbang menimbulkan kewajiban membalas dalam kehidupan masyarakat yang disebut resiprositas atau hubungan timbal balik pada waktu upacara-upacara berlangsung, seperti : upacara perkawinan. Orang memberikan sumbangan pada pesta-pesta tidak selalu dengan rasa rela atau spontan. Orang menyumbang itu karena terpaksa oleh suatu jasa yang pernah diberikan dan menyumbang untuk mendapat pertolongan lagi di kemudian hari. Dalam beberapa hal orang sering memperhitungkan dengan tajam tiap jasa yang pernah disumbangkan kepada sesamanya, dengan harapan keras bahwa jasa-jasanya itu akan dikembalikan dengan tepat pula. Tanpa bantuan sesamanya, orang tidak bisa memenuhi berbagai macam keperluan hidupnya dalam masyarakat. Tentu ada pula aktivitas tolong-menolong yang dilakukan dengan rela dan spontan. ada salah satu dari warga masyarakat punya hajatan perkawinan maka setiap keluarga akan menyumbang pada penyelenggara perkawinan. Setiap individu melakukan kegiatan nyumbang agar mereka tidak memperoleh sindiran karena dianggap sebagai warga masyarakat yang membangkang. Keluarga yang kurang mampu akan meminjam uang atau istilahnya ngutang pada tetangganya yang hidupnya lebih berkecukupan. Hal ini dilakukan agar masyarakat tidak menganggap sebagai seseorang yang melawan aturan yang sudah berlaku di masyarakat.

Nyumbang yang semula lebih sering dalam bentuk barang dan inisiatif datang dari penduduk setempat sekarang semakin berubah bentuknya menjadi uang. Dengan sendiri sumbangan barang tidaklah sekuat dalam hajatan perkawinan seperti di pedesaan. Adapun mengenai tradisi nyumbang yang dalam bentuk barang, yang relatif masih banyak dilakukan oleh penduduk desa, telah mulai ada kecenderungan semakin berubah di kota menjadi bentuk uang. Masyarakat kota bebas dari realitas alam, hidup tidak tergantung pada subur atau tidak suburnya alam lagi, mereka bekerja dalam bidangbidang pemerintahan, perdagangan dan jasa dengan orientasi utama berupa pemenuhan kebutuhan hidup diperoleh melalui perdagangan yang dinilai dengan uang. Dengan demikian uang memegang peranan penting sebagai alat tukar. Tidak semua orang memiliki luas rumah dan halaman yang memungkinkan di selenggarakannya suatu upacara perkawinan apalagi untuk menaruh sumbangan barang dalam jumlah yang banyak.

Bagi masyarakat kota upacara perkawinan memerlukan tempat yang memadai untuk menaruh berbagai sumbangan dalam bentuk barang. Secara umum rumah didaerah perkotaan tidak memungkinkan lagi guna menyelenggarakan hajatan perkawinan karena tidak semua masyarakat yang tinggal dikota memiliki rumah yang luas untuk dijadikan tempat resepsi dan menaruh sumbangan barang dari tamu undangan Di daerah perkotaan masyarakat memberikan sumbangan dalam bentuk uang setiap ada hajatan perkawinan, dan penyumbang diberi bingkisan oleh yang punya hajat. Sumbangan ini adalah salah satu bentuk tolong-menolong yang meringankan beban yang punya hajat. Dalam hal ini saling memberi bermakna untuk saling membalas, artinya pemberian akan dicatat dalam ingatan, yang pada suatu saat nanti akan dibalas seharga, pemberiannya.

Resiprositas melandasi pola-pola saling bantu yang khas pada perayaan-perayaan, seperti pesta perkawinan, apabila kewajiban-kewajiban seremonial suatu keluarga melampaui kemampuan mereka, baik dalam hal tenaga kerja maupun dalam hal keperluan-keperluan materiil. Dalam hal yang demikian, keluarga yang membantu mengetahui bahwa mereka dapat mengharapkan balas jasa  yang kira-kira sepadan di kemudian hari. Kewajiban untuk membalas budi merupakan satu prinsip moral yang paling utama yang berlaku bagi hubungan baik antara pihak-pihak yang sederajat maupun antara pihak-pihak yang tidak sederajat.

