ISTIGHASAH PERINGATI HARLAH NU, MASJID UNNES MENGHIJAU

April 17th, 2017 by Farid Nur Rohman No comments »

Semarang- Ratusan nahdliyin dari kalangan mahasiswa Universitas Negeri Semarang memadati Masjid Jami Ulil Albab UNNES untuk memperingati Hari lahir Nahdlotul Ulama Ke-94, serta meningkatkan pemahaman keaswajaan dengan mengususng tema : ‘Merangkul Umat, Bersama Mendekatkat Hati pada Illahi’, Kamisu (13/4) malam.
Kegiatan diawali dengan Khotmil Qur’an, dilanjutkan dengan Istighosah, Pembacaan Maulid Simtudduror, dan Muidhoh Hasanah oleh Kyai Rizal Nuruddin utusan dari Drs KH M Masroni, Pengasuh Ponpes SGJB Semarang.
Dihadapan para mahasiswa, dalam Mauidhoh Hasanahnya Kyai Rizal Nuruddin berpesan kepada para seluruh yang hadir untuk menjadi manusia yang yang dicintai Allah.
“Tiga perkara yang apabila kita melakukannya akan dicintai Allah. Tiga perkara itu adalah; beramal sakenceng-kencenge (sekuat-kuatnya), menyesali atas dosa yang diperbuat, dan sabar”. Kyai Rizal Nuruddin menjelaskan.
Beliau juga berpesan agar selalu berbuat baik sekalipun terhadap orang yang tidak baik perlakuannya kepada kita.
Mahasiswa yang hadir berasal dari berbagai organisasi bernafaskan Aswaja NU di Universitas Negeri Semarang, diantaranya ialah Qolbun Salim, PKPT IPNU IPPNU Unnes, UKM Rebana Modern, Jamaah Maulidurrosul Ar-Rohman (JMA) FT, PMII Al Ghazali, MATAN, dll. Bendera hijau pun berkibar diberbagai penjuru masjid.
Acara sempat diwarnai dengan hujan deras dan memaksa acara yang dilaksanakan di teras dipindahkan ke dalam ruangan lantai dasar Masjid. (farid)

Sepeda Unnes dan Nasib Bengkel Sepeda #4

November 23rd, 2015 by Farid Nur Rohman No comments »
mhpl_09_06

Sepeda di Unnes (sumber : simawa.unnes.ac.id)

Sepeda onthel kian hari semakin ditinggalkan. Mudahnya memperoleh atau membeli sepeda motor membuat orang bergantung pada kendaraan bermotor dan sungkan untuk bersepeda. Orang – orang yang dahulu bekerja sebagai pelaku bengkel sepeda kehilangan mata pencahariannya. Hanya sedikit orang yang bertahan dengan bengkel sepedanya. Kebanyakan berpindah profesi ke bidang lain. Tidak jarang pula yang tidak bisa ke profesi lain karena keterbatasan kemampuan sehingga meningkatkan pengangguran.

Entah benar atau tidak, kabarnya Universitas Negeri Semarang yang mencanangkan sebagai universitas konservasi mendapat tawaran ribuan sepeda dari berbagai pihak. Menurut yang disampaikan dosen konservasi ketika kuliah penolakan itu disebabkan karena pihak kampus merasa tidak bisa melakukan perawatan. Setiap hari pasti ada kerusakan yang terjadi pada sepeda. Kampus tidak bisa memberikan pelayanan perbaikan sepeda karena kurangnya Sumber daya manusia yang bisa melakukan service sepeda.

index

Tukang Bengkel Sepeda                (Sumber : blokbojonegoro.com)

 

Seharusnya pihak kampus menerima adanya bantuan sepeda onthel yang jumlahnya ribuan dan membuka lowongan pekerjaan baru yaitu sebagai tukang service sepeda di Unnes. Hal itu sangat membantu para tukang service sepeda onthel yang harus kehilangan mata pencahariannya karena perkembangan jaman. Beberapa orang ditempatkan di fakultas – fakultas dan berbagai tempat strategis di Unnes guna melayani sepeda yang kemungkinan mengalami kerusakan.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Simbah Renta Penjual Apel, Berjalan Kaki Keliling Unnes, Mahasiswa ? #3

November 21st, 2015 by Farid Nur Rohman No comments »

Entah siapa simbah perempuan itu. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian khas wanita jawa. Jarit / selendang batik menutup bagian bawah simbah itu hingga mata kaki. Baju yang dikenakan adalah sebuah kebaya sederhana yang juga khas orang jawa pinggiran. Tidak lupa simbah itu juga menggunakan penutup kepala, entah apa namanya, penutup itu sering digunakan kaum wanita jawa yang sudah dewasa.

Simbah itu membawa sebuah keranjang besar. Untuk membawa keranjang itu beliau harus menggendong di punggungnya. Langkahnya yang tidak tidak lagi kuat harus ditambah dengan beban berat yang ada dipunggungnya. Langkah-langkah kecil sedikit demi sedikit beliau jalankan demi terjualnya apel yang dia bawa dalam keranjang.

