SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Perempuan Jawa dalam kehidupan masyarakat dusun Sasak desa Meteseh kecamatan Boja
November 20th, 2015 by Faradhina Andriyani

Budaya jawa merupakan budaya yang terkenal dengan kebudayaan yang adiluhung, halus, klasik, hierarkis dan aristokratis(Nugroho Trisnu Brata,2000;63). Maka tidak heran jika banyak orang baik dari dalam maupun dari luar  yang ingin mempelajari tentang budaya Jawa. Namun dengan banyak yang ingin mempelajari budaya Jawa tersebut terkadang membuat budaya jawa tersebut mengalami perubahan dalam nidang Sosial serta Budaya.

Perubahan sosial budaya bangsa Indonesia yang begitu cepat sangat mempengaruhi didalam segala aspek kehidupan,perubahan tersebut juga  mempengaruhi nilai serta norma yang ada di dalam masyarakat khususnya dalam budaya masyarakat jawa, yang sangat terkenal dengan sopan,santun, serta hormatnya.budaya jawa yang patriarki yang kemudian berubah kedalam kehidupan perempuan membuat perempuan lambat laun akan berorientasi tidak hanya ke dalam lingkup domestic saja akan tetapi ke dalam lingkup public yang dapat dikatakan sangat luas.

 

  1. Rumusan masalah
  2. Apa sebutan perempuan dalam masyarakat Jawa?
  3. Bagaimana kehidupan sosial perempuan masyarakat Jawa di dusun Sasak desa Meteseh kecamatan Boja?
  4. Tujuan
  5. Untuk mengetahui sebutan perempuan dalam masyarakat Jawa.
  6. Untuk mengetahui bagaimana kehidupan sosial perempuan pada masyarakat Jawa pada dusun Sasak desa Meteseh kecamatan Boja.
  7. Manfaat
  8. Makalah ini diharapkan mampu menjadi sumber referensi bagi para pembaca dan,
  9. Mampu memberi informasi yang cukup bagi para pembaca.

 

 

 

 

 

 

Pembahasan

 

  1. Sebutan perempuan dalam masyarakat Jawa

Di  dalam masyarakat  jawa, perempuan memiliki beberapa istilah, seperti Wadon, Wanita, Estri, Putri. Istilah tersebut bukan sembarang istilah, akan tetapi istilah tersebut memiliki suatu ideology atau pemaknaan tersendiri.

  1. Wadon

Kata wadon berasal dari bahasa Kawi wadu, yang secara harfiah berarti kawula atau abdi. Istilah ini sering diartikan bahwa perempuan “dititahkan” di dunia ini, “ditakdirkan” sebagai abdi  (pelayan) sang guru laki (suami). Pengabdian seorang wanita harus mengikuti setiap tataran “kehidupan”. Secara naratif, hal tersebut mengandung konsekuensi logis, bahwa jika seorang suami meninggal, sang istri harus melanjutkan pengabdiannya di Alam kubur dan begitu pula seterusnya.

  1. Wanita

Wanita berasal dari kata gabungan dua kata bahasa jawa (kerata basa) wani (berani) dan  tata (teratur).secara “gathukologis” kata bentukan ini mengandung dua konotasi wani ditata dan wani nata,dalam konotasi wani ditata bahwa perempuan tetap tunduk pada sang guru laki sedangkan wanita harus bertanggung jawab atas pendidikan anak dan seluruh pengaturan keluarga.

  1. Estri

kata estri lahir dari kata estern dalam bahasa kawi berarti penjurung (pendorong), dengan demikian sebutan estri pada manusia itu harus mampu mendorong suami, membantu pertimbangan-timbangan terutama saat jiwa dan semangat sedang melemah.

  1. Putri

Kata putri berarti anak perempuan. Dalam peradaban tradisional jawa kata ini sering dibeberkan sebagai akronim dari kata-kata putus tri perkawis, yang menunjuk kepada purna karya perempuan.

Dari berbagai istilah tersebut dapat kita lihat bahwa kedudukan seorang perempuan dapat dikatakan tidak sejajar dengan laki-laki.

 

  1. Perempuan dalam kehidupan masyarakat jawa
  2. Perempuan dalam struktur keluarga jawa

Menurut Morris, pola pengasuhan dalam suatu keluarga lebih banyak di dominasi dengan penekanan pada peran dan pembagian kerja berdasarkan gender. Anak perempuan di sosialisasikan oleh lingkungan keluarga di dalam masyarakat untuk menjadi sosok yang lemah lembut, pasif, dan dependen. Dengan berbagai pelabelan negative kepada perempuan membuat perempuan dalam keluarga tertindas oleh sebuah struktur yang ada. Perempuan dan ketergantungan dalam keluarga merupakan dua pengertian yang sangat erat menyatu. Tidaklah mengherankan apabila perempuan yang ingin mandiri menganggap keluarga sebagai penjara yang dapat menghilangkan kemerdekaannya (Murniati, 2004:102).

  1. Perempuan jawa di dalam pendidikan.

Seperti yang telah kita ketahui, pada masa R.A Kartini perempuan dilarang untuk bersekolah, jangankan untuk bersekolah, untuk keluar dari rumahpun mereka juga dilarang karena pada saat itu tugas seorang perempuan hanya mencakup 3M, yaitu Masak, Macak, dan Manak sehingga perempuan saat itu sangat terbatas dalam urusan luar rumah.