Karena tidak semua masyarakat memiliki rumah yang luas untuk menempatkan barang dari hasil sumbangan maupun untuk tonjokan dan tamu undangan, maka sebagian banyak masyarakat yang memiliki uang yang lebih biasanya memilih untuk menyewa gedung yang digunakan dalam acara pernikahan. Acara pernikahan digedung lebih mudah karena tempat yang luas dan acara terstruktur. Namun hanya masyarakat menengah keatas yang biasanya menyewa gedung untuk mengadakan pernikahan dikarenakan harus mengeluarkan banyak uang untuk menyewa gedung.

  • Rumusan Masalah
  1. Bagaimana perilaku resiprositassumbangan pada pesta pernikahan dalam masyarakat menengah ke atas?
  2. Apa akibat jika tidak mengembalikan sumbangan?
    • Tujuan Penelitian
  3. Mengetahui resiprositas sumbangan pada pesta pernikahan dalam masyarakat menengah ke atas

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Pernikahan merupakan peristiwa yang sangat disakralkan baik dari segi agama ataupun masyarakat luas. Pernikahan sendiri memiliki pengertian suatu ikatan janji setia antara suami dan istri yang di dalamnya terdapat suatu tanggung jawab dari kedua belah pihak. Peristiwa pernikahan memang masih dianggap begitu sakral dalam masyarakat bahkan hingga sekarang, sehingga tidak heran jika setiap keluarga yang hendak menikahkan anak-anak mereka selalu mengadakan pesta perayaan yang begitu meriah atau yang biasa disebut denga  resepsi pernikahan.

Dalam masyarakat menengah ke atas yang biasa hidup di perkotaan, perayaan resepsi pernikahan biasa digelar digedung-gedung atau bahka dihotel berbintang. Namun yang perlu digaris bawahi adalah, bahwa setiap kali masyarakat menggelar pesta pernikahan terdapat perilaku menarik dalam hal sumbang-menyumbang yang berlangsung selama resepsi pernikahan itu digelar.

Ibu Diana (55 tahun) berprofesi sebagai wiraswasta, ibu separuh baya ini bisa dibilang sebagai single parent yang sukses karena berhasil mengantarkan ke-empat anaknya hingga sekolah menengah atas, bahkan hingga lulus sarjana dan sekarang anak terakhirnya tengah belajar di akademi kesehatan sebagai bidan. Selain itu, ibu hartinah juga memiliki usaha seperti mebel dan salon. Ibu Diana pada tahun yang lalu, menggelar acara ngunduh mantu. Ngunduh mantu merupakan istilah dalam masyarakat jawa yang artinya adalah resepsi pernikahan yang digelar oleh pihak keluarga mempelai laki-laki. Resepsi pernikahan tersebut berlangsung di gedung Wanita yang terletak di Jepara Jawa Tengah. Acara tersebut berlangsung pada malam hari selama kurang lebih 2jam dan dihadiri oleh 500 undangan. Menurut ibu Diana sendiri, prosedur pemesanan gedung di Gedung Wanita tersebut dengan cara ia diberi brosur oleh pihak gedung. Dalam brosur tersebut terdapat piihan harga paket lengkap mulai dari catering makanan, rias pengantin, mc atau pembawa acara, fotografer, album pernikahan, semua sudah masuk dalam paket tersebut. ibu hartinah sendiri memilih paket 500 undangan dengan harga 25juta pada waktu itu. Konsep pernikahan digedung seperti ini memang diminati di msayarakat perkotaan, mengingat luas tanah ataupun rumah tidak memungkinkan untuk menggelar sebuah pesta, selain itu pernikahan digedung juga lebih praktis dan tidak membuang terlalu banyak tenaga. Berbeda dengan pernikahan yang digelar dirumah yang masih sering kita jumpai dipedesaan.

Pesta pernikahan yang digelar ibu Diana dihadiri oleh 500 undangan hal ini disesuaikan dengan pilihan paket yang disediakan dari gedung Wanita. Lima ratus tamu tersebut dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok mempelai laki-laki yang menggelar resepsi dan kelompok besan yang biasanya disediakan tempat duduk tersendiri. Pihak undangan dari ibu Diana sendiri kebanyakan hanya kerabat dekat saja, mengingat resepsi yang digelar saat itu hanyalah dalam rangka ngunduh mantu saja. Konsep pernikahan yang digelar di gedung Wanita tersebut didominasi dengan adat jawa, tata letak kotak sumbangan berada dipinggir pintu masuk. Kotak sumbangan merupakan wadah yang disediakan oleh tuan rumah sebagai tempat sumbangan dari tamu yang hadir. Tamu yang memberi sumbangan biasanya daam bentuk uang dan dimasukkan dalam amplop untuk kemudian dimasukkan dalam kotak sumbangan tersebut. inilah yang menjadi analisis penelitian yang kami lakukan. Karena memang setiap pergelaran pesta pernikahan selalu terdapat konsep sumbang-menyumbang yang sudah dikenal dalam masyarakat sejak dulu. Sumbang-menyumbag atau yang biasa dikenal dengan resiprositas ini biasanya dilakukan karena dua faktor, yaitu sukarela dan faktor balas jasa. Balas jasa disini maksudnya adalah pihak tamu memberi sumbangan sesuai dengan nominal yang pernah ia terima ketika ia menggelar resepsi pula. Misal dalam kasus ibu Diana adalah, ibu Diana mendapatkan sumbangan dari bapak x sebesar 50rb. Ketika bapak x menggelar resepsi pernikahan maka bu Diana juga akan menyumbang sebesar 50rb.

Berbicara masalah sumbang-menyumbang dalam pernikahan memang erat kaitanya dengan berbicara masalah karakter dalam masyarakat dan juga karakter individu tersebut pula. Resiprositas dalam pernikahan juga bisa dilakukan dalam bentuk uang ataupun barang. Seperti yang diterima ibu Diana ketika mengadakan resepsi tersebut. meskipun pada umum nya yang memberi sumbangan kepada ibu Diana didominasi oleh bentuk uang. Tetapi, ada pula beberapa kerabat dekat nya juga ada yang memberi barang. Barang tersebut berupa kebutuhan pokok yang bila di uangkan mencapai 500rb-700rb. Tapi itu hanya beberapa orang saja, selain itu ada pula kerabat mempelai yang memberi sumbangan berupa barang atau kado yang bila diuangkan antara 35-75 rupiah, karena rata-rata isinya berupa sprei, handuk, dan prabot rumah tangga seperti gelas. Berbeda dengan sumbangan berupa uang, rata-rata isi amplop yang diterima oleh ibu Diana sebesar 30rb dan 50rb, tetapi ada beberapa orang juga yang memberi 100rb, ada  satu dua orang juga yang memberi uang sampai nominal Rp 500.000-1,000.000. Biasanya yang memberi sumbangan dengan nominal sebesar itu adalah kerabat sendiri. Semua hasil sumbangan yang diterima kemudian dicatat satu-per satu sebagai patokan ketika hendak menyumbang ke orang yang sama ketika menggelar hajat pula. Berbeda dengan ibu Diana yang menggelar resepsi pernikahan dalam rangka ngunduh mantu, bapak riyanto dan ibu sri hajarwati ini mengadakan resepsi pernikahan putrinya yang bernama Heny setyawati. Bapak riyanto dan sang istri adalah seorang PNS. Memiliki dua putri, dan heny setyawati adalah putri yang kedua. Resepsi pernikahan tersebut digelar secara eksekutif karena hanya kerabat-kerabat dekat saja yang diundang. Resepsi pernikahan itu sendiri digelar di masjid al-ikhlas berlangsung sekitar 3 jam. Tidak jauh berbeda dengan ibu hartinah, bapak riyanto memilih cara praktis dengan menyewa gedung dan terima beres. Mulai dari jamuan tamu yang hadir, rias pengantin, hiburan pengajian, pembawa acara, dan dokumenter semua sudah termasuk satu paket dengan harga 60 juta. Bapak riyanto sendiri mengaku tamu undangan hanya sekitar 300 undangan saja, 60 diantaranya adalah keluarga besan. Hal ini dilakukan karena ia menginginkan sebuah acara yang berlangsung khidmad. Konsep pernikahan yang dilangsungkan adalah konsep pernikahan jawa tapi dengan suasana yang begitu islami. Selama resepsi berlangsung bapak riyanto juga memasang kotak sumbangan dipinggir pintu masuk.

Resiprositas atau sumbang-menyumbang dalam pernikahan yang berlangsung dalam hajat yang digelar oleh bapak riyanto sendiri memang sedikit berbeda dengan ibu Diana Mengingat tamu yang undang oleh bapak riyanto adalah rekan-rekan kerja sesama PNS dan kerabat-kerabat yang umum nya berprofesi sebagai dosen. Jadi bentuk yang diterima hanyalah berupa uang dan kado untuk sang pengantin. Meskipun undangan hanya terbatas, namun amplop yang diterima dari catatan bapak riyanto juga menunjukkan nominal yang begitu besar, yakni minimal 100 ribu sampai dengan nominal 1 juta. Hal ini memang dianggap wajar oleh bapak riyanto, karena memang bapak riyanto mengaku biasanya ketika dirinya menyumbang ke resepsi orang lain uang yang diberikan juga rata-rata 100 ribu.

Resiprositas sumbang-menyumbang yang berlangsung di dua keluarga yakni keluarga ibu Diana dan keluarga bapak riyanto memang ada perbedaan. Perbedaan tersebut dapat ditinjau berdasarkan hasil sumbangan yang mereka terima dan kemudia dikelompokkan berdasarkan kedudukan dan statsu sosial yang berlangsung di masyarakat.  Ibu Diana mengaku amplop yang ia terima rata-rata besarnya adalah 30-50rb, ini menunjukkan bahwa keluarga ibu hartinah adalah keluarga menengah. Sedangkan bapak riyanto adalah keluarga dengan kelas sosial yang tinggi.

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Perilaku resiprositas dalam sebuah pesta pernikahan dipengaruhi faktor dua hal yakni karena balas jasa dan karna alasan kekerabatan. Seseorang memberikan sumbangan dengan besarnya nominal disesuaikan dengan catatan yang ia miliki. Artinya, seseorang akan mengeluarkan ongkos kepada orang lain yang sebanding dengan jasa yang pernah ia terima pula dari seseorang tersebut.  begitu juga dengan kekerabatan, alasan kekeluargaan memang masih dipegang sebagian besar masyarakat Indonesia. Sehingga antar keluarga selalu menanamkan rasa tidak nyaman atau rasa tidak enak yang begitu kuat. Sehingga ketika salah satu kelaurga nya ada yang memiliki hajatan, kelarga juga turut menyumbang dan dengan nominal yang tidak sedikit. Hal ini bukan didasari karena rasa sukarela tetapi karena atas dasar rasa perkewuh tersebut. Besar kecilnya nominal yang didapatkan dilihat juga dari status sosialnya.

 


6 Responses  
  • arif ponco putranto writes:
    November 21st, 20154:36 pmat

    artikelnya cukup membantu untuk menambah informasi

  • Qudwah Hayati writes:
    November 28th, 20153:53 pmat

    referensi harap di cantumkan

  • indah kumallasari writes:
    November 28th, 20154:47 pmat

    good job kakak 🙂

  • Ivan Alfiansyah writes:
    November 28th, 20155:26 pmat

    tolong dirapikan rata kanan dan kirinya ya, biar sedap dipandang mata :v

  • lia suprapti writes:
    November 28th, 201511:00 pmat

    Resiprositas yg cukup menarik

  • kartika95 writes:
    November 29th, 20157:36 pmat

    bagus, menambah wawasan ilmu


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar