Download MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt dengan selesainya penulisan modul sertifikasi kompetensi pada unit kompetensi Menentukan Kebutuhan Pelatihan Individu, dengan harapan modul ini menjadi acuan dalam melaksanakan program yang lebih terarah dan terencana.

Modul ini disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 31 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional yang mengamanatkan bahwa pelatihan kerja sudah sepatutnya berbasis kompetensi.

Dalam rangka menerapkan pelatihan berbasis kompetensi tersebut diperlukan adanya standar kompetensi kerja sebagai acuan yang diuraikan lebih rinci ke dalam program, kurikulum dan silabus serta modul pelatihan.

Untuk memenuhi salah satu komponen dalam proses pelatihan tersebut maka disusunlah modul pelatihan berbasis kompetensi. Modul pelatihan berbasis kompetensi terdiri dari 3 buku yaitu buku informasi, buku kerja dan buku penilaian. Ketiga buku tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana buku yang satu dengan yang lainnya saling mengisi dan melengkapi, sehingga dapat digunakan untuk membantu pelatih dan peserta pelatihan untuk saling berinteraksi.

Demikian modul pelatihan berbasis kompetensi ini kami susun, semoga bermanfaat untuk menunjang proses pelaksanaan pelatihan di lembaga pelatihan kerja.

Semarang, 28 Oktober 2020

LEMBAGA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DAN PROFESI (LP3) UNNES

Dr. Ngabiyanto

Download MODUL EKO S

Eko Supraptono: Guru Kesulitan Kembangkan Ide Buat PTK

RABU, 2 NOVEMBER 2011 | 14:01 WIB


Eko Supraptono: Guru Kesulitan Kembangkan Ide Buat PTK
Guru SMK cenderung mengalami kesulitan mengembangkan ide dalam menulis penelitian tindakan kelas (PTK). Kurang membudayanya tradisi menulis menjadi penyebab utama.

Hal tersebut mengemuka dalam ujian terbuka disertasi Eko Supraptono, di gedung G kampus Pascasarjana Unnes, Rabu (2/11). Dosen Fakultas Teknik Unnes mengemukakan hal itu saat mempertahankan disertasinya “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru dalam Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas” dengan promotor Prof Mursid Saleh PhD dan kopromotor Prof Dr H Tri Raharjo dan Prof Sukestiyarno PhD. Disertasi itu didasarkan pada penelitian di SMK negeri se-Kota Semarang.

Eko juga menyatakan guru yang profesional salah satunya dicirikan oleh kinerjanya dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK). “Namun, kinerja guru dalam melaksanakan PTK belum memadai atau masih rendah,” ungkapnya.

Ada sejumlah temuan lain yang ia paparkan. Menurutnya, kinerja guru dalam melaksanakan PTK secara nyata dipengaruhi oleh motivasi guru melaksanakan penelitian, kompetensi guru, dan budaya organisasi sekolah. “Kepemimpinan tranformatif juga berpengaruh terhadap motivasi guru meneliti, budaya organisasi sekolah, serta berpengaruh secara tidak langsung terhadap kinerja guru dalam melaksanakan PTK,” kata laki-laki kelahiran Tegal, 2 September 1961 ini.

Dosen Pendidikan Teknik Elektro itu mengemukakan, diklat profesional berpengaruh secara signifikan terhadap kompetensi guru dan motivasi guru meneliti, serta berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru dalam melaksanakan PTK. “Selain itu, model konsep peningkatan kinerja dengan fit dapat dikonstruksi berdasarkan konfigurasi variabel gaya kepemimpinan transformatif kepala sekolah, budaya organisasi sekolah, pendidikan dan pelatihan profesional, kompetensi guru, serta motivasi meneliti,” katanya.

Atas temuan tersebut, dia menyarankan kepala sekolah untuk memainkan peran sebagai pembina, pengarah, dan evaluator dalam kerangka peningkatan kualitas guru. “Di sisi lain, guru seyogianya selalu meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan motivasi diri sehingga dalam melaksanakan perannya secara optimal,” katanya.

Saran lainnya, pemerintah perlu terus meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan para guru di bidang penelitian. “Selain itu, peneliti sejawat perlu melakukan kajian lebih mendalam dengan sudut pandang dari variabel-variabel lain yang barang kali jauh lebih berdampak,” sarannya.

Diambil dari sumber : http://unnes.ac.id/berita/eko-supraptono-guru-masih-kesulitan-mengembangkan-ide/