Pola pendidikan yang mengutamakan kaum laki-laki sebenarnya mulai terbentuk dari dalam keluarga itu sendiri. Dalam keluaraga memperlakukan laki-laki untuk bersifat agresif dan tidak pernah dilarang untuk berpergian ke luar rumah, hal ini sangat berbeda dengan perempuan yang hanya di ajarkan untuk memasak, mengerjakan pekerjaan rumah, dan melayani ayah ataupun saudara laki-laki mereka seperti membuatkan sarapan, minum dan lain sebagainya.Pendidikan ini pada akhirnya akan berakibat pada pola laki-laki yang menjadi terbiasa dilayani dan perempuan sebagai pihak yang seolah harus melayani (Murniati, 2006: 96).

Namun hal tersebut sudah tidak terjadi lagi pada saat ini, perempuan saat ini diberi kebebasan untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, terbkti perempuan di dusun Sasak desa Meteseh kecamatan Boja sudah ada perempuan yang menuntut ilmu hingga jenjang perguruan tinggi.

  1. Perempuan jawa dan kekuasaan

Dalam masa R.A Kartini sudah dapat kita lihat ketidakadilan gender yang terjadi pada saat itu baik dalam keluarga, pendidikan, maupun pembagian kerja.

Kekuasaan perempuan Jawa adalah kemampuan perempuan Jawa untuk mempengaruhi, menentukan, bahkan mungkin mendominasi suatu keputusan. Kemampuan perempuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan tersebut bukan semata-mata pada saat keputusan itu diambil, melainkan merupakan sebuah proses yang panjang dari proses adaptasi, pemaknaan kembali, hingga strategi diplomasi (Handayani dan Novianto, 2004: 25)

Konsep perempuan Jawa sebagai konco wingking berlaku sebagai kondisi ideal bagi budaya Jawa sehingga berkembang menjadi mitos. Meski demikian, terdapat konsep baru yang menyebutkan bahwa konco wingking itu tidak selalu lebih buruk atau lebih rendah. Konco wingking dapat juga seperti seorang sutradara yang tidak pernah kelihatan dalam filmnya sendiri, tetapi ia yang menentukan siapa yang boleh bermain dan akan seperti apa jadinya film itu nanti. Kemudian istilah sigaraning nyawaatau belahan jiwa. juga tampak jelas memberi gambaran posisi yang sejajar dan lebih egaliter (Handayani dan Novianto, 2004:117, 120).

Pada perempuan Jawa dalam masyarakat dusun Sasak desa Meteseh kecamatan Boja, kekuasaan perempuan terlihat pada saat mereka melakukan pengajian ibu-ibu ataupun dalam rapat ibu-ibu PKK, dimana para perempuan tersebut bebas mengemukakan apa yang ingin mereka utarakan tanpa ada penghalang dari pihak laki-laki, sehingga dalam acara tersebut perempuan memiliki kuasa penuh.

  1. Perempuan dan nilai-nilai jawa

Nilai-nilai Jawa sendiri memiliki banyak konsep tentang perempuan sejati. Konsep mengenai perempuan sejati selalu dihubungkan dengan bentuk tubuh serta kodrat alami yang dimiliki oleh perempuan itu sendiri. Dalam nilai budaya jawa juga terdapat menegani kias lima jari tangan, dalam hal ini melemahkan keduduakn sebagai seorang perempuan. Ajaran tersebut mengungkapkan bahwa:

  1. Jempol (ibu jari) berarti Pol Ing Tyas. Sebagai istri harus berserah diri sepenuhnya kepada suami. Apa saja yang menjadi kehendak suami harus dituruti,
  2. Penuduh (telunjuk), berarti jangan sekali-kali berani mematahkan tudhung kakung (petunjuk suami). Petunjuk suami tidak boleh dipersoalkan,
  3. Penunggul (jari tengah), berarti selalu meluhurkan suami dan menjaga martabat suami,
  4. Jari manis, berarti tetap manis air mukanya dalam melayani suami dan bila suami menghendaki sesuatu,
  5. Jejenthik (kelingking) berarti istri selalu athak-ithikan (trampil dan banyak akal) dalam sembarang kerja melayani suami. Dalam melayani suami hendaknya cepat dan lembut. (Budi Susanto, dkk; 2000: 24).
  6. Perempuan dan karir

Pada zaman dahulu, perempuan bekerja dianggap sangat tabu dan bukan kewajiban mereka untuk bekerja, karena tugas mereka hanyalah masak, macak dan manak serta tentang segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan domestic. Namun perempuan pada saat ini banyak yang sudah bekerja di lingkup public salah satunya di dusun Sasak desa Meteseh kecamatan Boja ini,  perempuan sudah banyak yang bekerja keluar rumah sebagai buruh pabrik ataupun yang lainnya, padahal mereka juga memiliki tanggungan anak yang masih kecil, akan tetapi karena tuntutan ekonomi dan perkembangan zaman membuat mereka harus bekerja dan menitipkan anak mereka untuk diasuh oleh ibu atau nenek dari anak itu.

 

 

 

 

 

 

 

Penutup

 

 

 

  1. Kesimpulan

Dari permasalahan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Di dalam masyarakat Jawa, ternyata terdapat berbagai macam istilah mengenai perempuan, dan setiap istilah tersebut memiliki makna tersendiri yang membuat perempuan tersebut tidak seajajar dengan laki-laki.
  2. Peran perempuan pada masa lampau atau pada masa R.A Kartini sudah mengalami perubahan serta pergeseran dengan perempuan pada masa kini.
  3. Dahulu perempuan ruang lingkupnya hanya sebatas ruang lingkup domestic, akan tetapi sekarang perempuan ruang lingkupnya bisa sangat luas.

Leave a Reply

http://blog.unnes.ac.id/faradhina08/2015/11/20/perempuan-jawa-dalam-kehidupan-masyarakat-dusun-sasak-desa-meteseh-kecamatan-boja/You must be logged in to post a comment.

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar