Sejarah PATRI

SEJARAH PATRI (PERHIMPUNAN ANAK TRANSMIGRAN REPUBLIK INDONESIA)

“Sejak tahun 1993 putera puteri anak cucu Transmigran menanti kehadiran suatu lembaga/organisasi yang mewadahi para anak cucu transmigran. Gagasan untuk menyatukan keinginan, menyalurkan aspirasi pandangan dan pemikiran, membina dan mengembangkan sumber daya manusia agar mampu menjadi pelaku dan sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan nasional khususnya di bidang ketransmigrasian, ternyata sudah muncul sejak 10 tahun yang lalu. “, demikian dikatakan oleh Bapak Drs. Mirwanto Manuwiyoto, MM.

Ketika itu (1993) Menteri Transmigrasi dijabat oleh Ir. Siswono Yudohusodo. Pada masa itu pula dibentuk forum beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), antara lain PPMA, LP3ES, BISMI, dan Bina Desa bersama dengan Tim Departemen Transmigrasi yang bernama Forum Transmigrasi (FORTRANS). Ketua Fortrans adalah DR. M. Dawam Rahardjo, SE (PPMA) dan sekretarisnya Ir. S. Pramono Budi (BISMI). Tujuan Fortrans tersebut adalah saling tukar menukar pengalaman, informasi dan kerjasama dalam proses pembangunan wilayah melalui transmigrasi. Forum ini pula yang mendorong terjadinya konsolidasi. Kebetulan Sekretaris Fortrans adalah seorang anak transmigran dari Lampung. Dengan adanya forum tersebut maka konsolidasi yang dilakukan Sekretaris Fortrans ketika mengunjungi unit permukiman transmigrasi semakin intensif.

patri2Akhirnya pada tanggal 16 Februari 2004 baru dapat terwujud dengan lahirnya sebuah wadah yang bernama Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI).
PATRI lahir melalui sebuah proses yang cukup panjang, mulai sejak dicetuskannya ide tersebut oleh para tokoh anak bangsa seperti Prof. DR. Ir. MP. Tjondro Negoro, Prof.DR. Wibowo, SE. Mphil, Mayjen TNI (Purn) Murwanto, Drs. Djoko Sidik Pramono, MSc, Dra. Dyah Paramawartiningsih, Ir. Sobagyono, Prof. DR. Ir. Muhajir Utomo, MSc, Drs. H. Sarimun Hadisaputra, Msi dll, sampai pada saat dilakukannya kongres pertama tanggal 16-17 Pebruari 2004 yang berlangsung di Jakarta dengan menghasilkan beberapa rumusan antara lain Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), Susunan Kepengurusan, Program Kerja dan Naskah Deklarasi.

PATRI lahir melalui sebuah Deklarasi resmi yang berlangsung pada pada tanggal 9 Maret 2004, dihadiri oleh Bapak Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta jajaran aparatnya, Dewan Pengurus Pusat, serta para tamu undangan antara lain Media cetak dan elektronik, Rektor Universitas Jenderal Sudirman Prof. Drs. Rubijanto Misman beserta para mahasiswanya dari anak-anak transmigran yang sedang menuntut ilmu di Universitas tersebut.

Acara deklarasi dimulai pada jam 9.00 wib, diawali dengan pembacaan do’a, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Transmigrasi, sambutan Ketua Umum PATRI, Pembacaan Deklarasi dan sambutan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I.

“PATRI lahir sebagai tantangan atas kebutuhan alamiah dari para generasi anak-anak transmigran di Indonesia”, demikian dikatakan oleh Ketua Umum (Prof. DR. Ir. Muhajir Utomo, MSc). Hal ini dapat dimengerti karena keberadaan transmigrasi di Indonesia sudah terjadi sejak sebelum masa kemerdekaan.

Berdasarkan data (th 2002), transmigrasi telah berhasil mengembangkan sekitar 3.500 desa baru dengan berbagai infrastrukturnya, yang dihuni oleh sekitar 2,2 juta KK/8,8 juta jiwa, 30 desa diantaranya telah berkembang menjadi ibukota kabupaten/kota yang terus tumbuh dan berkembang dengan berbagai aspek dan dinamikanya masing-masing.

Apabila dihitung sejak masa kolonisasi (transmigrasi jaman Belanda), sejak pelaksanaan transmigrasi pertama 12 Desember 1950, maka jumlah transmigran beserta anak keturunannya sekitar 20 juta jiwa. Keberhasilan program transmigrasi telah membuka areal produksi baru di bidang pertanian, perkebunan dan perikanan yang mampu menyerap ribuan, dan bahkan jutaan tenaga kerja.

