Lewat ke baris perkakas

Materi Antropologi Kelas X BAB 4

Perilaku Menyimpang dan Sub Kebudayaan Menyimpang

1. Pengertian Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.

Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain. Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok.

Bruce J. Cohen berpendapat bahwa perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Gillin berpendapat bahwa perilaku menyimpang adalah perilaku yang menyimpang dari norma dan nilai sosial keluarga dan masyarakat yang menjadi penyebab memudarnya ikatan atau solidaritas kelompok. Sedangkan Lewis Coser mengemukakan bahwa perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Sedangkan James Vander Zenden menyatakan bahwa penyimpangan sosial adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi. Paul B. Horton  mengutarakan bahwa penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat. Robert M.Z. Lawang berpendapat penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang itu.

2. Sebab-Sebab Perilaku Menyimpang

a.       Hasil Sosialisasi yang Tidak Sempurna (Ketidaksanggupan Menyerap Norma-Norma Kebudayaan)

Menutut teori sosialisasi, perilaku manusia baik yang menyimpang maupun yang tidak dikendalikan oleh norma dan nilai yang dihayati, apabila sosialisasi tidak sempurna akan menghasilkan perilaku yang menyimpang. Sosialisasi yang tidak sempurna timbul karena nilai-nilai atau norma-norma yang dipelajari kurang dapat dipahami dalam proses sosialisasi sehingga seseorang bertindak tanpa memperhitungkan risiko yang akan terjadi.

Contohnya, anak sulung perempuan dapat berperilaku seperti laki-laki sebagai akibat sosialisasi yang tidak sempurna di lingkungan keluarganya, karena bertindak sebagai ayahnya yang telah meninggal. Di lain pihak, televisi secara tidak langsung mengajarkan hal-hal yang tidak baik, sedangkan orang tua di rumah selalu membimbing ke hal-hal yang baik. Proses sosialisasi seakan-akan tidak sempurna karena adanya pertentangan antara agen-agen sosialisasi yang satu dengan yang lain. Lama kelamaan akan terjadi penyimpangan sosial di masyarakat

b.      Hasil Sosialisasi dari Nilai-Nilai Subkebudayaan Menyimpang

Shaw dan Mc. Kay mengatakan bahwa daerah-daerah yang tidak teratur dan tidak ada organisasi yang baik akan cenderung melahirkan daerah kejahatan. Di daerah-daerah yang demikian, perilaku menyimpang dianggap sebagai sesuatu yang wajar yang sudah tertanam dalam kepribadian masyarakat itu. Dengan demikian, proses sosialisasi tersebut merupakan proses pembentukan nilai-nilai dari subkebudayaan yang menyimpang.

Contohnya, di suatu daerah perampokan terdapat nilai dan norma yang menyimpang. Dan hal itu sudah menjadi hal yang wajar bagi anggota kelompok setempat. Perilaku tersebut merupakan penyakit mental yang berpengaruh pada masyarakat. Sehubungan dengan itu Emile Durkheim mengenalkan konsep Anomi/Anomie, adalah keadaan yang kontras antara pengaruh subkebudayaan-subkebudayaan dan kenyataan sehari-hari dalam masyarakat. Yang seakan-akan di masyarakat tersebut tidak ada pedoman yang harus ditaati bersama. Akibat tidak adanya keselarasan yang mengakibatkan samar-samar arahnya. Akhirnya mereka memilih cara atau jalannya sendiri-sendiri yang tidak jarang perilaku-perilaku menyimpang.

c.       Proses Belajar yang Menyimpang

Mekanisme proses belajar perilaku menyimpang sama halnya dengan proses belajar terhadap hal-hal lain yang ada di masyarakat. Proses belajar itu dilakukan terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan menyimpang. Misalnya, seorang anak mula-mula hanya mencuri uang dari orang tuanya seribu rupiah kemudiam semakin lama nominalnya semakin banyak, dan mengarah ke benda berharga lain. Penjelasan ini menerangkan bahwa anak tersebut terproses mempelajari cara-cara beroperasi hal menyimpang tersebut.

d.      Ikatan Sosial yang Berlainan

Dalam masyarakat, setiap orang biasanya berhubungan dengan beberapa kelompok yang berbeda. Hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut akan cenderung membuatnya mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang paling dihargainya.Dan kemudian tertanamlah pola-pola sikap perilaku kelompoknya di dirinya. Dan apabila menyimpang, kemungkinan besar juga akan sama. Misal, seorang anak yang memiliki kelompok kebut-kebutan di jalan, maka kemungkinan dia juga akan meniru.

e.       Ketegangan antara Kebudayaan dan Struktur Sosial

Setiap masyarakat tidak hanya memiliki tujuan-tujuan yang dianjurkan oleh kebudayaannya, tetapi juga cara-cara yang diperkenankan oleh kebudayaannya itu untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan. Apabila seseorang tidak diperkenankan menggunakan cara ini, maka kemungkinan besar akan ada perilaku menyimpang. Misal seorang buruh diberi gaji dibawah standar UMK, jika hal ini terjadi terus menerus bukan tidak mungkin buruh tersebut akan menyimpang dengan melakukan boikot atau demo.