Darimana beliau memulai menjajakan saya tidak tau. Yang pasti beliau berjalan dari rektorat Unnes menemui setiap orang yang beliau temui. Tidak hanya mahasiswa dan mahasiswi saja, pekerja bangunan, petugas kebersihan, pegawai unnes, dan bahkan dosen unnes beliau temui untuk sekiedar melihat dagangannya. Bujukan beliau yang lirih dan memelas beliau harapkan bisa membuat orang-orang bersedia menyisihkan uangnya untuk membeli dagangan beliau guna menyambung sisa hidup yang dianugrahkan Tuhan kepada beliau.

Namun yang didapatkan oleh beliau tidak seperti yang diharapkan. Beliau menawarkan hanya mendapat gelengan kepala dari setiap orang. Sekian banyak mahasiswa yang ada di FBS sore itu hanya beberapa yang mau melihat dagangan simbah ini. Entah berapa rupiah yang sudah beliau dapatkan di senja menjelang magrib itu.

Kesabaran kembali harus beliau teduhkan dari hatinya. Ketika menawarkan dagangan sederhanya di lingkungan embung unnes, tidak ada satupun mahasiswa yang berkenan melihat dagangan beliau. Senja yang semakin redup, dagangannya yang tak kunjung habis, dan kondisi tubuh renta beliau yang semakin lelah tidak menyentuh hati nurani mahasiswa.

Beginikah mahasiswa kader konservasi harapan peradaban masa depan?

Mahasiswa pada umunya malas untuk berjalan kaki ke kampus dengan berbagai alasan. Provokasi yang telah diberikan pada mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup atau Konservasi tidak dielakkan dengan berbagai alasan yang mahasiswa ciptakan dengan kecerdasannya. Malas dan capek adalah alasan yang sering saya dengar dari berbagai mahasiswa.

Apabila alasan yang sering diungkapkan adalah capek / lelah, mengapa ketika melihat simbah renta yang berjalan dengan beban berat dipunggunhnya dan tenaga yang tidak lagi sekuat pemuda mahasiswa tidak ada merespon dengan hati nurani mereka? Semiskin itukah para mahasiswa?

Dengan hati yang sekeras itu seharusnya mahasiswa dengan jiwa mudanya mau berjalan kaki ke kampus yang tidak jauh dari kontrakannya. Jika benar-benar merasa lelah, ketika melihat simbah renta seperti itu seharusnya mahasiswa langsung menolong simbah itu, walaupun dengan hanya sedikit membeli dagangan beliau.

Ditengah lantunan azan magrib dari Masjid Ulul Albab (MUA) simbah itu pelan-pelan melangkahkan kaki menyusuri Jalan Taman Siswa meninggalkan kampus konservasi megah, Unnes.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Sekolah 5 Hari, Ekstrakurikuler Tersingkirkan

November 17th, 2015 by Farid Nur Rohman No comments »
BENDERA BAWANA

(sumber:bawanacamp.com)

Penerapan Sekolah 5 Hari Mengakibatkan Kegiatan Ekstrakurikuler Terganggu dan Membuat Geram Siswa

Bawananews~Purworejo. Anggota Bawana angkatan XXII dan XXIII tengah berduka. Pasalnya kini Bawana tidak lagi leluasa dalam menjalankan program kerjanya. Latihan rutin yang dalam program kerja telah disetujui oleh pihak sekolah dilaksanakan setiap hari senin dan sabtu tidak dapat dilaksanakan. BAWANA hanya dapat melaksanakan kegiatannya hanya sekali dalam dua minggu.

“Selesai KBM sampai jam 5, Jumat jam 2, Jumat biasa di pake pramuka, sekarang pramuka kelas 10 11 dan 12 diwajibkan” Dhanar, anggota Bawana Angktan XXII menerangkan.

Kegiatan Latihan Rutin hanya diizinkan pada hari Jumat dengan intensitas satu kali pertemuan dalam dua minggu sungguh bukanlah hal yang diinginkan oleh para anggota BAWANA. Anggota Bawana telah mengajukan untuk menyelenggarakan latihan rutin itu pada hari libur, yaitu Sabtu-Minggu. Namun permohonan itu DITOLAK.

“Arep njupuk dino sabtu ra oleh, sabtu mung nggo ekskul hobby, bangsane basket voly, futsal, pokoke olahraga” begitu diungkapkan oleh Dhanar.

Apakah Pecinta Alam bukan hobby ? Bukankah kegiatan BAWANA juga banyak yang berdasarkan hobby? Panjat Dinding, Hiking, Caving, Mountainering apa bukan hobby?

BAWANA bukanlah ekstrakurikuler yang tidak berprestasi. Pada akhir tahun 2014 lalu misalnya,
Anggota Bawana berhasil mendapatkan tiga gelar juara dalam Kejurkab KONI Purworejo Cabor Panjat Dinding. Gelar yang berhasil diperoleh diantaranya adalah Juara 2 Putra atas nama Candra Heri Saputra. Juara 3 Putra atas nama Januar Wibowo , dan Windi Lestari (XXI) sebagai Juara 2 Putri. Ketiganya adalah anggota BAWANA angkatan XXI. Mereka berhasil menyisihkan puluhan peserta lain dari berbagai wilayah di Purworejo

Apkah masih kurang?

Anggota BAWANA, Ahmad Tohani juga berhasil menjadi juara LKS Nasional, pendidikan di BAWANA pun berperan di dalamnya.

BAWANA adalah ekstrakurikuler berkualitas, mengapa di sudutkan begini?

Semoga semangat selalu ada dalam diri anggota BAWANA.

“Semangat Anggota BAWANA, Pancen kadang peraturan kui berbenturan karo kepinginan… dilanjutke opo sing kiro2 apik… nek pancen wes ora biso Senin – Sabtu Kumpule, dimaksimalke sing ono disik, disambi gole solusi sing ora ngebotke anggota / peraturan sing siki wes diberlakokke… Semangat Gan !!!”ungkap Andi TegarPratama Ketua BAWANA XIX

Penulis : FARID NUR ROHMAN
Pernah dimuat di :
http://www.bawanacamp.com/2015/09/bawana-dibatasi-geraknya-latihan-rutin.html
http://farid-doypelangi.blogspot.co.id/2015/10/pecinta-alam-bawana-dibatasi-geraknya.html

Katanya Mahasiswa, Kok Tidak Pernah Ikut Aksi ?

November 15th, 2015 by Farid Nur Rohman No comments »
11aa

(sumber:kmnu.or.id)

PERTANYAAN :
Adhli, kok kalian anak-anak KMNU nggak pernah ikut aksi sih? Kita kan mahasiswa?

JAWAB :
Terima kasih atas pertanyaannya, semoga anda terus berada dalam lindungan Allah yang Maha Kuasa lagi Perkasa. Mungkin ini juga pertanyaan banyak orang yang sepemikiran dengan anda. Maka, ribuan terima kasih atas perhatian dan ketulusan anda menanyakan hal ini.
Ada pun jawaban saya….

Ketahuilah, tidak semua dari kami tidak mau turun ke jalan. Ada juga yang memilih turun ke jalan menyuarakan pendapatnya dan menuntut pihak yang terkait mengikuti serta mengabulkan usulannya. Namun, saya tidak memungkiri bahwa mayoritas dari kami memang lebih memilih cara lain dibanding cara ini.
Perlu anda ketahui bahwa kami melakukan hal ini bukan karena kami tidak peduli. Tidak. Sekali lagi Tidak. Tidak pantas tuduhan seperti itu diarahkan pada kami. Kami mengambil jalan ini sebagaimana dulu kami dididik oleh guru-guru yang berakhlak dan beradab.
Ketahuilah, kami dididik dalam dua tangan kasih sayang, yakni Ilmu dan Ibadah. Ini juga yang menjadi tonggak pemikiran Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama. Ketahuilah dan yakinilah, bahwa kami juga mahasiswa, pemuda negeri ini, penerus estafet kepemimpinan negara tercinta. Di dalam darah kami juga mengalir semangat juang membangun dan memajukan negeri. Namun, sebelum menjadi apapun kami adalah seorang cendikiawan muslim. Kami bersuara dengan karya, dengan tulisan, atau dengan mimbar retoris podium ilmiah dihadapan para elite negeri ini. Kami adalah pejuang suara rakyat dari jalur ilmiah. Berbicara lantang dalam tradisi keilmiahan cendikiawan dihadapan para petinggi negeri. Tak perlulah menyebut siapa saja yang kami hadapi. Tapi ketahuilah, tugas turun ke jalan biarlah diambil alih oleh orang lain. Tugas kami adalah menjadi figur ilmiah, cendikiawan elite muslim, dan pemikir bangsa yang duduk bersahaja namun tetap berwibawa yang menemani para elite negara ini dengan tetap menasehatinya.
Kami tidak mengetuk pintu kantor orang untuk meminta tolong. Atau berteriak lantang menyuruh keluar penghuni kantor yang sedang bekerja. Atau mengkritik presiden ditengah jalan atau di depan istananya. Untuk apa kami meminta tolong kepada mereka? Sebenarnya kami juga berdemonstrasi, tapi bukan ditengah siang bolong namun disepertiga malam terakhir….
Sebenarnya kami juga berteriak menuntut, tapi bukan di depan istana presiden atau kantor pejabat publik namun di hadapan pintu pengharapan dan pertolongan Allah Ta’ala….
Sebenarnya kami juga menahan perih dan tangis atas keadaan negeri ini, tapi bukan di pinggir jalan raya hingga menutup sebagian ruasnya, namun di atas sajadah tempat tersungkur sujud mengharap pada Ilahi….
Demikian jawabanku, semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam

Adhli Al Karni

http://kmnu.or.id/konten-213-kenapa-anakanak-kmnu-nggak-pernah-ikut-aksi.html

Interaksi di Berbagai Tempat

November 15th, 2015 by Farid Nur Rohman No comments »

