Lewat ke baris perkakas

ANTROPOLOGI TERAPAN

antropologi

Awalnya memang terkesan antropologi selalu berkutat dengan hal-hal yang primitive, karena hal itu kita lihat sekarang. Berbeda dengan saat itu, hal tersebut merupakan hal wajar karena masih umum. Namun, mengingat antropologi adalah sebuah ilmu atau pengetahuan yang bisa dipakai oleh manusia untuk membantu dalam melangsungkan kehidupannya, antropologi pun selalu berkembang sesuai dengan perkembangan yang ada dalam kehidupan manusia.Antropologi merupakan ilmu yang didalamnya mengkaji tentang manusia. Memang dengan artian tersebut banyak sekali orang yang tidak mengetahui seluk beluk antropologi berfikiran bahwa semua yang berkaitan dengan manusia adalah kajian dari antropologi. Tidak hanya mereka saja yang masih awam, saya sendiri yang telah belajar sedikit tentang antropologi terkadang masih merasa bingung dengan antropologi itu yang seperti apa sih.

Sekarang ini Antropologi mengkaji semua yang melekat pada manusia, manusia beserta kegiatan-kegiatannya. Hal itu yang terkadang membuat bingung bagaimana batasan-batasan dalam antropologi itu sendiri. Banyak yang bertanya antropologi sebenarnya apa ? menjadikan yang awam semakin sulit membayangkannya. Bahkan bertanya-tanya tentang bagaimana manfaat dari antropologi itu sendiri, apakah nantinya akan berguna ketika memutuskan belajar antropologi sedangkan antropologi itu sendiri masih bingung. Padahal pada kenyataannya sekarang ini antropologi banyak membantu masyarakat dalam mengatasi permasalahan yang ada disekitar kehidupan mereka. Antropologi bukan hanya menjadi salah satu ilmu murni yang selalu berkutat dengan teori-teori yang ada. Adanya ilmu terapan yang dapat digunakan untuk membantu masyarakat dalam menentukan dan mencari cara-cara yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada dikehidupannya. Antropologi terapan membantu menemukan solusi tanpa harus merubah sesuatu yang asli didalamnya. Namun tetap saja dianggap remeh oleh mereka yang memang awan dan hanya tahu kulitnya saja, bahkan sering kali dianggap sebagai disiplin ilmu yang kurang ilmiah.

“Antropologi sering dianggap sebagai disiplin yang “kurang ilmiah” sebab memakai metode berbicara langsung dengan masyarakat, dan memberi perhatian terhadap orang yang “tidak penting” di dunia ketiga atau kelompok pinggir dunia pertama. Status antropologi adalah cermin dari dekatnya cabang ilmu ini dengan mereka yang terpinggirkan akibat ketimpangan struktural yang terjadi pada masyarakat industri-kapitalis dengan aneka ragam masalah, seperti diskriminasi ras, ketaksetaraan gender, dan kemiskinan. Keakraban sang antropolog dengan kehidupan ghetto di perkotaan, pecandu minuman keras, penyalah guna narkoba, siasat hidup buruh, korban HIV, para migran, penghuni panti jompo, dan pengemis telantar menggeser kedudukan pengetahuan ini semakin ke “garis tepi”.

(http://www.duniaesai.com/index.php?option=com_content&view=article&id=68:pentas-antropologi-di-indonesia&catid=34:antropologi-&Itemid=93)

Anggapan tersebut berpengaruh pada minat seseorang untuk memutuskan belajar Antropologi, terlebih lagi pandangan orang saat ini mengacu pada materi. Ketika belajar sesuatu akhirnya tidak mendapatkan materi buat apa, tidak meghasilkan uang yang melimpah buat apa.

“Kenyataan di lapangan menunjukkan, belakangan kajian-kajian yang menggunakan antropologi sebagai alat analisa semakin banyak. Hal ini ditunjukkan dengan terbitnya buku-buku kajian keislaman di Indonesia yang ditulis baik oleh sarjana Barat ataupun Timur, termasuk Indonesia. Beberapa proyek departemen, seperti Depdiknas, sebagian penelitiannya menggunakan pendekatan antropologi untuk memperoleh penjelasan terhadap beberapa masalah pendidikan di Indonesia. Sebagian LSM juga menggunakan jasa ilmu ini dalam riset-riset yang mereka lakukan. Sayangnya, pada saat yang sama, secara institusional dan akademik, antropologi tidak menjadi jurusan atau program studi yang marketable. Banyak perguruan tinggi negeri yang tersebar di seluruh Indonesia tapi tidak punya jurusan antropologi. Apalagi untuk swasta, penulis belum mendengar ada yang berani membuka jurusan antropologi. Ini memperlihatkan adanya kekhawatiran, membuka jurusan ini tidak akan memberikan keuntungan apa-apa karena tidak ada peminatnya. Bandingkan dengan jurusan akuntansi, manajemen, psikologi, atau yang sedang menjadi tren sekarang ilmu komunikasi. Alasan yang mudah diduga mengapa hanya sedikit mahasiswa yang memilih jurusan antropologi adalah karena lulusan jurusan ini tidak mudah dalam memperoleh pekerjaan. Faktor prospek masa depan adalah pertimbangan yang sangat wajar dan realistis. Banyak mahasiswa antropologi yang penulis jumpai mengaku memilih jurusan antropologi sebagai pilihan kedua atau ketiga ketika mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Artinya, selain dianggap tak terlalu menjanjikan disatu sisi, juga bahwa antropologi belum bisa mempromosikan dirinya sendiri sebagai pilihan favorit”.

(http://www.duniaesai.com/index.php?option=com_content&view=article&id=66:krisis-relevansi-antropologi-di-indonesia&catid=34:antropologi-&Itemid=93)

2 comments

  1. Penulisan kurang rapi. Terima kasih 🙂

    1. sekarang sudah rapi kakak 🙂

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: