Materi Kelas XII SMA Mata Pelajaran Antropologi : Karya Klmiah Dan Metode Penelitian Antropologi

Karya Ilmiah

karya ilmiah adalah suatu karangan yang berdasarkan penelitian yang ditulis secara sistematis, berdasarkan fakta di lapangan, dan dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah. Karya tulis ilmiah sebagai sarana komunikasi ilmu pengetahuan yang berbentuk tulisan demgan menggunakan sistematika yang dapat diterima oleh komunitas keilmuan melalui suatu sistematika penulisan yang disepakati.

Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik berupa skripsi, tesis, dan disertasi. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik yang bersifat teknis, berisikan apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. Isinya disajikan secara lugas dan objektif. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat umum biasanya disajikan dalam bentuk artikel yang cenderung menyajikan hasil penelitian dan aplikasi dari hasil penelitian tersebut dalam subtansi keilmuannya.

Lanjut membaca

Materi Kelas XII SMA Mata Pelajaran Antropologi : Relativitas, Ketahanan, Inovasi Dan Asimilasi Budaya

Relativitas Budaya

Menurut Clifford Geertz, meskipun masyarakat Indonesia telah terbentuk sejak 1945 tetapi penduduk multi etnis, multi agama, multi bahasa, dan multi rasial cenderung menelusuri identitasnya pada hal-hal yang asli seperti dari mana mereka berasal dan dibesarkan.

 Dalam rangka hidup berkelompok, penduduk akan mencari, membentuk atau memasuki organisasi yang anggota-anggotanya berasal dari agama, bahasa, etnik, dan ras yang dianggap sama. Hal yang demikian itu oleh Geertz dilihat sebagai pengelompokan yang keanggotaannya didasari ikatan primordial. Dalam konteks lokal keindonesiaan, di mana pola perikehidupan beragama sangat beragam dan plural, relativisme budaya merupakan salah satu cara terbaik untuk menuju sikap arif dan bijak dalam melihat perbedaanperbedaan kebudayaan. Tetapi hal terpenting bahwa dalam keberagaman budaya yang ada di Indonesia ini adalah kita tidak boleh memahami perilaku kelompok lain hanya dengan membandingkan kebiasaan dan perilaku budaya sendiri.

Lanjut membaca

Materi Kelas XII SMA Mata Pelajaran Antropologi : Proses Globalisas Dan Strategi Mempertahankan Dan Memperkuat Nilai-Nilai Budaya Indonesia

Pengertian Globalisasi

Globalisasi berasal dari kata globalisasi yang berasal dari kata “global” yang artinya universal. Globalisasi merupakan suatu proses antar individu, antar kelompok, dan antar negara yang saling berinteraksi, bergantung, dan saling memengaruhi satu sama lain dengan batas negara. Sedangkan menurut para ahli, pngertian globalisasi adalah sebagai berikut :

  1. Achmad Suparman, globalisasi merupakan suatu proses (benda atau perilaku) dari setiap individu yang tidak memiliki batas wilayah.
  2. Emmanuel Ritcher, globalisasi merupakan sebuah jaringan kerja global yang secara bersamaan menyatukn masyarakat yang berada di penjuru dunia untuk saling ketergantungan dan mempersatukan dunia.
  3. Thomas L. Friedman, globalisasi memiliki dua dimensi, yaitu dimensi ideologi dan dimensi teknologi. Dimensi ideologi adalah kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensi teknologi adalah teknologi informasi yang menyatukan dunia.

 

Pengertian Nilai

Pengertian nilai apabila dilihat dari segi bahasa berarti kadar, mutu, atau sifat yang penting dan berguna untuk kehidupan manusia. sedangkan menurut para ahli, nilai adalah sebagai berikut:

  1. Anthony giddens, nilai berupa gagasan-gagasan yang di,iliki olehseseorang atau kelompok tentang apa dikehendaki, apa yang layak, dan apa yang baik serta buruk.
  2. Horton dan Hunt, nilai adalah gagasan-gagasan yang menjelaskan apakah sesuatu tersebut penting atau tidak penting.
  3. Richard T. Schafer dan Robert P. Lamn, nilai merupakan gagasan kolektif yang terkait dengan sesuatu yang dianggap baik, penting, diinginkan dan dianggap layak.

Faktor penyebab munculnya globalisasi

Globalisasi yang berkembang sekarang ini tidak terjadi begitu saja. Akan tetapi ada faktor penyebab munculnya globalisasi, diantaranya:

  • Majunya IPTEK yang mempermudah dalam hal jasa pengiriman barang ke luar negeri.
  • Berkembangnya IPTEK yang mempunyai peran dalam menjamin kemudahan dalam bertransaksi ekonomi ke luar negeri.
  • Adanya kerjasama dalam bidang ekonomi internasional yang semakin mempermudah terjadinya kesepakatan-kesepakatan antar negara yang menjalin hubungan dengan erat.

Pengaruh globalisasi dalam bidang kebudayaan

Globalisasi sangat berpengaruh kedalam semua aspek kehidupan didalam masyarakat, salah satunya adalah budaya. Kebudayaan merupakan nilai-nilai atau values yang dianut oleh masyarakat. Globalisasi adalah sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu ke seluruh penjuru dunia. Pengaruh globalisasi dalam bidang budaya dapat dilihat sebagai berikut:

  • Disorientasi, dislokasi, atau krisis sosial budaya dikalangan masyarakat yang semakin lama menetrasi dan mengekspanasi buadaya barat.
  • Semakin meluasnya masyarakat meniru budaya barat seperti McDonali-sasi, valentine’s Day, From’s Night.
  • Semakin meningkatnya kaum kapitalis dalam masyarakat.
  • Semakin bertambahnya masyarakat yang mengenakan pakaian seperti masyarakat barat.

Pengaruh globalisasi dalam bidang IPTEK

Informasi dan Komunikasi (IPTEK) sangat berpengaruh terhadap globalisasi yang semakin menjamur dikalangan dunia. Kemajuan teknologi informasi juga mengakibatkan perubahan yang cukup signifikan dalam kehidupan masyarakat, antara lain:

1) Akses informasi semakin mudah dan cepat, sehingga untuk mencapai suatu tempat tanpa memandang jarak dan batas negara.

2) Negara menghadapi tantangan terutama dalam menghadapi perekmbangan IPTEK.
3) Negara tidak dapat sepenuhnya mengatur arus teknologi dan informasi baik yang positif maupun yang negatif.

Cara mengatasi globalisasi di bidang sosial dan budaya

Adanya perubahan sosial yang diakibatkan oleh adanya globalisasi menyebabkan memudarnya jati diri bangsa. Jati diri atau uman character adalah suatu sifat, watak, rasa, akal, kehendak, semangat, roh kesadaran, dan kekuatan yang terdapat dalam diri manusia sebagai hasil dari proses belajar mengenai nilai-nilai budaya yang luas. Berikut ini merupakan beberapa cara yang digunakan untuk mengatasi memudarnya jati diri bangsa adalah dengan membentuk kepribadian bangsa sebagai berikut:

  1. Religius
  2. Humanis
  3. Naturalis
  4. Terbuka
  5. Demokratis
  6. Integrasi dan harmoni
  7. Nasionalisme dan patriotism
  8. Berkomitmen terhadap kebenaran
  9. Jujur dan adil
  10. Profesional
  11. Ber-IPTEK
  12. Etis dan moralis
  13. Kepatuhan terhadap hokum
  14. Berjiwa kemasyarakatan
  15. Berjiwa kultural
  1. Berjiwa seni dan estetika

Dampak globalisasi

Berlangsungnya globalisasi yang berkembang sekarang ini menimbulkan dampak baik positif maupun negatif. Dampak tersebut adalah:

  • Dampak posistif globalisasi
  1. Tingkat pembanguna yang semakin tinggi
  2. Mudahnya mendapatkan informasi dan ilmu pngetahuan
  3. Komunikasi yang semakincepat dan mudah
  4. Meningkatnya taraf hidup dari masyarakat
  5. Meningkatnya turisme dan pariwisata
  6. Meningkatnya ekonomi yang lebih produktif, efektif, dan efisien
  • Dampak negatif globalisasi
  1. Informasi yang tiddak terkendali
  2. Munculnya sikap individualism
  3. Berkurangnya sikap solidariitas, gotong royong. Kepedulian, dan kesetiakawanan
  4. Sulit berkembangnya perusahaan dalam negeri karena lebih mementingkan perusahaan yang dari luar negeri
  5. Terkikisnya budaya bangsa