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_menyimpang (diunduh 12 Desember 2015)

http://mydhayostya.blogspot.co.id/2013/11/perilaku-menyimpang-dan-sikap-sikap_4619.html (diunduh 24 Desember 2015)

Lanjut membaca

Materi Antropologi Kelas X BAB 3

Internalisasi Nilai-nilai Budaya dalam Pembentukkan Kepribadian dan Karakter

 

Definisi Internalisasi

Secara etimologis, dalam kaidah bahasa Indonesia kata yang berakhiran-isasi mempunyai definisi sebuah proses. Sehingga internalisasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses. Dalam kamus besar bahasa Indonesia internalisasi diartikan sebagai penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan dan sebagainya.

Proses internalisasi merupakan proses yang kita dapat sejak kita lahir, dengan memperoleh aturan-aturan melalui sebuah komunikasi, seperti sebuah sosialisasi dan pendidikan. Dalam proses internalisasi pola-pola budaya ditanamkan kedalam sistem syaraf individu yang kemudian di bentuk menjadi sebuah kepribadian. Proses internalisasi, adalah proses yang berlangsung sepanjang hayat dari individu, yaitu dimulai dari dilahirkan sampai akhir hayatnya. Sepanjang hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang membentuk kepribadiannya. Perasaan pertama yang diaktifkan dalam kepribadian saat bayi dilahirkan adalah rasa puas dan tak puas, yang menyebabkan ia menangis. Manusia memiliki bakat yang telah terkandung dalam gen untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat , nafsu dan emosi dalam kepribadian individunya. Tetapi wujud dan pengaktifannya sangat dipengaruhi oleh berbagai macam stimulasi yang berada dalam alam sekitar, lingkungan sosial maupun budayanya.

Media dalam internalisasi budaya

Proses internalisasi pada dasarnya tidak hanya didapatkan dari keluarga, melainkan juga didapat dari lingkungan kita. Lingkungan yang dimaksud tersebut adalah lingkungan sosial. Secara tidak sadar kita telah dipengaruhi oleh berbagai tokoh masyarakat, seperti kyai, usztad, guru, dan lain-lain. Dari situlah kita dapat memetik beberapa hal yang kita dapatkan dari mereka yang kemudian kita menjadikannya sebagai sebuah kepribadian dan kebudayaan kita.

Internalisasi merupakan suatu proses penenaman nilai tentang budaya. Dalam penanaman dan penumbuhkembangan nilai tersebut dilakukan melalui berbagai didaktik-metodik pendidikan dan pengajaran, seperti pendidikan, pengarahan indoktrinasi, brain-washing, dan lain sebagainya.

Persoalan yang muncul di masyarakat kita, seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupn politik yang tidak produktif, dan sebagainya menjadi konsumsi keseharian di media massa. Seolah, tidak ada hari tanpa berita korupsi, kekerasan dan pola-pola licik para licikwan. Hal seperti ini dipicu akibat sebuah proses internalisasi yang salah bagi seseorang, yang membudayakan hal-hal yang buruk semacam ini.

Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat. Misalnya melalui sebuah materi pembentuka karakter sebuah bangsa yang dimana di dalamnya membahas tentang sebuah nilai-nila budaya yang dapat diintegrasikan sebagai pembelajaran, misalnya :

  1. Religius

Merupakan sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

  1. Jujur

Merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

  1. Toleransi

Merupakan sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

  1. Disiplin

Merupakan suatu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

  1. Kerja Keras

Merupakan sebuah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

  1. Kreatif

Merupakan berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

  1. Mandiri

Merupakan Melatih sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

  1. Demokratis

Merupakan cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

  1. Rasa Ingin Tahu

Merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

  1. Semangat Kebangsaan

Merupakan cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

  1. Cinta Tanah Air

Merupakan cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

  1. Menghargai Prestasi

Merupakan sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

  1. Bersahabat/Komuniktif

Merupakan tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

  1. Cinta damai

Merupakan sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

  1. Peduli Lingkungan

Merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

  1. Tanggung-jawab

Merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip ini, peserta didik dapat belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial. Dalam pendidikan budaya tersebut juga terdapat beberapa tujuan :

  1. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa
  2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religious
  3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa
  4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan
  5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.

Manfaat internalisasi

Manfaat internalisasi adalah untuk pengembangan, perbaikan dan penyaringan dalam hal buadaya. Dalam manfaat pengembangan memiliki manfaat sebagai pengembangan potensi seseorang untuk menjadi pribadi dan memiliki perilaku yang baik agar seseorang  yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa. Kemudian dalam manfaat perbaikan adalah untuk memperkuat kepribadian yang bertanggung jawab dalam pengembangan seorang individu yang lebih bermartabat; dan dalam manfaat penyaring bertujuan untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat agar tidak terjadi suatu goncangan budaya.

Hubungan Internalisasi dan Pembentukan Kepribadian Individu

      Internalisasi yaitu proses penyerapan nilai-nilai dan norma-norma oleh masyarakat ; proses belajar untuk berdaptasi terhadap keadaan, kondisi, dan lingkungan. Sedangkan kepribadian yaitu bahwa seseorang mempunyai beberapa ciri watak yang diperlihatkannya secara lahir, konsisten, dan konsekuen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dari individu-individu lainnya. Gejala ini tumbuh berangsur-angsur dalam masyarakat diakibatkan oleh proses sosialisasi dan internalisasi. Selain itu, kepribadian seseorang juga dipengaruhi banyak hal.

  1. Proses Pembentukan Kepribadian

Manusia  dalam perkembangan dan pertumbuhan kepribadian dipengaruhi oleh 2 faktor , yaitu factor pembawaan (Gen/DNA). Berupa skap ciri fisik tubuh, dan kebiasan. Dan factor pengalaman terbentuk dari proses belajar individu di lingkungannya. Misalnya di sekolah, rumah, tempat bermain, media massa, dll.

  1. Terbentuknya Kepribadian
  • Melalui sosialisasi norma-norma, pola-pola tingkah laku, dan nilai-nilai cultural secara langsung atau tidak langsung. Kemudian melalui bentuk-bentuk interaksi kelompok kesemuanya diterima dan diperhatikan oleh individu yang tengah terbentuk kepribadiannya, dan kemudian diinternalisasikan kedalam mentalnya.
  • Di dalam mental, segala norma dan pola yang diinternalisasikan tidak dalam keadaan pecah melainkan menyatu menghasilkan organisasi kehidupan.
  •  Organisasi kepribadian telah terbentuk maka dapat dikatakan telah terbentuk kepribadian.
  1. Faktor yang Memengaruhi dalam Perkembangan Kepribadian
  • Warisan Biologis dan kepribadian

Setiap warisan biologi seseorang besifat unik, artinya tidak seorang pun (kecuali anak kembar) yang mempunyai karakteristik fisik yang sama. Banyak orang percaya bahwa kepribadian seseorang tidak lebih dari sekedar penampilan warisan biologisnya. Namun dewasa ini tidak banyak lagi yang masih mempercayai anggapan ini. Karena  sekarang ini diketahui karakteristik kepribadian dibentuk oleh pengalaman hidup seseorang.

  •  Lingkungan Fisik dan Kepribadian

Ellsworth Huntington, menekankan bahwa perbedaan perilaku kelompok terutama disebabkan oleh perbedaan iklim, topografi, dan sumber alam. Pernyataan itu memang mempengaruhi kepribadian seseorang.

  • Kebudayaan dan Kepribadian.

Dari pengalaman social yang sebenarnya umum bagi seluruh anggota masyarakat tertentu, timbullah konfigurasi kepribadian yang khas dari anggota masyarakat tertentu. Sehingga masyarakat mempunyai kepribadian yang berbeda tergantung pada budaya yang mempengaruhinya.

  • Pengalaman Kelompok dan Kepribadian

1)     Kelompok refrens/acuan (reference group)

Yaitu sepanjang hidup seseorang kelompok-kelompok tertentu menjadi model penting sebagai gagasan atau norma-norma yang memengaruhi perilaku seseorang. Seperti, Kelompok Keluarga.

2 ) Kelompok majemuk dan sosialisasi.

Masyarakat yang kompleks/majemuk memiliki banyak kelompok dan kebudayaan khusus dengan standar yang berbeda dan kadang kala bertentangan. Contohnya, remaja yang nyaman bergaul dengan kelompok sebayanya, karena mereka merasa dihargai dan terima sebagai seorang individu meski terkadanng ada hal-hal yang bertentangan.

  •  Pengalaman yang Unik dan Kepribadian

Setiap individu tidak mendapatkan  pengalaman yang sama, mungkin pernah mendapatkan pengalaman serupa dalam beberapa hal dan berbeda dalam hal lainnya. Hal ini karean setiap anak memilki suatu unit/kesatuan keluarga yang berbeda. Seperti halnya  setiap anak (kecuali anak kembar identik) yang mempunyai warisan biologis yang unik, yang benar-benar tidak seorangpun yang menyamainya, demikian pula dengan suatu rangkaian pengalaman hidup yang unik tidak dapat benar-benar disamai oleh pengalaman siapa pun.

Daftar Pustaka :

Afiandry, 2012. Antropologi (diakses di http://afiardy.blogspot.co.id/ pada 24 Desember 2015 pukul 11:29 WIB)

Yuniarji, 2014. Hubungan Internalisasi dan pembentukan kepribadian (diakses di http://yuniarij.blogspot.co.id/2014/11/hubungan-internalisasi-dan-pembentukan.html pada 24 Desember pukul 11:29 WIB)

Materi Antropologi Kelas X BAB 2

Budaya, Perwujudan, Unsur, Isi atau Substansi Budaya, dan Nilai Budaya

 

Masyarakat indonesia tidak dapat lepas dari berbagai budaya yang ada di dalam lingkungannya. Berbagai budaya memiliki perwujudan yang berbeda sesuai dengan kebiasaan dan adat yang berlaku dalam masyarakatnya. Setiap kebudayaan memiliki unsur unsur dan substansi yang mengandung nilai dan makna tersendiri bagi masyarakat pemilik kebudayaan. Dan hal itu menjadikan sebuah kebudayaan berbeda dengan kebudayaan lainnya dan menjadi ciri khas yang unik bagi masyarakat tersebut. Lanjut membaca

Materi Antropologi Kelas X BAB 1

Konsep Dasar, Peran Fungsi, Dan Keterampilan Antropologi Dalam Mengkaji Kesamaan Dan Keberagaman Budaya, Agama, Religi/Kepercayaan, Tradisi, Dan Bahasa

1. Pengertian

      Anthropology berarti “ilmu tentang manusia”, dan adalah suatu istilah yang sangat tua. Dahulu istilah itu digunakan dalam arti yang lain, yaitu “ilmu tentang ciri-ciri tubuh manusia” (malahan pernah juga dalam arti “ilmu anatomi”).

      Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Antropologi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata. Lanjut membaca

Materi Sosiologi Kelas XI BAB 5

Integrasi dan Reintegrasi Sosial Sebagai Upaya Pemecahan Masalah Konflik dan Kekerasan

 

Pengertian integrasi

Pembaruan sesuatu tertentu yang menjadu kestauan utuh merupakan definisi integrasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Integrasi sosial merupakan suatu proses penyesuaian dan pemersatuan elemen-elemen yang berbeda dalam masyarakat. Elemen-elemen yang berada dalam masyarakat meliputi perbedaan kedudukan, agama, sosial, ras, etnik, sistem nilai, norma, bahasa dan kebiasaan. Nilai dan norma sosial yang berkembang di masyarakat sendiri berlaku dalam kurun waktu yang cukup lama, tidak mudah berubah dan dijadikan secara konsisten oleh seluruh anggota masyarakat. Lanjut membaca

Materi Sosiologi Kelas XI BAB 4

Konflik, Kekerasan, dan Upaya Penyelesaiannya

 

  1. Pengaruh Diferensiasi Sosial dan Stratifikasi Sosial

Secara umum, diferensiasi dan stratifikasi sosial memberikan pengaruh positif dan negative pada masyarakat. Pengaruh positifnya, diferensiasi dan stratifikasi sosial dapat mendorong terjadinya integrase sosial, sedangkan pengaruh negatifnya adalah terjadinya disintegrasi sosial. Diferensiasi sosial dapat menimbulkan primordialisme, etnosentrisme, politik aliran, dan terjadinya proses konsolidasi. Lanjut membaca

Materi Sosiologi Kelas XI BAB 3

Perbedaan, Kesetaraan, dan Harmoni Sosial

Perbedaan sosial

Indonesia merupakan salah satu negara yang majemuk. Hal ini dapat dilihat dari keanekaragaman yang dimiliki oleh Indonesia. Dimana Indonesia terdiri dari suku bangsa, ras, etnis, dan agama yang berbeda-beda. Oleh karena itu, keragaman ini menyebabkan masing-masing masyarakat yang ada Indonesia tidak mudah untuk disatukan dengan masyarakat yang lain. Hal ini dikarenakan masing-masing suku bangsa memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan yang dimiliki masyarakat Indonesia tersebut menyebabkan adanya perbedaan tingkah laku dan aktivitas dalam melangsungkan kehidupan kesehariannya. Lanjut membaca

Materi Sosiologi Kelas XI BAB 2

Permasalahan Sosial dalam Masyarakat

Pengertian permasalahan sosial dalam masyarakat

Pada dasarnya permasalahan sosial merupakan sebuah gejala atau fenomena yang muncul dalam realitas kehidupan bermasyarakat. Dalam mengidentifikasi permasalahan sosial yang ada di masyarakat berbeda-beda antara tokoh satu dengan lainnya. Sedangkan pengertian permasalahan sosial oleh beberapa ahli adalah sebagai berikut:

  1. Menurut Soerjono Soekanto, masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial.
  2. Menurut Soetomo masalah sosial adalah sebagai suatu kondisi yang tidak diinginkan oleh sebagian besar warga masyarakat.
  3. Menurut Lesli, masalah sosial sebagai suatu kondisi yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan sebagian besar warga masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diinginkan atau tidak disukai dan karena perlunya untuk diatasi atau diperbaiki.
  4. Menurut Martin S. Weinberg, masalah sosial adalah situasi yang dinyatakan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai oleh warga masyarakat yang cukup signifikan, dimana mereka sepakat dibutuhkannya suatu tindakan untuk mengubah situasi tersebut.

Permasalahan sosial merupakan fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat. Permasalahan sosial muncul dalam masyarakat karena adanya interaksi sosial diantara masyarakat dalam memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidupnya. Pada dasarnya interaksi sosial yang berlangsung dalam masyarakat bersifat asosiatif dan disosiatif. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif akan menghasilkan gejala-gejala sosial yang normal sehingga dalam masyarakat akan terjadi keteraturan sosial, sedangkan interaksi sosial yang bersifat disosiatif akan menghasilkan gejala-gejala abnormal atau gejala-gejala yang sifatnya patologis sehingga masyarakat mengalami ketidakteraturan sosial dalam bentuk disorganisasi atau disintegrasi sosial. Gejala abnormal yang terjadi dalam interaksi yang bersifat disosiatif terjadi karena adanya unsur-unsur dalam masyarakat yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Akibatnya adalah munculnya kekecewaan atau kesulitan yang dialami oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Gejala-gejala yang bersifat abnormal dinamakan dengan masalah sosial dalam kajian sosiologi. Sedangkan yang dimaksud dengan masalah itu sendiri adalah realitas yang terjadi (das sein) tidak sesuai dengan yang diharapkan (das sollen) oleh sebagian besar warga masyarakat. Masalah yang terjadi dalam masyarakat bisa dikatakan sebagai masalah sosial ketika masalah tersebut berkaitan dengan hubungan diantara masyarakat. Selain itu juga menyangkut tentang nilai-nilai sosial dan lembaga kemasyarakatan (pranata dan institusi sosial).

Dalam hal ini perlu dibedakan antara masalah sosial dengan perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang seperti bunuh diri (suicide), perceraian, penyalahgunaan narkotika, perjudian, banyaknya gelandangan di kota-kota besar, dan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat dan melanggar norma-norma sosial yang ada. Perilaku menyimpang tersebut merupakan contoh masalah sosial yang ada di masyarakat.

Tolak ukur permasalahan sosial

Pada dasarnya, permasalahan sosial merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Masalah sosial terwujud sebagai hasil dari kebudayaan manusia itu sendiri dan akibat dari hubungan dengan manusia lainnya. Suatu gejala dapat disebut sebagai permasalahan sosial dapat diukur melalui:

  1. Tidak adanya kesesuaian antara nilai social dengan tindakan sosial.
  2. Sumber dari permasalahan sosial merupakan akibat dari suatu gejala sosial di masyarakat.
  3. Adanya pihak yang menetapkan suatu gejala sosial tergantung dari karakteristik masyarakatnya.
  4. Perasalahan sosial yang nyata (manifest social problem) dan masalah sosial tersembunyi (latent social problem).
  5. Perhatian masyarakat dan masalah sosial.
  6. Sistem nilai dan perbaikan suatu permasalahan sosial.

Permasalahan yang berkemang di masyarakat

Raab dan Selznick menjelaskan mengenai beberapa permasalahan sosial yangberkembang di masyarakat sangat beranekaragam. Permasalahan sosial tersebut dapat terjadi apabila:

  1. Terjadi hubungan antarwarga masyarakat yang menghambat pencapaian tujuan penting dari sebagian besar warga masyarakat.
  2. Organisasi sosial tidak dapat mengatur hubungan antar warga dalam menghadapi ancaman dari luar.

Contoh masalah sosial yang berkembang di masyarakat, antara lain adalah kenakalan remaja, masalah kependudukan, masalah pencemaran lingkungan, dan masih banyak lagi. Adanya berbagai masalah sosial di lingkungan masyarakat dapat membawa dampak bagi masyarakat itu sendiri.

Dampak permasalahan sosial

  1. Dampak positif

Permasalahan sosial yang ada di masyarakat menimbulkan beberapa dampak positif maupun negatif bagi masyarakat itu sendiri. Permasalahan yang ada di masyarakat antara lain adalah masalah sosial kenakalan remaja, masalah kependudukan, masalah pencemaran lingkungan, dan masih banyak lagi. Berikut ini merupakan beberapa dampak negatif yang ada di masyarakat, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatnya tingkat kriminalitas.
  2. Adanya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin.
  3. Adanya perpecahan kelompok.
  4. Munculnya perilaku menyimpang
  5. Meningkatkan pengangguran

Daftar Pustaka

Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.

Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.

Lanjut membaca

Materi Sosiologi Kelas XI BAB 1

Pembentukan Kelompok Sosial

 

Definisi kelompok sosial

Kelompok Sosial merupakan suatu kesatuan sosial yang terdiri dari kumpulan individu-individu yang hidup bersama dalam satu tempat. Kumpulan dari individu-individu tersebut kemudian mengadakan hubungan timbal balik yang cukup intensif dan teratur. Adanya kelompok sosial tersebut bertujuan agar adanya pembagian tugas, struktur, serta norma-norma tertentu yang berlaku bagi mereka. Kelompok sosial muncul karena adanya dorongan untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk meneruskan keterunan dan dorongan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja. Soerjono Soekanto menjelskan bahwa sejak dilahirkan manusia sudah mempunyai dua hasrat atau kepentingan pokok bagi kehidupannya, yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (gregariousness), dan keinginan menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya. Lanjut membaca

Metode Penelitian Sosial

A.    Pengertian Penelitian Sosial

Penelitian sosial adalah istilah yang digunakan terhadap penyelidikan-penyeldikan yang dirancang untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan sosial, gejala sosial, atau praktik-praktik sosial. Istilah sosial ini menunujuk pada hubungan-hubungan antara, dan di antara, orang-orang, kelompok-kelompok seperti keluarga, institusi (sekolah, komunitas, organisasi, dan sebagainya), dan lingkungan yang lebih besar.