1. INTERAKSI SOSIAL DI LINGKUNGAN PASAR

Pasar Krempyeng merupakan salah satu pusat kegiatan ekonomi masyrakat yang berada di dekat area Kampus UNNES, tepatnya di Jalan Taman Siswa, Banaran, Sekaran, Gunungpati, Semarang. Sebagai jantung ekonomi jual beli masyarakat, pasar krempyeng banyak dikunjungi pembeli. Walaupun pasar kecil pasar krempyeng selalu ramai setiap paginya, karena merupakan satu-satunya pasar yang ada di daerah ini. Barang – barang yang tersedia di pasar krempyeng diantaranya ialah sayuran, buah-buahan, daging, ikan, makanan ringan, dan bahan – bahan lainnya. Selain sebagai pusat ekonomi pasar krempyeng juga menjadi pusat interaksi antara pedagang dengan pembeli.
Interaksi antara pembeli dan pedagang di pasar krempyeng termasuk dalam jenis antar individu. Orang yang membutuhkan suatu barang maka orang itu akan mencari pedagang yang menjual barang yang diinginkan. Setelah bertemu maka terjadilah interaksi untuk terjadinya transaksi jual beli antara penjual dan pembeli.
Interaksi juga terjadi antar pedagang. Salah satunya yaitu terjadinya persaingan berupa kompetisi untuk menjaring pembeli. Kompetisi yaitu persaingan tanpa pertentangan dan kekerasan, para pedagang berkompetisi menjual bahan dagangan nya dengan damai.

pasar krempyeng

(sumber:dok.pribadi)

2. INTERAKSI SOSIAL DI LINGKUNGAN KOST

Kost merupakan tempat tinggal untuk sementara dalam bentuk sewa. Pada umumnya kos dihuni oleh mahasiswa. Di wilayah RW 8 Banaran kost banyak dihuni oleh mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Bahasa dan Seni, semua terlihat sama, tidak membedakan strata sosial, semua membaur menjadi satu, sehingga dapat memunculkan interaksi. Interaksi dalam lingkungan kost memiliki berbagai dampak positif dan negatif.
Dampak positif diantaranya apabila dalam lingkungan kos tersebut dihuni oleh mahasiswa yang rajin belajar, berperilaku baik dan aktif maka akan memunculkan atmosfir interaksi yang positif bagi lingkungan kost tersebut. Kondisi ini akan berbanding terbalik apabila dalam suatu lingkungan kos tersebut dihuni oleh mahasiswa yang berperilaku tidak baik, maka interaksi dalam keadaan yang seperti ini akan membawa dampak buruk bagi lingkungan kost tersebut.

kos

(sumber:dok.pribadi)

Interaksi yang terjadi di lingkungan kost yaitu interaksi antar individu, karena hubungan timbal baliknya terjadi antara individu yang satu dengan individu lainya. Faktor yang mendorong bisa dari faktor kebutuhan fisik juga bisa dari kebutuhan sosial, misalnya ialah disaat hendak memenuhi kebutuhan fisiknya yaitu makan, ketika akan mencari makanan mereka akan bersama-sama dan berinteraksi untuk membeli makan, tak jarang mereka saling berbagi makanannya. Interaksi lainnya yaitu ketika mengerjakan tugas, apabila yang lain ada yang tidak bisa saling membantu. Disana ada asosiatif kerjasama penyatuan individu demi tujuan yang sama.

3. INTERAKSI SOSIAL DI LINGKUNGAN PONPES

pp1

(sumber:dok.pribadi)

pp2

(sumber:dok.pribadi)

Pondok Pesantren merupakan tempat menuntut ilmu agama secara intensif dimana para santrinya tinggal dan belajar di dalamnya. Salah satu pondok pesantren yang berada di dekat Universitas Negeri Semarang ialah Ponpes Durrotu Ahlisunnah Waljama’ah. Hampir 100% santrinya merupakan mahasiswa UNNES.
Interaksi yang terjadi di Pondok Pesantren yaitu interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan kelompok. Interaksi antar individu misalnya yaitu ketika ada hal yang kurang mengerti seorang individu akan bertanya pada individu lainnya. Ketika akan mencari makanan mereka juga akan bersama-sama dan berinteraksi untuk membeli makanan.

Interaksi juga terjadi antara individu dengan kelompok. Interaksi ini muncul disaat berlangsungnya pengajaran oleh ustadz kepada santri. Ustadz sebagai individu dan kumpulan santri merupakan kelompok. Dalam berlangsungnya pengajaran terjadi interaksi antara ustadz dengan santrinya.

KMP1

(sumber:dok.pribadi)

4. INTERAKSI SOSIAL DI LINGKUNGAN KAMPUS

Kampus merupakan kumpulan gedung-gedung dalam satu kawasan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Selain untuk pembelajaran kampus juga dapat sebagai tempat interaksi sosial antara mahasiswa dengan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen atau mahasiswa dengan para penjual makanan yang ada di kampus. Jenis – jenis interaksinya yang yaitu antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.
Di Unnes misalnya, gazebo menjadi tempat berkumpul para mahasiswa untuk saling berinteraksi. Mulai dari mengerjakan tugas kelompok ataupun hanya sekedar ngobrol dan browsing internet. Itu adalah contoh interaksi antar individu.
Interaksi antar kelompok dengan individu terjadi ketika dosen memberikan materi kuliah kepada mahasiswa. Dosen menjadi pihak individu dan mahasiswa sebagai pihak kelompok. Interaksi kelompok dengan kelompok terjadi ketika ada beberapa dosen yang memberi kuliah dalam waktu yang sama.

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN INTERAKSI YANG BERHASIL DIAMATI

TABEL INTERAKSI

Cara Paling Tepat Memperingati Hari Kartini

November 15th, 2015 by Farid Nur Rohman No comments »

kartini-jilbab-rabbani

Setiap tanggal 21 april selalu diperingati sebagai hari kartini. Sangat baik memang memperingati hari kelahiran kartini sebagai wujud rasa terima kasih atas perjuangan kartini dalam rangka mendapat kemerdekaan nasional umumnya, khususnya kemerdekaan bagi kaum perempuan. Namun sayang, peringatan saat ini rasanya tidak lagi sesuai dengan yang diharapkan oleh Kartini.

Kartini selalu dikisahkan sebagai seorang keturunan ningrat yang berjuang menuntut hak-hak perempuan disetarakan dengan kaum laki-laki, tokoh yang tetap berkarya walaupun dalam kondisi dipingit, seorang istri bupati, dan seorang tokoh yang mati muda. Tidak banyak yang tahu bahwa kartini adalah seorang murid dari seorang ulama besar, ulama yang juga menjadi guru dari kyai-kyai besar nusantara, Hadratussyaikh K.H. Hasyim As’ari (Pendiri NU), K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), K.H. Moenawir Krapyak, dll.

Sejarah memang telah dipudarkan, sejarah kartini mengaji Al Qur’an dengan didampingi Romo Kyai Sholeh Darat – Semarang tidak pernah dikisahkan oleh guru di sekolah. ( lha wong gurune he ra tau ngaji Qur’an, hihihi). Yang diceritakan Cuma “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Tidak banyak yang tau bahwa Kartini adalah pelopor penerjemahan Al Qur’an dalam bahasa Jawa. Cita-cita kartini terhadap Al Qur’an juga tidak banyak dimengerti oleh kaum wanita sekarang ini.

Suatu ketika diadakan pengajian di rumah paman Kartini (Bupati Demak), Kartini turut serta dalam pengajian yang saat itu membahas tentang arti dari Surat Al-Fatihah oleh Romo Kyai Simbah Sholeh Darat – Semarang. Setelah selesai pengajian Kartini yang masih kecil merengek-rengek pada pamannya agar bisa bertemu dengan Kyai Sholeh Darat – Semarang. Agar mudah di pahami, sekiranya seperti berikut inilah pertemuan antara Kartini dengan Simbah Sholeh :

“Romo Kyai, panjenengan tadi mengartikan Al Qur’an dengan bahasa Jawa, hati saya merasa tenteram ketika mendengarnya, Romo Kyai, betapa senangnya saya bila panjenengan bersedia untuk menafsirkan seluruh isi Al Qur’an 30 jus dengan Bahasa Jawa, supaya dapat menjadi pedoman saya dan rekan-rekan saya kaum perempuan tanah Jawa.” Ujar kartini

Kemudian Mbah Sholeh Darat menjawab, “Nduk, Kartini, menafsirkan Qur’an itu tidak semudah yang dibayangkan, tidak semua orang yang boleh menafsirkan Al Qur’an, orang boleh menafsirkan Al Qur’an itu syaratnya harus memiliki ilmu bantu yang lengkap, mulai dari ilmu nahnusoro, gramatika arab, nasen mansuh, ashabul huruf, ashabul nuzul, dan lainnya, setelah menguasahi semuanya baru boleh untuk menafsiri Al Qur’an, Kartini, tidak gampang lho menafsirkan Al Qur’an.”

Kartini yang keinginan kuat kembali berujar pada Kyai, “ Mohon maaf Romo Kyai, permohonan saya agar panjenengan menafsirkan Al Qur’an dengan Bahasa Jawa mohon dipenuhi, karena saya mempunyai keyakinan bahwa segala ilmu untuk menafsirkan Al Qur’an panjenegan sudah mengkuasahi, Romo Kyai.”

Mendengar ucapan itu Mbah Sholeh Ndarat lalu tertunduk, beliau mencucurkan air mata tak kuasaha menahan haru atas keteguhan Kartini. Pada kesempatan mengaji selanjutnya Simbah Sholeh mengatakan sesuatu pada Kartini, yaitu : “Kartini, doakan ya, semoga saya bisa mengartikan Al-Qur’an 30 jus menggunakan bahasa Jawa”

Begitulah sedikit gambaran tentang cita-cita Kartini tentang Al Qur’an untuk perempuan Nusantara. Kartini sangat menginginkan agar perempuan Indonesia terus belajar dan mengaji AL-QUR’AN. Sudah sepatutnya seorang perempuan Indonesia tidak hanya sibuk pergi ke Salon Kecantikan ketika peringatan hari Kartini. Tidak sepantasnya seorang pria berdandan atau memakai pakaian wanita sebagai lelucon bahan tertawaan dalam peringatan hari Kartini.

Kembali ke kisah…

Simbah Sholeh Darat kemudian mulai menafsirkan, saat itu penjajah melarang keras penafsiran terhadap Al Qur’an. Namun larangan itu tidak menghalangi Simbah Sholeh Darat untuk memenuhi permohonan dari Kartini. Untuk mengelabuhi pengawasan dari penjajah Simbah Sholeh menulis arti dari Al Qur’an dengan menggunakan huruf Pegon. (mesthi ra ngerti opo iku huruf Pegon, ngaji meneh karo mbah kyai, ojo mbah gugel)

Simbah Sholeh melanggar larangan dari penjajah, beliau menerjemahkan Al Qur’an dengan ditulis dengan huruf arab gundul alias pegon sihingga tidak dicurigai penjajah . Jadi tulisannya arab, tapi bacaannya bahasa jawa. (esek ra dong? Takon pacarmu wae mbok menowo bisa njelasne luwih genah, hohoho)

Belum selesai 30 jus, tepatnya ketika sudah 13 jus beliau mencetak terjemahan tersebut di Singapore, dan kitab terjemahan Al Qur’an berbahasa Jawa dengan aksara arab pertama di Nusantara itu diberi judul Kitab Faidhur-Rohman Fii Tafsiri Ayatul Qur’an. Ingat… penafsiran itu atas usul R.A. Kartini.

Mung Sayang, sejarahe mbiyen Kartini ngaji Qur’an ing ngarsane Simbah Sholeh Darat – Semarang mboten nate dipun terangaken dening guru-guru wonten sekolahan, leres? (soale gurune dew era tau ngaji, hahaha)

Pada saat kartini menikah dengan Bupati Rembang R.M. Joyodiningrat, Simbah Kyai Sholeh Darat hadir dengan membawa kado berupa Kitab terjemahan Al Qur’an berbahasa Jawa pertama di Nusantara, yaitu Kitab Faidhur-Rohman. Kartini sangat bahagia dengan hadiah yang dibawa oleh Simbah Sholeh, dia kemudian berkata :

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257)

Inilah mungkin yang menjadi dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, selama ini dasar penamaan itu adalah hanya sekedar kumpulan dari surat-menyurat beliau…

Terang dalam bahasa jawa adalah PADHANG… leres? Maka dari itu orang jawa punya syi’iran :
Padhang bulan… padhange koyo rino… rembulane.. sing awe-awe… ngelingake.. ojo podo turu sore… rene tak critani kanggo sebo mengko sore…

Sangat disayangkan kisah ini jarang diceritakan kepada anak-nak Indonesia, peringatan kartini seringkali hanya dengan konser, fashion show kebaya, bapak masak, bapak pake daster, dan lainnya yang tentunya sangat bertentangan dengan cita-cita kartini.
Saran :

Mari kita peringati hari kartini dengan memperbanyak membaca Al Qur’an dan berguru pada kyai.

Betapa indahnya bila kita peringati dengan berkumpul bersama membaca Al Qur’an, saling menyimak, bila ada yang salah dalam membaca kita koreksi bersama.

Betapa indahnya apabila kita peringati hari kartini dengan mendoakan Almarhum R.A.Kartini, kita bacakan Surah Yaasin dan Tahlil.

Betapa bahagianya Almarhum apabila kita semua mengirimkan doa untuknya, marilah kita peringati hari kartini dengan kebijaksanaan, bukan dengan hura-hura cegengesan kemaksiatan.

Summa khususon ilaa ruuhi R.A.KARTINI, Al-Fatihah….

Mari kita gunakan momentum hari kartini ini untuk kita bersama tingkatnya membaca Al Qur’an kita. Berkah Kartini mengaji Al Qur’an adalah namanya harum dan selalu dikenang.

Dirangkum oleh : FARID NUR ROHMAN
Referensi :
K.H. Ahmad Khalwani (Shoutuna FM, 28 April 2014)
http://pelitatangerang.xtgem.com/index/__xtblog_entry/62115-kh-sholeh-darat-semarang-jawa-tengah?__xtblog_block_id=1
http://www.sarkub.com/2012/ra-kartini-dan-kyai-sholeh-darat-sejarah-bangsa-yang-digelapkan-orientalis-belanda/

sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com/-rXGeD6aCszI/TZnxazIjuAI/AAAAAAAAAC4/cjqEPAdRbrA/s1600/kartini-jilbab-rabbani.jpg

Mahasiswa Perusak Konservasi Gunung #2

November 14th, 2015 by Farid Nur Rohman No comments »
SAMAPH LAWU

Sampah di atas Gunung Lawu (sumber:dok.pribadi)

Gunung banyak dikunjungi para pendaki untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa dengan tafakur tadabur terhadap alam. Keindahan di puncak gunung atau di atas awan begitu memukau setiap jiwa yang hadir disana. Mahasiswa dengan jiwa  mudanya adalah pengunjung utama yang selalu memadati basecamp pendakian.

Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung, Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Prahu, Gunung Andong, Gunung Lawu, dan Bukit Sikunir adalah beberapa tujuan favorit mahasiswa di Jawa Tengah, terutama Unnes. Mahasiswa akan merasa bangga dan puas ketika sudah menginjakkan kaki di atasnya. Mereka tak lupa untuk berfoto mengabadikan moment dan pemandangan indah yang tak setiap hari mereka dapati. Namun sayang, mayoritas dari mereka lupa akan sang pencipta dan lupa akan etika yang harus mereka jaga.

Foto yang seharusnya menjadi pengabadi keindahan alam yang merupakan anugrah Tuhan hanya menjadi ajang pamer dan gagah-gagahan. Etika di alam bebas hanya menjadi bahan tertawaan. Sampah selalu menjadi masalah yang harus dihadapi pengelola wisata pendakian. Papan peringatan yang mengingatkan agar para pengunjung tidak meninggalkan sampah dan tidak melakukan vandalisme tidak diindahkan. Gunung menjadi kotor. Bebatuan dan pohon menjadi korban vandalisme. Itu semua adalah ulah pendaki amatiran, dialah mahasiswa. Mahasiswa pada umumnya tak memiliki bekal khusus dalam melakukan penjelajahan di alam. Berbeda dengan mereka yang telah tergabung dalam Mapala, Sispala, ataupun organisasi pecinta alam yang telah memberikan bekal khusus bagi para anggotanya. Mereka yang bukan mahasiswa (masyarakat sekitar, penganut adat, dll.) selalu menjaga etika ketika berada area Gunung.

Tidaklah heran ketika banyak terjadi kebakaran di gunung. Tidak heran pula bila banyak terjadi pendaki yang tersesat bahkan tewas. Hali itu adalah sedikit teguran dari Yang Maha Kuasa agar manusia lebih bersikap bijak terhadap alam.

Peraturan resmi melalui Undang-Undang pun telah ada yaitu UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SDA Hayati dan Ekosistemnya.

Seharusnya mahasiswa sebagai kader konservasi memberikan aksi yang baik. Tidak hanya berlomba-lomba ke puncak gunung. Tetapi juga menjaga kebersihan dan kelestarian daerah konservasi di area Gunung. Persiapan yang matang mengenai pengetahuan dan moral perlu diperhatikan sebelum mendaki gunung.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Ketika Niat Menjadi Penentu #1

November 11th, 2015 by Farid Nur Rohman 1 comment »

“Ketika naik gunung diniatkan untuk beribadah mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa pastinya akan selalu menjaga etika di alam bebas, berbeda ketika naik gunung diniatkan untuk merayakan tahun baru, pada umumnya mereka hanya bersenang-senang dan akan lupa terhadap etika lingkungan yang harus dijalankan, konservasi alam pun kemungkinan besar akan tidak dipedulikan lagi”

Berikut ini adalah gambaran bagaimana susahnya perjalanan ketika diniatkan tidak baik, dan lancarnya perjalanan ketika niat baik.


 

Penghujung tahun telah tiba. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Rohman belum merencanakan untuk menutup tahun di atas awan bersama teman-temannya. Namun Rohman yang hampir satu tahun tinggal di Kota Jogjakarta akhirnya merasa bosan dengan kebisingan kota, mendadak ia mengajak Pras, temannya yang ada di Purworejo untuk mengakhiri tahun di atas awan.

“Kita akhiri tahun ini di Puncak Sindoro yuk Pras, kita ambil jalur Tambi yang tidak terlalu ramai” ajak Rohman pada Pras

“Ide bagus, kita berangkat 31 Desember pagi saja, kita ajak teman-teman yang lain, dan kita kumpul dahulu di Alun-Alun Kota Purworejo” sambut Pras.

Pada hari selanjutnya, tanggal 27 Desember Rohman dan Pras mulai mengajak teman-temannya. Namun tidak ada teman yang berhasil mereka ajak. Teman-teman Rohman dan Pras dengan berbagai alasan menolak rencana tahun baru di Sindoro. Namun ada satu teman Rohman, yaitu Rio, dia bersedia ikut tetapi belum dapat memastikan karena sedang berusaha mencari pinjaman motor.

Pada hari berikutnya Rio memastikan untuk ikut, Rio mengajak Ardi, juniornya di Organisasi Pecinta Alam yang dia ikuti. Namun inisiatif Rio mengajak juniornya itu ternyata menimbulkan masalah baru. Teman – teman satu angkatan dan senior Rio ternyata banyak yang tidak mengizinkan junior naik gunung karena dinilai belum waktunya. Rio bersikeras untuk tetap mengajak adik juniornya itu, teman-temannya pun memojokkan dia. Adu mulut tak terelakan lagi terjadi diantara mereka.

“Aku mengajak dia bukan atas nama organisasi, kalian tidak berhak untuk melarang!” sanggah Rio.

“Ya, kami tak punya hak, tapi kami wajib menjaga etika organisasi, jika kamu tak sanggup lagi menjalankan etika silahkan lepas tanda anggotamu!” saut salah satu seniornya.