Contoh Pengaruh Globalisasi terhadap sosial Budaya Indonesia

  1. Dahulu orang bermain permainan tradisional yang mengutamakan kebersamaan tetapi
    sekarang orang cenderung bermain computer, PS.
  2. Dahulu orang memakan makanan tradisional, dan jarang makan makanan siap saji, tapi
    sekarang banyak orang yang memakan makanan junk food yang tidak menyehatkan
  3. Dahulu orang beramai-ramai nonton wayang, atau TV di desa, tapi sekarang semuanya dapat menonton TV sendiri-sendiri di rumahnya
  4. Dahulu, orang mengutamakan kerjasama, gotong royong, tetapi sekarang banyak orang yang mengutamakan dirinya sendiri
  5. Dahulu, perempuan memakai pakaian yang tertutup, tetapi sekarang banyak perempuan yang memakai pakaian yang terbuka
  6. Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu kita sering dengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur bahasa Inggris seperti ‘OK’, ‘No problem’ dan ’Yes’, bahkan kata-kata makian (umpatan) sekalipun yang sering kita dengar di film-film barat, sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  7. Munculnya majalah-majalah Amerika dan Eropa versi Indonesia seperti : Bazaar,
    Cosmopolitan ,Spice,FHM, (for Him Magazine) ,Good Housekeeping ,Trax, dan sebagainya. Begitu juga membanjirnya program tayangan dan produk tanpa dapat dibendung. Sehingga terhadap prilaku masyarakat dan budaya lokal, karena globalisasi media dengan segala yang dibawanya seperti lewat televisi, radio, majalah, koran, buku film, VCD, HP, dan kini lewat internet sedikit banyak akan berdampak pada kehidupan masyarakat.
    h. Munculnya kesetaraan gender

Daftar Pustaka

Mubah, A Safril. 2001. Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi. Vol 24 No 2. Jurnal UNAIR: Surabaya

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Suparmin, Lia Candra dan Subitantoro, S. 2014. Sosiologi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk Kelas SMA/MA Kelas XI. Surakarta: Mediatama

Lanjut membaca

Materi Kelas XII SMA Mata Pelajaran Antropologi : Kesetaraan Dan Hubungannya Dengan Perubahan Sosial Budaya

Kesetaraan

Pada dasarnya kesetaraan sama halnya dengan kesederajatan. Kesetaraan sendiri berasal dari kata setara atau sederajat. Sehingga segala sesuatu yang sederajat tidak menunjukkan adanya tingkatan yang lebih rendah atau yang lebih tinggi. Kesetaraan dapat dilihat dari dua aspek, yaitu manusia dan sosialnya. Kesetaraan manusia merupakan kesetaraan yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Manusia diciptakan dengan tingkat atau kedudukan yang sama. Hal ini dikarenakan manusia merupakan makhluk yang mulia dan tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk yang lain. Sedangkan kesetaran sosial merupakan kesetaraan yang bersifat personal. Di dalam masyarakat seseorang memiliki status yang sama, baik dalam mengajukan pendapat, kebebasan berbicara, memperoleh hak suara, mendapatkan perlindungan hukum yang sama, mendapatkan keamanan, dan lain sebagainya.

 

Kesetaraan atau kesederajatan mempunyai prinsip yang mensyaratkan dalam menjamin persamaan derajat, hak, dan kewajiban. Beberapa hal yang menjadi indikator kesederajatan adalah :

  1. Adanya persamaan derajat yang dilihat dari aspek agama, suku bangsa, ras, gender, dan golongan.
  2. Adanya persamaan hak yang dilihat dari segi pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang layak.
  3. Membangun suatu pola komunikasi untuk menciptakan interaksi antar umat beragama, media masa, dan harmonisasi dunia.

Pengertian Perubahan Sosial Budaya

  • Max Weber

Pengertian perubahan sosial budaya menurut pendapat Max Weber bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan situasi dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsur-unsur di dalamnya (ditulis dalam buku Sociological Writings)

  • Selo Soemardjan

Selo Soemardjan mengemukakan pendapat mengenai perubahan sosial : adalah semua perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat,di mana perubahan tersebut memengaruhi sistem sosialnya. Perubahan sosial yang dimaksud mencakup nilai-nilai dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Proses Perubahan Soaial Budaya

Tahukah kamu, bagaimana suatu perubahan sosial budaya terjadi dalam masyarakat? Proses perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat umumnya dilakukan melalui akulturasi, asimilasi, dan difusi.

