Cara Paling Tepat Memperingati Hari Kartini

November 15th, 2015 by Farid Nur Rohman Leave a reply »

kartini-jilbab-rabbani

Setiap tanggal 21 april selalu diperingati sebagai hari kartini. Sangat baik memang memperingati hari kelahiran kartini sebagai wujud rasa terima kasih atas perjuangan kartini dalam rangka mendapat kemerdekaan nasional umumnya, khususnya kemerdekaan bagi kaum perempuan. Namun sayang, peringatan saat ini rasanya tidak lagi sesuai dengan yang diharapkan oleh Kartini.

Kartini selalu dikisahkan sebagai seorang keturunan ningrat yang berjuang menuntut hak-hak perempuan disetarakan dengan kaum laki-laki, tokoh yang tetap berkarya walaupun dalam kondisi dipingit, seorang istri bupati, dan seorang tokoh yang mati muda. Tidak banyak yang tahu bahwa kartini adalah seorang murid dari seorang ulama besar, ulama yang juga menjadi guru dari kyai-kyai besar nusantara, Hadratussyaikh K.H. Hasyim As’ari (Pendiri NU), K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), K.H. Moenawir Krapyak, dll.

Sejarah memang telah dipudarkan, sejarah kartini mengaji Al Qur’an dengan didampingi Romo Kyai Sholeh Darat – Semarang tidak pernah dikisahkan oleh guru di sekolah. ( lha wong gurune he ra tau ngaji Qur’an, hihihi). Yang diceritakan Cuma “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Tidak banyak yang tau bahwa Kartini adalah pelopor penerjemahan Al Qur’an dalam bahasa Jawa. Cita-cita kartini terhadap Al Qur’an juga tidak banyak dimengerti oleh kaum wanita sekarang ini.

Suatu ketika diadakan pengajian di rumah paman Kartini (Bupati Demak), Kartini turut serta dalam pengajian yang saat itu membahas tentang arti dari Surat Al-Fatihah oleh Romo Kyai Simbah Sholeh Darat – Semarang. Setelah selesai pengajian Kartini yang masih kecil merengek-rengek pada pamannya agar bisa bertemu dengan Kyai Sholeh Darat – Semarang. Agar mudah di pahami, sekiranya seperti berikut inilah pertemuan antara Kartini dengan Simbah Sholeh :

“Romo Kyai, panjenengan tadi mengartikan Al Qur’an dengan bahasa Jawa, hati saya merasa tenteram ketika mendengarnya, Romo Kyai, betapa senangnya saya bila panjenengan bersedia untuk menafsirkan seluruh isi Al Qur’an 30 jus dengan Bahasa Jawa, supaya dapat menjadi pedoman saya dan rekan-rekan saya kaum perempuan tanah Jawa.” Ujar kartini

Kemudian Mbah Sholeh Darat menjawab, “Nduk, Kartini, menafsirkan Qur’an itu tidak semudah yang dibayangkan, tidak semua orang yang boleh menafsirkan Al Qur’an, orang boleh menafsirkan Al Qur’an itu syaratnya harus memiliki ilmu bantu yang lengkap, mulai dari ilmu nahnusoro, gramatika arab, nasen mansuh, ashabul huruf, ashabul nuzul, dan lainnya, setelah menguasahi semuanya baru boleh untuk menafsiri Al Qur’an, Kartini, tidak gampang lho menafsirkan Al Qur’an.”

Kartini yang keinginan kuat kembali berujar pada Kyai, “ Mohon maaf Romo Kyai, permohonan saya agar panjenengan menafsirkan Al Qur’an dengan Bahasa Jawa mohon dipenuhi, karena saya mempunyai keyakinan bahwa segala ilmu untuk menafsirkan Al Qur’an panjenegan sudah mengkuasahi, Romo Kyai.”

Mendengar ucapan itu Mbah Sholeh Ndarat lalu tertunduk, beliau mencucurkan air mata tak kuasaha menahan haru atas keteguhan Kartini. Pada kesempatan mengaji selanjutnya Simbah Sholeh mengatakan sesuatu pada Kartini, yaitu : “Kartini, doakan ya, semoga saya bisa mengartikan Al-Qur’an 30 jus menggunakan bahasa Jawa”

Begitulah sedikit gambaran tentang cita-cita Kartini tentang Al Qur’an untuk perempuan Nusantara. Kartini sangat menginginkan agar perempuan Indonesia terus belajar dan mengaji AL-QUR’AN. Sudah sepatutnya seorang perempuan Indonesia tidak hanya sibuk pergi ke Salon Kecantikan ketika peringatan hari Kartini. Tidak sepantasnya seorang pria berdandan atau memakai pakaian wanita sebagai lelucon bahan tertawaan dalam peringatan hari Kartini.

Kembali ke kisah…

Simbah Sholeh Darat kemudian mulai menafsirkan, saat itu penjajah melarang keras penafsiran terhadap Al Qur’an. Namun larangan itu tidak menghalangi Simbah Sholeh Darat untuk memenuhi permohonan dari Kartini. Untuk mengelabuhi pengawasan dari penjajah Simbah Sholeh menulis arti dari Al Qur’an dengan menggunakan huruf Pegon. (mesthi ra ngerti opo iku huruf Pegon, ngaji meneh karo mbah kyai, ojo mbah gugel)

Simbah Sholeh melanggar larangan dari penjajah, beliau menerjemahkan Al Qur’an dengan ditulis dengan huruf arab gundul alias pegon sihingga tidak dicurigai penjajah . Jadi tulisannya arab, tapi bacaannya bahasa jawa. (esek ra dong? Takon pacarmu wae mbok menowo bisa njelasne luwih genah, hohoho)

Belum selesai 30 jus, tepatnya ketika sudah 13 jus beliau mencetak terjemahan tersebut di Singapore, dan kitab terjemahan Al Qur’an berbahasa Jawa dengan aksara arab pertama di Nusantara itu diberi judul Kitab Faidhur-Rohman Fii Tafsiri Ayatul Qur’an. Ingat… penafsiran itu atas usul R.A. Kartini.

Mung Sayang, sejarahe mbiyen Kartini ngaji Qur’an ing ngarsane Simbah Sholeh Darat – Semarang mboten nate dipun terangaken dening guru-guru wonten sekolahan, leres? (soale gurune dew era tau ngaji, hahaha)

Pada saat kartini menikah dengan Bupati Rembang R.M. Joyodiningrat, Simbah Kyai Sholeh Darat hadir dengan membawa kado berupa Kitab terjemahan Al Qur’an berbahasa Jawa pertama di Nusantara, yaitu Kitab Faidhur-Rohman. Kartini sangat bahagia dengan hadiah yang dibawa oleh Simbah Sholeh, dia kemudian berkata :

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257)

Inilah mungkin yang menjadi dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, selama ini dasar penamaan itu adalah hanya sekedar kumpulan dari surat-menyurat beliau…

Terang dalam bahasa jawa adalah PADHANG… leres? Maka dari itu orang jawa punya syi’iran :
Padhang bulan… padhange koyo rino… rembulane.. sing awe-awe… ngelingake.. ojo podo turu sore… rene tak critani kanggo sebo mengko sore…

Sangat disayangkan kisah ini jarang diceritakan kepada anak-nak Indonesia, peringatan kartini seringkali hanya dengan konser, fashion show kebaya, bapak masak, bapak pake daster, dan lainnya yang tentunya sangat bertentangan dengan cita-cita kartini.
Saran :

Mari kita peringati hari kartini dengan memperbanyak membaca Al Qur’an dan berguru pada kyai.

Betapa indahnya bila kita peringati dengan berkumpul bersama membaca Al Qur’an, saling menyimak, bila ada yang salah dalam membaca kita koreksi bersama.

Betapa indahnya apabila kita peringati hari kartini dengan mendoakan Almarhum R.A.Kartini, kita bacakan Surah Yaasin dan Tahlil.

Betapa bahagianya Almarhum apabila kita semua mengirimkan doa untuknya, marilah kita peringati hari kartini dengan kebijaksanaan, bukan dengan hura-hura cegengesan kemaksiatan.

Summa khususon ilaa ruuhi R.A.KARTINI, Al-Fatihah….

Mari kita gunakan momentum hari kartini ini untuk kita bersama tingkatnya membaca Al Qur’an kita. Berkah Kartini mengaji Al Qur’an adalah namanya harum dan selalu dikenang.

Dirangkum oleh : FARID NUR ROHMAN
Referensi :
K.H. Ahmad Khalwani (Shoutuna FM, 28 April 2014)
http://pelitatangerang.xtgem.com/index/__xtblog_entry/62115-kh-sholeh-darat-semarang-jawa-tengah?__xtblog_block_id=1
http://www.sarkub.com/2012/ra-kartini-dan-kyai-sholeh-darat-sejarah-bangsa-yang-digelapkan-orientalis-belanda/

sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com/-rXGeD6aCszI/TZnxazIjuAI/AAAAAAAAAC4/cjqEPAdRbrA/s1600/kartini-jilbab-rabbani.jpg

Advertisement

Tinggalkan Balasan

[+] kaskus emoticons nartzco

Lewat ke baris perkakas