Kampung Laut (Kuliah Kerja Lapangan smt 3)

Kamis , 06 october 2016 Jurusan Sosiologi dan Antropologi melakukan kajian lapangan ke Cilacap. Tepatnya di Desa Ujung gagak, Segara Anakan kecamatan kampung laut, kabupaten Cilacap Jawa tengah. Kampung laut terbagi menjadi 4 Desa yakni Desa Ujung Gagak, Klaces, Desa Ujung Alang dan Desa Panikel.

Dari pelabuhan selako ke Kecamatan Kampung laut kami lewat jalur perairan yakni dengan menggunakan kapal dan melewati banyak sekali hutan bakau. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih memerlukan waktu selama 3 jam. Selama perjalanan kami melewati 2 Desa seperti Desa Ujung Alang dan Desa klaces, dan setelah itu baru lah Desa yang kami tuju, yaitu Desa Ujung Gagak. Setelah sampai di Desa Ujung Gagak kami di sambut oleh masyarakat Desa yang terlihat saat sampai banyak sekali masyarakat Desa beserta anak-anak yang datang melihat kedatangan kami.

Kami berada di Desa Ujung Gagak  selama sehari untuk kajian lapangan mengenai masyarakat kampung laut, khususnya Desa Ujung Gagak. Setelah kami terjun langsung kemasyarakat, penyambutan mereka sangat antusias sekali terutama bapak suprapto (KEPALA DESA UJUNG GAGAK) yang menyambut kami dengan ramah tamah. Masyarakat Ujung Gagak ini sebagian besar berkerja sebagai nelayan dan sebagian kecil petani. Persentase nya 70% nelayan dan 30 % petani (Suprapto, 06 october). Agama yang di anut masyarakat Kampung laut yakni Islam Kejawen, Islam NU, Islam Muhammadiyah, dan Kristen Protestan serta kepercayaan lokal.

Menurut bapak Suprapto masyarakat yang menganut agama Islam NU dengan masyarakat yang menganut Islam Kejawen diantara mereka kurang harmonis. Karena masyarakat Islam NU tidak menghargai kepercayaan Islam kejawen. Yakni pada acara sedekah Laut dan sedekah bumi, masyarakat yang menganut agama Islam NU tidak mau berpartisipsi dalam rangka persiapan sedekah Laut. Dalam sedekah laut masyarakat menyiapkan apa yang di butuhkan sarana prasarananya secara bersama-sama, setiap kepala keluarga iuran sukarela masing-masing sebesar 50.000-150.000. hasil uang tersebut dapat di gunakan untuk membeli peralatan yang akan di butuhkan pada sedekah laut tersebut.

Sedekah laut di lakukan setiap tahun pada bulan syuro malam jum’at kliwon. Sedekah laut dilakukan untuk menghormati ibu Ratu nyi Roro kidul. Karena telah memberikan kelancaran mereka yang sebagian besar sebagai nelayan.

Masyarakat yang menganut Islam NU menganggap hal itu adalah perbuatan syirik, yakni tidak di perbolehkan itu sesat. Hal inilah yang membuat masyarakat penganut agama islam Kejawen dengan NU tidak harmonis. Karena masyarakat penganut islam kejawen menganggap masyarakat penganut islam NU tidak menghargai kepercayaan mereka. Namun dalam pendidikan mereka bersatu tidak  membedakan islam kewawen dan islam NU. Pendidikan pada masyarakat kampung Laut sudah cukup maju. Terlihat adanya SD, SMP, dan SMA. Untuk pergi ke Sekolah anak-anak Kampung Laut ada yang nyeberang untuk menuju sekolah,transportasi perairan telah di sediakan staf pemerintahan Desa untuk menyediakan transportasi khusus untuk anak-anak sekolah yaitu compreng,namun hal itu tidak mematahkan semangat mereka. Sudah banyak lulusan sarjana di kampung laut ini, ada yang sekarang ini menempuh pendidikannya di Unniversitas Negeri Semarang (Suprapto,06 october)

Masyarakat ujung gagak sudah memiliki sekolah sendiri yakni ada SD, guru-guru yang mengajar di sinipun menggunakan strategi masing-masing untuk meningkatkan minat belajar peserta didik, misalkan saja guru mengajak berolahraga terlebih dahulu sebelum belajar. Hal ini dapat meningkatkan semangat belajar anak-anak (Suprapto, 06 october)

Selain itu masyarakat Kampung Laut ini juga memiliki tradisi-tradisi turun temurun yakni :

  1. Sedekah laut dilakukan secara kolektif masyarakat dan secara Individu. (bagi yang sudah ada perjanjian ghaib;Dukun)
  2. Tradisi larungan adalah puncak pertama
  3. Partisipan : seluruh masyarakat dan nelayan wajib di pimpin oleh kepala adat
  4. Tradisi di teruskan dengan wayang kulit (memusnahkan rintangan-rintangan)
  5. Biaya tradisi ; iuran seikhlasnya sesuai dengan penghasilan
  6. Selalu di lakukan setiap tahunnya jika tidak di percaya akan mendatangkan musibah kepada masyarakat
  7. Kalau membangun rumah, diatap rumah harus di kasih kain rumah yang berwarna merah untuk erang-erang untuk keselamatan Rumah.
  8. Sedekah laut sesaji lengkap dengan perhiasan
  9. Persembahan sesaji sebagai wujud syukur
  10. Sedekah bumi : Sesaji (Di letakan di jalan dan di kubur kepala kambing di kubur di tanah.
  11. Sedekah laut : Sesaji dan kepala kambing di larung laut
  12. Seni kuda lumping dan sintren

Tradisi lainnya adalah gotong royong, kaitannya agar saling membantu antar tetangga yang melalui kegiatan hajat. Tradisi kerukunan kematian kegiatan tradisi kaitannya dengan ritual ini dikatakan sebagai puncaknya dan harus melaksanakan ruwat wayang kulit salah satunya mengandung sejarah bahwa ritual ini untuk memusnahkan rintangan-rintangan yang datang tidak seizin Allah tradisi dengan kaitannya dengan keselamatan, pernikahan, kendurean adalah tradisi.

Sesambetan adalah tanaman yang di percaya untuk hal kesehatan kesembuhan berbagai penyakit. Untuk pendatang tidak boleh langsung tidur setibanya di kampung laut dan cuci muka terlebih dahulu dengan air di segara anakan. Hal ini dilakukan sebagai simbol kenalan. Kepercayaan mengenai gula jawa yang di suguhkan kepada pendatang, namun sekarang tidak begitu berlaku.

Tentang Darma yunita

Darma yunita, lahir di Embacang,palembang 11 maret. mahasiswa UNNES

Tulisan ini dipublikasikan di Tugas kuliah. Tandai permalink.

Satu Respon untuk Kampung Laut (Kuliah Kerja Lapangan smt 3)

  1. Isinya cukup menarik hanya saja tidak terdapat foto-foto di postingan ini. Mungkin bisa ditambahkan beberapa foto-foto saat di kampung laut agar dapat lebih menarik. Semangat!

Tinggalkan Balasan