  1. Akulturasi

Akulturasi adalah proses bertemunya dua budaya atau lebih di mana unsur-unsur budaya lama atau asli masih terlihat dan tidak hilang. Misalnya, proses percampuran budaya Jawa dengan budaya Islam yang saling memengaruhi. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa akulturasi adalah proses masuknya pengaruh budaya asing ke dalam suatu masyarakat di mana sebagian masyarakat menyerap secara selektif dan sebagian lain berusaha menolaknya.

  1. Asimilasi

Proses bertemunya dua budaya atau lebih yang bercampur menjadi satu dalam bentuk budaya baru, sementara budaya aslinya tidak tampak disebut asimilasi. Proses asimilasi berlangsung secara intensif dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga unsur-unsur dan wujud tiap budaya lebur menjadi unsur dan wujud budaya yang lebih dinamis. Asimilasi berbeda dengan akulturasi. Dalam akulturasi, setiap budaya masih memiliki identitas konkret, sedangkan dalam asimilasi, identitas budaya dari setiap budaya asli yang mengalami kontak budaya lebur menjadi unsur dan wujud budaya baru yang jauh berbeda dengan budaya aslinya.

  1. Difusi

Difusi adalah proses penyebaran atau perembesan suatu unsur budaya dari seseorang kepada orang lain, atau dari suatu kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat lainnya. Prinsip yang pertama dari difusi adalah unsur-unsur kebudayaan itu pertama-tama akan diambil alih masyarakat yang paling dekat hubungannya atau letaknya paling dekat dari sumbernya. Baru kemudian, kebudayaan baru tersebut diambil oleh masyarakat yang jauh hubungan atau letaknya jauh dari sumber unsur budaya baru.

  1. Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial Budaya 

Proses perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor pendorong maupun faktor penghambat.

  1. Faktor Pendorong Perubahan Sosial Budaya

Beberapa faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial budaya antara lain sebagai berikut.

  • Kontak dengan kebudayaan lain.
  • Sistem pendidikan yang maju.
  • Sikap menghargai hasil karya orang lain dan keinginan kuat untuk maju.
  • Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang.
  • Sistem pelapisan masyarakat yang terbuka.
  • Keadaan masyarakat yang majemuk.
  • Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
  • Orientasi hidup ke masa depan.
  • Senantiasa ada keinginan untuk memperbaiki tingkat kehidupan, artinya tidak mudah menyerah pada keadaan.
  1. Faktor Penghambat Perubahan Sosial Budaya

Kamu sudah tahu faktor apa saja yang menjadi pendorong perubahan sosial budaya. Nah, tahukah kamu, faktor apa saja yang menjadi penghambat perubahan sosial budaya? Sekarang, kamu akan belajar beberapa faktor yang dapat menjadi penghambat perubahan (rasistance to change) sosial budaya dalam masyarakat yaitu sebagai berikut.

  • Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.
  • Perkembangan ilmu pengetahuan yang terhambat.
  • Sikap masyarakat yang sangat tradisional.
  • Dalam masyarakat terdapat kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat (vested interest).
  • Adanya prasangka buruk terhadap hal-hal baru.
  • Rasa takut akan terjadi keguncangan integrasi.
  • Adanya hambatan yang bersifat ideologis.
  • Hambatan yang bersifat adat dan kebiasaan.
  • Adanya anggapan bahwa pada hakikatnya hidup ini buruk dan tidak mungkin diperbaiki.

Daftar Pustaka

Nurhadi, Budi dkk. 2006. Jelajah Cakrawala Sosial untuk Kelas IX. Bandung: PT.Karsa Mandiri Persada

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Suparmin, Lia Candra dan Subitantoro, S. 2014. Sosiologi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk Kelas SMA/MA Kelas XI. Surakarta: Mediatama

 

Materi Kelas XI SMA Mata Pelajaran Antropologi : Metode Etnografi Dan Manfaatnya Dalam Mencari Solusi Berbagai Permasalahan Sosial-Budaya.

Etnografi adalah berasal dari kata ethnos yang berarti bangsa dan graphein yang berarti tulisan atau uraian. Jadi berdasarkan asal katanya, etnografi berarti tulisan tentang/ mengenai bangsa. Namun pengertian tentang etnografi tidak hanya sampai sebatas itu. Burhan Bungin ( 2008:220) mengatakan etnografi merupakan embrio dari antropologi. Artinya etnografi lahir dari antropologi di mana jika kita berbicara etnografi maka kita tidak lepas dari antropologi setidaknya kita sudah mempelajari dasar dari antropologi.
Etnografi, diinjau secara harfiah, berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa, yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan ( field work ) selama sekian bulan, ataau sekian tahun. Penelitian antropologis untuk menghasilkan laporan tersebut begitu khas, sehingga kemudian istilah etnografi juga digunakan untuk mengacu pada metode penelitian untuk menghasilkan laporan tersebut. etnografi bukan sekedar mengumpulkan data tentang orang atau kebudayaan, melainkan menggalinya lebih dalam lagi.

Lanjut membaca

Materi Kelas XI SMA Mata Pelajaran Antropologi : Perubahan Budaya dan Melemahnya Nilai-Nilai Tradisional

Kebudayaan dan masyarakat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kebudayaan dihasilkan oleh masyarakat dan tidak ada masyarakat yang tidak berbudaya. Dengan kata lain, budaya ada karena adanya masyarakat dan dalam masyarakat pasti berbudaya. Setiap masyarakat tentunya akan mengalami perubahan, bahkan masyarakat yang kita anggap sebagai masyarakat yang tradisional dan stagnan sesungguhnya telah melalui tahap-tahap perubahan dalam kebudayaan yang mereka miliki. Perubahan budaya menekankan pada perubahan sistem nilai yang mengatur tingkah laku masyarakat. Perubahan kebudayaan di dalam masyarakat dipengaruhi oleh banyak factor, dan setiap masyarakat memiliki proses yang berbeda-beda dalam melalui perubahan kebudayaan. Perubahan kebudayaan di dalam masyarakat tentunya memiliki dampak negatif dan positif. Dibawah ini akan diuraikan tentang perubahan budaya dan melemahnya nilai-nilai tradisional.

Lanjut membaca

Materi Kelas XI SMA Mata Pelajaran Antropologi : Persamaan dan Perbedaan Budaya, Bahasa, Dialek, Tradisi Lisan yang Ada di Masyarakat Setempat

Penggunaan Bahasa dan Dialek dalam Masyarakat Kehidupan bermasyarakat tidak akan lepas dari peranan bahasa yang digunakan oleh anggota-anggotanya. Bahasa sendiri banyak ragamnya, terkait dengan bermacam-macam kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat. Bahasa merupakan sarana yang digunakan manusia untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya. Tanpa bahasa, kebudayaan akan sulit diterjemahkan dan diterima oleh generasi penerus karenanya bahasa bersifat simbolis. Hal tersebut mengandung arti bahwa melalui bahasa, suatu perkataan dapat melambangkan arti apapun, meskipun hal atau benda yang dilambangkan oleh kata tersebut tidak ada. Kebudayaan sendiri merupakan proses hasil belajar, di mana bahasa berperan vital di dalamnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bahasa memiliki peran sebagai cara atau alat bagi orangtua dalam mewariskan kebudayaan dan bagi anak sebagai cara atau alat untuk mempelajari kebudayaan tersebut.

Lanjut membaca

Materi Kelas XI SMA Mata Pelajaran Antropologi : Pemetaan budaya, masyarakat pengguna bahasa dialek, dan tardisi lisan di suatu daerah dan nusantara

Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya bersifat majemuk, yaitu masyarakat yang terdiri dari berbagai kebudayaan, ras, agama, bahasa dan sebagainya. Meskipun masyarakat Indonesia bersifat majemuk tetapi ada perbedaan dan persamaan seperti bahasa, dialek, dan tradisi lisan. Masyarakat pengguna bahasa dialek mempelajari juga bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa pemersatu. Keberagaman masyarakat Indonesia melahirkan bahasa yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. kemudian dalam daerah itu sendiri terdapat masyarakat yang memiliki dialek bahasa yang berbeda-beda pula. Untuk itu sebagai pemersatu bangsa digunakanlah bahasa Indonesia.