Jadi, walaupun penelitian merupakan sentral untuk penyelidikan dan pencarian solusi atas masalah-masalah sosial dan kegiatan akademik, belum ada konsensus dalam literatur tentang bagaimana penelitian harus didefinisikan. Hussey menyatakan bahwa penelitian menyediakan suatu peluang untuk mengenali dan memilih satu masalah penelitian dan menyelidikinya secara bebas.

  • Pengertian penelitian sosial menurut beberapa ahli sosiologi :

1.Soerjono Soekanto

Penelitian merupakan proses pengungkapan kebenaran yang didasarkan pada penggunaan konsep-konsep dasar yang di kenal dalam sebuah ilmu.

2      Marzuki

Penelitian adalah suatu usaha untuk mengumpulkan, mencari dan menganalisis fakta-fakta suatu masalah.

3      Supranto

Penelitian dari suatu bidang ilmu pengetahuan adalah kegiatan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsif-prinsif dengan sabar, hati-hati dan sistematis.

Penelitian sosial adalah suatu metode analisis situasi  yang merumuskan berbagai masalah sosial dengan maksud untuk menemukan aspek yang baru, memahami sebab dan interrelasinya, mengoreksi, mengadakan vertifikasi, dan memperluas pengetahuan. Penelitian sosial juga dapat digunakan sebagai penyelidikan-penyeldikan yang dirancang untuk menambah ilmu pengetahuan sosial, gejala sosial, atau praktik-praktik sosial. Istilah sosial ini menunujuk pada hubungan-hubungan antara, dan di antara, orang-orang, kelompok-kelompok seperti keluarga, institusi (sekolah, komunitas, organisasi, dan sebagainya), dan lingkungan yang lebih besar.

Metode penelitian sosial juga dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dibuktikan, dan dikembangkan suatu pengetahuan sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi dalam bidang sosial.

B.     Kegunaan Penelitian Sosial

Menurut Siti Partini penelitian sosial memiliki beberapa kegunaan antara lain:

  1. Penjajagan ( ekploratif), yaitu berguna untuk mencari-cari kemungkinan terbaik dalam memecahkan problema sosial, sehingga sifatnya masih mencoba dan terbuka       .contoh: upaya menanggulangi kenakalan remaja,kemiskinan,dll.
  2.  Deskriftif, yaitu berguna untuk pengukuran yang cermat terhadap penomena sosial tertentu. Contoh: penelitian tentang jumlah pengangguran, pendapatan masyarakat, dll.
  3. Eksplanatori, yaitu berguna untuk menjelaskan sebab-sebab yang melatarbelakangi suatu keadaan tertentu. Contoh: pengaruh kemiskinan terhadap peluang hidup manusia.
  4. Evaluatif, yaitu berguna untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang ditetapkan pada awal program sudah tercapai. Contoh: penelitian tentang efektifitas dana bos dalam mengurangi anak putus  sekolah.
  5. Prediktif, yaitu berguna untuk meramalkan kejadian atau fenomena soaial tertentu yang akan terjadi. Contoh: penelitian tentang akibat ke depan banjir lumpur panas sidoarjo.
  6. Untuk menemukan hal baru dalam memecahkan masalah sosial (Ekploratif). Definisi eksplorasi sendiri adalah penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak, terutama sumber-sumber alam yang ada di tempat itu. Proses eksplorasi ini kemudian akan menghasilkan penemuan baru. Penemuan-penemuan baru dibedakan dalam dua pengertian, yaitu: discovery dan invention. Discovery yaitu penemuan kebudayaan baik berupa alat ataupun gagasan yang diciptakan oleh seorang individu ataupun serangkaian ciptaan beberapa individu. Selanjutnya invention yaitu discovery yang sudah mendapatkan pengakuan oleh masyarakat dan dapat diterima serta diterapkan dalam kehidupan. Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan penelitian sosial dilihat dari temuan hasil eksplorasi dapat dibagi dua, yaitu: penelitian sosial dengan tujuan discovery dan penelitian sosial dengan tujuan invention. Jadi eksplorasi hanya sebatas jandela masuk dalam mewujudkan tujuan penelitian sosial, eksplorasi bukanlah suatu tujuan, tetapi proses.
  7. Untuk verifikasi atau memeriksan tentang kebenaran suatu penyelesaian masalah sosial. Definisi verifikasi adalah pemeriksaan tentang kebenaran laporan. Verivikasi dalam penelitian sosial adalah suatu tujuan penelitian sosial yang hendak dicapai untuk menguji kebenaran atau menguji hasil penelitian yang pernah dilakukan karena adanya data-data yang diragukan kebenarannya.
  8. Untuk mengembangkan ilmu sosial dalam fungsinya sebagai alat untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial (devolepment). Tujuan penelitian sosial untuk devolepment adalah penelitian sosial tersebut dilakukan untuk mengembangkan, memperluas, dan menggali lebih dalam suatu ilmu sosial atau masalah sosial guna dipecahkan agar tercipta ilmu sosial dan masyarakat yang diinginkan.
  • Fungsi/manfaat Penelitian Sosial

Fungsi adalah kegunaan suatu hal. Fungsi penelitian adalah kegunaanpenelitian sosial. Berguna untuk siapa? Fungsi penelitian sosial sedikitnyamemiliki kegunaan dalam tiga hal, yaitu: kegunaan untuk pengembangan ilmusosial itu sendiri, kegunaan bagi masyarakat (sasaran penelitian), dan kegunaanuntuk peneliti sendiri.

1      Ilmu sosial

Kegunaan untuk pengembangan ilmu sosial yaitu penelitian ituberguna untuk mengembangkan dan mensahihkan ilmu sosial. Jika macam-macam ilmu sosial meliputi sosiologi, antropologi, ekonomi, geografi, sejarah,dan hukum, maka penelitian itu berguna untuk mengembangkan dan mensahihkan ilmu sosiologi, antropologi, ekonomi, geografi, sejarah, dan hukum.

2      Masyarakat Sasaran

Maksud kegunaan penelitian sosial bagi masyarakat (sasaranpenelitian) adalah hasil penelitian itu berguna untuk menjawab masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat yang diteliti. Jika penelitian itumeneliti tenang masalah kemiskinan, maka fungsi penelitian itu adalah untuk menjawab bagaimana cara dan strategi agar masyarakat itu sejahtera.

3      Peneliti

Peneliti adalah orang yang melakukan penelitian. Apakah seorangpeneliti mendapatkan kegunaan dari proses penelitian? Jawabnya, ya. Denganproses penelitian, seorang peneliti semakin bertambah wawasan danpengetahuannya tentang masalah yang diteliti dan ilmu yang dimiliki. Seorangpeneliti kemiskinan, pasti akan memahami persoalan mengapa dan bagaimana terjadi kemiskinan. Tentu peneliti ini dikemudian hari akan menjadi seorangahli (teoritis) dalam mengentaskan kemiskinan. Banyak juga seorang penelitiyang mendapatkan materi (harta) dari penelitian. Definisi manfaat adalah guna atau untung. Kebalikan dari manfaat adalahmudarat atau rugi. Jadi manfaat penelitian sosial sama halnya dengan fungsipenelitian sosial. Lantas apa mudarat dari penelitian sosial? Mudarat daripenelitian social.

jika penelitian sosial itu akan menghancurkan ilmu sosial itu sendiri.

jika penelitian sosial itu akan menyengsarakan masyarakat sasaran, dan

jika penelitian sosial itu akan mengancam eksistensi peneliti itu sendiri

  • Model ini memiliki enam tahap sebagai berikut :
  1. Orientasi sebagai langkah untuk membuat siswa menjadi peka terhadap masalah dan dapat merumuskan masalah yang akan menjadi pusat penelitian.
  2. Perumusan hipotesis yang akan digunakan sebagai pembimbing atau pedoman dalam melakukan penelitian.
  3. Penjelasan dan pendefinisian istilah yang ada dalam hipotesis.
  4. Eksplorasi dalam rangka menguji hipotesis dalam kerangka validasi dan pengujian konsistensi internal sebagai dasar proses pengujian.
  5. Pembuktian dengan cara mengumpulkan data yang bersangkutpaut dengan esensi hipotesis.
  6. Merumuskan generalisasi berupa pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang luas yang mengaitkan beberapa konsep yang erat kaitannya dengan hipotesis.
  • Sistem Sosial

Model ini diorganisasikan secara terstruktur sedang. Pengajar mengambil inisiatif untuk meneliti dan memandu mahasiswa dari tahap lainnya. Mahasiswa dalam melakukan proses penelitian akan sangat tergantung pada kemampuan dalam penelitian, dan ia harus memikul tanggung jawab untuk mengikuti proses dari tahap satu sampai tahap akhir.

  • Prinsip pengelolaan / reaksi

Dalam keseluruhan tahap, pengajar lebih berfungsi sebagai konselor yang brtugas membantu para mahasiswa untuk menjernihkan kedudukannya, memperbaiki proses belajar, dan membuat dan melaksanakan rencana. Pengajar bertugas membantu mahasiswa dalam penggunaan bahasa yang jelas, logika yang nalar, obyektivitas, pengertian tentang asumsi dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. Akibat dari tugas tersebut, pengajar lebih memiliki peranan yang bersifat reflektif dimana ia membantu mahasiswa memahami mereka sendiri dan mampu menemukan jalan pemikirannya sendiri. Dengan demikian pengajar selalu bertindak sebagai penjernih, pengarah, konselor, dan instruktur.

  • Sistem Pendukung

Sarana yang diperlukan dalam melaksanakan model ini terutama, pengajar yang yakin bahwa pengembangan cara yang luwes dalam memecahkan masalah kehidupan, sumber kepustakaan yang tidak terbatas, dan akses pada pendapat dan sumber di luar sebagai sarana belajar yang baik. lingkungan belajar yang kaya akan informasi sangat diperlukan sehingga memungkinkan mahasiswa dapat melakukan proses penelitian dengan baik.

