SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
resiprositas pada masyarakat pedesaan
November 20th, 2015 by Faradhina Andriyani

R.Linton  dalam Soekanto (2002. 24)  menjelaskan bahwa masyarakat merupakan  kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama cukup lama sehingga mereka ini dapat mengatur dirinya dan menganggap diri mereka sebagai suatu  kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.

Dusun Sasak merupakan satu dusun yang terletak di kecamatan Boja kabupaten Kendal. Kompleksitas pada masyarakatnya sangat terlihat jelas. Pada masyarakat dusun Sasak terdapat berbagai golongan masyarakat berdasarkan strata sosial Maupun pekerjaannya. Jenis pekejaannya mereka tergolong heterogen, ada yang sebagai PNS, pedagang, buruh, dan lain sebagainya. Strata sosial pada masyarakat dusun Sasak masih seperti biasanya, yang mana strata ini ditentukan oleh pendidikan, kekayaan, serta kekuasaan yang dimilikinya.

Dalam masyarakat pedesaan, masih sering kita jumpai mengenai istilah gotong royong. Dalam masyarakat dusun Sasak ini aktivitas gotong royong masih terlihat, di dalam masyarakatnya, gotong royong tidak hanya dimaknai sebagai sebuah kerja bersama-sama secara sukarela untuk suatu kepentingan atau tujuan bersama, akan tetapi juga dimaknai sebagai kesuka relaan. Hal ini dapat dilihat dari ketika ada tetangga yang memiliki hajatan, masyarakat dusun setempat pasti akan menyumbangkan tenaganya secara sukarela bagi tetangga mereka yang sedang memiliki hajat. Hajatan tersebut dapat berbentuk syukuran acara pernikahan, syukuran acara khitanan, dan lain sebagainya.

Sebagaimana layaknya warga bermasyarakat, setiap warga masyarakat pastiya memerlukan bantuan dari orang lain, karena manusia terlahir menjadi makhluk sosial. Di sinilah suatu sistem pertukaran dalam segala aspek kehidupan terjadi. Sistem pertukaran mempunyai peranan yang penting dalam memenuhi setiap kebutuhan masyarakat terhadap barang maupun jasa. Pada dasarnya suatu sistem pertukaran tidak hanya dilakukan dengan

menggunakan uang disebut sebagai resiprositas. Misalnya saling menyumbang ketika ada resepsi pernikahan ataupun ketika ada kematian, pertukaran hadiah, saling membantu ketika dalam kesusahan, pinjam meminjam yang tidak dibatasi jenis barang dan waktu pengembalian, namun ada kewajiban moral untuk mengembalikannya dalam bentuk yang sama ataupun berbeda.

Resiprositas merupakan ciri sistem pertukaran dalam perekonomian pada masyarakat tradisional. Tetapi resiprositas tidak hanya saja terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan terjadi pula pada masyarakat kota. Secara sederhana resiprositas merupakan pertukaran timbal balik antara individu atau antar kelompok (Sairin, 2002: 43). Resiprositas ini telah terjadi pada masyarakat dusun Sasak, pada  masyarakat dusun Sasak kegiatan ini disebut dengan  sinoman. Sinoman  pada masyarakat Sasak dapat berlangsung  ketika ada kerabat ataupun tetangga yang memiliki hajat mantu (pernikahan), hajat  sunatan  (khitanan), hajat kelahiran dan hajat orang meninggal.

  1. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana bentuk resiprositas yang ada di dalam masyarakat dusun Sasak desa Meteseh kecamatan Boja kabupaen Kendal ?
  2. Bagaimana fungsi resiprositas bagi masyarakat dusun Sasak ?
  3. Tujuan

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan diatas, maka tujuan yang hendak dicapai adalah :

  1. Untuk mengetahui bentuk resiprositas yang ada di dalam masyarakat dusun Sasak desa Meteseh kecamatan Boja kabupaen Kendal ?
  2. Untuk mengetahui fungsi resiprositas bagi masyarakat dusun Sasak ?

 

 

 

 

 

 

Pembahasan

  1. Bentuk resiprositas masyarakat dusun Sasak desa Meteseh kecamatan Boja kabupaten Kendal.

Resiprositas merupakan ciri sistem pertukaran dalam perekonomian pada masyarakat tradisional. Tetapi resiprositas tidak hanya saja terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan terjadi pula pada masyarakat kota. Resiprositas ini telah terjadi pada masyarakat dusun Sasak yang mana dalam masyarakat dusun Sasak kegiatan ini disebut dengan sinoman.Sinoman  ini dilakukan oleh semua lapisan masyarakat yang ada di dusun Sasak, baik yang berada pada lapisan  atas maupun pada masyarakat lapisan bawah. Bentuk  sinoman  dalam masyarakat dusun Sasak ini lebih kepada timbal balik, dalam artian siapa meminjam maka ia wajib mengembalikan.. Apabila masing-masing keluarga sudah memberikan kewajiban dan mendapatkan haknya maka resiprositas biasanya dikatakan telah berakhir. Resiprositas dapat terjadi seumur hidup mereka dan bersifat turun temurun.

Adanya  sinoman  pada masyarakat dusun Sasak, rasa solidaritas antar warga dapat tercipta  dengan baik dan adanya  sinoman dapat menjaga kesinambungan hubungan diantara warga.Sinoman  dapat terlihat ketika ada salah satu warga yang mengadakan pesta atau selamatan  mantenan  (pernikahan),  sunatan  (khitanan), dan kelahiran. Warga biasanya  menyumbang  dalam bentuk barang seperti, beras, teh, gula, dan uang. Dalam teori pertukaran George HomansSebagai contoh resiprositas yang ada pada masyarakat dusun Sasak, ketika ada warga yang mempunyai acara hajatan pernikahan biasanya tetangga memberikan sumbangan misalnya saja gula 5 kg dan beras 4 kg, maka pemilik hajatan wajib mengembalikan sumbangan tersebut tanpa batasan waktu yang ditentukan.

Resiprositas  ini dilatar belakangi oleh beberapa faktor yaitu sosial dan budaya. Resiprositas dilihat dari sudut pandang sosial yaitu, untuk menjaga silaturahmiantar warga  sehingga kerukunan  dapat tercipta dengan baik dan adanya sinoman  dapat menjaga kesinambungan hubungan diantara warga.Sedangakan dilihat dari sudut pandang ekonomi yaitu, resiprositas dapat meringankan warga ketika mengadakan acara hajatan atau selamatan terutama masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi menengah kebawah. Walaupun modal yang mereka miliki kurang tetapi mereka tetap bisa melaksanakan hajatan dan selamatan.

Bentuk resiprositas yang dilakukan warga masyarakat dusun Sask yaitu resiprositas sebanding dan resiprositas umum. Resiprositas sebanding merupakan pertukaran yang  menghendaki barang atau jasa yang dipertukarkan mempunyai nilai sebanding, disertai pula kapan pertukaran itu berlangsung,  kapan memberikan, kapan menerima, dan kapan mengembalikan. Dalam pertukaran ini masing-masing pihak membutuhkan barang atau jasa dari patnernya, namun tidak menghendaki untuk memberikan nilai lebih dibandingkan dengan yang akan diterimanya. Sedangkan resiprositas umum merupakan pertukaran barang atau jasa kepada individu  atau kelompok lain tanpa menentukan batas waktu pengembalian. Tidak ada hukum-hukum yang ketat untuk mengontrol seseorang untuk memberi  atau mengembalikan, hanya moral saja yang mengontrol dan mendorong pribadi-pribadi untuk menerima pertukaran sebagai kebenaran dan tidak boleh dilanggar.

  1. Fungsi resiprositas dalam masyarakat

Pada dasarnya resiprositas memiliki fungsi tsendiri bagi masyarakat dusun Sasak terutama saat memiliki hajat. Fungsi resiprositas bagi masyarakat dusun sasak sendiri antara lain :

  1. Mempermudah jika kekurangan alat atau sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

Dalam hajatan tentunya banyak sekali perlengkapan yang kita butuhkan, terutama perlengkapan untuk memasak seperti wajan, panci, sendok, garpu, dan lain sebagainya. Namun jika terjadi kekurangan dalam perlengkapan tersebut, tuan rumah yang memiliki hajat dapat meminjam ke tetangga yang sekiranya memiliki perlengkapan itu.

  1. Menambah tenaga kerja

Dalam sebuah hajatan tentu sangat membutuhkan orang banyak demi berlangsungnya acara hajatan tersebut, mulai dari pra acara hajatan hingga pasca acara hajatan. Tenaga kerja dalam hajatan biasanya dilakukan oleh saudara atau kerabat dekat dari yang memiliki hajat ataupun tetangga yang memiliki keterdekatan dengan yang memiliki hajat. Dalam masyarakat dusun Sasak, biasanya jika melakukan hajatan, selalu mengundang tetangga dekatnya untuk membantu dalam aara hajatan tersebut, bisa membantu untuk memasak, mengatarkan makanan ke saudara atau tetangga. Biasanya tugas ini dilakukan oleh ibu dan seorang bapak. Akan tetapi, buka berarti anak muda tidak dilibatkan dalam hal ini, anak muda dilibatkan dalam hal ini ketika hari pelaksanaan hajat tersebut untuk menjadi laden.

  1. Mengatasi keterbatasan modal

Jika seseorang akan melakukan hajat akan tetapi belum memiliki modal yang cukup dan acara hajatan tersebut harus dilaksanakan secara segera, maka saudara atau kerabat terdekat dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah ini. Biasanya jika si tuan rumah belum memiliki cukup modal untuk melakukan hajat, tuan rumah biasanya meminjam uang kepada saudara atau kerabat terdekatnya kemudian akan dikembalikan seusai acara tersebut dengan nominal sesuai yang dipinjamkan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penutup

  1. Kesimpulan
  2. Bentuk resiprositas dalam masyarakat dusun Sasak berbentuk Sinoman dan memiliki kaitan dengan kehidupan sosial ekonomi masyarakat tersebut
  3. Fungsi utama dari resiprositas yang ada di masyarakat dusun Sasak adalah untuk membantu pemilik hajat jika terjadi hambatan-hambatan dalam hajatan tersebut.
  4. Saran

Warga dusun Sasak harus tetap menjaga nilai resiprositas tersebut agar warga tidak terjadi saling individual dan egois, serta untuk menghindarkan mereka dari konflik.


3 Responses  
Leave a Reply

http://blog.unnes.ac.id/faradhina08/2015/11/20/resiprositas-pada-masyarakat-pedesaan/You must be logged in to post a comment.

SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
Skip to toolbar