Visi, Misi, dan Tujuan

Kesuksesan yang diraih itu tidak luput dari permasalahan-permasalahan seperti : munculnya anggapan bahwa transmigrasi hanya untuk etnis tertentu, rusaknya lingkungan hutan lindung, terjadinya distorsi pengelolaan proyek, sistem pemberdayaan yang terkesan sentralistik dan isyu disintegrasi, maka PATRI merasa sangat prihatin dengan kondisi tersebut, sehingga PATRI terpanggil untuk memulihkan dan membangun citra positif ketransmigrasian, serta dalam pemahaman dan filosofis, maka PATRI hadir sebagai upaya untuk mematri atau merekatkan kembali tanah air tercinta sesuai Visi dan Misi yaitu :

Visi :

” Kembalinya Gerakan Transmigrasi sebagai Perekat Nasional Lintas Budaya, Suku, dan Agama ”

Misi :

  1. Membangun Persatuan dan Kesatuan Bangsa dengan semangat keberagaman.
  2. Mengembangkan sumberdaya kawasan transmigrasi demi kemaslahatan seluruh masyarakat. Dari redaksi Pusdatintrans mengucapkan selamat berjuang buat PATRI.

Tujuan :

  1. Mendorong dan mengembalikan solidaritas lintas suku, budaya dan agama  para  anak keturunan transmigran dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan negara Indonesia.
  2. Menghimpun potensi dan jaringan sumber daya  anak dan keluarga transmigran untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.
  3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas peran serta dukungan dalam membangun daerah transmigrasi.

Program Jangka Pendek

  1. Menyatukan langkah seluruh komponen transmigran dalam upaya mendukung eksistensi program transmigrasi baik secara regional maupun nasional
  2. Menugaskan   DPD  PATRI     untuk   konsolidasi  organisasi  dengan badan/lembaga/dinas/kantor ditingkat propinsi, kabupaten dan kota yang menangani bidang ketransmigrasian dalam rangka pembentukan PATRI di daerah.
  3. Menugaskan DPD PATRI untuk meningkatkan dan memantapkan kemitraan DPD PATRI dengan Pemerintah propinsi, kabupaten dan kota.
  4. Menugaskan   DPD    PATRI   untuk  melanjutkan  dan  meningkatkan  kerjasama dengan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta menyusun panduan kerjasama tersebut untuk kelangsungan hidupnya PATRI mulai dari DPD,DPC, PAC.
  5. Menugaskan DPD PATRI untuk mengadakan dan mendistribusikan kartu anggota mulai dari DPD, DPC dan PAC di seluruh Indonesia.
  6. Menugaskan  DPD  PATRI  untuk  mengembangkan  kerjasama dengan asosiasi / institusi penunjang kegiatan organisasi, perusahaan pemerintah, swasta yang bergerak  di  sektor  pertanian, keuangan, Bank dan Lembaga Keuangan Non Perbankan, koperasi, dan lain-lain yang ada hubungannya dengan kegiatan organisasi.
  7. Menugaskan DPD PATRI untuk segera membentuk badan usaha PATRI, baik dalam bentuk yayasan  atau  koperasi,  mulai  dari  DPD,  DPC, PAC  serta menugaskan  seorang yang ditunjuk dan diangkat untuk membidangi badan usaha PATRI tersebut
  8. Setiap tanggal 16 Februari ditetapkan sebagai hari jadi PATRI

Program Jangka Panjang

  1. Pengembangan jaringan kerja antar daerah transmigrasi.
  2. Penguatan  kapasitas  (Capacity building)  sumber  daya anak, keluarga dan masyarakat sekitar lokasi transmigrasi.
  3. Pengembangan kualitas dan derajat penghidupan di kawasan transmigrasi.

Perkembangan PATRI di Daerah

Dalam waktu 16 (enam belas) bulan sejak didirikan, dari 22 Propinsi tujuan transmigran, sudah ada 15 propinsi yang mengadakan Musyawarah Daerah dan membentuk Dewan Pengurus Daerah (DPD). Sebagai organisasi kemasyarakatan PATRI juga telah terdaftar secara resmi pada Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri, dengan nomor 10/D.III.3/IX/2004.

Dengan adanya surat tanda terdaftar tersebut maka secara legal formal PATRI dapat memperluas aktivitasnya untuk seluruh Indonesia.

Adapun DPD PATRI yang sudah dilantik oleh Dewan Pengurus Pusat (DPD) ada 12 (dua belas) propinsi yaitu :

  1. Provinsi Kalimantan Selatan, tanggal pelantikan 7 Maret 2004.
  2. Provinsi Kalimantan Barat, tanggal pelantikan 7 Maret 2004.
  3. Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, tanggal pelantikan 6 Mei 2004.
  4. Provinsi Lampung, tanggal pelantikan 20 Mei 2004.
  5. Provinsi Riau, tanggal pelantikan 28 Mei 2004.
  6. Provinsi Kalimantan Tengah, tanggal pelantikan 5 Juni 2004.
  7. Provinsi Sumatera Selatan, tanggal pelantikan 12 Juni 2004.
  8. Provinsi Nusa Tenggara Barat, tanggal pelantikan 19 Juni 2004.
  9. Provinsi Sulawesi Tenggara, tanggal pelantikan 10 Juli 2004.
  10. Provinsi Papua, tanggal pelantikan 11 September 2004.
  11. Provinsi Sumatera Barat, tanggal pelantikan 9 Desember 2004.
  12. Provinsi Kalimantan Timur, tanggal pelantikan 21 Juni 2005.

 Syarat Menjadi Anggota PATRI

PATRI   merupakan   organisasi   massa  non partai politik, bukan   untuk   memisahkan  diri dari organisasi yang lain, tetapi sebaliknya  untuk  merekatkan  persatuan dan kesatuan bangsa, bersatu  padu   untuk    bersama-sama   mendukung  pembangunan daerah.
Perpindahan penduduk di Indonesia di mulai sejak tahun 1905 saat itu disebut kolonisasi dan tahun 1950 disebut transmigrasi.

PATRI bukan hanya wadah bagi anak keturunan transmigran, tetapi juga bagi mereka yang merantau untuk membangun negerinya, Indonesia.
Keanggotaan PATRI meliputi anak keturunan dan keluarga besar Transmigran, baik transmigran pendatang maupun transmigran setempat. Termasuk pula keluarga besar kolonisasi, kuli kontrak, anak keturunan pekerja rodi atau Romusha, Jawa Deli (Jadel), Jawa Tondano (Jaton), Jawa Gorontalo (Jago), paguyuban Repatrian Suriname, Paguyuban Anak Keturunan Para Suku Perantau.

Pelaksanaan transmigrasi dapat dibagi menjadi dua yaitu 1) Transmigrasi diselenggarakan pemerintah dan 2) Transmigrasi spontan yaitu transmigrasi yang dilakukan atas kemauan sendiri, biaya sendiri untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Adapun syarat-syarat menjadi Anggota PATRI sebagai berikut.

  1. Mencintai perdamaian, persatuan dan kesatuan bangsa.
  2. Bersedia menjadi perekat pemersatu bangsa.
  3. Mencintai negara kesatuan republik indonesia
  4. Bersedia menjaga tegaknya sang saka merah putih di persada bum pertiwi.

Keempat syarat tersebut merupakan implementasi/pengamalan Visi, Misi dan Prasetya PATRI.

PRASETYA PATRI

                                                               

    1. SETIA KEPADA UNDANG-UNDANG DASAR 1945, DAN MENJADI PEMBELA TEGAKNYA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.
    2. BERSEDIA MELAKSANAKAN AMANAH DAN TANGGUNG JAWAB SEBAGAI  PENGURUS PATRI  BERDASARKAN  ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA PATRI.
    3. SENANTIASA MENJADI TELADAN, MENJAGA KEHORMATAN, DAN MENDUKUNG KEMAJUAN DAERAH DEMI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT.
    4. MENJALANKAN VISI, MISI DAN NILAI DASAR, SERTA SENANTIASA MENGAMALKAN KODE ETIK PATRI, SEBAGAI LANDASAN MENUJU ORGANISASI YANG BERMANFAAT.

SEMOGA ALLAH, TUHAN YANG MAHA ESA MERIDHOINYA.

Sumber kissparry

Mualaf itu Bernama Regina

Plat Kalimantan Barat

Mualaf

Regina mahasiswa tingkat akhir di sebuah Perguruan Tinggi swasta kesehatan ternama di Semarang, Jawa Tengah. Ia datang dari jauh, Kalimantan Barat, pilihannya adalah Semarang dalam melanjutkan pendidikan tingginya, Ia pun minat di bidang kesehatan. Kok tidak di Jakarta, Surabaya, Medan atau ditempat lain, saya belum berkesempatan menanyakan hal itu.

Namun kenyataannya …..

Rere, panggilan akrab wanita yang bernama Regina ini, menjadi seorang mualaf karena memperoleh hidayah (petunjuk) lewat mimpi menjelang fajar, hidayah itu langsung dari Allah SWT.

Sebenarnya mimpinya seperti apa hingga bisa menggerakkan mata batinnya untuk memeluk agama Islam, kamipun menurunkan tulisan ini.

Adalah mimpi melihat dalam tempat kecil bercahaya disana ada kran air dan seorang wanita yang berada disitu sedang membasuh muka dan seterusnya, kemudian wanita yang dilihatnya dalam mimpi itu berjalan meninggalkan tempat bercahaya itu tanpa menoleh kearah Rere langsung menuju ke surau (masjid) mengerjakan shalat.

“Sering banget mimpi seperti itu, dan suatu saat wanita itu menghampiri saya yang berada ditempat agak gelap, dan ternyata wanita yang aku lihat adalah diriku sendiri”, akunya. Kemudian Rere berdoa, “Ya Tuhan saya harus menjalankan yang ini, untuk itu mohon diri dan mohon izin untuk meninggalkanmu dan berilah kami kemudahan”. Dan ketika sudah merasa mantap untuk memeluk agama yang baru bagi dirinya, agama Islam, mereka datang ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) untuk ikrar beragama Islam.

Namun yang terjadi adalah ketika sampai di MAJT, niat untuk ber-Islam belum dikabulkan karena belum mendapatkan izin dari orang tuanya. Mula-mula orang tua Rere tidak merestui apabila anaknya beralih ke agama Islam. Akhirnya berbagai upaya untuk menjelaskan kepada orang tuanya, dan karena selalu saja mimpi itu hadir bersamanya, kedua orang tua Rere menyetujui melaksanakan ajaran dan beragama Islam.

Langkah yang dilakukan Rere adalah mencari informasi, harus ke mana berikrar memeluk Islam, dan atas saran dari temannya dipilihlah Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai pintu masuk agama Islam. Setelah bersyahadat, Rere di beri sertifikat (surat keterangan dari KUA). Waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun lalu (2016).

Dengan berbekal dan arahan petugas KAU, sejak saat itu Rere berusaha untuk menjalankan syariat agama Islam, yang pertama dipelajari adalah tentang shalat, kemudian membaca kitab suci Al-Qur’an, dan yang lainnya.

Sumber: Suwardi di NH News
https://tpqnurhidayahtgls.wordpress.com/2017/02/21/mualaf-itu-bernama-regina/

Permainan Tradisional Jamuran

Jamuran

Masih ingat dengan permainan ini? Jamuran adalah permainan yang  berasal dari Pulau Jawa. Permainan ini umumnya dimainkan oleh anak-anak di daerah perdesaan. Dimana ketika itu listrik belum menjamah kehidupan masyarakat desa, Jamuran biasa dimainkan oleh anak-anak yang berjumlah 4—12 orang. Jamuran biasanya diadakan di waktu sore dan malam saat bulan purnama. Anak-anak yang ikut bermain pada umumnya berumur antara 6 sampai 13 tahun.

Bermain jamuran bisa dimainkan oleh siapa saja baik anak lelaki maupun anak perempuan. Bermain jamuran tidak membutuhkan perkakas warna-warni, hanya membutuhkan tanah lapang yang agak luas.Umumnya di halaman rumah.

Cara Bermain

Contohnya yang bermain berjumlah 10 orang (A, B, C, D, E, F, G, H, I, J). Diantara kesepuluh anak ini ada seorang yang harus jadi batang jamur (JADI), untuk menjadikannya melalui undian, biasanya dilakukan dengan pingsut (bahasa Jawa). Pingsut adalah menjulurkan jari tangan, kalau banyak dimulai dengan hompimpah, saat hompimpah juga dinyanyikan, bila tinggal dua orang hanya menjulurkan jari tangan, dan siapa yang kalah akan JADI.

Contohnya yang JADI adalah si B, lalu A, C, D,E, F, G, H, I, dan J membentuk barisan yang berbentuk lingkaran dengan bergandengan tangan untuk berputar mengelilingi B yang ada di tengah. Kemudian A sampai J tadi mulai berjalan dan terus berputar memutari B, sambil menyanyikan tembang Jamuran.

Jamuran ya gégéthok
Jamur apa ya gégéthok
Jamur gajih mbejijih sa ara-ara
Siram badhé jamur apa

Ketika tiba di akhir lagu, A sampai J berhenti mengelilingi B. Kemudian B menjawab pertanyaan anak-anak yang mengelilinginya. Misalnya B menjawab pithik kluruk  (ayam berkokok, red), semua anak harus menirukan layaknya ayam berkokok. Ketika ada anak yang tidak bias menirukan ayam berkokok, itu artinya ia yang jadi.

jamuran_by_vinnoo
Permainan Jamuran (foto: triwahyu02.blogspot.com by vinoo)

Anak yang jadi bisa menyebutkan apa saja yang ia kehendaki, dan itu artinya anak-anak yang mengelilinginya harus memeragakan apa yang dimaksudkan oleh anak yang jadi. Begitu seterusnya.

Karena permainan ini, membuat lingkaran yang bergerak dan di tengahnya ada orang yang diibaratkan sebagai batang, sehingga terbentuklah seperti jamur, maka kemudian permainan ini dinamakan Jamuran.

Sumber:
WB Kissparry (https://warnbungonews.wordpress.com/)