  • Karakteristik Metode Penelitian Sosial

Menurut Paul Leedy dalam bukunya Practical Research, ada 8 karakteristik Penelitian Sosial :

  1. 1      Penelitian Sosial berasal dari satu pertanyaanatau masalah, dengan menanyakan pertanyaan kita sedang berupaya untuk stimulasi dimulainya roses penelitian. Sumber pertanyaan dapat berasal dari sekitar kita.
  2. 2      Penelitian Sosial membutuhkan tujuan yang jelas. Pernyataan tujuan ini menjawab pertanyaan : “ Masalah apa yang akan diselesaikan/dipecahkan?” tujuan adalah pernyataan permasalahan yang akan dipecahkan dalam Penelitian Sosial.
  3. 3      Penelitian Sosial membutuhkan rencana spesifik untuk melakukan penelitian rencana kegiatan disusun. Selain menetapkan tujuan dari Penelitian Sosial, kita harus menetapkan juga bagaimana mencapai tujuan tersebut. Beberapa hal yang perlu diputuskan misalnya: dimana mendapatkan data? Bagaimana mengumpulkan data tersebut? Apakah data yang ada berelasi dengan permasalahan yang ditetapkan dalam Penelitian Sosial?
  4. 4      Penelitian Sosial biasanya membagi masalah prinsip menjadi beberapa submasalah: untuk mempermudah menjawab permasalahan, biasanya masalah yang prinsip dibagi menjadi beberapa submasalah.
  5. 5      Penelitian sosial dilakukan berdasarkan masalah. Pertanyaan atau hipotesis penelitian Sosial yang spesifik. Hipotesis adalah asumsi atau dugaan yang logis yang memberikan jawaban sementara tentang permasalahan Penelitian Sosial berdasarkan penyelidikan awal. Hipotesis mengarahkan kita ke sumber-sumber informasi yang membantu kita untuk menyelesaikan dan menjawab permasalahan Penelitian Sosial yang sudah ditetapkan. Hipotesis bisa lebih dari satu. Hipotesis mempunyai kemungkinan didukung atau tidak didukung oleh data.
  6. 6      Penelitian Sosial mengakui asumsi-asumi: Dalam Penelitian Sosial, asumsi merupakan hal penting untuk ditetapkan. Asumsi adalah kondisi yang ditetapkan sehingga jangkauan Penelitian Sosial jelas batasnya. Asumsi juga bisa merupakan batasan sistem di mana kita melakukan Penelitian Sosial.
  7. Penelitian Sosial membutuhkan data dan intepretasidata untuk menyelesaikan masalah yang mendasari adanya Penelitian Sosial: Pentingnya data bergantung pada bagaimana peneliti memberi arti dan menarik inti sari dari data-data yang tersedia. Di dalam Penelitian Sosial data yang tidak diintepretasikan/diterjemahkan tidak berarti apapun.
  8. Penelitian Sosial bersifat siklus.
  • Siklus Penelitian Sosial

Untuk memulai suatu penelitian, permasalahan yang akan dipecahkan perlu ditemukan lebih dahulu. Beberapa hal yang membantu penemuan tersebut adalah membaca artikel jurnal-jurnal ilmiah pada bidang yang diminati. Dengan membaca beberapa artikel jurnal yang memuat permasalahan dan pemecahannya diharapkan ada stimulasi dari pembacaan tersebut untuk menimbulkan ide-ide lain yang layak untuk diteliti.

Motode Penelitian Sosial yang baik

  1. Masalah dan tujuan penelitian harus dirumuskan dngan baik. Rumusan masalah dan tujuan yang tidak tepat, akan mengacaukan penelitian yang akan dilakukan. disampimg akan mempersulit aktifitas penelitian tersebut.
  2.  Prosedur penelitian di jabarkan dengan rinci. Ini untuk mempermudah aktivitas peneliti serta untuk menghindari hal – hal yang tidak diperlukan dalam proses penelitian.
  3. Analisis data harus tepat. Pekerjaan analisa data yaitu mengatur, mengurutkan, mengelompokan, memberi kode, dan mengkatagorisasikannya.
  4. Kesimpulan didukung oleh data. Yaitu kesimpulan tidak boleh berdasarkan dugaan asumsi dan kira – kira.
  5. Hasil penelitian harus dapat dipercaya. Keterpercayaan dapat dilihat dari analisa data serta kerelevanan kesimpulan terdapat data.
  6. Penelitian harus membuat laporan lengkap. Tanpa membuat laporan, kegiatan penelitian tidak dapat memberikan sumbangsih terhadap keilmuan dan manusia. Dari laporan itulah orang lain dapat mengambil manfaat dan menerapkan dalam kehidupan.

Kesimpulan

Metode penelitian sosial di harapkan mampu mengidentifikasi memecahkan dan memberi solusi persoalan – persoalan sosial yang di hadapi. Menggunakan metode penelitian sosial yang tepet akan memberikan arahan yang jelas, terukur, logis dan dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga aktifitas penelitian memiliki ketajaman dan kedalaman dalam melihat persoslan sosial yang ada. Dan penelitian sosial dapat bermanfaat bagi orang lain.

Sumber :

Afianti, Afiat. “Materi Sosiologi SMA Kelas X: Metode Penelitian Sosial”. 15 Desember 2015. http://blog.unnes.ac.id/afiatafianti/2015/12/15/materi-sosiologi-sma-kelas-x-metode-penelitian-sosial/#more-126

Lanjut membaca