Pada akhirnya, tanggal 28 Desember, Rio mengambil sebuah keputusan. Rio mengalah dan dengan berat hati membatalkan keikutsertaannya bersama Rohman dan Pras untuk ke Puncak Sindoro. Hal tersebut juga mempengaruhi rencana Rohman dan Pras. Dengan berat hati akhirnya mereka semua membatalkan rencana mengakhiri tahun diatas awan.

Rohman yang galaumenghibur diri dengan menjelajahi beranda facebook tanpa sengaja dia melihat posting dari salah satu temannya, Sinin, yang akan merayakan tahun baru di Gunung Merapi. Sesegera mungkin Rohman langsung mengkonfirmasi rencana itu kepada Sinin.

“Hey Sini, benarkah kamu besok mau tahun baru di Merapi? Aku ikut gabung ya?” tulis Rohman.

“Iya, ayo gabung aja, kita berangkat pukul 8 pagi ya, kumpul di basecamp.” Sambut Sinin.

Setelah itu Rohman menghubungi Pras untuk memberi tahu mengenai hal ini. Pras menyambutnya dengan baik rencana itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk merayakan tahun baru di atas awan bersama Sinin, dkk. Langkah cepat mereka tempuh. Pras segera mengambil tas Carrier miliknya yang dipinjam orang. Rohman berusaha meminjam tenda, namun tenda yang hendak dipinjam ternyata sudah rusah. Mereka memutuskan untuk berangkat tanpa tenda.

Rohman yang berada di Jogjakarta bergegas membeli tiket kereta api untuk kembali ke Purworejo menemui teman-temannya. Walaupun jadwal keberangkatan kereta pukul 4 sore, pukul 1 siang ia telah berangkat ke stasiun dengan sepeda ontelnya untuk memberi tiket yang harganya hanya enam ribu rupiah.

Perjalanan tidak semulus yang dibayangkan, tanpa disangka sebuah paku kecil telah menancap di roda belakang sepeda Rohman. Dia menuntun sepedanya seraya mencari tambal ban terdekat. Setelah beberapa menit berjalan ia melintas di depan sebuah warung yang juga melayani tambal ban.

“Permisi, tambal ban, tambal ban…!” teriak Rohman.

“Lagi istirahat mas!” sambut tetangga warung.

Rohman kembali berjalan menyusuri jalanan Jogja. Belum berjalan jauh ia kembali menemukan tambal ban. Roda sepedanya pun segera ditambal. Kejanggalan muncul ketika penambalan telah usai. Ketika hendak meninggalkan bengkel tambal ban, tukang tambal ban melarang Rohman pergi.

“Sebentar mas, sepertinya bocornya masih ada lagi, boleh saya bongkar lagi?” ujar tukang tambal ban.

Rohman merasa heran, namun iahanya diam disertai dan mengangguk. Setelah dicek lagi ternyata memang ada lagi. Tukang tambal ban telah sengaja menusuk ban dalam sepeda Rohman, sehingga Rohman harus membayar dua kali lipat sesuai dengan jumlah lubang. Rohman merasa sedikit kesal namun ia tetap sabar dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun.

Rohman kembali bersepeda menuju stasiun Tugu Jogjakarta. Tepat pukul 13.45 ia sampai di stasiun dan langsung masuk dalam antrian di loket yang sudah mengular. Sedikit demi sedikit antrian Rohman bertambah maju, namun ketika telah sampai di tengah antrian ia harus kecewa karena tiket kereta api Prameks tujuan Purworejo yang ia cari ternyata telah habis. Ia pun bingung harus bagaimana agar ia bisa pulang ke Purworejo dengan cepat.

Rohman memutuskan untuk membeli tiket kereta jurusan lain, namun ia tetap naik kereta jurusan Purworejo. Dia harus kucing-kucingan dengan petugas pemeriksa tiket. Akhirnya ia dapat sampai di Purworejo dan segera menemui Pras untuk mempersiapkan pendakian ke Gunung Merapi. Namun alangkah terkejutnya Rohman, secara sepihak Pras membatalkan rencana itu.

Abdullatif adalah salah satu teman Rohman yang memiliki religious tinggi. Mendengar kabar tentang Rohman yang harus kembali kecewa, ia menawarkan diri pada Rohman untuk ikut bersamanya ke Gunung Merapi untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus untuk bertadabur terhadap alam dan tafakur mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, bukan untuk memperingati tahun baru. Rohman dengan senang hati mengiyakan tawaran dan mengikuti niat Abdullatif.

Keajaiban dirasakan Rohman setelah ia mengubah niat dan tujuannya mendaki ke Puncak Merapi. Tidak seperti biasanya, kali ini mendung dan hujan seakan tak mau bersama Rohman. Selama pendakian yang ia dan Abdullatif lakukan ditemani cahaya bulandan cuaca yang cerah. Berbeda dengan para pendaki lain yang harus merasakan basah kuyub karena hujan dan dinginnya badai. Akirnya di tanggal 1 januari Rohman dan Abdullatif berada di Puncak Merapi. Di puncak dia bertemu dengan Sinin dkk. yang telah terlebih dahulu berangkat. Rohman sangat senang dan sangat bersyukur kepada Allah swt.

SELAMAT

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Sumber gambar : dokumen pribadi

Lewat ke baris perkakas