Simbah Renta Penjual Apel, Berjalan Kaki Keliling Unnes, Mahasiswa ? #3

November 21st, 2015 by Farid Nur Rohman Leave a reply »

Entah siapa simbah perempuan itu. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian khas wanita jawa. Jarit / selendang batik menutup bagian bawah simbah itu hingga mata kaki. Baju yang dikenakan adalah sebuah kebaya sederhana yang juga khas orang jawa pinggiran. Tidak lupa simbah itu juga menggunakan penutup kepala, entah apa namanya, penutup itu sering digunakan kaum wanita jawa yang sudah dewasa.

Simbah itu membawa sebuah keranjang besar. Untuk membawa keranjang itu beliau harus menggendong di punggungnya. Langkahnya yang tidak tidak lagi kuat harus ditambah dengan beban berat yang ada dipunggungnya. Langkah-langkah kecil sedikit demi sedikit beliau jalankan demi terjualnya apel yang dia bawa dalam keranjang.

Darimana beliau memulai menjajakan saya tidak tau. Yang pasti beliau berjalan dari rektorat Unnes menemui setiap orang yang beliau temui. Tidak hanya mahasiswa dan mahasiswi saja, pekerja bangunan, petugas kebersihan, pegawai unnes, dan bahkan dosen unnes beliau temui untuk sekiedar melihat dagangannya. Bujukan beliau yang lirih dan memelas beliau harapkan bisa membuat orang-orang bersedia menyisihkan uangnya untuk membeli dagangan beliau guna menyambung sisa hidup yang dianugrahkan Tuhan kepada beliau.

Namun yang didapatkan oleh beliau tidak seperti yang diharapkan. Beliau menawarkan hanya mendapat gelengan kepala dari setiap orang. Sekian banyak mahasiswa yang ada di FBS sore itu hanya beberapa yang mau melihat dagangan simbah ini. Entah berapa rupiah yang sudah beliau dapatkan di senja menjelang magrib itu.

Kesabaran kembali harus beliau teduhkan dari hatinya. Ketika menawarkan dagangan sederhanya di lingkungan embung unnes, tidak ada satupun mahasiswa yang berkenan melihat dagangan beliau. Senja yang semakin redup, dagangannya yang tak kunjung habis, dan kondisi tubuh renta beliau yang semakin lelah tidak menyentuh hati nurani mahasiswa.

Beginikah mahasiswa kader konservasi harapan peradaban masa depan?

Mahasiswa pada umunya malas untuk berjalan kaki ke kampus dengan berbagai alasan. Provokasi yang telah diberikan pada mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup atau Konservasi tidak dielakkan dengan berbagai alasan yang mahasiswa ciptakan dengan kecerdasannya. Malas dan capek adalah alasan yang sering saya dengar dari berbagai mahasiswa.

Apabila alasan yang sering diungkapkan adalah capek / lelah, mengapa ketika melihat simbah renta yang berjalan dengan beban berat dipunggunhnya dan tenaga yang tidak lagi sekuat pemuda mahasiswa tidak ada merespon dengan hati nurani mereka? Semiskin itukah para mahasiswa?

Dengan hati yang sekeras itu seharusnya mahasiswa dengan jiwa mudanya mau berjalan kaki ke kampus yang tidak jauh dari kontrakannya. Jika benar-benar merasa lelah, ketika melihat simbah renta seperti itu seharusnya mahasiswa langsung menolong simbah itu, walaupun dengan hanya sedikit membeli dagangan beliau.

Ditengah lantunan azan magrib dari Masjid Ulul Albab (MUA) simbah itu pelan-pelan melangkahkan kaki menyusuri Jalan Taman Siswa meninggalkan kampus konservasi megah, Unnes.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Bidikmisi Blog Award di Universitas Negeri Semarang. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Advertisement

Tinggalkan Balasan

[+] kaskus emoticons nartzco

Lewat ke baris perkakas