Lanjut membaca

Materi Kelas XI SMA Mata Pelajaran Antropologi : Keterkaitan Antara Keberagaman Budaya, Bahasa Dialek, Tradisi Dengan Kehidupan Masyarakat Dalam Suatu Daerah

Sampai saat ini para ahli bahasa belum memperoleh rumusan yang jelas serta tegas mengenai batas-batas yang dapat membedakan antara bahasa dan dialek yang berkembang dalam masyarakat. Menurut Panitia Atlas Bahasa-Bahasa Eropa dialek adalah sistem kebahasaan yang dipergunakan oleh suatu masyarakat untuk membedakannya dari masyarakat lain yang mempergunakan sistem bahasa yang berlainan, meskipun erat hubungannya. Di dalam analisis ilmu bahasa, dialek bersinonim dengan istilah logat, yakni cara berbicara yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok penutur bahasa yang membedakannya dari cara berbicara atau berkomunikasi yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang pemakai bahasa lainnya.


Menurut Meillet ciri utama sebuah dialek adalah perbedaan dalam kesatuan serta kesatuan dalam perbedaan. Selain itu, terdapat dua ciri lain yang melekat pada dialek, antara lain :

  1. Dialek ialah seperangkat bentuk ujaran setempat yang berbeda-beda yang memiliki ciri-ciri umum dan masing-masing lebih mirip dibandingkan dengan bentuk ujaran lain dari bahasa yang sama;
  2. Dialek tidak harus mengambil semua bentuk ujaran dari sebuah bahasa.

Menurut Claude Fauchet, dialek pada mulanya ialah mots de leur terroir (kata-kata di atas tanahnya) yang di dalam perkembangannya menunjuk kepada suatu bahasa daerah yang layak dipergunakan di dalam karya-karya sastra dan bahasa daerah.

Di dalam perkembangannya, salah satu dialek bahasa daerah tersebut mulai diterima sebagai bahasa baku oleh berbagai daerah pemakai dialek-dialek karena adanya unsur subjektif maupun objektif. Beberapa faktor yang menentukan diterimanya suatu dialek bahasa daerah menjadi bahasa baku atau negara adalah faktor politik, kebudayaan, ekonomi, dan ilmiah.

Selain itu, munculnya bahasa baku tersebut didorong oleh adanya kebutuhan dari beberapa kelompok masyarakat yang saling terpisah untuk bisa saling berkomunikasi. Dengan demikian, bahasa baku adalah satu bahasa atau dialek yang dipilih oleh berbagai kelompok masyarakat untuk Pada masa penjajahan, ragam bahasa baru juga dapat dihasilkan dari aktivitas perkebunan saling berkomunikasi. Dipilihnya suatu dialek menjadi bahasa baku disebabkan karena bahasa atau dialek tersebut dianggap lengkap kosa katanya oleh masyarakat pemakainya. Bentuk dan pemakaian bahasa baku ini akan menjadi model percontohan bagi seluruh rakyat. Di dalam praktiknya, seseorang yang akan berbahasa akan menyesuaikan diri dengan orang yang akan diajak bicara. Selain itu, seseorang penutur bahasa tersebut biasanya akan mencoba untuk menyesuaikan diri dengan bentuk serta pemakaian bahasa yang telah dipakai secara luas di dalam masyarakat. Dengan demikian, di dalam penggunaan bahasa, terjadi proses tarikmenarik antara pemakaian bahasa standar dengan bahasa lokal.

Karena di antara bahasa daerah atau dialek-dialek lokal tersebut terdapat salah satu bahasa daerah yang dibakukan atau diangkat menjadi bahasa nasional maka dalam kaitannya dengan perkembangan bahasa nasional, bahasa daerah atau dialek-dialek lokal tersebut akan mewarnai atau memengaruhi pertumbuhan bahasa nasional tersebut. Selain memiliki beragam bahasa daerah yang merupakan bahasa ibu suatu suku bangsa, bangsa Indonesia juga memiliki bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatuan yang diangkat dari bahasa Melayu. Di dalam penggunaan bahasa Indonesia, setiap ragam bahasa daerah memengaruhi pemakaian bahasa Indonesia sehingga terjadi inferensi dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia karena setiap suku memiliki ciri khas di dalam penggunaan bahasa Indonesianya yang disebut ciri-ciri etnik bahasa Indonesia.

Karena adanya ciri-ciri etnik di dalam penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional maka di berbagai daerah di Indonesia dikenal adanya bahasa Indonesia berdialek bahasa daerah. Misalnya, bahasa Indonesia dialek Aceh, bahasa Indonesia dialek Minangkabau, bahasa Indonesia dialek 170 Khazanah Antropologi SMA 1 dan Jawa pada masa penjajahan. Lahirnya bahasa pijin (pidgin) diakibatkan oleh adanya pertemuan sebagian penduduk dengan penduduk bangsa lain di tempat yang terpisah dari pusat pemukiman karena adanya aktivitas perdagangan, perusahaan perkebunan, dan penjajahan yang menghasilkan ragam bahasa campuran antara bahasa dua bangsa yang berbeda. Variasi bunyi dan aturan tata bahasa campuran tersebut merupakan campuran bunyi dua bahasa yang berbeda. Sunda, bahasa Indonesia dialek Jawa, bahasa Indonesia dialek Madura, bahasa Indonesia dialek Bali, bahasa Indonesia dialek Banjar, bahasa Indonesia dialek Bugis, bahasa Indonesia dialek Manado, atau bahasa Indonesia dialek Ambon.

Selain adanya variasi bahasa dan dialek-dialek dalam bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh dialek-dialek lokal, di Indonesia terdapat variasi bahasa lain yang hampir sama cirinya dengan dialek etnik yang disebut variasi bahasa pijin. Bahasa pijin adalah ragam bahasa campuran antara dua bangsa yang berbeda. Misalnya, campuran bahasa Belanda dan Jawa pada masa penjajahan. Lahirnya bahasa pijin (pidgin) diakibatkan oleh adanya pertemuan sebagian penduduk dengan penduduk bangsa lain di tempat yang terpisah dari pusat pemukiman karena adanya aktivitas perdagangan, perusahaan perkebunan, dan penjajahan yang menghasilkan ragam bahasa campuran antara bahasa dua bangsa yang berbeda. Variasi bunyi dan aturan tata bahasa campuran tersebut merupakan campuran bunyi dua bahasa yang berbeda.

Sumber :

Catur, Atiek. 2009. Khazanah Antropologi 1 : untuk kelas XI SMA dan MA. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Purti, Royani. “Materi Ajar Antropologi Kelas XI”. 6 Desemer 2015. blog.unnes.ac.id/adeputriroyani/2015/12/06/materi-             ajar-antropologi-kelas-xi-2/#more-111  

Lanjut membaca

Materi Kelas X SMA Mata Pelajaran Antropologi : Budaya lokal, budaya nasional, budaya asing, hubungan antar budaya di era globalisasi

Budaya Lokal

Budaya lokal biasanya didefinisikan sebagai budaya asli dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Menurut J.W. Ajawaila, budaya lokal adalah ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Akan tetapi, tidak mudah untuk merumuskan atau mendefinisikankonsep budaya lokal. Menurut Irwan Abdullah, definisi kebudayaan hampir selalu terikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas. Misalnya, budaya Jawa yang merujuk pada suatu tradisi yangberkembang di Pulau Jawa. Oleh karena itu, batas geografis telah dijadikan landasan untuk merumuskan definisi suatu kebudayaan lokal. Namun, dalam proses perubahan sosial budaya telah muncul kecenderungan mencairnya batas-batas fisik suatu kebudayaan. Hal itu dipengaruhi oleh faktor percepatan migrasi dan penyebaran media komunikasi secara global sehingga tidak ada budaya lokal suatu kelompok masyarakat yang masih sedemikian asli.

Kemajemukan budaya lokal di Indonesia tercermin dari keragaman budaya dan adat istiadat dalam masyarakat. Suku bangsa di Indonesia, seperti suku Jawa, Sunda, Batak, Minang, Timor, Bali, Sasak, Papua, dan Maluku memiliki adat istiadat dan bahasa yang berbeda-beda. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh dan berkembang sesuai dengan alam lingkungannya. Keadaan geografis yang terisolir menyebabkan penduduk setiap pulau mengembangkan pola hidup dan adat istiadat yang berbeda-beda. Misalnya, perbedaan bahasa dan adat istiadat antara suku bangsa Gayo-Alas di daerah pegunungan Gayo-Alas dengan penduduk suku bangsa Aceh yang tinggal di pesisir pantai Aceh.

Lanjut membaca